gaulislam edisi 955/tahun ke-19 (21 Sya’ban 1447 H/ 9 Februari 2026)
Jam menunjukkan pukul 01.47. Lampu kamar mati. Notifikasi sunyi. Rumah terlelap. Tapi satu hal justru makin ribut: pikiran. Semakin malam, semakin ramai. Overthinking datang tanpa diundang. Akhirnya jari bergerak. Bukan buka WhatsApp keluarga. Terlalu banyak pertanyaan. Bukan chat sahabat lama. Takut dibilang lebay. Eh, yang dibuka justru second account. Akun cadangan. Akun gelap. Akun “aku versi senyap”. Banyak Gen Z yang merasa kesepian di dunia nyata, tapi merasa hidup di duni maya. Kalo di dunia nyata tidak bisa menjadi “orang lain”, tetapi di dunia maya, bisa menjadi “diri kita yang lain”, dengan akun berbeda, dan tujuan berbeda. Nyerempet bahaya, nih!
Kalo di second account, biasanya buat curhat. Merasa aman dengan akun yang anonim. Umumnya kalo mau curhat caption-nya singkat, hampir seperti bisikan: “Capek. Kok hidup gini-gini aja, ya?”
Nggak panjang. Nggak detail. Tapi cukup untuk mewakili rasa sesak yang seharian disimpan. Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk. Satu. Dua. Tiga. Ada yang balas, “Gue juga ngerasa gitu.” Ada yang komentar, “Stay strong, ya.” Ada yang cuma kirim emoji peluk. Nggak ada solusi. Nggak ada arah. Tapi rasanya… hangat. Seenggaknya ada yang membaca. Seenggaknya ada yang merespons. Seenggaknya malam ini nggak sendirian.
Padak kondisi kayak gitu muncul rasa yang sering disalahartikan: aman. Aman karena nggak dihakimi. Aman karena nggak perlu menjelaskan panjang. Aman karena nggak ada yang menasihati.
Tapi benarkah itu aman? Atau jangan-jangan cuma nyaman sesaat, sementara masalahnya tetap duduk rapi di kepala, menunggu pagi? Aman dengan cuma merasa atau terasa aman itu berbeda, Bro en Sis!
Dua akun, dua versi diri
Sobat gaulislam, hampir semua Gen Z paham pola ini. Akun utama adalah etalase. Foto terbaik. Senyum terbaik. Nulis caption yang dipikirkan. Hidup terlihat rapi. Lalu ada akun kedua. Namanya aneh. Fotonya gelap. Bio-nya random. Isinya? Emosi mentah. Curhat. Overthinking. Kadang doa, kadang keluhan, kadang malah ikut nimbrung nggak jelas di kolom komentar. Sekadar merasa asik-asik aja.
Bukan karena sebagian Gen Z model gitu terkategori bermuka dua. Nggak juga. Tapi bisa jadi karena nggak semua kejujuran aman di ruang publik. Dia terlalu khawatir alias overthinking. Merasa aman jika nggak diketahui jati dirinya. Sebagai anonim di tengah belantara riuhnya medsos, merasa bebas. Kalo seandainya dihujat atau di-bully, nggak terasa langsung sakit atau kesindir, karena sudah merasa “jadi diri yang lain”. Duh, ribet banget kayaknya, ya?
Fenomena second account lahir dari kebutuhan dasar manusia: ingin jujur tanpa dihakimi. Ingin bicara tanpa takut dipotong. Ingin mengeluh tanpa dibilang “kurang iman”. Ingin merasa aman dari ‘gangguan’ orang lain, baik yang memang mencela, maupun yang ngasih nasihat. Tapi, beneran tetap aman? Karena masalahnya, kebutuhan itu sering ditumpahkan ke tempat yang salah. Sekadar memaparkan beragam problem, mengeluh, mencari yang senasib, bergabung dengan teman yang punya problem serupa. But, nggak mau nyari solusi tuntas, karena sama-sama saling mendukung dalam setiap masalah yang dihadapi. Tapi hanya dibatasi dengan kalimat: senasib sepenanggungan. Selesai. Solusi? Belum tentu punya solusi dan mau ngasih solusi. Karena dibiarkan di dalam pagar dan lingkaran yang ogah dinasihati. Intinya punya dunia sendiri, yang dia bangun di second account itu. Kasihan sebenarnya.
Curhat di medsos terasa lebih mudah?
Sobat gaulislam, mari bicara apa adanya. Kita jujur aja, ya. Banyak di antara kita kalo curhat langsung itu merasa capek. Harus jelasin kronologi. Harus jawab pertanyaan. Harus siap dinasihati. Harus siap malu, harus dan harus lainnya.
Tapi kalo curhat di medsos? Tinggal ngetik. Upload. Selesai. Nggak perlu tatap mata. Nggak perlu takut reaksi spontan. Nggak perlu dengar kalimat legendaris: “Dulu orang tua juga lebih susah”.
Medsos memberi ilusi kontrol. Kita bisa memilih kata. Memilih waktu. Bahkan memilih siapa yang boleh lihat. Namun, ilusi ini sering disangka bagian dari rasa aman. Ingat, hanya disangka, bukan sebenarnya. Ibaratnya kamu cuma merasa aman, bukan beneran aman.
Padahal, medsos itu seperti lapangan luas. Kelihatannya sepi, tapi siapa saja bisa lewat. Dan nggak semua yang lewat berniat baik. Jadi, tetap kudu waspada, dong. Nggak sembarangan lempar masalah. Gimana kalo diajak ke jalan yang buruk atau berbahaya? Jadi, tetap kamu kudu punya filter juga. Waspada kudu, sebab bahaya bisa datang kapan aja. Kejahatan bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.
Banyak orang (terutama Gen Z) merasa bahwa second account bisa diartikan juga sebagai validasi massal. Di akun kedua, hampir semua perasaan diterima. Capek hidup? Wajar. Marah ke orang tua? Dimengerti. Merasa hampa? Relate. Validasi ini bagi sebagian orang mungkin menenangkan. Tapi ada jebakan halus di dalamnya. Sebab, nggak semua perasaan butuh dibenarkan. Sebagian besar justru harus diarahkan. Tentu, ke jalan yang benar. Kalo ke jalan yang buruk, namanya dijerumuskan.
Banyak curhat di second account berakhir begini: Direspons. Divalidasi. Lega. Selesai Besoknya? Masalahnya masih ada. Inilah yang membuat sebagian remaja masuk siklus capek: curhat, merasa lega, lalu merasa kosong lagi dan akhirya curhat lagi. Begitu sampe lebaran monyet. Eh, maksudnya sampe entah kapan. Capek? Banget! Tapi entah kenapa banyak yang suka dan betah.
Apa kata Islam?
Sobat gaulislam, Islam nggak melarang kita merasa lelah atau sedih. Tapi Islam nggak membiarkan emosi jadi kompas hidup. Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS al-Isra [17]: 53)
Ayat ini berlaku dua arah: saat kita curhat, dan saat kita merespons curhat orang lain. Nggak semua empati harus berupa pembenaran. Kadang, empati terbaik justru mengajak pelan-pelan ke arah yang benar.
Dalam Islam, keluh kesah seharusnya membuka pintu ikhtiar. Bukan jadi ruang parkir emosi. Apalagi dipelihara agar terus berputar tanpa ada jalan keluar. Kita bisa belajar dari kesabaran Nabi Ya’qub ‘alaihi sallam, yang diabadikan dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Yusuf [12]: 86)
Oya, bukan berarti beliau nggak bicara ke manusia, tapi Allah Ta’ala dijadikan sandaran utama, bukan kepada manusia. Selain itu, ada yang perlu digarisbawahi bahwa banyak orang yang malah merasa dekat dan aman dengan orang asing hanya karena mereka mau dengerin curhatan kita, tapi malah dengan orang terdekat terasa lebih jauh karena mereka nggak mau mengiyakan yang kamu pengen. Mestinya punya ukuran, yakni yang menyelamatkan yang kita dekati. Kalo dengan orang dekat tapi ngajak maksiat ya jangan merapat, apalagi dengan orang asing yang jauh dan hanya setuju dengan apa yang kamu mau (meski yang kamu mau adalah keburukan). Intinya tetap waspada dan ukurannya jelas.
Ya, secara fakta, ini bagian yang pahit tapi nyata. Banyak Gen Z lebih nyaman curhat ke orang asing daripada ke orang tua. Bukan karena orang tua nggak sayang. Tapi karena komunikasi sering gagal di awal. Anak baru mulai cerita, orang tua sudah menilai. Anak mengeluh, langsung dibandingkan. Anak ingin didengar, malah diberi ceramah panjang. Akhirnya, rumah terasa seperti ruang sidang. Second account terasa seperti ruang tunggu yang ramah. Fakta seperti ini yang juga perlu diketahui para ortu yang punya remaja gen Z.
Padahal, Islam menekankan rahmah dalam interaksi. Kelembutan. Kesabaran. Mendengar sebelum menasihati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai pendengar yang baik, bahkan kepada anak-anak dan anak muda.
Oya, di medsos, “teman dekat” bukan cuma yang duduk sebangku. Tapi yang sering muncul di DM dan kolom komentar. Islam sangat serius soal ini. Dalam hadits yang familiar alias sering kita dengar saat bahas pergaulan, “Seseorang tergantung agama teman dekatnya.” (HR Abu Dawud)
So, kalo circle curhat kita adalah orang-orang yang sama-sama bingung arah, maka kebingungan itu akan diwariskan. Kalo circle kita suka menormalisasi maksiat, maka dosa terasa biasa. Itu artinya, second account tanpa panduan iman bisa berubah dari safe space menjadi lost space.
Gimana seharusnya?
Sobat gaulislam, buat kamu para gen Z, pilah masalah. Nggak semua luka harus diunggah di medsos. Tentukan tujuan curhat. Mau didengar, diarahkan, atau dibantu atau sekadar mengumbar luka agar orang lain tahu kamu sedang terluka?
Selain itu, bangun circle kecil yang sehat. Sedikit tapi aman. Jaga adab digital. Tulisan adalah jejak, dan setiap jejak akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS al-Ahzab [33]: 70)
Bagaimana dengan keluarga dan lingkungan? Begini. Bagi para ortu dan guru, coba kita dengarkan dulu, nasihati belakangan. Jangan remehkan masalah remaja. Jadikan rumah sebagai safe space pertama. Bukan medsos. Sebab, kadang yang dibutuhkan anak bukan solusi instan, tapi perasaan “aku nggak sendirian”. Namun demikian, posisi anak tetap harus sopan dan santun ketika berhadapan dengan orang tua. Intinya, ada timbal balik, dua arah komunikasinya.
Oya, bagaimana dengan peran negara? Nggak boleh cuci tangan, sih. Harus jadi solusi. Sebab, fenomena ini bukan cuma urusan individu. Negara punya tanggung jawab. Apa yang perlu dilakukan negara dalam menjaga rakyatnya?
Ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan. Pertama, literasi digital berbasis nilai, bukan sekadar teknis. Kedua, regulasi tegas terhadap cyberbullying, dengan perlindungan khusus bagi remaja. Ketiga, layanan konseling gratis dan ramah remaja, mudah diakses, nggak menghakimi. Keempat, bikin sistem untuk sinergi sekolah, keluarga, dan komunitas, agar remaja nggak mencari tempat aman sendirian menurut versi mereka. Kalo negara absen, second account akan terus jadi pelarian massal. Ngeri, kan? Banget.
Buat kamu para gen Z, medsos bukan tempat pulang. Ya, media sosial memang bisa jadi tempat singgah. Tapi jangan dijadikan rumah. Rumah seharusnya tempat kembali, bukan tempat bersembunyi selamanya. Curhat itu perlu. Jujur itu penting. Tapi arah jauh lebih penting. Terutama arah ke jalan kebaikan.
Boleh dibilang bahwa fenomena second account adalah tanda atau indikasi. Ya, indikasi bahwa ada generasi yang ingin didengar, tapi belum menemukan ruang aman yang utuh. Sebenarnya, kalo mau ambil solusi dari Islam, mestinya seluruh generasi (boomer, gen x, milenial, gen z, dan seterusnya ke bawah) tahu bahwa Islam adalah jalan hidup, pedoman menjalani kehidupan. Terkait curhat digital (khususnya fenomena second account), Islam nggak mematikan suara itu. Islam menuntunnya. Agar bicara nggak melukai. Agar curhat nggak menyesatkan. Agar pertemanan nggak menjerumuskan.
Safe space di medsos mungkin bagi sebagian besar gen Z memang terasa nyaman. Tapi benarkah aman? Belum tentu. Rumusnya: nyaman dan aman belum tentu menyelamatkan. Validasi belum tentu membenarkan. Lihat dulu realitanya. Kalo model kayak kehidupan sekarang yang jauh dari Islam, kamu kudu waspada.
Yuk, kurangi atau malah nggak usah lagi curhat di medsos. Kaum muslimin mestinya udah sadar, bahwa tempat paling aman bukan fenomena akun kedua yang sedang kita bahas , tapi Allah Yang Maha Mendengar. Dia nggak pernah bosan ‘dengerin’ kamu curhat dalam doa. Dia nggak pernah salah paham. Dan Dia nggak pernah membuka aib hamba-Nya. Kalo manusia bisa salah tangkap, Allah Ta’ala nggak pernah salah dengar. Itu sebabnya, jadikan Islam sebagai cara dan jalan hidup kita agar selamat di dunia dan juga di akhirat. [O. Solihin | Join Channel WhatsApp]