Menggagas Tayangan Cerdas 1

Bagi kamu yang saban hari nongkrongin si kotak ajaib televisi, pastinya apal banget dong dengan beragam tayangannya (kecuali kalo kamu yang ‘ditonton’ televisi karena kamu tidur di depan pesawat itu he..he..). Bener, dari mulai ceramah agama, berita, sampe hiburan. Full saban hari mengisi hidup kita. Sayangnya, banyak banget tayangan yang nggak bikin kita cerdas. Khususnya tayangan film, sinetron, juga infotainment, termasuk program tentang kisah para hantu. Hih! Terus terang kita nggak yakin kalo tayangan itu bisa mencerdaskan pemirsanya. Suer!

Sobat muda muslim, semua stasiun televisi berlomba bikin program yang punya rating tinggi. Maklum, kalo ratingnya tinggi, berarti tayangan tersebut digemari pemirsa. Jika sebuah tayangan digandrungi jutaan pemirsa, itu tandanya sinyal baik untuk ditawarkan kepada para produsen barang dan jasa untuk memasang iklan di sela-sela tayangan tersebut. Nah, itu namanya bikin tebel dompet pengusaha tivi dong. Wajar banget kan kalo tayangan seperti itu digeber habis-habisan.

Ambil contoh tayangan infotainment yang menguliti kehidupan kaum seleb sampe ke yang remeh-temehnya, semua televisi punya program tersebut. RCTI, punya acara Kabar Kabari, Cek & Ricek, Buletin Sinetron, Delapan, dan Silet. Malah ‘gokilnya’ beberapa acara tersebut diputer ulang menjelang shubuh. Heh!

SCTV juga nggak mau kalah, stasiun ini menggeber abis lewat program Otista, Bibir Plus, Hot Shot, dan Poster. TPI punya program andalan Go Show, dan Bolly Blitz. ANTV ngandelin program Betis. Indosiar wara-wiri dengan KiSS. TV7 punya andalan Klise. TransTV menjual mimpi dengan Kroscek dan E..ko Ngegosip. Nggak mau ketinggalan, Lativi juga menawarkan program Paparasi. Wuih, semua acara itu hampir setiap hari digelar. Gedubrak!

Sobat muda muslim, selain tayangan infotainment, info seputar ‘kisah’ para hantu juga mendominasi tayangan televisi. Jadinya hantu memang ada di mana-mana. Kita dikepung para lelembut! Kayaknya kamu udah nggak asing lagi dengan Kismis, Dunia Lain, Ekspedisi Alam Gaib, O..Seraam, Gaib, Saksi Misteri, dan Misteri. Hih, amit-amit deh. Sangat boleh jadi tayangan seperti ini malah bikin kita lemah iman! Sangat boleh jadi lho…

Tayangan lain yang juga bikin otak kamu turun ke dengkul adalah sinetron yang hampir semuanya menjual mimpi. Semua bercerita tentang cinta, selingkuh, dan kehidupan kelas atas. Pokoknya full glamour deh. Cerita kayak gitu menjual mimpi! Bikin kita males mikir. Akhirnya, ya jadi generasi pemimpi. Bukan generasi impian. Astaghfirullah…

Coba deh kamu simak sinetron ABG, Senandung Masa Puber, Demi Cinta, Cewekku Jutek, Siapa Takut Jatuh Cinta, Dari Temen Jadi Demen, Kehormatan, Metropolis, Tersanjung, Gadis Mencari Cinta, Strawberry, Jangan Ambil Nyawaku, Cintaku di Kampus Biru, Aku Bukan Rio, Benci Benci Rindu, Cinta SMU, Cinta Tiada Akhir, Ada Apa dengan Pelangi, Yang Muda Yang Bercinta, Cinta Anak Kampus, dll.

Ealaaaahh…. rupanya nggak cukup bikin pemirsa butek otaknya, televisi masih mengumbar kekerasan, meski itu diungkap dalam sebuah investigasi. Coba deh tengok Sergap (RCTI), Patroli dan Jejak Kasus (Indosiar), Sidik dan Cidera (TPI), Buser dan Derap Hukum (SCTV), Kriminal dan Lacak (TransTV), Fakta (ANTV), Investigasi (Lativi), dan TKP (TV7). Semua disampaikan bak dalam sebuah drama. Adegan kejar-kejaran petugas dengan penjahat, lengkap dengan baku tembak. Begitulah… alih-alih mencerdaskan pemirsa, bahkan mungkin jadi inspirasi penjahat yang belum tertangkap. Walah?

Duh, belum lagi tayangan yang punya prinsip moderat, alias modal dengkul buka aurat macam Digoda, Yang Digoyang, Digoyang Anissa Bahar, Goyang Inul, Sahara Hits, Duet Maut, Diva Dangdut, Kawasan Dangdud, Dansa Yo Dansa dan sejenisnya. Juga tayangan yang nyerempet-nyerempet urusan ‘kasur’ macam Angin Malam, Kelambu, Bantal. Mungkin nanti ada juga Guling, Selimut, Seprei, Ranjang, bahkan Keranda sekalian biar langsung dikubur (he.he..). Ckckckck… merana deh hidup di alam kapitalisme. Jangan mau terus begini euy!

Membius akal sehat
Sobat muda muslim, kita benar-benar dikepung dari segala arah. Nyaris nggak bisa lepas dari suguhan beragam tayangan murahan dari semua stasiun televisi. Ada juga sih tayangan yang lumayan bisa mencerdaskan macam Discovery Chanel di TPI. Tapi ya, kalah pamor. Menyedihkan.

Inilah pertarungan budaya yang memaksa kita jadi senewen. Tayangan televisi pun kental banget dengan budaya pop. Kamu tahu budaya pop? Kata orang pinter, budaya pop adalah budaya yang ringan, menyenangkan, trendi, dan cepat berganti.

Kritikus Lorraine Gamman dan Margaret Marshment, keduanya penyunting buku “The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture (1998)”, bersepakat bahwa budaya populer adalah sebuah medan pergulatan ketika mengemukakan bahwa tidaklah cukup bagi kita untuk semata-mata menilai budaya populer sebagai alat kapitalisme dan patriarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugatnya ideologi dominan. Walah, moga kamu nggak error untuk memahami maksud kritikus ini.

Celakanya, dalam pertarungan tersebut, siapa pun bisa terlibat dalam lingkarannya. Termasuk tentunya remaja. Perang ideologi nggak bisa dihindarkan lagi sobat, alias kudu pasti terjadi benturan. Lucunya, acapkali kita, kalangan remaja, udah merasa down duluan dari pada harus bertarung melawan budaya tersebut. Hmm.. ini untuk tidak mengatakan kalo remaja biasanya pura-pura tidak tahu apa-apa, dan lebih memilih “terbawa� arus budaya yang lebih kuat. Parahnya lagi, seperti diakui banyak pengamat, bahwa budaya populer yang sekarang lagi ngetren bergerak amat cepat. Saking cepatnya, sampe tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital, logika proses produksi, yakni hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Inilah yang sering dijuluki sebagai instans culture.

Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu track lebih tinggi ini memang tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih dalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli. Nah, lho.

Para pengusaha televisi juga kayaknya doyan menyihir pemirsa. Demi mengeruk banyak uang, mereka rela meracuni anak bangsa. Kita benar-benar dibius dengan tayangan murahan seperti itu. Akibatnya, jangan kaget kalo ada pemirsa yang akhirnya bertindak nekat karena merasa benar dengan apa yang ditayangkan televisi. Inilah kalo dalam bahasa komunikasi ada sebuah efek yang namanya efek spiral kebisuan. Artinya kalo info itu salah sekalipun, tapi ditayangkan berulang-ulang bisa berubah jadi â€?benar’, lho.?  Apalagi nggak ada tayangan tandingannya. Udah deh, wassalam itu mah. Ckckck…

Itu sebabnya, pakar komunikasi seperti Mc.Luhan, yang juga penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi.

Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping� lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada� (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. Bener-bener membius akal sehat!

Rindu tayangan cerdas
Jaman kakakmu sekolah dulu. Kira-kira usia SD pada tahun 80-an, kayaknya nggak bisa melupakan sinema Rumah Masa Depan. Dibintangi Bang Septian Dwi Cahyo waktu umur belasan tahun. Didukung pula oleh bintang film kawakan seperti Mak Wok dan Pak Hamid Arif (yang jadi langganan ‘musuhnya’ Bang Benyamin Sueb di film komedi tahun 70-an he..he..).

Terus terang saja, penulis salut sama tayangan film yang kebetulan cuma muncul dari rahim TVRI itu. Maklum, belum jamannya booming televisi swasta seperti sekarang. Tayangannya kaya dengan nilai-nilai moral dan mendidik kita untuk menghargai orang lain, menanamkan semangat untuk mencari ilmu, menghormati orang tua, dan juga kesetiakawanan dengan teman. Bermanfaat bukan?

Film kolosal karya Musthofa Akkad di tahun 70-an berjudul “Ar-Risalah” juga bermutu. Yup, film berdurasi hampir tiga jam itu memberikan ‘makanan’ bergizi buat pemikiran kita. Memang sih, film ini pun masih ada kekurangan di sana-sini. Tapi, cukup memberikan kontribusi besar untuk penontonnya.

Sobat muda muslim, kita butuh tayangan yang bisa membuat pemirsanya cerdas. Bisa mengarahkan pemirsa menjadi orang-orang yang mampu memiliki kepribadian yang mantep dan tahan goncangan. Syukur-syukur, dan ini yang utama, tayangan bermuatan Islam yang kental sangat ditunggu-tunggu.

Betul. Kita berharap banyak ada orang atau pihak yang bisa membela dan menyuarakan Islam dengan benar. Aksinya amat diperlukan dalam kondisi saat ini, lho. Bener. Di tengah gelombang arus informasi yang kian cepat ini, bukan mustahil kalo kita bakalan kebawa arusnya yang deras. Sementara, kita kudu mengakui, nggak semuanya informasi itu membawa berkah. Sebaliknya, justru malah membawa malapetaka.

Contohnya ya sekarang ini, bagaimanapun, ide rusak yang dikemas dalam bentuk hiburan ini bakal menyulap pemikiran penontonnya. Maka, bila tak ada langkah pencegahan, wah, jangan salahkan mereka aja bila akhirnya kaum muslimin jadi berantakan pemikirannya. Sebab, ada yang salah juga dari kita. Yakni, diem aja atau bahkan larut dalam gaya hidup yang diajarkan mereka (musuh-musuh Islam).

Kita, remaja Islam sebenarnya sangat berharap akan ada media Islam yang mampu bersaing dengan media lain yang bisa tampil memikat, gaul, ngertiin gaya remaja dan tentu saja menampilkan wajah Islam yang ramah.

Lagipula, untuk urusan dakwah bukankah keikhlasan dan keseriusan menjadi prioritas. Sekarang pilih mana; membiarkan terus remaja dan anak-anak kita tenggelam dalam tayangan?  yang â€?menyesatkan’ atau memberikan tayangan alternatif yang â€?mencerahkan’? Rasanya semua sudah tahu jawabnya.

Bukan kita merasa sok benar sendiri, apalagi sok suci. Tapi maksud kita adalah supaya kamu juga mulai berpikir lebih rasional, serius, dan dapat menghasilkan karya positif. Jadi otak kamu benar-benar produktif.

Sebab, Allah Swt. telah membimbing kita untuk memberdayakan otak kita dengan hal-hal yang benar dan baik. Ambil contoh, firman-Nya:

?§?‚?’?±???£?’ ?¨???§?³?’?…?? ?±???¨?‘???ƒ?? ?§?„?‘???°???? ?®???„???‚?? .?®???„???‚?? ?§?„?¥???†?’?³???§?†?? ?…???†?’ ?¹???„???‚?? .?§?‚?’?±???£?’ ?ˆ???±???¨?‘???ƒ?? ?§?„?£?’???ƒ?’?±???…?? .?§?„?‘???°???? ?¹???„?‘???…?? ?¨???§?„?’?‚???„???…?? .?¹???„?‘???…?? ?§?„?¥?’???†?’?³???§?†?? ?…???§ ?„???…?’ ?????¹?’?„???…?’
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (TQS al-�Alaq [96]: 1-5)

(Buletin Studia – Edisi 147/Tahun ke-4/2 Juni 2003)

One comment on “Menggagas Tayangan Cerdas

  1. rizal May 17,2010 08:35

    Bagus artikelnya,
    sy ijin untuk mengutip sebagian ya.
    terimakasih 🙂

Comments are closed.

%d bloggers like this: