Mengkaji Ulang Perjuangan Intraparlemen 1

Semangat perubahan sudah digelorakan. Banyak jalan menuju kebangkitan Islam. Tak terkecuali yang menjajal masuk parlemen sistem kufur. Sayangnya, sampai sekarang masih perlu diuji efektivitasnya.

Fajar kebangkitan ummat mulai menyingsing, perlahan bergulir mendekat. Kesadaran untuk hidup mulia menyentuh jiwa-jiwa generasi muda Islam. Angin kesadaran berhembus, menimbulkan gelombang kesadaran yang terus membesar. Kerinduan akan kehidupan Islam nampak di berbagai belahan dunia. Kesadaran akan Islamic Way of Life, mengantarkan kaum muslimin ke medan perjuangan politik. Sebab jalan hidup Islam tak mungkin terwujud tanpa kekautaan politik.

Dalam perjuangan meraih kekuasaan poltik, terdapat dua arus besar yang berbeda. Intra dan extraparlemen (sistemik dan non-sistemik). Jalan Intraperliement membolehkan keterlibatan secara langsung di dalam proses politik dan pengambilan keputusan, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Perubahan yang diinginkan terjadi secara perlahan  (perubahan gradual/evolutif). Jalan ini tentunya lebih aman dan lebih bisa diterima terutama oleh kelompok pro statusquo. Perubahan revolusioner dihindari, sebab lebih berbahaya dan banyak mendapat penentangan.

Jebakan politik
Jika dikaji secara mendalam dan lebih kritis, garis perjuangan Intraparliement Cooperative tersebut justru membelokan dari kemenangan politik yang sejati. Memerosokan perjuangan ke dalam “Jebakan Politik”, terlibat dalam tarikan-tarikan politik, masuk ke dalam wilayah abu-abu. Di dalam sistem, sebuah partai harus mengikuti aturan main yang tak Islami, menghadapkan partai pada pilihan yang tak layak pilih. Ambil contoh PKS dan PBB. Keduanya termasuk partai yang berusaha memperjuangkan syariat Islam. Dukungannya terhadap SBY sebagai Presiden mendapat kompensasi kedudukan tertentu di pemerintahan. Tetapi kedudukan tersebut belumlah cukup untuk membuat perubahan yang berarti. Terlebih lagi, ketika pemerintahan SBY menaikan harga BBM, koalisinya justru yang menghambat keduanya untuk lebih banyak meperjuangkan ummat. Keberhasilan PKS menduduki kursi mayoritas di DPRD DKI, ternyata juga belum mampu mengadapi kekuatan sistem yang mengaturnya. Suara mayoritas menjadi tidak berarti ketika berbicara perubahan, lebih-lebih aturan Islam.

Di sisi lain, sumber daya partai terkuras untuk mendongkrak suara ketika pemilu. Akibatnya, partai terlalaikan dari tugasnya melakukan penyadaran politik umat. Padahal mewujudkan kesadaran politik umat, merupakan salah satu syarat perubahan. Kehadiran partai Islam di pemerintahan, bisa dijadikan sebagai pembenaran untuk melawan perubahan terhadap sstem yang berlaku, di samping melanggar aturan Allah karena menjalankan aturan selain Islam. Padalah Allah sudah memperingatkan dengan keras dalam QS al-Maidah [5] : 44, 45 dan 47.

Di lain pihak, perjuangan extraparliement  tidak mengalami jeratan-jeratan politik semacam itu. Lebih leluasa melakukan aktivitasnya, menyebarluaskan gagasannya, karena tidak terikat dengan aturan-aturan yang dibuat untuk menjaga dan mengokohkan sistem yang ingin diubah. Sumber daya yang dimiliki digunakan sepenuhnya untuk medidik ummat agar sadar politik Islam. Memang perubahan tidak bisa dilihat secara langsung, dalam bentuk perubahan peraturan, tetapi keberhasilan tersebut dicapai ketika perubahan secara fundamental terwujud. Untuk mewujudkanya diperlukan kesadaran politik umat dan tuntutanya untuk menerapkan Islam secara total. Karena semua aturan akan berubah ketika dasar dari system tersebut berubah.

Dakwah Rasulullah
Rasululah saw. yang mulia telah memberikan contoh dalam mengubah masyarakat. Rasul memulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi, membentuk kader-kader dakwah yang tangguh. Membina akidah para sahabat agar mampu mengarungi medan dakwah. Dakwah berubah menjadi terang-terangan, setelah turun perintah dalam QS al-Hijr [15]: 94. Pada tahap ini Rasulullah menyerang kebiasaan, adat dan aturan yang berlaku di masyarakat secara terang-terangan, jelas dan tegas. Rasul mengecam pelaku penyembah berhala dalam QS al-Anbiya [21]: 98, pelaku riba dalam QS ar-Rum [30]: 39, pelaku kecurangan timbangan dalam QS al-Muthaffifin [83]: 1-3.

Rasulullah saw. melakukan perubahan pemikiran dengan menunjukkan keburukan sistem yang berlaku, bukan perbaikan. Rasul tidak kumudian menyediakan badan/lembaga yang bebas riba, ketika rasul menyerang keburukan riba. Rasul juga tidak menghukum atau menyarankan untuk menghukum seseorang yang melakukan kecurangan timbangan, ketika mengecam pelaku kecurangan.

Rasulullah pun tetap merendahkan sistem yang berlaku, agar masyarakat Arab paham, bahwa tatanan hidup yang dijalani adalah tatanan hidup yang salah, dan harus diganti dengan Islam. Rasul menolak ketika ditawari jabatan menjadi Raja di Mekah, padahal hal tersebut merupakan kesempatan yang langka. Rasul tidak mau berkompromi dalam hal kebenaran. Rasul juga menolak mentah-mentah untuk menjalankan Islam sebagian, di satu waktu menjalankan Islam di lain waktu menjalankan kekufuran (QS al-Kafiruun : 1-6).

Konsekuensi dari sikap Rasulullah adalah permusuhan dan perlawanan, bahkan terancam dibunuh. Akan tetapi Rasulullah tetap teguh pada pendirianya sampai Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin dengan tegaknya Negara Islam Madinah. Kemudian Rasulullah memberlakukan seluruh hukum Islam yang telah turun. Muhammad saw. merupakan revolusioner sejati, yang berhasil merubah masyarakat jahiliyah menjadi Islam. Rasul melakukan perubahan secara revolusioner (inqilabiyah) bukan evolusioner (ishlah). Rasul tidak tidak memperbaiki masyarakat Mekah atau Madinah tetapi Rasul mengubahnya secara fundamental, dengan menjadikan ideologi Islam sebagai dasarnya, sekaligus aturan di antara manusia, termasuk Yahudi, Nasrani dan kaum lain.

Perubahan revolusioner
Islam telah lengkap dan sempurna dengan seluruh hukumnya. Hukum Islam yang diterapkan harus secara keseluruhan, bukan sebagian-sebagian. Hal ini bisa terwujud jika perubahannya secara fundamental atau revolusioner. Perubahan revolusioner hanya mungkin ditempuh dengan jalan extraperliement non cooperative. Jalan kompromi  melaui parlemen justru akan mengebiri dakwah, memasung perjuangan dalam kungkungan sistem yang  dibuat untuk mengkokohkan statusquo. Demokrasi yang digemborkan memberikan kebebasan, tetapi demokrasi tidak akan pernah berkompromi dengan pembunuh demokrasi, yaitu Islam. Fakta berbicara, kemenangan mutlak FIS digagalkan. Kemenagan Parati Refah akhirnya dijatuhkan militer atas restu pelopor demokrasi.

Fakta sejarah telah membuktikan, banyak perubahan terjadi karena kekuatan extraperliement (di luar sistem). Restorasi Meiji meruntuhkan kekuasaan Shogun Tokugawa. Revolusi Perancis meruntuhkan dinasti Bourbon. Revolusi Merah Bolsevick, mengulung kekuasan Tzar Russia. Komunis Russia, Jerman Timur, Nicolai Ceausescu di Romania, kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi juga keangkuhan orde baru di Indonesia jatuh oleh kekuatan ekstraparlemen. Kejadian terbaru, Askar Akayev di Kirgiztan jatuh oleh aksi massa, Zurab Zhavania (Georgia) dipaksa turun oleh “Revolusi Tulip”, Viktor Yakunovych (Ukraina) ditumbangkan “Revolusi Orange”

Tetapi jalan mana yang  ditempuh bukan semata-mata pertimbangan berhasil dan tidaknya, tetapi semata-mata karena syariat Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. Islam itu benar maka harus diperjuangkan dengan jalan yang benar. Sebagaimana Maha SuciNya Allah yang hanya menerima sesuatu yang suci. Menghidarkan dari yang dilarang adalah adalah sikap terbaik yang akan memudahkan Allah menurunkan pertolonganNya.

Rasa-rasanya amat pantas jika friman Allah Swt. di bawah ini dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita: “Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu di dalam al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan kafir di dalam Jahanam” (QS an-Nisa [4] : 140)

Dalam ayat lain: “Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan” (QS Huud [11] : 113)

Wallahu ‘alam bishowab [Dj Saputra]
Bogor,  May 5th 2005,  10:00 PM

pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda

One comment on “Mengkaji Ulang Perjuangan Intraparlemen

  1. wang zhong Nov 17,2009 20:15

    seingat saya, pemimpin PKS pernah mengatakan di suatu berita yang di rilis oleh the Jakarta Post (saya lupa nomernya, sekitar awal 2009), bahwa meraka tidak berniat menerapkan islamic law alias syariah islam, mereka hanya ingin, islamic values itu diterapkan.

Comments are closed.

%d bloggers like this: