Tembang Lar Perangkai Kata [4-habis]

Oleh: Putra Gara


Kaki mungil Riri susul-menyusul di antara beceknya aspal. Wajahnya pucat bukan karena dinginnya hujan, tetapi kekhawatiran di dalam hati akan keberadaan Emak-lah yang membuat Riri terus berlari menuju pasar.

“Kak Sari….!” Teriak Riri, suaranya dibarengi gemericik hujan yang jatuh bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir di sepanjang jalan menuju selokan.

Beberapa orang yang mengenal Riri menoleh ke arahnya.

Riri terus berlari.

Napasnya turun naik.

“Kak Sari …!” suara samar itu didengar Sari, ia menoleh ke arah Riri yang tengah berlari ke arahnya. Belum langkah Riri sampai tujuan, tubuh kurus itu terjerembab di jalan.

“Riri …!” teriak Sari, histeris, begitu mendapati adiknya terjatuh. Sari yang tengah merapihkan dagangan es-nya karena hujan, langsung berlari ke arah Riri. Gelas di tangannya terjatuh.

Langkahnya diperlebar.

Tubuh Riri sudah kuyup dengan air hujan.

“Kak Sari … Emak, Kak,” suara Riri pelan terdengar.

Sari merangkulnya.

“Kenapa dengan Emak, Pik, kenapa?” Sari mengguncang-guncangkan tubuh adiknya. Hatinya begitu khawatir.

“Emak batuk darah, Kak. Dan … dan terjatuh di dapur. Riri nggak kuat mengangkat tubuh Emak. Tolong Emak, Kak,” suara Riri yang pelan dan terbata-bata itu bagaikan halilintar yang Sari dengar. Napasnya jadi turun naik.

“Emaaak…!” teriaknya, tidak kepada siapa-siapa. Ia segera membopong tubuh kurus Riri. Berlari di antara hujan menuju rumah.

Sesampainya di rumah, Sari menurunkan Riri di bangku. Ia langsung menuju dapur. Di dapatinya Emak sudah tak berdaya. Darah mengucur dari bibirnya.

“Emak …” suara Sari yang pilu begitu menyayat kalbu. Ia dekap tubuh Emak. “Kenapa, Mak, Emak kenapa?” pertanyaan itu dilontarkan berulang-ulang sambil mengguncang-guncangkan tubuh Emak, dengan harapan, agar Emak terbangun dan bergerak dari diamnya.

Tapi yang ada hanya tarikan napas yang turun naik.

“Tolong Emak, Kak. Bangunkan Emak,” tahu-tahu Riri sudah berada di samping Sari.

Sari memeluknya. “Riri…” air mata Sari tak tertahankan lagi.

Ia gigit bibirnya.

Ia telan ludahnya.

Terasa getir, di tenggorokannya, segetir hidup yang Sari jalani. Dengan perasaan haru dan kekhawatiran di dalam hati tentang keberadaan Emak, Sari minta pertolongan sama tetangga terdekat untuk membawa Emak ke rumah sakit.

Emak memang punya penyakit TBC. Tadi pagi Emak bilang tidak bisa jualan es, dan Sari disuruh menggantikan. Mungkin penyakit Emak kambuh. Entahlah, karena selama ini Emak memang tidak pernah mengeluhkan penyakitnya. Keberadaan keluarga telah membuat Emak begitu tegar dalam segala hal.

Tapi … bukankah maut, jodoh dan rizki di tangan Allah? Sari hanya bisa berdoa, semoga Emak lekas sembuh dari penyakitnya.

“Emak dibawa ke mana, Kak?” pertanyaan Riri membuyarkan lamunan Sari.

“Ke rumah sakit, Ri,” kata Sari, pelan.

Sedangkan hujan makin deras saja.

ooOoo

“Sudahlah, kamu gunakan saja uang itu untuk honor tulisan kamu selanjutnya. Kamu nggak usah memikirkan apa-apa, yang penting Emak kamu sembuh,” Mbak Dian, redaktur fiksi yang selalu memberi kesempatan kepada Sari untuk menerbitkan karya-karyanya, memberikan pinjaman kepada Sari. Dan pelunasannya melalui karya-karya Sari selanjutnya.

“Terimakasih, Mbak, entah, saya harus mengucapkan apa lagi kepada Mbak Dian,” Sari menerima amplop putih yang disodorkan Mbak Dian.

“Ah, sudahlah, Sar. Itu memang hak kamu. Hasil jerih payah kamu dari mengarang. Yang jelas, terus tingkatkan kualitas karya-karya kamu. Dan banyak berdoa. Saya malah bangga bisa kenal dengan kamu. Meski kamu masih muda, tapi sudah mau berkarya yang dapat berguna buat orang tua.”

Sari mendengarkan saja kata-kata Mbak Dian. Tak lama kemudian ia mohon pamit. Karena harus membeli obat di apotik. Dan masalah biaya rumah sakit, Sari tidak begitu mengkhawatirkannya. Karena cerita bersambung Sari memang tengah dimuat di salah satu media remaja. Belum lagi kebijaksanaan dari Mbak Dian, yang memberikan kasbon kepada Sari, sehingga obat-obatan untuk Emak pun dapat ditebusnya.

Sari bersyukur dengan kemudahan segalanya. Namun apa yang diusahakan manusia, hanyalah sebagai ikhtiar saja. Karena segala kehendak, hanya Allah yang punya kuasa.

Sari tidak bisa menolak takkala napas Emak terhenti. Namun ia juga tidak percaya kenapa secepat itu Emak meninggalkannya. Meninggalkan Sari dan Riri yang masih memerlukan kasih sayang Emak setelah kasih sayang Bapak tak ia dapatkan.

Emak telah menyusul Bapak.

Sari tidak percaya itu.

Riri menangis tidak ada henti-hentinya begitu tubuh Emak kaku tak dapat lagi bergerak.

“Mak … jangan tinggalkan Riri, Mak …” tangisan Riri mengiris hati Sari.

Air mata Sari tumpah tak mampu dibendungnya.

Sulit sekali, Sari menerima kenyataan ini. Tapi semua mahluk yang diciptakan pasti akan kembali kepada-Nya.

“Tabah, Sar. Tabah. Relakan Emak pergi. Emak adalah milik-Nya. Allah menyayanginya,” Pak RT berusaha menenangkan Sari.

Sari menangis dipelukannya.

Seperginya Emak, kesedihan Sari semakin bertambah dengan sakitnya Riri. Adiknya itu setiap waktu menyebut-nyebut nama Emak. Seperti Sari, Riri juga amat kehilangan Emak. Namun usia Riri yang masih anak-anak tak mampu menahan derita hidupnya. Setelah dua bulan Riri sakit, ia pun meninggal dunia.

Sari merasa telah hancur hidupnya.

Ia kini tak punya siapa-siapa lagi.

Hidup sebatang kara.

Keluarga dari Emak dan bapaknya memang tak pernah ia tahu hingga saat ini. Dan kini Sari hidup sendiri. Bertemankan angin malam, matahari dan sinar rembulan.

Namun setiap orang memang tidak pernah dapat mengetahui masa depannya. Hari ini akan menjadi masa lalu, hari esok dan selanjutnya, hanya Allah yang maha tahu.

Hidup sebatang kara membuat Sari lebih perih lagi pada keadaan. Namun ia belajar hidup dari itu semua. Kegiatannya sebagai pengarang semakin memperkaya batinnya. Bahkan dari kegiatannya itu, ia dapat melanjutkan sekolahnya lagi ke SMU hingga perguruan tinggi.

Profesi Sari sebagai pengarang semakin diperhitungkan banyak orang. Ia sudah menulis puluhan novel, dan ratusan laporan jurnaslistik. Ia sempat bekerja sebagai wartawan. Namun berhenti karena ada yang meledak-ledak dalam dirinya.

Kesunyian hati membuat Sari jadi lebih suka menyendiri. Ia pun akhirnya sering bepergian ke mana saja. Pergi ke berbagai pelosok negeri sambil menulis keberadaan orang-orang kebanyakan.

Dua tahun belakangan ini, Sari selalu menulis tentang perjuangan umat Islam di berbagai belahan. Ia ingin mengabarkan kepada semua orang tentang perjuang umat Islam untuk hidup. Dari mulai mengubah nasib, belajar, mempertahankan keimanan, sampai berjuang melawan kezoliman.? Suatu hari ia berada di Maluku, hari yang lain ia berada di Aceh, di Palestina, Afganistan dan beberapa waktu lalu sempat berada di Irak.

Kini, perangkai kata itu tengah berada di daerah terpencil di ujung Propinsi Jawa Barat. Di Pesantrennya Haji Imron, yang menampung anak-anak yatim dan tidak mampu untuk diberi pendidikan agama agar kelak menjadi manusia yang berguna.

Sari tertarik dengan kehidupan Haji Imron yang mengorbankan waktu dan hartanya untuk kepentingan umat Islam melalui anak-anak yang ditampungnya. Ia ingin menulis tentang Haji Imron dan kehidupan santrinya. Pikir Sari, ini perlu dikabarkan kepada semua orang, agar orang-orang? termotivasi untuk berbuat kebaikan.

Menjelang tengah malam, pengajian baru selesai.

Para santri pergi menuju kamarnya masing-masing. Karena besok pagi ada tugas yang menantinya; sekolah, dan membantu Pak Haji bertani.

Sari bangun dari duduknya. Ia hapus butiran bening di kelopak matanya. Masa lalunya selalu membuat ia menangis. Lalu ia melangkah menuju kamarnya yang dipersiapkan Pak Haji di ujung jalan dekat? pendopo. Di dalam kamar tangisnya semakin menjadi. Ia ingat Riri, ingat Emak, juga ingat Bapak.

Betapa sunyi, Hati Sari.

Entah, sampai kapan Sari berada di pesantren ini. Seminggu, sebulan, atau … ah, ia tidak dapat memastikannya. Yang jelas, setelah beberapa waktu tinggal di tempat Pak Haji Imron, Sari akan pergi lagi. Pergi entah ke mana. Karena Sari menganggap di mana pun ia berada, itu sama saja. Bumi yang dipijaknya adalah bumi Allah. Keberadaan Sari hanya dapat diketahui melalui tulisan-tulisannnya.

Sari akan terus melangkah. Entah, sampai kapan si perangkai kata itu lelahnya. Ia ingin menghapus masa lalunya dengan banyak meninggalkan jejak di mana saja, tetapi jejak langkahnya itu justru menjadi pelengkap masa lalu yang terus membuntutinya. Karena, hidup memang tidak pernah lepas dari masa lalu.

“Allahhu akbar …” untuk menenangkan hatinya, akhirnya Sari sholat malam. Ia menyerahkan segala hidupnya kepada Allah. Karena maut, rizki dan jodoh memang milik-Nya. [TAMAT]

Kedai Sastra Gara 960203 –

(Kepada masa lalu saya)

[diambil dari Majalah PERMATA, edisi 21/Februari 2004]

%d bloggers like this: