Tuesday, 17 February 2026, 17:21
ChatGPT Image 17 Feb 2026, 15.34.07_11zon

gaulislam edisi 956/tahun ke-19 (28 Sya’ban 1447 H/ 16 Februari 2026)

Pekan ini vibes-nya beda. Timeline mulai riuh dengan kegiatan menyambut Ramadhan: bersih-bersih masjid, grup keluarga mulai bahas menu sahur dan buka puasa, malah ada juga yang ‘ribut’ kapan mulai Ramadhan, karena saat buletin kesayangan kamu ini terbit, sudah tanggal 28 Sya’ban 1447 H.

Ibarat tamu VIP, Ramadhan bukan tamu biasa yang datang tanpa arti. Dia datang membawa paket full: ampunan, pahala berlipat, malam yang lebih baik dari seribu bulan, dan kesempatan upgrade iman versi deluxe. Pertanyaannya bukan “Ramadhan datang kapan?”, tapi “Kita siap nyambut atau masih mode rebahan?”

Remaja zaman now biasanya heboh kalo mau konser, rilis film baru, atau liburan. Tapi Ramadhan? Kadang malah disambut biasa aja. Padahal, para ulama dulu menyambut Ramadhan seperti orang yang nunggu momen paling spesial dalam hidupnya. Bahkan ada yang berdoa berbulan-bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan.

Beneran. Alasannya masuk akal mengapa Ramadahan sangat dinanti: pahala dilipatgandakan; setan dibelenggu; pintu surga dibuka lebar; dan dosa-dosa punya peluang besar dihapus. Ini bukan event tahunan biasa. Ibaratnya ini “festival pahala” terbesar sepanjang tahun. Jadi kalo hati kita masih datar, mungkin yang perlu di-charge adalah ‘baterai’ iman. Nah, kalo kondisinya kayak gini, kita perlu jujur. Bahkan sangat jujur. Sebab, musuh terbesar ibadah remaja di bulan Ramadhan itu kadang bukan lapar, bukan haus, tapi… rebahan.

Iya, rebahan. Si aktivitas “sebentar aja” yang ujung-ujungnya jadi sejam. Dari yang awalnya mau nunggu adzan, malah keterusan scroll. Niatnya istirahat, tapi berubah jadi marathon konten tanpa arah. Ramadhan datang membawa semangat ibadah, tapi rebahan sering datang membawa bisikan: “Tarawih nanti aja…” atau “Tilawah habis ini…” atau “Sedekah besok juga bisa…”

Akhirnya? Ramadhan jalan, kamu malah slow motion. Padahal kalo dipikir-pikir, lapar itu cuma beberapa jam. Haus itu sementara. Tapi kalo sebulan dihabiskan dengan mode rebahan, yang rugi bukan badan… tapi hati.

Rebahan itu nggak haram. Istirahat itu perlu. Tapi masalahnya, kalo rebahan berubah jadi gaya hidup Ramadhan, ibadah bisa kalah sama mager. Masjid jadi jauh, mushaf jadi berdebu, dan waktu malah habis di layar yang cahayanya terang tapi nggak selalu menerangi hati. Ironisnya, energi kita sering full saat buka HP, tapi lowbat saat buka al-Quran. Jempol aktif 100%, tapi iman buffering.

Jadi, makna “Ramadhan No Rebahan” bukan berarti anti istirahat, tapi anti kemalasan spiritual. Bukan berarti harus nonstop ibadah 24 jam, tapi jangan sampai Ramadhan lewat dalam posisi rebahan fisik dan rebahan iman sekaligus.

Beda kelas

Sobat gaulislam, coba kamu pikirkan begini: Ramadhan versi rebahan: sahur, tidur, scroll, buka, scroll lagi, tarawih bolong, tilawah nol. Ramadhan versi gerakan: sahur, tilawah walau sedikit, puasa dengan akhlak dijaga, tarawih diusahakan, sedekah walau sederhana. Bedanya tipis di aktivitas, tapi jauh di nilai di sisi Allah. Apalagi kalo tilawahnya banyak, tarawihnya rutin, sedekahnya setiap hari. Bisa jauh lagi bedanya.

So, justru karena Ramadhan itu spesial, kita perlu melawan “zona nyaman mager” dengan langkah kecil tapi konsisten. Bangun lebih awal untuk sahur dengan niat ibadah, duduk sebentar baca al-Quran meski cuma satu halaman, dan melangkah ke masjid walau rasa malas sempat berbisik, “Nanti aja.”

Transisi dari rebahan ke ibadah itu bukan lompatan besar, tapi keputusan kecil yang diulang setiap hari. Sedikit gerak, sedikit tilawah, sedikit dzikir, lama-lama jadi kebiasaan yang menghidupkan Ramadhan. Itu artinya, Ramadhan bukan bulan untuk jadi manusia super secara instan, tapi bulan untuk jadi manusia yang bergerak menuju lebih baik, walau sedikit demi sedikit. Apalagi kamu baru mencoba memulai. Sebab, yang penting ada niat dan berupaya mewujudkan niat tersebut.

Maka, setelah kita bicara tentang kegembiraan menyambut Ramadhan dan pentingnya memperbanyak amal, satu penghalang klasik yang harus disadari adalah kebiasaan rebahan yang berlebihan. Karena sekuat apapun niat ibadah, kalo kalah sama mager, Ramadhan bisa lewat tanpa jejak peningkatan iman.

Jadi, sebelum membahas lebih jauh tentang kesiapan dan keutamaan Ramadhan dan semangat ibadah di dalamnya, satu pertanyaan sederhana tapi dalam perlu kita tanyakan pada diri sendiri: Ramadhan kali ini, mau dijalani sambil rebahan atau sambil bangkit mengejar keberkahan? Sebab, keduanya beda kelas, Bro en Sis.

Upgrade amal shalih

Sering banget Ramadhan direduksi jadi: “yang penting puasa, nggak makan, nggak minum.” Padahal Ramadhan itu paket kombo ibadah. Sebab, puasa itu inti, tapi bukan satu-satunya menu. Ada banyak side dish pahala yang justru bikin Ramadhan makin mantap. Apa saja?

Pertama, tilawah al-Quran. Ramadhan dan al-Quran itu soulmate. Ya, al-Quran diturunkan di bulan Ramadhan. Jadi kurang gereget kalo di bulan Ramadhan tilawah al-Quran kita masih minim, kayak datang ke pesta tapi nggak nyicip makanan utama.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)…” (QS al-Baqarah [2]: 185)

Jadi, coba deh bikin target yang realistis sesuai kemampuanmu dulu. Misalnya, 1 halaman per hari, atau 1 juz per minggu. Nggak apa-apa. Sebab, yang penting konsisten, bukan langsung gaspol lalu tumbang di hari ketiga. Kecuali bagi yang udah terbiasa, ya pertahankan dan tingkatkan, ya.

Kedua, shalat tarawih. Ini shalat yang vibes-nya khas banget. Saf rapat, masjid hidup, doa panjang, dan hati jadi lebih lembut. Capek? Iya. Tapi capek yang bikin hati adem, bukan capek scroll tanpa arah. Coba biasakan datang ke masjid, ikut jamaah. Ketemu teman satu lingkungan yang mungkin aja kalo di luar Ramadhan susah ketemu. Gabung dengan kegiatan rohis boleh aja. Lebih bagus. Kalo masih malu karena jarang ke masjid di luar Ramadhan, ya udah shalat tarawih aja terus pulang. Setidaknya kamu rajin dulu shalat tarawihnya. Tapi, cari masjid yang shalat tarawihnya tumakninah, jangan yang ngebut kayak mau balapan.

Ketiga, sedekah. Ramadhan itu bulan royal versi akhirat. Sedekah di bulan ini pahalanya dilipatkangandakan dari biasanya. Itu sebabnya, banyak umat Islam yang sedekah di bulan Ramadhan jadi lebih sering, karena memang dicontohkan oleh Nabi kita. Nggak harus nunggu kaya. Uang jajan pun bisa jadi ladang pahala kalo diniatkan lillah.

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan al-Quran kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Keempat, menjaga adab. Percuma puasa kalo mulut masih toxic, jari masih sibuk nyinyir di kolom komentar, dan hati masih gampang panas. Puasa itu bukan sekadar nahan lapar, tapi juga nahan drama emosi. Tolong dicatat, ya. Faktanya memang masih banyak yang modelan begitu. Semoga kita terhindar dari sikap sedemikian.

Beda mulai Ramadhan

Sobat gaulislam, sedikit kitas bahas soal ini. Sebab, hampir setiap tahun kejadian model gini terulang. Jadi, tahun ini kemungkinan ada perbedaan awal Ramadhan. Ada yang berpotensi mulai tanggal 18 Februari 2026, ada juga yang kemungkinan 19 Februari 2026. Sebagian ormas seperti Muhammadiyah menggunakan KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) dan sudah jauh hari menetapkan 18 Februari 2026 sebagai awal Ramadhan. Sementara pemerintah biasanya menunggu sidang isbat yang berpotensi menetapkan sekitar 19 Februari 2026 karena secara hisab di wilayah Indonesia hilal tidak terlihat di tanggal 17 Februari 2026, sehingga bulan Sya’ban digenapkan jadi 30 hari.

Terus kita harus gimana? Santai, tapi tetap siap. Sebab, yang paling penting bukan “ikut tanggal yang mana”, tapi “siap nggak ketika Ramadhan sudah masuk”. Mau mulai tanggal 18 atau 19, Ramadhan tetap Ramadhan. Pahalanya tetap sama. Kesempatannya tetap emas. Tapi memang, bagi mereka yang punya ilmu di bidangnya, atau yang ingin mencari kebenaran mereka akan tetap mencari dan memastikan mana yang benar. Kalo kita yang awam? Ikuti saja informasi yang bisa kamu percayai. Sebab, susah kalo nggak ada kata “satu komando” dari pemimpin umat.

Itu sebabnya, jangan sampai kita sibuk debat tanggal, tapi lupa menyiapkan amal. Kayak sibuk bahas jadwal ujian, tapi nggak pernah belajar. Ending-nya? Panik sendiri. Oya, kalo mau diulik paling pertanyaannya begini: kenapa bisa beda? Kalo dipikir-pikir, lucu tapi juga bikin merenung. Satu bulan, satu Ramadhan, satu umat. Tapi awal puasanya bisa beda-beda di berbagai negeri muslim. Ada yang sudah puasa, ada yang masih Sya’ban.

Idealnya, penentuan awal dan akhir Ramadhan itu bisa disatukan oleh otoritas kepemimpinan Islam yang menyeluruh, sehingga umat punya satu keputusan global. Namun realitanya hari ini, negeri-negeri muslim berjalan dengan kebijakan masing-masing, fokus pada urusan nasionalnya sendiri-sendiri.

Kondisi umat yang terpecah secara politik membuat banyak urusan ibadah global, termasuk penentuan Ramadhan, belum terkoordinasi secara menyeluruh. Ini jadi bahan renungan besar: betapa pentingnya persatuan umat Islam dalam naungan kepemimpinan yang mampu menyatukan kebijakan syar’i secara global, termasuk dalam ibadah besar seperti Ramadhan. Bukan untuk jadi bahan ribut, tapi bahan mikir. Bahwa Islam itu sebenarnya punya konsep persatuan yang kuat, bukan sekadar simbolik.

So, selama belum ada kempimpinan tunggal umat Islam sedunia, masalah ini akan selalu ada. Itu sebabnya, kita tetap edukasi masyarakat kaum muslimin agar memperjuangkan  kepemimpinan tunggal global (Khilafah Islamiyah) bagi umat Islam seluruh dunia.

Naik level

Sobat gaulislam, Ramadhan itu bukan bulan “auto jadi baik” tanpa usaha. Ramadhan itu ibarat gym spiritual. Mereka yang latihan serius, hasilnya terasa. Mereka yang cuma datang, foto, lalu pulang, ya tetap sama. Nggak ada hasil. Sekadar mejeng doang.

Itu sebabnya, buat kamu yang masih suka begadang nggak jelas, masih susah ninggalin konten nggak bermanfaat, masih maju mundur soal ibadah, Ramadhan adalah momen restart terbaik. Yuk, pelan tapi pasti kita gerak menuju kebaikan. Kudu naik level dari kondisi saat ini.

Coba deh bikin target seperti ini: ngurangin maksiat digital (lebih keren ninggalin), nambah tilawah harian, shalat tepat waktu (level minimal wajib!), tarawih full (nggak cuma malam pertama doang), sedekah rutin walau receh, ikut kajian remaja di masjid.

Nah, bayangin kalo selama Ramadhan kita serius upgrade diri maka usai Ramadhan, kita bukan jadi “versi yang sama tapi lapar sebulan”, tetapi jadi versi diri yang lebih dekat sama Allah Ta’ala. Jadi, Ramadhan itu bukan soal kapan dia datang, tapi bagaimana kita menyambutnya dengan hati yang siap, amal yang disiapkan, dan semangat yang terus menyala.

Itu artinya, mau Ramadhan dimulai tanggal 18 atau 19 Februari, satu hal yang pasti, yakni Ramadhan tetap akan datang. Pertanyaannya: kita yang menyambut dengan penuh kegembiraan, atau malah kaget karena iman belum siap?

Yuk, siapkan diri dari sekarang. Biar ketika Ramadhan tiba, kita bukan cuma bilang, “Wah, udah Ramadhan, ya?” Tapi dengan hati berbinar berkata, “Alhamdulillah… akhirnya Ramadhan datang lagi. Saatnya panen pahala. No rebahan!” [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *