Saturday, 26 November 2022, 19:57

gaulislam edisi 776/tahun ke-15 (8 Shafar 1444 H/ 5 September 2022)

Eh, semua rakyat merana dan semua rakyat sengsara? Nggak juga sih. Ini sekadar menggambarkan secara umum. Namun, tetap ditulis begini biar kamu juga ngeh kondisi rakyat kebanyakan. Beneran begitu? Kok banyak juga tuh yang merasa masih aman-aman aja. Meski harga BBM dinaikkan awal bulan ini, di siang menjelang sore hari, tetapi respon sebagian besar masyarakat masih normal-normal aja. Ada sih yang mulai menggeliat. Namun, belum terlihat kuat. Mungkin menunggu momen yang tepat. Semoga.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Saya coba ajak kamu untuk berpikir lebih serius. Serius bukan berarti kudu dengan bahasa yang rumit dan tegang ala sidang skripsi. Nggak lah. Biasa aja lagi. Serius tapi santai. Jadi begini. Udah pada tahu semua kan soal kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), khususnya yang bersubsidi. Pertalite ikutan naik juga. Tadinya Rp.7.650, jadi Rp.10.000 per liter sekarang. Bio Solar juga merangkak naik, tadinya Rp.5.150, kini jadi Rp.6.800 per liternya. Kalo dihitung ketengan sih kelihatanya receh ya kenaikannya. Pertalite cuma naik Rp.2.350. But, kalo dihitung puluhan ya banyak juga.

Misalnya aja nih. Ayahmu kalo biasanya sebulan untuk ngasih minum sepeda motornya dengan BBM jenis Pertalite itu 30 liter, dengan harga sebelumnya, maka kudu ngeluarin duit Rp.229.500. Namun kini, kudu dilebihin jadi Rp.300.000. Berapa selisihnya? Ya, Rp.70.500. Gede juga sih. Ini baru urusan BBM. Belum lagi kalo ayahmu merokok, ngopi, dan makan di luar rumah. Ayo, hitung sendiri. Harga lainnya bisa berdampak juga, lho. Biasanya disebut dengan penyesuaian harga. Iya, kan? Belum lagi kebutuhan dapur, harga beras, telur, dan sejenisnya bisa ikutan merangkak naik. So, kalo pun ada BLT alias Bantuan Langsung Tunai, nggak bakalan menutupi. Lagian BLT mau sampai kapan? Memang duitnya dari mana?

Coba deh kamu juga ikutan mikir. Apa iya nggak kena imbas? Mungkin saja ortumu pegawai kantoran atau karyawan pabrik dengan gaji memadai. Namun ingat bahwa suatu saat kena imbasnya juga. Siapa yang menjamin kalo perusahaan atau pabrik tempat ayahmu bekerja akan aman-aman saja? Kalo bangkrut karena biaya operasional yang membengkak seperti pengiriman barang pake truk padahal harga solar juga ikutan naik, gimana? Rugi semua, kan?

Jelas, kondisi kita saat ini nggak sedang baik-baik saja. Sebaliknya sedang ruwet bin rumit alias kusut. Konon kabarnya harga BBM kudu naik dengan alasan subsidi itu membebani negara. Lha, kalo nggak sanggup ngurus negara, ya mundur dong pimpinannya. Kenapa lalu menyalahkan kebijakan subsidi untuk rakyat? Bukankah pemimpin negara itu pelayan rakyat?

Sebagai remaja muslim, kamu kudu peka terhadap kondisi umat, Bro en Sis. Jangan cuek aja. Saatnya (atau bahkan seharusnya dari jauh-jauh hari) kudu mikirin kondisi kehidupan umat. Kondisi rakyat kebanyakan. Ini tanggung jawab kita juga lho, sebagai orang yang paham soal ini. Jangan cuek. Minimal berpikir dan bersuara melakukan pembelaan terhadap rakyat. Jangan memaklumi diri sendiri, bahwa remaja mah bagian nyantai aja, nggak mikir problem rakyat. Ketahuilah, itu salah besar. Sebab, gimana pun juga kita kudu berpikir untuk kebaikan bersama, bukan sekadar fokus pada urusan pribadi semata. Udah naik level harusnya, sih.

Rezeki dan kezaliman penguasa

Ternyata ada lho orang yang berdalih saat merespon kenaikan harga BBM, dia katakan jangan khawatir. Meski harga naik, tetapi Allah Ta’ala yang menjamin rezeki kita. Jadi, nggak usah panik, katanya.

Bener sih soal keyakinan terhadap rezeki yang memang Allah Ta’ala sudah mengaturnya untuk seluruh makhluk-Nya. Nggak salah pernyataan itu. Namun, ketidakadilan atau kezaliman penguasa terhadap rakyatnya adalah soal lain. Penguasa perlu diluruskan, dinasihati, bila perlu dilawan agar mau memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bukan malah mencekik dengan harga kebutuhan pokok yang merangkak naik akibat efek domino dari kenaikan harga BBM.

Mestinya dijawab juga kayak gini: boleh aja sih harga BBM naik, harga kebutuhan pokok naik. Nggak masalah. Namun, negara mestinya membuat kebijakan biaya pendidikan gratis, biaya kesehatan gratis, transportasi umum gratis atau murah, semua rakyat terpenuhi sandang, pangan, dan papan. Kira-kira memungkinkan nggak dalam sistem kapitalisme seperti sekarang? Duh, jangankan ngasih gratis atau murah buat rakyat, yang terjadi malah berbisnis dengan rakyat, kok. Menaikkan harga biar untung makin banyak. Padahal, BBM kategorinya dalam Islam sebagai kepemilikan umum yang dikelola oleh negara untuk sebaik-baik kesejahteraan rakyat. Apa ini sudah dibuktikan? Belum!

Sobat gaulislam, terkait rezeki, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidak satu makhluk (bergerak) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauful Mahfuz).” (QS Hud [11]: 6)

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka ialah perbuatan dosa besar.” (QS al-Isra [17]: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya. Karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat, dan bertawakallah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR Baihaqi)

Keyakinan kita soal rezeki bahwa itu dijamin Allah Ta’ala, memang wajib yakin. Nggak boleh mengingkari. Namun, bukan berarti pasrah begitu saja. Contoh, ketika sepeda motormu ada yang merampok dan  kamu tahu pelakunya, mestinya ya dipertahankan hartamu itu dan bila perlu dilawan. Jangan malah bilang, “Iya deh, ambil aja. Rezeki saya nanti juga ada lagi. Allah Ta’ala sudah menjamin.”  

Waduh, kalo kayak gitu, buat apa ada pengadilan dan buat apa ada keutamaan mempertahankan harta sah milik kita?

Padahal ada haditsnya lho bahwa seorang muslim yang terbunuh karena mempertahankan hartanya, dia diganjar syahid.

Dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu. berkata, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR al-Bukhari)

Nah, kalo urusan hajat hidup orang banyak, dalam hal ini rakyat, maka mestinya ditanggung negara. Bukan malah rakyatnya jadi merana dan sengsara disebabkan ketidakadilan atau kezalimannya pemimpinnya sendiri.

Kalo menaikkan harga BBM, yang itu akan berdampak pada sektor lain, sudah pasti ini kezaliman yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya. Bikin susah, bikin merana, dan sengsara. Hati-hati lho. Ini bukan soal rezeki secara langsung. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kesusahan bagi para penguasa yang menindas umat beliau. “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia,” demikian munajat beliau, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim.

So, mestinya seorang pemimpin menjalankan tugas dengan baik dan seadil-adilnya. Bila ia terus berupaya, insya Allah, pertolongan dari-Nya akan datang. Kalo sekarang gimana? Pihak asing dipuja dan dilayani. Eh, giliran rakyat sendiri dibikin merana dan sengsara. Terbalik memang.

Ingat lho, kalo sampe menyepelekan amanah kayak kejadian sekarang, maka kesulitan akan menimpa penguasa sebagai pimpinan tertinggi negara. “Tidaklah seseorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga.” (HR Bukhari-Muslim)

Lalu apa yang harus dilakukan?

Sobat gaulislam, kita sih berharap bahwa kondisi ini segera pulih. Pemerintah menerapkan kebijakan yang pro rakyat. Bukan pro terhadap pihak asing dan para pengusaha yang udah menyokong jalannya pemerintahan asalkan sesuai keinginan mereka. Nah, berani berubah ke arah kebaikan nggak? Berani berpihak pada rakyat nggak? Sulit rasanya menunggu jawaban yang benar dari mereka jika melihat kondisi saat ini.

Apa kita terus diam saja atau sekadar menulis dan bersuara di medsos? Banyak yang bisa dilakukan selain menulis dan bersuara, yakni mengajak seluruh rakyat untuk bergerak mengubah keadaan ini menjadi baik. Para pengemban dakwah bisa bekerjasama dengan kaum muslimin secara umum untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang benar dan baik bersama Islam. Ini memang pekerjaan berat dan butuh waktu yang tak singkat. Itu sebabnya, perlu strategi, pikiran, tenaga, dan kesabaran berlebih. Namun setidaknya, kita bisa mulai dengan memantik kesadaran umat untuk bangkit dan berjuang dari kondisi terpuruk di zaman sekarang. Agar umat secara umum, rakyat negeri ini, tidak lagi merana dan bahkan sengsara.

Perlu juga ada sekelompok orang yang berpengaruh untuk menasihati penguasa. Menyampaikan langsung di hadapan penguasa. Bukan sekadar demo di jalanan. Bagi-bagi tugas, ada yang menasihati dan menegur dengan keras saat ada kesempatan berhadapan dengan pemimpin yang zalim, ada pula yang memobilisasi massa untuk turun ke jalan dengan syarat tertib alias tidak anarkis, dan juga ada bagian yang mengedukasi masyarakat secara umum agar terbentuk kesadaran kolektif untuk mengubah kondisi ini.

Perlu ada yang berani menyatakan keadilan di hadapan penguasa yang zalim. Abu Said al-Khudzri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jihad yang paling afdhal adalah menyatakan keadilan di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan ad-Dailami)

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadis di atas dengan redaksi di awalnya: Inna min a’zhami al-jihâd kalimatu ‘adl[in] (Sungguh di antara jihad yang palig afdhal adalah menyatakan keadilan)…”

Keutamaan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa juga dinyatakan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim lalu ia memerintah penguasa itu (dengan kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuh dirinya.” (HR al-Hakim dan ath-Thabarani)

Ini harus dinasihati. Harus ada orang yang berani menghadap penguasa, lalu mencegah kebijakan yang sudah terkategori menyengsarakan rakyat, seperti dalam persoalan ini, menaikkan harga BBM. Cukup sudah menindas rakyat. Rakyat sudah lama merana dan sengsara. Jangan ditambah lagi dengan berbagai kezaliman dari penguasa. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: