Sepercik Embun Hidayah 6

Rasa penasaran dan kecewaku terhadap ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim. Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih menjadi muslim

Dulu aku adalah seorang penganut Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini. Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang biasa kulihat dan itu aku coba untuk memandang agamaku sendiri dari sisi yang agak berbeda dari yang lain, atau mungkin lebih tepatnya dari sisi yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Keluargaku adalah sebuah keluarga yang sangat menekankan kondisi atau lingkungan yang sangat beragama, terutama ibu. Agama yang kuanut juga sebenarnya bukan karena aku memilih, namun karena aku dari kecil sudah diarahkan untuk mengenal satu agama saja. Yaitu Kristen Katolik.

Karena itu aku pada tahap sekolah dasar aku ditempatkan pada sekolah Nasrani. Sampai aku lulus SD aku selalu dicekoki dan hanya biasa menerima pelajaran tentang Kristen Katolik saja. Enam tahun aku harus terbiasa menelan dan terus menerus mengenyam materi yang belum sempat aku bertanya dan belum sempat aku pahami. Selama itu pula aku hanya bisa menjadi seorang yang hanya biasa mendengar dan menghapal tentang apa yang diberi oleh pengajar, dan? aku tidak diperkenankan untuk bertanya tentang agamaku sendiri.

Menurut pengajar sekolahku , bahwa tak ada agama yang lebih baik dari agamaku itu. Aku hanya mulai berfikir: “Apakah benar bahwa tak ada agama yang lebih baik dari ini! Sedangkan aku bertanya tentang agamku sendiri saja tidak boleh?”

Terjawab rasa penasaranku

Ketika aku lulus SD, aku didaftarkan ibuku ditempat yang sama untuk melanjutkan ke jenjang lanjutan tingkat prertamaku. Aku hanya bisa diam dan menurut, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati: “Apakah aku harus menjadi pendengar setia selama tiga tahun lagi?”

Tapi mungkin alam berkehendak lain, aku tidak diterima. Entah harus bersikap bagaimana, ibuku sangat sedih, tapi yang pasti hatiku sangat senang dan gembira. Aku akhirnya didaftarkan di salah satu sekolah umum dan kali ini aku diterima. Tapi aku agak bingung bagaimana aku harus bersikap, karena selama ini aku hanya berkomunikasi dengan teman yang beragama sama denganku. Tapi yang pasti aku bahagia karena aku tidak lagi menjadi pendengar yang tak bisa untuk bertanya.

Ada satu hal yang menurutku sangat ganjil. Mereka teman-temanku yang berbeda agama denganku, terutama yang muslim sama sekali bersikap di luar dugaanku. Sikap mereka sama sekali berbeda dengan apa yang dikatakan oleh pengajar di sekolah dasarku dulu. Mereka tidak bersikap apatis dan sangat menerimaku apa adanya dan seringkali mengajakku dalam berbagai kegiatan. Terutama pada saat pelajaran Agama Islam, memang pertama tama aku keluar dan bermain di lapangan, namun lama kelamaan aku bosan dan akhirnya mengikuti pelajaran itu. Dan lagi-lagi satu hal yang sangat mengejutkan, mereka mengatakan agama mereka, agama Islam “Rahmatan

lil ‘alamin. Ramat bagi seluruh alam”

Semula aku bingung dengan makna kata itu namun lama kelamaan aku mengerti, kerena teman-temanku yang muslim tidak pernah membuat keributan dan lebih sering ceria ataupun bersenda gurau saja dan itu membuat suasana menjadi ceria. Dan yang paling membuatku salut dengan agama yang mereka anut adalah “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku…” dan itulah satu satunya hal yang belum pernah kudengar dari agamaku. Ini merupakan suatu bukti bahwa mereka tak pernah memaksa orang lain untuk masuk agama mereka dan mereka sangat menghargai agama lain. Dan sayangnya agamaku tidak demikian.

Menjadi muslim

Waktu terus bergulir dan seiring dengan itu keinginanku untuk masuk agama Islam semakin kuat, apalagi ayahku kini seorang muslim. Tapi aku belum berani, karena masih menghormati dan memandang ibuku. Dan itu adalah salah satunya penghalangku untuk masuk dalam agama Islam secara kaffah.

Baru pada saat aku kelas 1 SMA aku berani dan bertekad untuk masuk Islam. Kenapa?

Karena aku memandang diriku sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Aku masuk Islam dengan dibantu bimbingan guru pengajar agama Islam.

Selang beberapa waktu ibuku mengetahui keIslamanku, dan aku memandang itu adalah sesuatu hal yang wajar karena aku sudah dewasa. Tapi rupanya tidak bagi ibuku. Ibuku datang ke sekolah dan memarahi kepala sekolahku dan menuduh guru agamaku sudah menghasutku untuk

masuk dalam Islam. Aku disuruh untuk kembali murtad.

Aku merasa masalah ini terlalu berat dan sangat kompleks. Aku menangis. Tapi aku sadar bahwa aku berada di lingkungan yang sangat Islami dan teman-teman yang mau mengerti aku. Kini akhirnya aku tetap berada dalam keIslamanku, aku mulai belajar mengkaji Islam lebih dalam, ternyata Islam tidak hanya sholat, puasa, ngaji, zakat, dan haji. Tapi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, Islam mengatur semua kehidupan aspek manusia, mulai dari sistem pergaulan, perekonomian, pendidikan, budaya, politik, negara, hingga hal yang tak pernah ada dalam

agamaku yang dulu.

Teman-teman doakan aku agar tetap dalam jalanNya, kuatkan semangat kalian terhadap Islam, terus berjuang hingga hidup mulia di bawah naungan Islam atau mati sebagai syuhada yang mempertahankan agamaNya. Dan aku tak akan melepas Dien suci ini walau apapun yang terjadi nanti karena ini adalah hidayah Allah terbesar bagiku.

Detik jam terus berganti seiring dengan berputarnya sang mentari, tetesan embun pagi seolah sejukkan hatiku dari hitam dan kelamnya duniaku.

“Ahh……” aku mendesah panjang. Dan kini aku coba untuk berani menatap di sekelilingku dan mencoba mengerti mengapa aku ada di sini, untuk apa aku disini, dan akan kemana aku pergi. Kini aku bersyukur memandang sekelilingku, teman yang tak terhitung, lingkungan yang juga menatapku dan menganggapku ada di dunia ini, serta sebuah Dien yang kini tertancap kukuh di sanubariku.

Walaupun kutahu itu belum lama dan mungkin hanya sebatas tunas, tapi bukankah sebesar besarnya pohon dia akan melalui masa di mana ia menjadi tunas. Allah, akhirnya aku bisa menyebut namaMu [seperti yang ditulis Hamed al-Rasyid untuk SoDa]

[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Oktober 2005]

6 thoughts on “Sepercik Embun Hidayah

  1. Ida May 20,2009 12:20

    Ya Allah begitu indah hidayah yang telah Engkau berikan , semoga aku bisa turut mencecap hidayahMu jua

  2. arki May 23,2009 22:36

    Alhamdulillahirobbil ‘Alamin
    Hidayah Alloh datang kepada orang yang di kehendakkinya.bersyukurlah wahai saudaraku.moga-moga Alloh juga memberikan hidayahnya pada Ibu Saudara.bersabarlah dan terus do’akan orang tua.moga-moga dapat hidayah.amin

  3. dede Jun 17,2009 18:13

    ya Allah..

    berilah hidayahmu pada ummatmu juga…

    tunjukkanlah aku jalan yang lurus…

  4. Mursalin Muhmar Jul 1,2009 21:02

    Subhanallah,,,,ya Allah berikan hidayah pada semua hamba-Mu, khususnya yg slalu memohon…Amin..

  5. kiki Mar 4,2010 10:57

    assalammualaikum wr.wb

    Tidak semua orang bisa mendapatkan hidayah , bahkan seorang yang mengaku beragama islam sekalipun ,
    Hidayah datang bagi hati yang ingin mencari Kebenaran Ilahi dan nur nya ,
    Hidayah ….datang menuju hati yang bersungguh-sungguh ingin dekat denganNya ,
    Hidayah adalah anugrah bagi seorang Hamba melebihi Harta yang ada di dunia .
    Hidayah suatu pencerahan bagi seorang Hamba menuju kepada sang pencipta .

    Sekarang apa yang kita cari didunia sebenarnya hanya semu belaka tetapi apa yang kita jalani untuk mencari Ahkirat itu adalah kekal dan abadi.

    wasalam .

    Aku Pencari hidayah….

  6. rita Oct 9,2010 12:59

    saudaraku,,jgn pernah lelah untuk terus berjihd djalannya…
    karna Allah selalu menemani..di akhirnya nanti smua alam akan tersenyum melihat hasil yg didapat dari usaha kita dalam memperjuangkan agama Allah..
    🙂
    Allahuakbar….

Comments are closed.

%d bloggers like this: