Tuesday, 6 December 2022, 08:55

gaulislam edisi 773/tahun ke-15 (17 Muharram 1444 H/ 15 Agustus 2022)

Kalo menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur. Bisa juga berarti angan-angan. Nah, untuk judul ini, bisa dua arti. Tergantung kita memandangnya, ya Bro en Sis. Pertama kemerdekaan negeri ini memang masih menjadi mimpi alias belum menjadi kenyataan. Maksudnya yang benar-benar merdeka, gitu. Kedua, berarti angan-angan atau suatu keinginan kuat untuk merdeka. Ini juga bisa diterima. Sebab, negeri kita ini kalo dikatakan nggak ada penjajahan secara fisik itu betul. Namun, penjajahan dalam bentuk lain masih ada. Ini juga berangan-angan ingin mendapatkan kemerdekaan yang hakiki. Lepas dari semua penghambaan tersebut.

Oke, tanpa perlu berdebat mana yang pas dari arti kata “mimpi” dalam judul ini, saya cuma ingin mengajak kamu untuk berpikir lebih jernih, lebih bijak, lebih luas, dan lebih maju. Bukan sekadar kini merasa aman dari penjajahan secara fisik, karena Belanda dan Jepang udah kabur sejak tahun 1940-an. Nggak sekadar itu. Sebab, di zaman sekarang ini penjajahan beragam jenisnya. Bisa di bidang ekonomi, pendidikan, hukum, militer, politik, kesehatan, dan banyak lagi. Selama kita masih tergantung pada produk negara lain, masih diatur-atur oleh negara lain dalam urusan ekonomi, politik, hukum, dan segala aspek kehidupan, itu artinya kita belum merdeka secara hakiki, belum sepenuhnya merdeka.

Jadi, tulisan ini sekadar ingin menyadarkan kamu bahwa sebenarnya kita, negeri kita ini, belum sepenuhnya merdeka, atau belum benar-benar merdeka. Nanti kamu bisa membaca fakta yang saya sodorkan dalam pembahasan ini, ya. Biar kamu paham berdiri, eh duduk perkaranya.

Minyak goreng langka pada beberapa bulan kemarin, itu menunjukkan kalo kita belum bisa berdaulat terhadap ketahanan pangan. Masih limbung karena belum cukup kuat untuk bertahan. Kedelai yang masih impor sampai sekarang, padahal itu bahan baku untuk tahu dan tempe yang menjadi panganan sehari-hari penduduk negeri kita ini. Why? Ini sekaligus menunjukkan bahwa negeri kita tak bisa swasembada pangan. Belum lagi soal bahan bakar minyak. Itu juga ruwet ngaturnya. Padahal, negeri ini sangat kaya sumber daya alam migas (minyak dan gas). Hanya saja tata kelolanya yang belum bener, belum rapi, tidak mementingkan kesejahteraan rakyat. Berarti negara masih kalah berdaulat dari para pengusaha. Iya, kan?

Oya, jangankan kepada para mafia korporasi, kepada individu yang jadi koruptor aja, yang merugikan triliunan uang negara masih kayak yang bingung mau menghukum atau tidak. Ini kan aneh bin ajaib banget, ya?

Belum lagi kalo soal politik, bargaining power negeri kita lemah. Akhirnya mudah disusupi pihak lain. Negara lain yang menginginkan keburukan kepada kita. Mestinya kita sadar, tetapi yang terjadi sebagian besar dari kita (khususnya pemiminnya) malah asyik memberikan karpet merah kepada para penjajah. Ironi banget, sih.

Merdeka, tetapi…

Sobat gaulislam, jangankan bertarung dengan negara lain, melawan para pejabat di negeri sendiri aja keteteran kok. Kasus “polisi tembak polisi dan yang ikut mati CCTV” aja belum kelar-kelar udah sebulan lebih. Panjang kayak drama karena banyak muncul perubahan kesaksian dan keterangan pelaku. Hal sama juga pada kasus sebelumnya. Masih ingat tragedi pembunuhan terhadap 6 laskar FPI yang mengawal Habib Riziq Shihab di KM 50 Tol Cikampek? Begitulah. Hukum bisa diolah dan dipoles sesuka hati yang punya kepentingan. Keadilan jadi jauh panggang dari api. Rakyatnya dijajah oleh para pemimpinnya sendiri, khususnya belum merdeka dalam mendapatkan keadilan.

  Kalo dbilang merdeka dari penjajahan fisik sih setuju. Maksudnya penjajahan secara militer. Betul. Nggak ada negara yang menjajah negeri kita dengan kekuatan militer saat ini. But, bukan tak mungkin suatu saat akan terjadi juga. Why? Sebab, secara ekonomi kita juga dijajah oleh negara lain dengan utang. Dijajah secara ekonomi. Kamu bisa lihat deh, gimana ruwetnya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Aggarannya terus membengkak hingga belasan triliun rupiah, dan nggak ada tanda-tanda akan selesai hingga hari ini. Padahal, udah enam tahun lebih. Biayanya? Tentu saja ada pinjaman alias ngutang ke negara lain, utamanya ke negera yang mengerjakan proyek tersebut. Kerjasama sih boleh aja, tetapi kalo urusan utang itu bisa mencekik negeri sendiri. Bahaya, sih. So, kategorinya ya belum merdeka kalo belum bisa punya power di bidang ini.

Gembar-gembor merdeka boleh aja sih. Dan, secara fakta emang nggak ada penjajahan yang sifatnya militer seperti yang dialami saudara-saudara kita di Palestina yang dijajah Israel. Namun, coba deh pikir ulang, kemana perginya emas dari Papua yang dieksplorasi perusahaan Freeport? Negeri ini kaya dengan sumber daya alam, semisal emas di kawasan Papua, tetapi kesejahteraan rakyat negeri ini tak kunjung baik. Jangankan seluruh rakyat Indonesia, di kawasan adanya tambang emas terbesar itu juga penduduknya tak makmur, kok. Ironi dan menyedihkan. Apakah ini sudah disebut merdeka? Belum, bila faktanya demikian.

Belum lagi kalo bahas lebih khusus nasib kaum muslimin di negeri ini. Lebih miris lagi. Why? Apa sebab? Sebab, jumlah mayoritas tak lantas menjadi kekuatan. Jumlahnya memang banyak, tetapi ibarat buih di lautan, terombang-ambing gelombang lalu tercerai-berai. Para pendahulu kita yang berjuang demi kemerdekaan negeri ini, adalah banyak kaum muslimin. Namun, ironinya kini hasilnya dinikmati oleh para pengkhianat karena lebih mementingkan pihak asing. Alangkah lucunya negeri ini, kalo menurut film garapan Deddy Mizwar beberapa tahun silam.

Bangun dari tidurmu, dong!

Sobat gaulislam, mimpi merdeka itu nggak sama dengan yang benar-benar merdeka dalam kenyataan. Jangan sampe kita merasa merdeka, padahal merdeka cuma dalam mimpi. Jangan pula merasa merdeka padahal kenyataannya masih terjajah. Aduh, beneran deh. Itu utang yang tujuh ribuan triliun rupiah mau dibayar gimana dan pake apa? Betul. Bahaya banget utang sebanyak itu. Sekadar nulis data, ya. Posisi utang negara hingga 31 Juli 2022 mencapai Rp 7.163,12 triliun setara 37,91 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Siapa mau bayar? Emang ada negera yang merdeka secara hakiki punya utang negara segede itu? Aduh, bisa-bisa Indonesia for sale, nih!

Negara juga nggak punya kedaulatan kok ketika berada di bawah ketiak para oligarki. Kamu tahu istilah ini? Ya, oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Pengusaha dan para elit partai yang berkuasa atas negeri ini bisa mengendalikan pemimpin negara, lho. Luar biasa. Peraturan yang dibuat dan ditetapkan negara terhadap rakyat sangat dipengaruhi oleh kepentingan para pengusaha dan elit partai pengendali rezim. Pajak yang dinaikkan, harga-harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, dan harga BBM nonsubsidi yang dinaikkan berkali lipat, serta tarif listrik yang disesuaikan (dengan keinginan pihak tertentu) alias harganya dinaikkan, adalah contoh ikut campurnya para oligarki di pemerintahan. Ngeri.

Ah, kalo mau ditulis lagi sih, jadi makin banyak aja. Capek nulisnya dan nyesek merasakannya. Jadi, kamu perlu tahu soal ini agar bisa memikirkan bersama gimana caranya bisa nyadar, segera sadar. Bangun dari tidurmu, dan harus berani menelan kenyataan bahwa sebenarnya kita belum merdeka sepenuhnya.

Itu sebabnya, mestinya kita nggak hura-hura dan sekadar main-main dan iseng-iseng serta mementingkan hiburan semata saat merayakan hari kemerdekaan. Buat apa sih, lomba-lomba yang nggak ada manfaatnya gitu? Rakyat disuruh memeriahkan hari kemerdekaan dengan segala macam lomba (ada sih syukuran dan upacara) yang tak berdampak pada kesejahteraan dan meningkatnya taraf berpikir. Hmm.. sepertinya memang sengaja, ya. Biar merasa tetap terhibur dengan lomba-lomba miskin manfaat, agar tak protes pada beragam kebijakan negara yang merugikan rakyat.

Lalu bagaimana seharusnya? Sekadar upacara dan syukuran, itu masih mending. Namun, mengadakan lomba yang tak bermanfaat bahkan menebar mafsadat macam lomba sepak bola bapak-bapak yang pake daster. Aduh, bisa mengundang laknat, itu. Bahaya, lho! Why? Sebab, udah jelas ada larangan laki-laki menyerupai wanita. Jika ini masih ngotot dilombakan, ya wajar aja sih negeri ini jauh dari maslahat dan keberkahan. Ngeri kuadrat. Sebab, udah mah tak punya kedaulatan politik, lemah secara ekonomi, dibelenggu pula dengan aturan hukum warisan penjajah, eh rakyatnya mayoritas senang dengan hiburan seolah sudah sejahtera, bahkan ada yang bablas ngadain lomba tapi mengundang laknat Allah Ta’ala. Cukup tahun-tahun kemarin aja. Tahun ini, please deh, sadar diri, bangun dari tidurmu, dan berjuang demi kemerdekaan hakiki untuk negeri ini.

Merdeka sungguhan

Kalo emang pengen lebih baik, kita semua seharusnya sadar dan mau berubah menjadi lebih baik. Sebab, merdeka adalah terbebasnya kita dari segala penghambaan kepada hawa nafsu dan aturan orang lain, seraya kita mengikatkan dan menundukkan diri kita sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Sebab, itulah sebaik-baik penghambaan kita. Kalo sekarang kita masih terjajah oleh hawa nafsu, dikendalikan dan didikte oleh orang lain, maka kita jelas masih terjajah alias belum merdeka. Padahal dalam shalat, kita udah berikrar kepada Allah, bahwa kita akan menyerahkan segalanya kepada Allah Ta’ala. Firman-Nya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,” (QS al-An’âm [6]: 162)

Inilah hakikat kemerdekaan. Kalo kita bicara soal masyarakat, berarti masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman aturan masyarakat lain, begitu pula dengan negara. Negara yang merdeka adalah negara yang mandiri, dan tidak dikendalikan oleh aturan negara lain. Kalo sekarang? Kita masih terjajah, Bro en Sis. So, masyarakat kita masih belum bisa melepaskan ikatan yang dijeratkan ideologi kapitalisme.

Tragisnya lagi, kita malah menjadi pejuang pesan-pesan ideologi kufur ini. Sebut saja, masyarakat kita masih doyan bergaya hidup permisive alias bebas nilai. Makna kebahagiaannya adalah banyaknya materi yang berhasil dikoleksi, bukan lagi ridho Allah. Itu sebabnya, kemudian masyarakat kita dituntut untuk melakukan hal yang haram sekalipun untuk meraih kebahagiaan materi. Bila perlu nyari harta dengan cara gila-gilaan.

Masyarakat kita pun malah fasih melafalkan dan melaksanakan ide demokrasi ketimbang Islam. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih menjadi bagian dari masyarakat Barat. Dan itu artinya belum merdeka. Padahal Rabu besok, tanggal 17 Agustus 2022 adalah masukn hitungan ke-77 tahun katanya negeri ini merdeka. Jadi gimana, dong? Lanjut mimpi merdeka atau segera bangun dari mimpi lalu berjuang mewujudkan kemerdekaan hakiki? Mestinya kita udah punya jawaban yang benar. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: