Malaysia: Sekulerisme Berbalut Islam

Malaysia sering disebut sebagai negara Islam modern. Bener nggak tuh? Kenyataannya dakwah Islam sulit berkembang di sana. Kenapa demikian?

Profil Negara Malaysia

Luas negara:

total: 329,750 km2
perairan: 1,200 sq km2
Daratan: 328,550 sq km2

Ibu Kota: Kuala Lumpur

Bahasa : Melayu [bahasa resmi], Inggris, Cina (Kanton, Mandarin, Hokkien, Hakka, Hainan, Foochow), Tamil, Telugu, Malayalam, Panjabi, Thai;

Catatan: Di wilayah Malaysia Timur sejumlah suku menggunakan bahasa Iban dan Kadazan

Jumlah Penduduk: 23,092,940 (perkiraan Juli 2003)

Kepala Negara: Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi

Bentuk Pemerintahan : Kerajaan Konstitusional

Malaysia terdiri atas 13 negara bagian dan 3 teritori federal*:

Johor, Kedah, Kelantan, Labuan*, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, Perak, Perlis, Pulau Pinang, Putrajaya*, Sabah, Sarawak, Selangor, Terengganu, Wilayah Persekutuan*
Catatan: Kuala Lumpur berada pada Wilayah Persekutuan.

Malaysia The Truly Asia! Begitu tuh bunyi satu iklan di televisi yang menggambarkan keindahan Malaysia. Kamu pasti pernah liat. Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia dan Singapura terkategori negeri yang makmur dan modern dibandingkan 9 negeri yang lainnya ada Asia Tenggara. Termasuk bila dibandingkan dengan Indonesia. Wah, mungkin ketinggalan banget, bo! Hmm, cucian deh Indonesia!

Kalau ngomongin luas wilayah dan jumlah penduduk bolehlah Indonesia berbangga ati. Tapi kalau udah bicara soal prestasi sosial-ekonomi-pendidikan, Indonesia dijamin semaput. Malaysia juga terbilang sebagai negara yang lumayan bersih dalam urusan korupsi, meski masih kalah dengan Singapura yang masuk peringkat 10 besar negara bebas korupsi. Indonesia? Ia urutan ke-4 negara terkorup di dunia versi PERC tahun 2002. Hmm, bangga atau malu ya?

Nah, nggak ada salahnya kita ngelongok negeri yang sering disebut-sebut sebagai ?negara Islam modern’. Bener nggak sih?

Sejarah Malaysia

Malaysia kuno sering disebut sebagai kawasan yang “diselubungi misteri”. Malah para sejarawan dunia menyebutnya sebagai “lubang hitam [black hole]” dalam sejarah Asia. Memang, tidak banyak arkeolog yang menemukan bukti-bukti atau catatan sejarah tentang Malaysia kuno. Catatan terkuno yang dipunyai Malaysia adalah ditemukannya tengkorak manusia di Gua Niah di Sarawak yang diduga berasal dari tahun 35.000 SM.

Sejarah Malaysia dimulai ketika berdatangan sejumlah orang India dari kerajaan Hindu di Kedah sekitar tahun 100 SM. Mereka melakukan sejumlah eksplorasi atas kekayaan alam tanah Malaysia – yang disebut Savarnadvipa [tanah emas] – berupa emas, cendana, rempah-rempah, dsb. Mereka juga menyebarkan agama Hindu & Budha, membangun kuil-kuil dan mempraktikkan tradisi India. Para raja lokal konon tertarik dengan kedatangan mereka sehingga menerima budaya mereka dan menyebut diri mereka sebagai “raja”.

Kerajaan Hindu berjaya hingga abad ke-15 M, setelah itu masuklah pengaruh Islam ke tanah Malaysia melalui Pangeran Prameswara, penguasa dari Palembang. Ia kemudian mendirikan kerajaan Malaka. Dengan cepat Malaka menjadi pusat penyebaran agama Islam dan juga perdagangan ke seluruh kepulauan Malaya. Gelar raja pun berubah menjadi sultan.

Kerajaan Malaka memiliki armada laut yang tangguh untuk menghadapi para bajak laut. Mereka juga mampu mengembangkan kekuasaan hingga bagian pantai Barat Malaya, kerajaan Pahang, dan kawasan-kawasan lain di Sumatera.

Namun pada tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan kolonial Portugis pimpinan Alfonso de Albuquerque. Meski demikian perlawanan kaum muslimin terhadap Portugis tidak hanya datang dari rakyat Malaka, mereka juga harus menghadapi serangan simultan dari tetangga Malaka yakni Johor, Aceh dan negara-negara lain.

Tahun 1641, Malaka jatuh ke tangan kolonial Belanda yang menggantikan Portugis sebagai pemimpin perdagangan Eropa di kawasan tersebut. Seperti halnya Portugis, Belanda juga menghadapi perlawanan sengit dari kerajaan-kerajaan Islam. Namun Belanda ternyata mampu memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke sejumlah bagian Johor. Pada periode ini kerajaan-kerajaan Malaya – Perlis, Kelantan dan Terengganu – berada di bawah pengaruh Siam [yang sekarang adalah Thailand].

Kesuburan tanah Malaya bukan ternyata juga menjadi incaran Inggris. Pada tahun 1785, pihak Inggris sukses meyakinkan Penguasa Kedah untuk mengizinkan mereka membangun benteng di Penang. Inggris semakin kuat ketika Belanda dikalahkan oleh Prancis pada tahun 1795. Alih-alih menyerahkan daerah kekuasaannya pada Prancis, Belanda lebih suka menyerahkannya pada Inggris. Pada tahun 1819, pemerintah Inggris mengutus Sir William Rafles untuk mendirikan pos perdagangan di Singapura.

Ketika kerajaan-kerajaan Eropa saling berebut kekuasaan, para sultan di Malaya juga tetap menjalankan kekuasaan mereka. Johor menjadi pusat perdagangan kaum muslimin, tapi tak berapa lama berpindah ke Perak.

Sayang, nafsu berkuasa menjadikan para sultan saling berperang. Mereka pun menjadi lemah. Inggris akhirnya memaksa para sultan untuk berdamai dan tunduk pada mereka dengan satu perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Pangkor di tahun 1874. Perjanjian damai ini justru kian memperkokoh posisi Inggris secara politik dan ekonomi. Mereka kian leluasa menjalankan praktik perdagangan monopoli di kawasan tersebut.

Kemerdekaan Malaysia

Pada tahun 1942 giliran Jepang menginvasi Malaya dan menguasai mereka. Hanya tiga tahun Jepang menguasai Malaysia seiring kekalahan mereka dari Sekutu pada tahun 1945. Inggris pun kembali berkuasa. Namun gerakan kemerdekaan Malaya justru telah terbentuk dan menginginkan kemerdekaan. Gerakan itu dipimpin oleh Tunku Abdul Rahman. Pada tanggal 31 Agustus 1957, bendera Inggris diturunkan di Lapangan Merdeka Kuala Lumpur dan Tunku Abdul Rahman diangkat sebagai Perdana Menteri Malaysia pertama. Meski demikian, Malaya tetap menjadi bagian dari Inggris dalam Perhimpunan Negara-negara Persemakmuran.

Mau tahu kemunculan nama Malaysia? Nama itu muncul setelah Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman meyakinkan Singapura, Sabah dan Sarawak bergabung dalam negara kesatuan Malaya. Muncullah nama Malaysia pada tahun 1961. Namun Singapura kemudian melepaskan diri pada tahun 1965.

O ya, Malaysia pernah berseteru dengan Indonesia. Itu terjadi setelah Presiden Pertama RI Ir. Soekarno memaklumatkan perang dengan Malaysia pada tahun 1965. Konon perang itu dipicu ketakutan Soekarno bahwa Malaysia akan mencaplok Indonesia. Tapi ada juga yang menyebutkan kalau perang itu adalah upaya Soekarno untuk mengalihkan perhatian rakyat Indonesia dari krisis politik dan ekonomi dalam negeri akibat ketidakmampuannya memimpin Indonesia. Perang yang berkobar di Borneo atau Kalimantan itu untung berlangsung tidak lama.

Malaysia yang terdiri dari multietnik ini [66 % ras Melayu, 26 % Cina, 6 % India]. Hal ini pernah menimbulkan masalah besar. Kalangan Cina yang menguasai perdagangan & bisnis telah menimbulkan krisis dan kemiskinan di kalangan warga pribumi. Mereka juga menentang pemerintah dan membentuk partai oposisi yang menyerang partai penguasa, UMNO [United Malay National Organization]. Pada tahun 1969, setelah partai oposisi memenangkan sejumlah kursi, kerusuhan hebat melanda Kuala Lumpur. Sekurang-kurangnya 200 orang tewas dalam konflik etnik tersebut. Akibatnya negara dinyatakan dalam keadaan darurat selama 2 tahun. Parlemen pun tidak pernah bertemu sampai tahun 1971.

Guna mengatasi benturan etnik tersebut, Perdana Menteri Malaysia baru Tun Abdul Razak, meluncurkan sebuah program baru yang bernama New Economic Policy [NEP]. NEP bertujuan mengurangi dominasi etnik Cina dalam bisnis, perdagangan. Kebijakan ini cukup berhasil meredam gejolak etnik di Malaysia.

Dakwah Islam di Malaysia

Para penguasa Malaysia rajin mempropagandakan negara mereka sebagai negara Islam. Mantan PM Mahathir Muhammad misalkan, pernah mengatakan, “Undang-undang Islam atau hukum syara’ ditegakkan di Malaysia dengan memperhitungkan keadaan negara yang majemuk keberagamaannya dan keadilan yang menjadi bagian pokok dalam undang-undang Islam.” Ia juga merujuk Daulah Islamiyyah yang pernah berjaya di Spanyol masyarakatnya adalah majemuk.

Kenyataannya, beragam praktik kehidupan sekuler-kapitalis bertebaran di Malaysia. Pesta tahun baru dengan para penari striptease bertebaran di klab-klab malam terkenal di Kuala Lumpur. Malaysia juga tidak mewajibkan kaum muslimah berjilbab [nggak percaya, tengok aja Sheila Madjid en Siti Nurhaliza!].

Para tokoh penting dan penguasa Malaysia juga menolak pendapat bahwa negara mereka adalah negara Islam. Tunku Abd. Rahman Putra menyatakan dengan tegas bahwa Malaysia tidak akan pernah menjadi negara Islam. “Dalam pernyataan saya yang terdahulu tentang agama, saya telah menyebut negara ini adalah negara sekuler. Maksudnya negara ini bukan negara Islam.” [Tunku Abd. Rahman Putra, Contemporary Issues on Malaysian Religious, Kuala Lumpur: Pelanduk Publications, 1986]. Dalam wawancaranya dengan New Strait Times, 28 September 1989, Tunku Abd. Rahman juga menegaskan. “Walaupun orang-orang Islam ingin menyaksikannya [negara Islam] berdiri, [namun] tidak akan wujud sebuah negara Islam di Malaysia.”

UMNO [United Malay National Organization] sebagai partai penguasa juga mempraktikkan pemerintahan yang otoriter. Kasus perseteruan Anwar Ibrahim-Mahathir yang menyeret Anwar Ibrahim ke penjara dengan dakwaan praktik sodomi dan korupsi, salah satu buktinya.

Pemerintah Malaysia juga mengontrol ketat para khatib dan ustadz, serta pengajian-pengajian. Mereka mengkhawatirkan munculnya ?radikalisme’ Islam di ranah Malaysia. Sangat kontras dengan semangat keislaman yang kerap mereka gembar-gemborkan.

Satu-satunya partai Islam yang masih berjaya di negerinya Siti Nurhaliza itu adalah PAS [Partai Islam Semalaysia]. Partai Islam yang berdiri pada 24 November 1951 menjadi partai yang paling berpengaruh di kawasan Kelantan. Partai yang diilhami gerakan Muhammad Abduh di Mesir ini sebenarnya berasal dari sayap keislaman yang dikembangkan oleh Partai Kebangsaan Melayu Se-Malaya atau yang lebih dikenal sebagai MNP yang berdiri pada bulan Oktober 1945. Dari MNP lahirlah MATA [Majelis Agama Tertinggi Se-Malaysia] yang kemudian melahirkan Hizbul Muslimin di Gunung Semanggol pada 14 Maret 1948.

Pada zaman kolonialisme Inggris, Hizbul Muslimin terkategori kelompok terlarang. Pemerintah kolonial menyebutnya sebagai “bahaya Dari Gunung”. Datu Onn Jafar, pemimpin UMNO pertama menyebutnya sebagai Red Islamic Party [Partai Islam Merah]. Sebutan ini tidak lain untuk menyudutkan Hizbul Muslimin dengan menyamakannya dengan partai Komunis.

Meski PAS telah menjadi salah satu pesaing utama UMNO, namun mereka masih kalah pamor dengan UMNO. Partai Islam itu hanya mampu berkuasa di daerah Kelantan, namun kesulitan menaklukkan Kuala Lumpur. Tidak lain karena kuatnya dominasi UMNO dan kemampuan politik mereka mengemas sekulerisme dengan selubung Islam.

Islam dan kaum muslimin, di negeri-negerinya, nasibnya sama. Selalu disudutkan dan dimusuhi oleh para penguasanya. Sayangnya tidak semua muslim menyadari hal itu. Termasuk di Malaysia. [januar, dari berbagai sumber]

[diambil dari Majalah PERMATA, edisi 20/Januari 2004]

%d bloggers like this: