Menjadi Daiyah, Kudu Lagi!

Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?

Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan married ama Pak Haji). Sekarang, kondisinya udah beda 180 derajat. Meski kaum berumur masih ada yang aktif berdakwah, tapi jumlahnya bisa dihitung, cukup dengan jari tangan plus jari kaki kamu. Sebaliknya, kini remaja-remaja seusia kamu Non yang lebih mendominasi aktivitas yang katanya bau surga itu.

Dalam menerjuni kancah dakwah, mereka punya motto “Hidup Mulia atau Mati Syahid”. Ada juga yang punya motto “Lebih baik Berdakwah daripada Didakwahi”. (Maksudnya, lebih baik memberitahu dulu daripada diomeli, kali ye). Yang lain punya motto “Bunga Dakwah“, artinya buku ngaji dan dakwah. Tentu saja mereka jauh dari aktivitas hura-hura, pesta dan cinta kayak generasi dugem.

Trisna Rahmawati salah satunya. Siswi kelas 3 SMK Negeri 1 Bogor ini ikut terlibat DKM Asy-syifa di sekolahnya. Doi terlibat dakwah karena menyadari betul bahwa hal itu suatu kewajiban. Kesadarannya itu muncul setelah bersentuhan dengan ajaran Islam ketika waktu kelas 1. ”Tadinya hanya ingin cari pengalaman organisasi aja, tapi setelah mengkaji Islam jadi tahu kalo dakwah itu wajib. Ya udah, jalanin,” ungkapnya. Selain dapat ilmu Islam, Marni senang karena bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan yang positif. Nggak mengganggu sekolah? ”Enggak tuh, prestasi masih baik-baik aja,” akunya.

Hanya, kadang doi dihadapkan pada kendala waktu. Maklum, udah kelas 3, jadi lumayan sibuk. ”Tapi melihat situasi di lingkungan, khususnya sekolah, kita pengin dong berubah menjadi Islami. Makanya nggak bisa tinggal diam,” imbuhnya.

Aktivitas ngaji dan dakwah juga dirasakan Anggita Indra Sari, mahasiswi semester 5 Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB). Doi yang baru sekitar dua tahun masuk Islam ini, sedang getol-getolnya? mempelajari Islam karena merasa belum tahu banyak. ”Sejak itu saya tahu kalo dakwah itu wajib. Bahkan walaupun baru paham satu ayat, kita harus menyampaikan ke orang lain,” kisahnya kepada Permata. Selain itu, ketika melihat kemungkaran, adalah kewajiban kita untuk mengingatkan, imbuh gadis manis asal Jawa Tengah ini.

Mengalami kendala nggak saat berdakwah? ”Wah, banyak sekali. Pernah? saya dianggap ikut aliran sesat. Termasuk di keluarga, saya masih dianggap nggak tahu apa-apa tentang Islam,” ujarnya. Karena itu, Anggi butuh dorongan kuat untuk meyakinkan orang yang didakwahinya. Selain Anggi ada juga Ninik Sulastri, alumnus Universitas Airlangga yang masih jomblo ini, sangat menikmati aktivitas dakwahnya. Aktivitasnya, mengisi pengajian, menjadi operator siaran radio program Islam, ikut seminar, de el el.

Dalam beraktivitas, banyak kendala doi temukan. Baik dari diri sendiri, masyarakat maupun lingkungan. Dari diri sendiri, misalnya kalo lagi terserang penyakit Betty La Fea, alias bete. Atau pas ketemu ama audiens yang ‘bandel’ bin ‘istiqomah’ dalam kemunkaran. ”Pernah ngisi pengajian sampai berkali-kali, eh…orangnya kagak berubah-berubah,” keluhnya.? Ada lagi dari lingkungan, misalnya dihambat perangkat desa setempat ketika akan menyampaikan Islam. ”Kita kan minta ijin mo ikut pengajian ibu-ibu, tapi tidak diijinkan, malah kelihatan dihambat, gitu,” curhatnya kepada Permata belum lama ini. (Dikira minta bayaran atau minta sumbangan kali, ya!)

Lalu, apa yang dicari dengan segudang aktivitas itu? Hampir semua akhwat di atas sepakat, mencari ridho Allah. ”Yah, namanya juga menjalankan kewajiban. Tujuannya ya cuma satu, moga-moga dapet pahala,” begitu ujar Trisna. ”Saya sih sama, mencoba merintis jalan menuju surga,” imbuh Ninik. Semoga terkabul deh!

Dakwah, Mengapa Tidak?

Ya, dakwah memang bukan monopoli kaumnya AA Gym saja. Kaum hawapun juga punya kewajiban yang sama, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Allah berfirman yang artinya: “Hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada Islam, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (TQS Ali-Imran: 104). Seruan ini tidak khususon buat cowok, tapi juga buat cewek. Demikian pula QS An-Nahl: 125, QS Fushilat: 33, dll.

Dalil lain tentang wajibnya dakwah adalah Sabda Rasullullah yang artinya: “Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah mencegahnya dengan tangan, dan jika tidak mampu maka dengan lesan, dan jika tidak mampu dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Jadi jelas, dakwah adalah wajib. Tidak bisa ditawar lagi, jadi sunah atau mubah, misalkan. Sama halnya dengan kewajiban salat atau puasa di bulan Ramadhan, maka konsekuensinya jelas jika kamu tak melaksanakannya, yakni dosa. Na’udzubillahi min dzalik. Dan kewajiban ini nggak dibatasi umur, nunggu kalo udah tua atau udah hajah misalkan. Jadi kamu-kamu, asal udah baligh, udah kudu menjalankannya.

Bagaimana agar bisa menjadi daiyah? Kunci pertama adalah belajar Islam (ngaji). Eit, jangan antipati dulu. Wah, kalo ngaji ntar ini nggak boleh, itu dilarang, begitu mungkin pikir kamu. Padahal kalau tahu Islam, nggak berat kok ngejalanin perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Wong semua itu dibebankan Allah Swt sesuai dengan kemampuan kita kok.

Termasuk, ketika dalam melaksanakan aktivitas dakwah, kamu dihadang tantangan dan hambatan, Insya Allah pasti kamu mampu mengatasinya. Asal kamu tahu strateginya aja. Soalnya, meski nggak setebal tembok Cina, namun hambatan ini cukup menjadi kendala bagi keberhasilan dakwah. Hambatan itu bisa datang dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Dari diri sendiri, diantaranya adalah keyakinan terhadap Islam yang mungkin belum 100%, nggak pede, malas, takut resiko, atau kesibukan pribadi seperti karena masih sekolah, kuliah atau karena urusan keluarga.

Tantangan dari keluarga, bisa jadi masalah perijinan ketika akan keluar rumah, terjadinya bentrokan pemikiran dengan keluarga yang belum sepemahaman dengan kita, dan juga masalah uang saku. Maklum, bagaimana pun sebagai anak yang belum bisa mandiri, kita kan masih minta ongkos ortu pas kudu keluar rumah. Iya, kan? Nah, kalo lagi ada kegiatan nggak dikasih ijin plus ongkos, gimana bisa jalan? Sedangkan tantangan dari masyakat, bisa akibat adanya image negatif atas aktivitas kita, birokrasi yang bertele-tele, perijinan, dll.

Ada Rambu-rambunya, Lho!

Dalam menjalankan aktivitas dakwah, ada ‘rambu-rambu’ khusus buat wanita. Ada hukum-hukum syara’ tertentu yang kudu diperhatikan. Pertama, ketika wanita akan keluar rumah, dia musti dapet SIM (Surat Ijin Mengaji) dari ortu atau suaminya, bagi yang udah married. Rasulullah bersabda: “..tidak boleh wanita keluar rumah kalau suaminya tidak suka.” (Lihat Shahih Ibnu Hibban).

Ini bukan berarti menghambat aktivitas wanita lho, lebih karena untuk menjaga iffah (kesucian) wanita sendiri. Siapa tahu keluargamu pengin menjemput, kan biar nggak nyasar. Atau barangkali aja dompet kamu ketinggalan, kan bisa disusulin, he…he…he. Lagipula ada kewajiban mengurus anak (hadhanah) yang nggak bisa dialihkan pada suami, babysitter apalagi tetangga.

Kedua, tidak tabaruj atau berdandan nyolok yang bisa menarik perhatian. Yang harus jadi magnet audiens itu pemahaman Islam kamu, bukan kamunya. So nggak usah overact dengan dandan kayak badut, atawa pakai wangi-wangian yang baunya bisa bikin kelenger. Allah berfirman: “Janganlah kalian bertabaruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.” Sekadar ingin tampil serasi, segar dan bersih sih, boleh. Pokoknya asal nggak bikin enek, tapi enak dipandang (emangnya permen Tamarin).

Ketiga, wanita musti disertai mahram bila melakukan perjalanan dengan menempuh jarak safar (sehari semalam atau 24 jam). Rasullullah bersabda: “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akherat, melakukan perjalanan satu hari satu malam kecuali bersamanya mahram.”

Tidak menutup kemungkinan kan, diantara kamu musti menghadiri acara penting di suatu kota nun jauh di mata. Misalnya ada koordinasi antar Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se-Indonesia yang mengharuskan kamu keluar wilayah tempat tinggal kamu. Kadang, bagi yang masih lajang, ini memang sulit. Apalagi kalau tinggal di perantauan tanpa mahram. Untuk itu bisa ditemani jamaah wanita lainnya, jangan ngajak temen ikhwan. Pokoknya jangan ampe pergi sendirian deh! Selain haram, juga bisa mengundang bahaya. Mending kalau ‘cuma’ dicopet atau dirampok, kalo diculik atau diperkosa, kan berabe. (Eh, ini bukan nakut-nakuti, lho).

Keempat, sebaiknya wanita mendakwahi atau mengkaji Islam dengan sesama jamaah wanita. Hal ini untuk lebih menjaga kesucian dan menghindari fitnah. Kalau ngisi pengajian ikhwan emang kenapa? Dalam proses belajar mengajar, wanita mengajar lelaki atau sebaliknya memang boleh hukumnya. Seperti yang pernah dilakukan Aisyah istri Rasulullah ketika mengajarkan hadits kepada para shahabat. Namun, itu berarti si wanita harus disertai mahram, atau audiens yang ikhwan tersebut tidak sendirian. Artinya, jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan saja), apalagi di tempat khusus. Ntar dikira kencan lagi.

Setelah kamu tahu hukum dakwah dan juga rambu-rambu yang kudu diperhatikan, bagaimana? Yang belum menjalankan aktivitas dakwah, sami’na wa atho’na, kan? Siap laksanakan! Ayolah, nggak usah takut! Hasilnya jelas kok, dapet pahala, jaminannya surga. Amiin!!! [asri]

Boks —–

Catatan Kecil Buat Da’iyyah

Dakwah itu wajib. But jangan lupa ada pernak-pernik yang kudu kita bangun. Kalau nggak, bisa jadi program dakwah kita yang mulia itu berantakan. Nah ini ada beberapa catatan kecil buatmu;

  1. Bangunlah komunikasi dengan keluarga. Ada baiknya kamu ceritakan terus terang aktivitas kamu, tentu dengan memilih situasi dan kondisi yang tepat. Nah, misalkan kamu aktif di rohis, ungkapkan kegembiraanmu pada ortu bisa terlibat di kegiatan tersebut. Kalau ortu melihat kamu senang dengan aktivitasmu, ortu tidak akan berat melepas kepergianmu. Selain itu, kalo kamu suatu saat pulang tak seperti biasanya karena rapat misalkan, ortu tak komplain.
  2. Jangan lupa ada juga kewajiban dakwah pada ortu dan keluarga. Dengan begitu kamu udah punya dukungan yang kuat di dalam keluarga. Enak kan?
  3. Tunjukkan bahwa dakwah nggak menghambat prestasi belajar. Jangan sampai nilaimu jeblok lalu menjadikan dakwah sebagai kambing hitam. Karena itu, kamu musti pintar bagi waktu antara belajar dan berdakwah.
  4. Jangan lupa minta izin setiap mau pergi, utamanya kalau pergi jauh en lama maka harus minta izin jauh-jauh hari sebelum hari H tiba. Siapa tahu sebetulnya ortu punya rencana lain, ngajak berkunjung ke sanak famili misalnya, ngajak belanja atau butuh bantuan kamu buat kerjabakti bersih-bersih rumah. Dengan bicara jauh-jauh hari, siapa tahu pula ortu malah ngasih ijin plus; plus uang transport, uang jajan, uang makan, uang lelah, uang capek, uang malu dll (He..he…he…). Atau, syukur-syukur malah dianterin ke tempat aktivitasmu. Lumayan kan, ngirit ongkos sekalian mengenalkan ortu pada lingkungan kamu. Kalau ortu tahu dengan siapa kamu bergaul, mungkin ortu makin percaya sama kamu.
  5. Bagi kaum ibu atau istri muda (baik karena umurnya masih muda maupun karena sebagai istri kedua, ketiga dan keempat) juga begitu, beritahu suami sebelum hari H supaya tidak terjadi bentrokan kepentingan dengan suami. Demikian pula agar pekerjaan rumah tidak terbengkalai. Apalagi kalau udah punya baby. Inget, kewajiban mengurus anak kan ada pada ibu, bukan suami, babysitter apalagi tetangga. Dengan begitu, siapa tahu suami menawarkan diri untuk meng-handle sebagian pekerjaan rumah. Jadi, kewajiban mengurus rumah maupun kewajiban dakwah sama-sama bisa berjalan lancar. Gimana kalau suami suatu ketika nggak ngasih izin? Jangan nuduh dulu suami anti dakwah, tapi mungkin ia punya pertimbangan lain yang perlu bantuanmu, misalkan anak sakit, atau suaminya sakit, atau suami lagi banyak kerjaan, jadi butuh bantuanmu untuk ngurus anak, rumah dan suami (emang suami nggak perlu diurus?). Dan dalam hal ini kewajiban seorang istri adalah taat pada suami. Catet itu! Pernahkan denger hadits seorang wanita yang nggak keluar rumah atas perintah suaminya, padahal ia pengen banget berbakti pada orang tuanya yang tengah sakit berat. Bahkan sampai meninggal. Ternyata Allah malah memberikan ampunan pada ortunya karena ketaatan sang anak pada suaminya.
  6. Jaga kesehatan. “Sesungguhnya pada tubuhmu ada hak atasmu,” kata Rasululullah saw. mengingatkan kita supaya menyayangi tubuh kita. Jangan mentang-mentang disibukkan bergudang-gudang kegiatan, jadi lupa makan, minum, atau istirahat. Ingat lho, yang namanya hajatul udhowiyah (kebutuhan jasmani) seperti makan, minum, dll, wajib dipenuhi. Kalo nggak, bisa menghantarkan pada kematian. Kamu nggak mau kan gara-gara kamu sakit seluruh aktivitas jadi terhambat?

So guest, selamat menjelajahi dunia dakwah. Semoga pilihan untuk terjun ke medan mulia, mengemban misi para Nabi dan Rasul ini bukan sekadar nekad, tapi jadi jalan hidup. Amin!!![asri]

[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Oktober 2002]

%d bloggers like this: