gaulislam edisi 953/tahun ke-19 (7 Sya’ban 1447 H/ 26 Januari 2026)
Timeline medsos sih udah biasa rame. Apa aja ada. Ada yang nekat jogetlah, flexing, drama receh, dan quote healing yang kadang lebih terasa mengkhayal daripada kenyataannya. Estetik di angan-angan, jungkir balik di kenyataan. Debat urusan dukung mendukung kubu politik udah makanan sehari di arena perang komentar. Nah, tapi beberapa waktu lalu, suasana mendadak beda. Scroll terasa lebih pelan. Kolom komentar nggak seberisik biasanya. Ada satu kabar yang bikin banyak orang berhenti sejenak: meninggalnya Lula Luhfah.
Saya sebenarnya baru tahu juga sih namanya. Itu juga setelah baca berita dan obrolan di medsos. Nama yang katanya selama ini lekat dengan dunia glam, kamera, dan senyum di layar, tiba-tiba berhenti di titik akhir, yang sama-sama kita tuju. Kematian.
Sebagian netizen kaget. Sebagian bertanya. Sebagian lagi mulai berspekulasi. Sebagian lagi (termasuk saya) malah penasaran dan akhirnya nulis fakta ini sebagai entry point pembahsan di buletin ini. Ada yang menyebut serangan jantung. Ada juga rumor soal gas tawa atau Nitrous Oxide (N2O). Katanya ini, katanya itu. Padahal sampai sekarang (seenggaknya sampai tulisan ini dibuat), pihak berwenang pun belum memastikan apa penyebab pastinya.
Jadi, tulisan ini bukan hendak menghakimi. Bukan pengadilan digital. Bukan pula meja autopsi rumor. Kita nggak sedang membahas siapa salah dan siapa benar. Karena yang jauh lebih penting dari bagaimana seseorang meninggal dunia adalah kenapa gaya hidup tertentu terasa makin normal di sekitar kita.
Peristiwa ini seperti alarm. Bukan soal satu nama, tapi soal fenomena. Soal budaya “having fun”, atau yang ringan berkomentar, “fly dikit nggak apa-apa”, dan kebiasaan kabur dari stres dengan cara instan. Karena sebelum nama Lula Luhfah dikaitkan ke mana-mana, penggunaan gas tawa sudah lama jadi rahasia umum. Dari kelab malam sampai pesta privat. Dari luar negeri sampai lokal. Bahkan tahun 2018 lalu, pemain bola kelas dunia pun pernah terekam mabuk gas tawa.
Artinya, ini bukan kejadian baru. Hanya saja, kali ini alarmnya berbunyi lebih keras. Sebab, ada di sekitar kita. Dekat dengan kita.
Dari klinik ke kelab malam
Sobat gaulislam, mama resminya Nitrous Oxide (N?O). Julukan santainya: gas tawa atau gas gelak. Di dunia medis, gas ini dipakai untuk membantu pasien lebih rileks (semacam obat bius, khususnya saat nyabut gigi). Di industri makanan, ia jadi partner krim kocok. Di bawah pengawasan dokter, ia bermanfaat. Masalah muncul ketika ia keluar jalur.
Saat ini, gas tawa hadir dalam kemasan lucu, warna mencolok, dan nama catchy. Ditiup ke balon, dihirup rame-rame. Efeknya cepat. Kepala ringan. Ketawa nggak jelas. Dunia terasa di-mute sebentar. Cocok dengan gaya hidup yang ingin serba instan dan cari kesenangan semu.
Badan Narkotika Nasional (BNN) sudah menegaskan: gas tawa bukan narkotika, tapi obat keras. Terkait status hukum Nitrous Oxide di Indonesia, Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, menjelaskan bahwa Nitrous Oxide (N2O) atau gas tawa merupakan senyawa kimia berbentuk gas tak berwarna, nggak mudah terbakar, dan memiliki aroma serta rasa sedikit manis saat dihirup. Zat ini umum digunakan dalam dunia medis sebagai anestesi serta di industri makanan sebagai propelan whipped cream.
Artinya, penggunaannya hanya legal untuk medis dan industri. Dipakai untuk rekreasi di private party ala dugem di kelab malam? Itu sudah masuk wilayah penyalahgunaan dan tetap ilegal.
Namun realitas di lapangan sering berbeda. Barang berisiko ini bisa diakses dengan mudah. Dan karena efeknya cepat hilang, banyak yang merasa aman. Padahal tubuh manusia nggak pernah bercanda soal oksigen dan saraf.
Kisah pemain Arsenal tahun 2018 silam jadi contoh menarik. Ya, para pemain Arsenal berbuat ulah. Usai memastikan kemenangan 1-0 atas Leicester City, Sabtu (8/12/2018), para pemain Arsenal langsung merayakannya dengan berpesta yang bisa dibilang ‘nyeleneh’. Beberapa penggawa The Gunners terlihat mabuk dengan menggunakan gas tawa di sebuah kelab malam. Padahal, gas tawa sangat membahayakan kesehatan.
Dilansir dari The Sun, pemain-pemain yang tampak berpesta adalah Alexandre Lacazette, Matteo Guendouzi, Mesut ?zil, Sead Kolasinac, dan Pierre-Emerick Aubameyang. Tak sekadar berpesta, mereka terlihat asyik mabuk menggunakan gas tawa atau dinitrogen oksida. Bahkan, ?zil terlihat sangat ‘fly’ dan sampai terjatuh dari sofa yang dia duduki. Beberapa dari mereka bahkan tampak pingsan. Padahal, mereka kaya, terkenal, dan hidupnya terlihat “sudah jadi”. Tapi di kelab malam, mereka juga mencari “fly”.
Oya, sekadar nambahin info bahwa dinitrogen oksida atau nitrous oxide adalah gas yang sering dipakai untuk mobil balap atau memiliki nama lain, NOS. Nah, kan!
Mengapa harus mabuk?
Ya, pertanyaannya: kenapa mereka merasa harus ‘fly’ padahal kayaknya hidup mereka udah serba mudah. Kenapa harus mabuk untuk merayakan sesuatu atau demi menghilangkan stres? Bro en Sis, ini bukan soal miskin atau kaya, bukan soal pintar atau bodoh, tapi soal arah hidup dan gaya hidup. Gas tawa hanyalah simbol zaman. Zaman yang lelah tapi malas istirahat. Stres tapi enggan beresin akar masalah. Ingin ketawa sekarang, urusan besok belakangan.
Hidup mereka dan kita, boleh dibilang capek. Namanya juga hidup, pasti ada masalahnya, meski berbeda-beda pada setiap orang. Betul. Bisa jadi sekolah menuntut nilai. Media sosial menuntut eksistensi. Keluarga menuntut ini-itu. Masa depan datang tanpa aba-aba tapi bawa beban pikiran. Maka wajar kalo manusia ingin berhenti sebentar. Merasa perlu healing. Walau pada kenyatananya, ada yang berujung tambah pusing atau malah ending cerita perjalanan hidupnya.
Mengapa bisa begitu? Budaya zaman kiwari mengajarkan pelarian sebagai solusi. Kalo capek, kabur. Kalo stres, cari sensasi. Kalo kosong, isi cepat-cepat. Nggak peduli diisi dengan apa. Bisa jadi karena nggak tahu juga harus ngapain.
Maka, lahirlah “healing” versi jalan pintas alias shortcut. Nggak perlu mikir panjang. Nggak perlu muhasabah. Tinggal hirup sebentar, dan dunia terasa ringan. Walau cuma beberapa menit dan kadang berakhir koit.
Nah, yang jarang disadari, keinginan mabuk sering bukan soal ingin senang, tapi nggak kuat menghadapi diri sendiri. Ada luka yang nggak selesai. Ada kecewa yang nggak sempat diceritakan. Ada lelah yang nggak tahu harus ditaruh di mana.
Media sosial memperparah semuanya. Semua orang kelihatan bahagia. Semua orang kelihatan sukses. Kita pun merasa tertinggal karena kita melihat realita itu dan terlibat di dalamnya. Padahal yang kita lihat cuma highlight, bukan keseluruhan cerita.
Ironisnya, makin sering lari, makin capek dikejar. Ketawanya cepat, tapi efek fatalnya datang dua kali lipat. Boleh dibilang, bukan cuma fly, tapi fall. Betul, gas tawa sering dianggap remeh karena efeknya cepat hilang. Padahal dampaknya nggak selalu langsung terasa. Dalam jangka pendek, gas ini bisa menyebabkan pusing, kebingungan, hilang kontrol, bahkan pingsan. Dalam kasus tertentu, gangguan pernapasan dan jantung bisa terjadi.
Perlu diingat bahwa dalam jangka panjang, risikonya lebih serius dan berbahaya. Gas tawa mengganggu metabolisme vitamin B12, yang penting untuk saraf. Akibatnya bisa berupa mati rasa di tangan dan kaki, gangguan berjalan, kelemahan otot, sampai kerusakan saraf permanen. Beberapa orang mengalami gangguan mental seperti paranoia, halusinasi, depresi, bahkan psikosis. Bahaya banget, kan?
Banyak negara sudah belajar dengan cara pahit. Kasus lumpuh, kerusakan saraf, bahkan kematian sudah terjadi. Itulah kenapa beberapa negara mulai tegas melarang penggunaan gas tawa untuk rekreasi dalam pengertian having fun dan dugem yang ajeb-ajeb gitu.
Tapi sebentar, ketika kesenangan datang dengan risiko sebesar ini, pertanyaannya sederhana: masih pantaskah disebut hiburan? Atau jangan-jangan bukan hiburan, tapi jalan pintas ke kuburan.
Cara Islam ngasih solusi
Sobat gaulislam, Islam nggak anti-bahagia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun dikenal sebagai pribadi yang ringan senyum. Jadi masalahnya bukan pada tawa, tapi cara mencarinya.
Islam menjaga akal sebagai aset utama manusia. Dengan akal kita memilih mana yang baik dan mana yang buruk, berpikir mana yang benar dan mana yag salah, dan mengenal Allah Ta’ala agar tahu mana halal dan mana haram. Maka apa pun yang mengaburkan atau merusak akal, otomatis jadi masalah dan harus diselesaikan.
Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menerangkan: Annan-nabiya shallallahu ‘alaihi wasallama naha‘an kulli muskirin wa muftirin. Artinya, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang segala sesuatu yang memabukan dan melemahkan” (HR Abu Daud)
Begitu pula Umar bin Khattab radhiallau ‘anhu menyampaikan: al-khamru ma khamaral-‘aqla. Artinya, “khamar ialah segala sesuatu yang merusak akal” (HR Bukhari Muslim)
Ibnu Umar menerangkan pula, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “kullu muskirin khamrun, wa kullu muskirin haramun”. Artinya: “tiap-tiap yang memabukan adalah khamar, dan tiap-tiap yang memabukkan adalah haram” (HR Bukhari Muslim)
Pendapat lain, yakni apa yang disampaikan oleh Abu Malik al-Asy’ari. Beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “layasyrabanan-naasu min ummati al-khamra wayusammunaha bi ghairi ismiha” Artinya: “Sesungguhnya akan ada manusia dari umatku yang meminum khamar dan menamainya dengan yang bukan namanya.” (HR Ahmad dan Bukhari Muslim)
Jadi, mabuk dalam Islam nggak semata soal minuman keras. Prinsipnya luas: apa pun yang menghilangkan kendali akal, merusak tubuh, dan menjauhkan dari Allah Ta’ala. Gas tawa mungkin bukan khamr, tapi efeknya serupa. Akal ngambang, kontrol melemah, kesadaran kabur, dan terasa terbang ke awan. Dalam kondisi seperti itu, manusia rentan salah langkah.
Islam mengajarkan bahwa tubuh dan akal adalah amanah. Dirusak, konsekuensinya bukan cuma di dunia. Lebih dalam lagi, Islam mengajak kita jujur bertanya: sebenarnya tujuan hidup kita apa? Kalo tujuan hidup cuma senang hari ini, maka pelarian apa pun terasa sah. Tapi kalo tujuan hidup adalah ridha Allah Ta’ala dan keselamatan akhirat, maka kita akan lebih selektif memilih jalan, meski jalannya nggak terlihat seru.
Nah, Islam nggak menjanjikan hidup tanpa masalah. Tapi Islam menjanjikan hati yang lebih kuat menghadapi masalah. Zikir bukan mantra, tapi pengingat arah. Tilawah bukan sekadar untuk ngejar pahala, tapi dialog jiwa. Lingkar pertemanan shalih bukan bikin kaku, tapi bikin pulang dengan hati lebih ringan. Masjid dan i’tikaf adalah ruang sunyi untuk jiwa yang lelah.
Ada momen-momen ketika doa yang ikhlas, bahkan disertai air mata, justru menyembuhkan. Di Raudhah, di Hijr Ismail, atau di sudut masjid kampung. Tangisan itu bukan tanda lemah, tapi tanda hati masih hidup.
Solusi Islam nggak bisa langsung alias instan terasa. Nggak ada sensasi “fly”. Tapi ketenangannya stabil dan nggak merusak. Selain takwa individu yang diperbaiki, juga kontrol masyarakat dioptimalkan. Bahkan sebenarnya yang lebih penting lagi adalah negara juga bertanggung jawab untuk menerapkan aturan dan sanksi. Itu baru kerjasama yang keren.
Ya, sebab remaja nggak hidup di ruang hampa. Mereka tumbuh di ekosistem. Kalo ekosistemnya penuh jebakan dan membahayakan, maka dibutuhkan kewaspadaan. Betul banget kalo orang yang baik-baik umumnya nggak kecemplung ke dalam jurang kenistaan. Tapi, seberapa kuat individu bisa bertahan dari gempuran kerusakan yang bisa dirasakan dan dilihat setiap hari?
Itu sebabmya, Islam mengajarkan tanggung jawab bertingkat. Individu wajib menjaga diri dan taat. Masyarakat wajib menjadi ‘polisi’ bagi warga. Dan, tentu saja negara juga punya peran sebagai penjaga. Pengawasan, regulasi, edukasi, dan penyediaan ruang aman adalah bagian dari amanah kepemimpinan. Masjid, sekolah, komunitas, dan media juga punya peran besar. Karena generasi yang sehat nggak lahir dari nasihat panjang saja, tapi dari sistem yang peduli.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Hidup memang capek. Stres itu manusiawi. Tapi nggak semua pelarian layak dicoba. Gas tawa dan sejenisnya datang membawa janji ringan. Padahal yang dipertaruhkan adalah akal, tubuh, dan masa depan. Ketawanya sebentar, risikonya panjang.
Islam nggak melarang bahagia. Islam hanya mengingatkan: jangan cari bahagia dengan cara yang merusak diri sendiri. Kalo hati lelah, jangan langsung menyerah pada jalan pintas. Ada tenang yang nggak perlu dihirup. Ada bahagia yang nggak membuat kita kehilangan arah.
Ketenangan dari Allah Ta’ala mungkin nggak instan terasa, nggak bisa langsung didapat. Tapi, Dia nggak pernah menipu. Jadi, yuk kaji Islam dengan benar dan baik agar bisa bedakan mana yang terpuji dan mana yang tercela. Jangan sampe niatnya pengen healing, tapi malah ending dari dunia ini. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]