Saturday, 1 October 2022, 13:02

gaulislam edisi 778/tahun ke-15 (22 Shafar 1444 H/ 19 September 2022)

Saya teringat ucapan seorang kawan sesama pengajar yang menyampaikan bahwa ada kalanya kita perlu mengajak murid kita itu jalan-jalan ke luar. Melihat langsung kehidupan orang lain di jalanan, di tempat-tempat yang mungkin tak lazim untuk ditinggali, dan semua hal kehidupan nyata di sana.

Ada benarnya juga. Sebab, teori dan motivasi banyak hal di bangku sekolah tak serta merta memberikan efek pemahaman. Awal-awal semangat ketika diberikan motivasi satu jam dua jam. Begitu sang motivator pamit, mereka bingung mau ngapain. Memang ada aja yang langsung paham lalu bisa menentukan sikap dan berusaha untuk memperbaiki kehidupannya, tetapi jumlahnya nggak sebanyak yang bingung.

Itu sebabnya, rasa-rasanya memang masuk akal bahwa kita perlu belajar dari siapa pun dan di mana pun. Selama kita masih hidup di dunia, berarti masih ada kesempatan untuk belajar di sekolah kehidupan yang bisa kita lakoni sepanjang usia kita. Melintasi setiap jengkal peristiwa yang akan memberikan hikmah bagi kehidupan kita. Kita bisa belajar tentang hidup dan kehidupan dari siapa saja. Tentu, selama hal itu memang bermanfaat bagi kita dan bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala.

Belajar banyak hal

Sobat gaulislam, ada beberapa alasan mengapa kita harus belajar dan sebisa mungkin ngambil manfaat dari sekolah kehidupan ini.

Pertama, ngasah kedewasaan kita. Yup, layaknya sekolah tempat kita menimba ilmu, sekolah kehidupan akan memberikan polesan dalam kepribadian kita. Bahkan akan lebih banyak dan lebih luas lagi jangkauan dan juga multidimensi. Nyaris nggak ada blank spot-nya deh. Nah, salah satu dari hasil didikan di sekolah kehidupan itu insya Allah bakalan mengasah kedewasaan kita. Jujur aja nih, hidup di dunia emang nggak lurus-lurus aja. Kalo lurus terus, kayak jalan tol, rasa-rasanya mungkin kita nggak akan belajar dan bahkan melalaikan atau menyepelekan kehidupan ini. Karena udah merasa enak, nyaman, dan nggak banyak halangan. Lalu menganggap gampang dan ujungnya nggak bakalan bisa mengasah pribadi kita dengan lebih baik dan benar. Kita mungkin saja nggak bisa dewasa karena nggak pernah merasakan “lika-liku” kehidupan di dunia ini. Justru dengan “gelombang” kehidupan itulah seenggaknya kedewasaan kita mulai akan terasah dengan baik.

Kalo kita ngelihat di perempatan jalan, betapa banyak pengamen cilik dan pengemis cilik yang mencari makan di sana. Nggak usah kita berburuk sangka kepada mereka dengan menyebut mereka pemalas. Belum tentu, karena siapa tahu mereka berbuat demikian karena memang nggak mampu kerja di tempat lain, sementara urusan perut begitu mendesak. Hanya itu yang bisa dilakukan mereka.

Terus, kita bisa berpikir dan mengukur diri sambil merenung, “Iya ya, saya bisa hidup enak. Seenggaknya untuk makan nggak perlu ngamen atau ngemis-ngemis. Bisa sekolah dan ortu kita masih kuat nyari nafkah.” Kesadaran seperti ini hanya mungkin tumbuh kalo kita tuh udah berpikir dewasa. Mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita pun bisa mengetahui dengan pasti dan yakin perbuatan apa saja yang terkategori terpuji dan perbuatan mana yang disebut tercela. Kesadaran dan pengetahuan yang ajeg seperti ini adalah hasil belajar kita memahami kondisi kita dan kehidupan kita. So, nggak berlebihan banget kalo sekolah kehidupan itu bakalan ngasah kedewasaan kita.

Oke, karena kita hidup di masyarakat dan kehidupan yang begitu luas, maka mau nggak mau, suka or nggak suka, pada akhirnya kita akan belajar dari sekolah kehidupan ini. Ya, benar. Sekolah kehidupan memang bisa mengajarkan dan membeberkan begitu banyak peristiwa dan fakta yang bisa kita rasakan dan bisa kita nilai. Ada yang baik, tentu banyak juga yang buruk. Berhadapan dengan dua fakta ini, kita seenggaknya bisa memilih dan menilai. Mana yang akan diambil, dan mana yang harus ditinggalkan. Pilihan dan keputusan ada di tangan kita dan kita memutuskan sesuai dengan pemahaman kita tentang kehidupan. Benar atau salah.

Karena menjadi dewasa adalah sebuah “pilihan”, maka tentunya harus direkayasa alias disiapkan. Nggak bisa dibiarkan alami. Karena memang jadi dewasa dalam cara berpikir itu bukan kebetulan, tapi pilihan. Itu sebabnya, ada pelatihannya juga. Memang sih, model pelatihannya nggak perlu dibuat semacam jenjang akademik, tapi melalui “schooling society” (sekolah kehidupan). Di sinilah kita belajar. Istilahnya,  “learning society”. Belajar dari masyarakat.

Sobat gaulislam, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)

Nah, karena di sekolah kehidupan ini nggak seragam semuanya. Masih mungkin muncul perbedaan di antara kita yang sama-sama belajar di masyarakat, maka kedewasaan kita dalam menyikapi perbedaan harus terus dipoles. Tapi dengan catatan, perbedaan tersebut sebatas hal-hal yang mubah. Maka, di sekolah kehidupan kita bisa belajar untuk menghargai pendapat orang lain atau belajar menerima masukan dari orang lain. Bandingkan waktu kita masih kecil. Kita pengennya menang sendiri, ingin menguasai permainan dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena waktu kecil kita belum ngeh dan belum mengerti soal pergaulan dan hubungan dengan pihak lain. Lagian, anak-anak kan memang belum dewasa.

Selain itu, belum dikatakan dewasa jika menghadapi suatu kenyataan yang nggak mengenakkan malah pesimis, cenderung menyerah, mudah putus asa, dan sikap negatif lainnya. Sikap seperti itu wajar kalo ‘menyerang’ anak-anak. Tentu, jadi nggak wajar kalo dalam diri mereka yang sudah dewasa masih ada hal-hal demikian. Tul nggak sih?

Meski demikian, karena di sekolah kehidupan ini memang nggak semuanya benar. Apalagi kehidupan saat ini adalah produk dari sistem kehidupan Kapitalisme-Sekularisme, maka belajar untuk dewasa dari sekolah kehidupan saat ini lebih berat dan harus lebih selektif lagi. Itu sebabnya, dibutuhkan bimbingan dan arahan dari mereka yang udah tahu dan paham mana yang keliru dan mana yang benar. Are you ready? Yes!

Kedua, belajar memahami kenyataan. Seperti kata pepatah: “Kehidupan itu ibarat berada di roda pedati, kadang kita di bawah dan kadang kelindes (eh, rugi semua atuh ya? Hehehe, maksudnya kadang di atas dan adakalanya kita berada di bawah). Frase “di atas” untuk menggambarkan kehidupan kita yang enak dan senang. Sementara “di bawah” adalah diksi alias pilihan kata untuk menggambarkan kehidupan kita yang tengah dilanda kesempitan hidup dan kesusahan.

Di sekolah kehidupan ini, dengan begitu banyak fakta dan peristiwa yang disodorkan kepada kita, dan bahkan mungkin kita alami sendiri, bisa memberikan pelajaran bagi kita untuk memahami kenyataan hidup. Bahwa kadang dalam hidup kita tak bisa memilih. Harus menerima apa adanya. Sepahit apa pun. Meski demikian, bukan berarti kudu menyerah. Nggak juga. Sebaliknya kita harus terus berusaha untuk memperbaiki kualitas hidup kita yang menurut kenyataan sungguh memprihatinkan.

Oya, belajar memahami kenyataan ini akan lebih terasa kalo kita terjun dan terlibat di dalamnya. Iya, dong. Sebab, ibarat renang, kita bisa ngerasa bahwa renang itu lelah dan berat, tapi sekaligus menyenangkan kalo udah bisa, tentunya setelah nyebur dulu ke kolam dan langsung belajar renang. Biar nggak disebut nekat, tentu nyebur di kolam yang dangkal terlebih dahulu. Udah menguasai teknik renang dengan gaya tertentu (mungkin pertama kali bisa jadi gaya batu alias udah nyebur langsung tenggelam—ini harus ditolong sama temennya. Inilah perlunya teman—seperti kata sebuah iklan rokok: teman untuk pegangan), baru kalo udah mahir bisa ke kolam renang dengan tingkat kedalamannya makin tinggi. Nah, kalo cuma teori aja tanpa praktik, nggak bakalan bisa nyambung untuk memahami sebuah kenyataan yang kita rasakan. Termasuk dalam kehidupan sosial yang kita jalani.

Insya Allah deh, kalo udah kita jalani kehidupan ini kita bakalan merasakan bagaimana sejatinya hidup. Kita akan dapetin pengalaman bahwa kehidupan ini bisa dijadikan sarana untuk belajar memahami kenyataan hidup. Sehingga kita nggak terus menerus kecewa jika gagal, tapi sebaliknya akan berusaha untuk membenahi kehidupan kita agar lebih baik lagi. Begitu pula kita nggak akan merasa nyantai dan terlena kalo kebetulan dalam hidup ini merasakan kesenangan, sebab suatu saat pasti akan ada ‘jatuhnya’. Tul nggak sih?

Ketiga, menumbuhkan empati. Betul, karena hidup terus tumbuh dan keberadaan kita dalam kehidupan ini tak bisa dipisahkan dari orang lain, maka hubungan kita dengan sesama nggak bisa dilepaskan. Ketika hubungan tersebut terus berlanjut, akan tumbuh empati antara kita dengan orang yang ada di sekitar kehidupan kita. Kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Tentu saja, jika hubungan itu terus berlanjut dan intens dilakukan dengan penuh perhatian dan pengertian. Sebab, hubungan yang senantiasa terjaga dalam kehidupan sosial kita berpotensi merekatkan perasaan satu sama lain. Meski tentu saja tidak bisa rekat dengan semua orang. Bisa jadi hanya dengan beberapa orang saja. Itu sebabnya, kita akan bisa memindai dengan siapa kita harus berhubungan untuk urusan tertentu, dengan siapa kita harus mempercayakan suatu rahasia, dengan siapa pula kita akan menjalin hubungan spesial yang kita harapkan akan membentuk ikatan yang kuat.

Sobat gaulislam, inilah enaknya hidup. Sehingga aneh banget kalo ada orang yang mau hidupnya menyendiri dan nggak mau terlibat urusan dengan orang lain. Sebab, sekolah kehidupan akan mengajari kita untuk empati dengan sesama. Jika ada tetangga atau teman kita yang sakit, kita akan berusaha merasakan penderitaannya. Membantu mereka meringankan penderitaannya, adalah sikap mulia. Meski, hanya dengan sekadar menjenguk dan menghiburnya. Syukur-syukur kalo sampe membantu dalam bentuk tenaga dan dana. Insya Allah akan semakin mempererat hubungan tersebut.

Bayangin kalo kita senantiasa menyendiri dan tak mau terjun bersama dalam kehidupan yang berlangsung di sekitar kita, jangankan kita akan empati dengan orang lain, sebab orang lain pun tak mengenal kita dan sangat boleh jadi mengabaikan kita, mana mungkin mereka juga empati kepada kita. Iya nggak sih?

Keempat, menuntun untuk berbagi. Hidup memberikan kita ‘tuntunan’. Sikap empati yang tumbuh karena kita terus berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kehidupan kita, akan menumbuhkan sikap saling berbagi di antara kita. Berbagi perasaan, berbagi pemikiran, berbagi waktu, berbagi tenaga, dan bahkan berbagi harta. Sehingga hubungan dengan ikatan akidah dan psikologis ini insya Allah akan semakin erat terjalin.

Dalam hidup ini kita pasti berhubungan dengan banyak pihak. Entah di rumah, di lingkungan sekitar, di sekolah, di tempat bekerja, di jalan raya, di masjid, di majelis taklim, di organisasi dakwah, atau di tempat lain yang memungkinkan orang bertemu dan berinteraksi. Itu sebabnya, melihat kondisi kehidupan sosial kita yang seperti ini, jujur aja sangat nggak mungkin bagi kita untuk mendominasi kehidupan. Pasti harus berbagi dengan yang lain. Di jalan raya misalnya, kita nggak bisa seenak hati kita untuk ugal-ugalan dalam menjalankan kendaraan kita. Sopir angkot atau sopir bis aja sering ditegur sama penumpangnya kalo mengendarai kendaraannya ngebut dan ugal-ugalan padahal kendaraannya disesaki banyak orang. Itu artinya nggak bisa jalan sendiri semau sendiri. Harus berbagi dengan yang lain.

Kenyataan hidup seperti ini jelas memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus berbagi dengan yang lain. Waktu kita kecil aja, ibu dan ayah kita selalu bilang ke kita agar mainan yang kita miliki boleh dipinjamkan kepada teman kita. Kalo kita pinjam mainan kepada teman kita, kita juga diajari sama orang tua untuk meminta ijin. Ini jelas mengajarkan kepada kita bahwa pada kondisi kita senang, kita harus berbagi. Begitu pula kalo kondisi kita kurang menyenangkan, harus minta ijin untuk berbagi dengan yang lain ketika ingin mengecap rasa senang yang dimilikinya. Maka, dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani saat ini, adakalanya kita berlebih harta, sehingga kita berbagi dengan orang lain dengan jalan memberi shadaqah atau pinjaman kepada yang membutuhkannya. Bagi kita, kaum muslimin, insya Allah ada pahala jika berbagi dengan yang membutuhkan bantuan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi seorang mukmin, maka Allah pasti akan melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat.” (HR Muslim)

Kelima, bikin kita kian terampil. Jujur banget. Kehidupan itu ibarat sebuah keterampilan, tepatnya keterampilan menjalani hidup, maka semakin kita lama hidup di dunia ini dan semakin sering kita mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa hidup yang kita rasakan, insya Allah akan semakin terampil. Ibarat keterampilan menulis, semakin tinggi jam terbang dalam menulis, semakin sering mengambil pelajaran dari peristiwa dalam proses menulis kita, maka akan semakin terampil. Bisa karena biasa, dan biasa karena dipaksa.

Hidup juga sama menurut saya. Mungkin pertama kali menghadapi tekanan, kita akan grogi dan mungkin saja menyerah. Tapi untuk kedua kalinya menerima tekanan yang sama, kita mulai bisa menerima meski tetap masih belum kuat menahannya. Tapi, begitu yang ketiga dan seterusnya kita akan merasa biasa dan bahkan sudah lihai mengantisipasinya. Nggak ada lagi kecewa berat, nggak ada lagi putus asa. Sebaliknya malah menjadi sarana pelajaran untuk semakin berani mengambil risiko hidup.

Inilah sekolah kehidupan. Kita jadi makin terampil dengan seringnya menyerap peristiwa hidup yang kita rasa. Tapi, tentu hidup hanya akan berlalu begitu saja kalo kita menjalaninya dengan diam dan nggak mau berusaha mengambil pelajaran berharga dari setiap peristiwa yang dirasakan. Betul itu. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: