gaulislam.com


CATATAN KRITIS UNTUK ISLAM LIBERAL*

Posted in Uncategorized by abu fikri on the April 23rd, 2007

Meskipun kelahiran JIL (Jaringan Islam Liberal) Maret 2001 nampaknya membawa hal baru bagi sebagian orang, namun sesungguhnya ia bukanlah sama sekali baru. Agenda-agenda JIL sesungguhnya adalah kepanjangan imperialisme Barat? atas Dunia Islam yang sudah berlangsung sekitar 2-3 abad terakhir. Hanya saja, bentuknya memang tidak lagi telanjang, tetapi mengatasnamakan Islam. Jadi istilah “Islam Liberal� bukanlah suatu kebetulan, namun sebuah istilah yang dipilih dengan sengaja untuk mengurangi kecurigaan umat Islam dan sekaligus untuk menobatkan diri (sendiri) bahwa “Islam Liberal� adalah bagian dari Islam, seperti halnya jenis-jenis pemahaman Islam lainnya (www.islamlib.com). Sesungguhnya “Islam Liberal� adalah peradaban Barat yang diartikulasikan dengan bahasa dan idiom-idiom keislaman. Islam hanyalah kulit atau kemasan. Namun saripati atau substansinya adalah peradaban atau ideologi Barat, bukan yang lain.

Untuk membuktikan deklarasi di atas, baiklah kita lihat dua dasar argumentasinya. Yaitu : (1) hakikat imperalisme itu sendiri, dan (2) kerangka ideologi Barat (kapitalisme). Pemahaman hakikat imperialisme akan menjadi landasan untuk memilah apakah suatu agenda termasuk aksi imperalisme atau bukan. Sedang kerangka ideologi kapitalisme, akan menjadi dasar untuk menilai apakah sebuah pemikiran termasuk dalam ideologi kapitalisme atau bukan, atau untuk mengevaluasi sebuah metode berpikir, apakah ia metode berpikir kapitalistik atau bukan.

Imperalisme
Imperialisme (al-isti’mar) itu sendiri, menurut Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Mafahim Siyasiyah li Hizb At-Tahrir (1969:13) adalah pemaksaan dominasi politik, militer, budaya dan ekonomi atas negeri-negeri yang dikalahkan untuk kemudian dieksploitasi. Dua kata kunci imperialisme yang patut dicatat : pemaksaan dominasi, dan eksploitasi. Maka jika sebuah negara melakukan aksi imperalisme atas negara lain, artinya, negara penjajah itu akan memaksakan kehendaknya? kepada negara lain, sehingga negara yang dijajah itu mau tak mau harus mengikuti negara penjajah dalam hal haluan politik, program ekonomi rancangannya, budaya dan cara berpikirnya, serta pembatasan dan penggunaan sarana militernya. Semua ini adalah demi keuntungan negara penjajah sendiri. Jika negara yang dijajah menolak atau melawan, ia akan mendapat sanksi dan hukuman dari sang penjajah. Inilah hakikat imperialisme.

Imperialisme ini, menurut An-Nabhani (1969:13), adalah metode (thariqah) baku –tak berubah-ubah– untuk menyebarluaskan ideologi kapitalisme, yang berpangkal pada sekularisme, atau pemisahan agama dari kehidupan (fashl al-din â€?an al-hayah). Tak mungkin ada penyebarluasan kapitalisme, kecuali melalui jalan imperialisme. Atau dengan kata lain, manakala negara penganut kapitalisme ingin menancapkan cengkeramannya pada negara lain, ia akan melakukan aksi-aksi imperialisme dalam segala bentuknya, baik dalam aspek politik, militer, budaya, dan ekonomi. Berhasil tidaknya aksi imperalisme ini, diukur dari sejauh mana ideologi kapitalisme tertanam dalam jiwa penduduk negeri jajahan dan sejauh mana negara penjajah mendapat manfaat dari aksi penjajahannya itu. Jika penduduk negeri jajahan sudah mengimani kapitalisme –yang berpangkal pada paham sekularisme–? atau dari negeri itu dapat diambil berbagai keuntungan bagi kepentingan imperialis, berarti aksi imperialisme telah sukses.

Kerangka Ideologi Kapitalisme
Kapitalisme pada dasarnya adalah nama sistem ekonomi yang diterapkan di Barat. Milton H. Spencer (1977) dalam Contemporary Macro Economics mengatakan bahwa kapitalisme adalah sistem organisasi ekonomi yang bercirikan kepemilikan individu atas sarana produksi dan distribusi, serta pemanfaatan sarana produksi dan distribusi itu untuk memperoleh laba dalam mekanisme pasar yang kompetitif (lihat juga A. Rand, Capitalism: The Unknown Ideal, New York : A Signet Book, 1970). Karena fenomena ekonomi ini sangat menonjol dalam peradaban Barat, maka, menurut Taqiyyudin An Nabhani, kapitalisme kemudian digunakan juga untuk menamai ideologi yang ada di negara-negara Barat, sebagai sistem sosial yang menyeluruh (An Nabhani, Nizham Al-Islam, 2001:26; W. Ebenstein, Isme-Isme Dewasa Ini? (terjemahan), Jakarta : Erlangga, 1990).

Sebagai sebuah ideologi (Arab : mabda’), kapitalisme mempunyai aqidah (ide dasar) dan ide-ide cabang yang dibangun di atas aqidah tersebut. Aqidah di sini dipahami sebagai pemikiran menyeluruh (fikrah kulliyah) tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Aqidah kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme), sebuah ide yang muncul di Eropa sebagai jalan tengah antara dua ide ekstrem, yaitu keharusan dominasi agama (Katolik) dalam segala aspek kehidupan, dan penolakan total eksistensi agama (Katolik). Akhirnya, agama tetap diakui eksistensinya, hanya saja perannya dibatasi pada aspek ritual, tidak mengatur urusan kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya (An-Nabhani, 2001:28).

Di atas aqidah (ide dasar) sekularisme ini, dibangunlah berbagai ide cabang dalam ideologi kapitalisme, seperti demokrasi dan kebebasan. Ketika cabang agama sudah dipisahkan dari kehidupan, berarti agama dianggap tak punya otoritas lagi untuk mengatur kehidupan. Jika demikian, maka manusia itu sendirilah yang mengatur hidupnya, bukan agama. Dari sinilah lahir demokrasi, yang berpangkal pada ide menjadikan rakyat sebagai sumber kekuasaan-kekuasaan (legislatif, eksekutif, yudikatif) sekaligus pemilik kedaulatan (pembuat hukum) (An-Nabhani, 2001:27).

Demokrasi ini, selanjutnya membutuhkan prasyarat kebebasan. Sebab tanpa kebebasan, rakyat tidak dapat mengekspresikan kehendaknya dengan sempurna, baik ketika rakyat berfungsi sebagai sumber kekuasaan, maupun sebagai pemilik kedaulatan. Kebebasan ini dapat terwujud dalam kebebasan beragama (hurriyah al-aqidah), kebebasan kepemilikan (hurriyah at-tamalluk), kebebasan berpendapat? (hurriyah al-ar`y), dan kebebasan berperilaku (al-hurriyah asy-syakhshiyyah) (Abdul Qadim Zallum, Ad-Dimuqrathiyah Nizham Kufr, 1993).

Mengkritisi JIL
Paparan dua pemikiran di atas, yaitu tentang imperialisme dan kerangka ideologi kapitalisme, dimaksudkan sebagai pisau analisis untuk membedah JIL, untuk menjawab pertanyaan : Benarkah agenda-agenda JIL adalah kepanjangan imperialisme Barat ? Benarkah ide-ide JIL adalah ideologi? kapitalisme berkedok Islam ?

Jawabnya : IYA. Mengapa ? Sebab agenda-agenda dan ide-ide JIL dapat dipahami dalam kerangka kepanjangan imperalisme Barat atas Dunia Islam. Selain itu, ide-ide JIL itu sendiri, dapat dipahami sebagai ide-ide pokok dalam ideologi kapitalisme, yang kemudian dicari-cari pembenarannya dari khazanah Islam.

Mereka yang mencermati dan mengkritisi agenda dan pemikiran JIL, kiranya akan menemukan benang merah antara imperialisme Barat dan agenda JIL. Adian Husaini dan Nuim Hidayat dalam bukunya Islam Liberal : Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabanya (2002:3) mengutip Luthfi Asy-Syaukanie, bahwa setidaknya ada empat agenda utama Islam Liberal, yaitu agenda politik, agenda toleransi agama, agenda emansipasi wanita, dan agenda kebebasan berekpresi. Dalam agenda politik, misalnya, kaum muslimin “diarahkan� oleh JIL untuk mempercayai sekularisme, dan menolak sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Perdebatan sistem pemerintahan Islam, kata Luthfi Asy-Syaukanie, dianggap sudah selesai, karena sudah ada para intelektual seperti Ali Abdur Raziq (Mesir), Ahmad Khalafallah (Mesir), Mahmud Taleqani (Iran), dan Nurcholish Madjid (Indonesia) yang mengatakan bahwa persoalan tersebut adalah masalah itjihadi dan diserahkan sepenuhnya kepada kaum muslimin (Ibid.).

Pertanyaannya adalah, sejak kapan kaum muslimin menganggap persoalan ini “sudah selesai�? ? Apakah sejak Ali Abdur Raziq menulis kitabnya Al-Islam wa Ushul Al-Hukm (1925) yang sesungguhnya adalah karya orientalis Inggris Thomas W. Arnold ? Apakah sejak Khilafah di Turki dihancurkan pada tahun 1942 oleh gembong imperalis, Inggris, dengan menggunakan Mustahafa kamal ? Apakah sejak negara-negara imperalis melalui penguasa-penguasa Dunia Islam yang kejam menumpas upaya mewujudkan kembali sistem pemerintahan Islam ? Dan juga, apakah nama-nama intelektual yang disebut Luthfi cukup respresentatif mewakili umat Islam seluruh dunia di sepanjang masa, ataukah mereka justru menyuarakan aspirasi penjajah ?

Yang ingin disampaikan adalah, persoalan hubungan agama dan negara, memang boleh dikatakan sudah selesai, di negara-negara Barat. Namun persoalan ini jelas belum selesai di Dunia Islam (Th. Sumartana, “Kata Pengantar� dalam Robert Audi, Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal, 2002:xvii-xviii). Dari sini dapat dipahami, bahwa tugas JIL adalah membuat selesai persoalan yang belum selesai ini. Maka ada kesejajaran antara agenda politik JIL ini dengan aksi imperliasme Barat, yang selalu memaksakan sekularisme atas Dunia Islam dengan kekerasan dan darah.

Agenda-agenda lainnya di bidang toleransi (pluralisme agama), misalnya anggapan semua agama benar dan tak? boleh ada truth claim, agenda emansipasi wanita, seperti menyamaratakan secara absolut peran atau hak pria dan wanita tanpa kecuali (dan tanpa ampun), dan agenda kebebasan berekspresi, seperti hak untuk tidak beragama (astaghfirullah), tak jauh bedanya dengan agenda politik di atas. Semua ide-ide ini pada ujung-ujungnya, pada muaranya, kembali kepada ideologi dan kepentingan imperialis. Sulit sekali –untuk tak mengatakan? mustahil—mencari akar pemikiran-pemikiran tersebut dari Islam itu sendiri secara murni, kecuali setelah melalui pemerkosaan teks-teks Al-Qur’an dan As- Sunnah. Misalnya teologi pluralisme yang menganggap semua agama benar, sebenarnya berasal dari hasil Konsili Vatikan II (1963-1965) yang merevisi prinsip extra ecclesium nulla salus (di luar Kattolik tak ada keselamatan) menjadi teologi inklusif-pluralis, yang menyatakan keselamatan dimungkinkan ada di luar Katolik. (Husaini & Hidayat, op.cit., hal.110-111). Infiltrasi ide tersebut ke tubuh umat Islam dengan justifikasi QS Al-Baqarah : 62 dan QS Al-Maidah : 69 jelas sia-sia, karena kontradiktif dengan ayat-ayat yang menegaskan kebatilan agama selain Islam (QS Ali Imran : 19, QS At-Taubah : 29).

Agenda-agenda JIL tersebut jika dibaca dari perspektif kritis, menurut Adian Husaini dan Nuim Hidayat, bertujuan untuk menghancurkan Aqidah Islamiyah dan Syariah Islamiyah (Ibid., hal.81 & 131). Tentunya mudah dipahami, bahwa setelah Aqidah dan Syariah Islam hancur, maka sebagai penggantinya adalah aqidah penjajah (sekularisme) dan syariah penjajah (hukum positif warisan penjajah yang sekularistik). Di sinilah titik temu agenda JIL dengan proyek imperalisme Barat. Maka, sungguh tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa agenda JIL adalah kepanjangan imperalisme global atas Dunia Islam yang dijalankan negara-negara Barat kapitalis, khususnya Amerika Serikat.

Ini dari segi kaitan agenda JIL dengan imperialisme. Adapun ide-ide JIL itu sendiri, maka berdasarkan kerangka ideologi kapitalisme yang telah disinggung secara singkat diatas, dapatlah kiranya dinyatakan bahwa ide-ide JIL sesungguhnya adalah ide-ide kapitalisme. Luthfi Asy-Syaukanie (ed.) dalam Wajah Liberal Islam di Indonesia (2002) telah berhasil menyajikan deskripsi dan peta ide-ide JIL. Jika dikritisi, kesimpulannya adalah di sana ada banyak imitasi (baca:taqlid) sempurna terhadap ideologi kapitalisme. Tentu ada kreativitas dan modifikasi. Khususnya pencarian ayat atau hadits atau preseden sejarah yang kemudian ditafsirkan secara paksa agar cocok dengan kapitalisme.

Ide-ide kapitalisme itu misalnya : (1) sekularisme, (2) demokrasi, dan (3) kebebasan. Dukungan kepada sekularisme –pengalaman partikular Barat— nampak misalnya dari penolakan terhadap bentuk sistem pemerintahan Islam (Ibid., hal. xxv), dan penolakan syariat Islam (Ibid., hal.30). Demokrasi pun begitu saja diterima tanpa nalar kritis dan dianggap kompetibel dengan nilai-nilai Islam seperti �adl (keadilan), persamaan (musawah), dan syura (Ibid., hal. 36). Kebebasan yang absolut tanpa mengenal batas –yang nampaknya? sangat disakralkan JIL–didukung dalam banyak statemen dengan beraneka ungkapan : “tidak boleh ada pemaksaan jilbab� (Ibid., hal. 129), “harus ada kebebasan tidak beragam� (Ibid., hal. 135), “orang beragama tidak boleh dipaksa.� (Ibid., hal. 139 & 142), dan sebagainya.

Kentalnya ide-ide pokok kapitalisme dan berbagai derivatnya ini, masih ditambah dengan suatu metode berpikir yang kapitalistik pula, yaitu menjadikan ideologi kapitalisme sebagai standar pemikiran. Ide-ide? kapitalisme diterima lebih dulu secara taken for granted. Kapitalisme dianggap benar lebih dulu secara absolut, tanpa pemberian peluang untuk didebat (ghair qabli li an-niqasy) dan tanpa ada kesempatan untuk diubah (ghair qabli li at-taghyir). Lalu ide-ide kapitalisme itu dijadikan cara pandang (dan hakim!) untuk menilai dan mengadili Islam. Konsep-konsep Islam yang dianggap sesuai dengan kapitalisme akan diterima. Tapi sebaliknya kalau bertentangan dengan kapitalisme, akan ditolak dengan berbagai dalih. Misalnya penolakan JIL terhadap konsep dawlah islamiyah (negara Islam) (Ibid., hal. 291), yang berarti konsep ini dihakimi dan diadili dengan persepktif sekuler yang merupakan pengalaman sempit dan partikular dari Barat. Padahal sekularisme adalah konsep lokal (Barat), dan tidak bisa dipaksakan secara universal atas Dunia selain-Barat Th, Sumartana mengatakan :

“Apa yang sudah terjadi di Barat sehubungan dengan hubungan antara agama dan negara, sesungguhnya dari awal bercorak lokal dan berlaku terbatas, tidak universal. Dan prinsip-prinsip yang dilahirkannya bukan pula bisa dianggap sebagai resep mujarab untuk mengobati komplikasi yang terjadi antara negara dan agama di bagian dunia yang lain.� (Th. Sumartana, “Kata Pengantar� dalam Robert Audi, Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal,? 2002:xiv).

Dan patut dicatat, sekularisme tak pernah menjadi konsep yang berlaku di Dunia Islam seperti saat ini, kecuali melalui jalan imperalisme Barat yang kejam, penuh darah, dan tak mengenal perikemanusian.

Penutup
Kesimpulan paling sederhana dari uraian di atas adalah bahwa agenda-agenda JIL tak bisa dilepaskan dari imperalisme Barat atas Dunia Islam. Ide-ide yang diusung JIL pun sebenarnya palsu, karena yang ditawarkan adalah kapitalisme, bukan Islam. Agar laku, lalu diberi label Islam. Islam hanya sekedar simbol, bukan substansi ide JIL. Jadi JIL telah menghunus dua pisau yang akan segera ditusukkan ke tubuh umat Islam, yaitu pisau politis dan pisau ideologis. Semua itu untuk menikam umat, agar umat Islam kehabisan darah (baca:karakter Islamnya) lalu bertaqlid buta kepada JIL dengan menganut peradaban Barat.

Jika memang dapat dikatakan bahwa JIL adalah bagian dari proyek imperalisme Barat, maka JIL sebenarnya mengarah ke jalan buntu.? Tidak ada perubahan apa pun. Tidak ada transformasi apa pun. Sebab yang ada adalah legitimasi terhadap dominasi dan hegemoni kapitalisme (yang, toh, sudah berlangsung). Dan pada saat yang sama, yang ada adalah pementahan dan penjegalan perjuangan umat untuk kembali kepada Islam yang hakiki, yang terlepas dari hegemoni kapitalisme.

Jadi, Anda masih percaya JIL ? Kalau begitu, saya ucapkan selamat jalan menuju jalan buntu. Semoga tidak nabrak. [Muhammad Shiddiq Al Jawi**]
- - - - -
*? Disampaikan dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku “Wajah Liberal Islam di Indonesia�, diselenggarakan oleh HMJ Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, di Auditorium UNDIP Pleburan, Semarang, pada hari Selasa 8 Oktober 2002.
**? Aktivis Hizbut Tahrir.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • blogmarks
  • Bumpzee
  • feedmelinks
  • Furl
  • StumbleUpon
  • Taggly
  • YahooMyWeb
  • BarraPunto
  • blinkbits
  • BlinkList
  • co.mments
  • De.lirio.us
  • Fark
  • Fleck
  • LinkArena
  • Reddit
  • Socialogs
  • Wists

108 Responses to 'CATATAN KRITIS UNTUK ISLAM LIBERAL*'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'CATATAN KRITIS UNTUK ISLAM LIBERAL*'.

  1. Willy said,

    on May 1st, 2007 at 4:38 pm

    Saya orang biasa, non muslim. Yang gak mau mikir njlimet. Saya heran kok teman-teman muslim bukannya pada bersyukur ada golongan ala JIL begini. Sejujurnya golongan gaya JIL inilah yang menjadi bemper terdepan agama kalian, umat islam menghadapi sikap sinis umat agama lain terhadap islam. JIL berhasil menghadangnya dengan tampilan ramah, kalem, damai, penuh persahabatan, mau berdiskusi, dll, yang justru berbeda dengan yang anti JIL. Berbeda 180 derajat. Saya sendiri pernah berhadapan langsung dengan orang dari golongan non JIL. Berapi-api dia menghujat agama saya di depan hidung saya. Sangat berbeda nuansanya jika saya berada di antara ”masyarakat JIL”. Demikian komentar singkat saya. Peace.

  2. Aree said,

    on May 2nd, 2007 at 9:30 am

    Kalo menurut saya,
    Tiap bangsa/masyarakat memiliki budaya masing-masing, ada yang perangainya keras dan ada yang lemah lembut, misal orang jawa yang terkenal lemah lembut, bukan berarti mereka selalu benar, iya kan? dan juga tidak semua non JIL lantas selalu berperangai tidak mengenak-kan, kebetulan saja yang anda temuin seperti itu,

    bagi saya artikel diatas adalah sebuah kritikan (sesuai dengan judulnya) terhadap JIL,

    Peace,

    saya orang biasa juga (emang ada yang luar biasa ya?)

  3. Seno said,

    on May 4th, 2007 at 5:54 pm

    Memang betul, JIL memang berusaha memutar balikkan pemahaman Islam yang sejak awal telah ditetapkan Rasulullah SAW, diikuti para sahabat, para tabi’in, hingga saat kini. Misi utama mereka memang sejalan dengan misi barat.
    Kakau baca tulisan2 orang JIL itu memang luar biasa ngawurnya. Contoh paling gampang yah, orang2 seperti Ulil, Luthfi Assyaukanie, M Guntur Romli, Novriantoni dkk mereka itu berani berijtihad tanpa didukung oleh sumber2 yang layak (Qur’an / Hadits dan kitab2 ulama2 besar lainnya). Banyak diatara tulisan mereka hanya berdasar pada kehendak hawa nafsu mereka belaka. Sayang juga yah, padahal orang2 JIL itu pinter2, sekolahnya tinggi2, sayang tidak dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat tapi malah menghancurkan aqidah umat..

  4. Andreas Feliciano said,

    on May 7th, 2007 at 12:18 pm

    Kebanyakan orang2 JIL memang berdedikasi bertitel dan Pinter pinter tapi menurutku pinteran orang-orang desa yang tidak sekolah apalagi bertitel tetapi menganut agama Islam sesuai dengan Al-Quran dan Hadist penuh kedamaian, karena tidak dikuasai hawa nafsu menjajah seperti JIL, Orang muslim desa tidak mempunyai misi apa-apa kecuali persiapan untuk hidup yang sebenarnya yaitu di akhirat nanti. Hati hati umat islam jangan sampai terkecoh dengan Orientalis berkedok Islam.

  5. Lisa Mardiyah said,

    on May 8th, 2007 at 10:34 am

    Orang JIL itu dibayar oleh lembaga2 yang ingin merusak Islam. Jadi wajar JIL akan berwajah ramah kepada agama manapun, tapi tidak kepada Islam yang benar dan hanif. JIL harus dilawan!

  6. Anaken said,

    on May 9th, 2007 at 9:58 pm

    Hati2 dengan JIL. Musuh dalam selimut. bukan harus dilawan lagi. tapi harus di hapuskan sampai ke akar-akare..

  7. Andrew Luqman said,

    on May 10th, 2007 at 9:39 am

    Benar. JIL dan para pendukungnya harus dihancurkan. JIL adalah parasit dalam tubuh umat Islam. JIL itu pengusung sekularisme. Sekularisme itu bertentangan dengan Islam. Hancurkan JIL!

  8. zammiluuni said,

    on May 14th, 2007 at 7:04 pm

    Kebiasaan kita kalo makan nasi dulu baru daging, kok sekarang kalian makan daging dulu.


  9. on May 15th, 2007 at 4:41 pm

    Jaringan Islam Liberal sebelumnya telah didukung oleh ayat-ayat kitab suci.

    1. SEKULERISME: Didukung oleh Yunus (10) ayat 100. Tanpa mempergunakan akal tentang agama dimurkai Allah.

    2. LIBERALISME: Didukung oleh Al Kahfi (18) ayat 29: Siapa berkehendak beriman silahkan dan siapa yang berkehendak kafir silahkan; Al Baqarah (2) ayat 256: Tidak ada paksaan dalam agama.

    3. PLURALISME: Al Baqarah (2) ayat 148: Tiap umat mempunyai kiblat agama (seperti rasulnya, kitabnya, aqidahnya, syariatnya, ritual ibadahnya, tempat ibadahnya dll.),
    berlombalah dalam kebaikan (persepsi agama). Allah PASTI akan mengumpulkan mereka pada awal millennium ke-3 masehi diera globalisasi agama.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  10. Quraish said,

    on May 17th, 2007 at 5:10 pm

    Sekularisme, Liberalisme dan pluralisme semuanya pada dasarnya adalah keinginan nafsu manusia untuk selalu diperturut-kan (diumbar/tanpa kontrol), sehingga untuk penerapannya-pun mengharuskan untuk mengubah/merevisi/mendefinisikan kembali semua ajaran agama samawi.

    1. Sekulerisme adalah pemisahan antara agama dan negara/urusan public, ayat yang anda gunakan sebagai dasar sekularisme dalam Islam, tidak ada hubungannya dengan sekularisme, kalau perintah Allah yang menghendaki setiap muslim untuk berfikir, masih banyak ayat lainnya.

    Urusan negara dan islam tidak bisa dipisahkan, kecuali dengan merubah aturan yang telah ada, misal zakat, jelas memerlukan peran negara, dan masih banyak hal lainnya, silahkan baca kitab sirah nabawiyah, disitu cukup banyak contoh bagaimana Nabi mengurusi umatnya.

    Dalam yahudi, mereka percaya bahwa palestina adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka, dengan alasan inilah mereka mendirikan negara dan mengerahkan kekuatan militernya untuk membunuh dan mengusir orang-orang yang tinggal didaerah tersebut, jelas sekali ini bukan konsep sekularisme.

    Di Kristen, ada negara yang namanya vatikan, yang secara ekslusif dikelola oleh para pendeta dan memiliki kedaulatan. Belum lagi konsep penebusan dosa oleh jesus, jelas dia melakukan penebusan dosa untuk para pengikutnya, kalo sekularisme mestinya dosa dipikul sendiri-sendiri donk? agama kan engga ikut-ikutan?

    2. Liberalisme adalah penekanan kepada kebebasan individu, dengan menolak semua teori mengenai pengekangan hak pribadi (menolak kekuasaan raja, menolak aturan agama dan sebagainya)

    Ayat yang anda gunakan (QS 18:29) justru menunjukan bagaimana hak setiap individu dijamin oleh islam, termasuk hak dia mau kafir atau tidak, sedangkan ayat (QS 2:256) sekali lagi adalah salah satu jaminan Allah bahwa tidak ada paksaan untuk masuk islam (konteks ayat tersebut adalah untuk orang non islam, bukan untuk muslim). Kalau di interpertasikan untuk orang islam, trus buat apa orang muslim susah-susah puasa, naik haji, qurban dll?

    Karena liberalisme pada dasarnya adalah menolak pengekangan, terus buat apa ada konsep negara? bukankah menjadi warga negara adalah sebuah pengekangan? (keharusan patuhan terhadap aturan-aturan negara) terus buat apa juga ada undang-undang?

    Belum lagi bila setiap individu melakukan interpretasi masing-masing terhadap aturan Allah, sesuai dengan kondisi dan kehendaknya, bisa dibayangkan betapa chaosnya dunia ini.

    Ternyata kebebasan tidak bisa diterapkan secara riil dalam kehidupan, bagaimanapun juga, kebebasan kita batasannya adalah kebebasan orang lain, tanpa adanya aturan, kebebasan individu tidak akan bisa terjamin. Jadi secara logis dan alamiah liberalisme tertolak dengan sendirinya.

    3. Pluralisme agama adalah paham bahwa tidak ada kebenaran mutlak dalam agama, atau dengan kata lain semua agama adalah sama. Dari semua agama samawi, tidak ada satupun yang setuju dengan konsep ini.

    Yahudi, mereka merasa sebagai hambah yang di istimewakan seperti yang tertulis dalam kitab suci mereka. karena posisi yang istimewa ini, maka mereka tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT, karena Nabi bukan orang yahudi. Jelas ini merupakan sebuah anggapan kebenaran milik mereka sendiri.

    Kristen, konsep penebusan dosa yang dilakukan oleh jesus, menunjukkan bahwa, penebusan dosa hanya bisa dilakukan bila seseorang tersebut telah masuk/menjadi orang kristen, oleh karena itu mereka berlomba-lomba untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia, dengan cara membuatnya masuk kristen. Ini jelas sekali konsep ‘kebenaran sendiri’. Kalo bukan karena merasa benar sendiri, trus untuk apa program kristenisasi?

    Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya jalan selamat, (QS Ali Imran :19), (QS Al-Maidah ayat:3, 72-73). Islam atau tidaknya seseorang, Allah yang menentukan.

    Secara filosofis konsep ‘benar semua’ yang diusung pluralisme juga tidak bisa diterima, kita mengenal konsep siang dan malam, laki-laki dan wanita, kejahatan dan kebaikan. Saya rasa ini bisa dipahami dengan mudah, karena kedua konsep berpasangan tersebut adalah melekat. ketidak adaan salah satu pasangannya akan menghilangan yang lainnya. sebagai contoh:

    Kalo kejahatan kita tumpas habis, berarti tidak ada lagi kejahatan di muka bumi ini, artinya ya semua baik. Kalo semua baik, apapun yang kita lakukan berarti baik.

    Bila semua agama benar, seperti konsep pluralisme, apapun agama kita adalah benar, bila demikian adanya, kemudian muncul banyak pertanyaan: buat apa kita milih agama? kenapa kok ada orang yang pindah agama? buat apa surga dan neraka? (reward & punishment, kalo ada yang dikasih reward ada pula yang dikasih punishment) dll.

    Jelas bahwa tanpa melakukan perubahan/modifikasi hukum atau aturan Allah, ketiga konsep tersebut tidak akan bisa diterapkan, sementara cukup jelas peringatan Allah dalam Quran (QS 4:60) terhadap orang - orang seperti JIL atau seperti anda.

    Dan akhirnya kalo Soegana Gandakoesoema percaya pada pluralisme agama, kenapa kok anda kirim komentar segala? bukankah mestinya apa yang ada dalam artikel diatas, dalam pandangan konsep pluralisme harusnya benar juga? kan engga ada agama yang salah?

    Wasalam,

    - Quraish

  11. sholihin said,

    on May 20th, 2007 at 6:04 pm

    Surat Yunus yang Anda kutip hanya ayat 100. Silakan baca ayat 101-103:
    Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Yunus 101)

    Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka. Katakanlah: “Maka tunggulah, sesungguhnya akupun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu”. (Yunus 102)

    Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. (Yunus 103)

    Jadi, ayat 100 itu bukan pilihan: tapi seperti orang jualan: “Jika memilih barang ini, Anda akan mendapatkan barang ini. Saya nggak maksa. Tapi, jika Anda memilih barang yang lebih dari ini, Anda akan mendapatkan kelebihan lainnya. Pilihan Anda di tangan Anda, tapi saya nggak jamin jika Anda kecewa dengan pilihan Anda” :-)

    Gaya JIL memang begitu selama ini, mengambil ayat yang disukainya saja.

    Ayat yang Anda cantumkan di atas sebagai dalil yang digunakan JIL juga tidak lengkap alias hanya mengambil sebagian dan salah pula memahaminya:
    Baca ayat sebelumnya, yakni ayat 28:

    Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (al Kahfi 28)

    Dan ini lengkapnya ayat dari surat alKahfi ayat 29 tsb:
    Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al Kahfi 29)

    Ayat 30 dari surat tsb adalah:
    Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.

    Jadi, jelas tidak bisa bebas sesukanya. Dan bukan dalil liberalisme.

    Termasuk albaqarah 256, diambil sebagiannya saja yang memang sesuai hawa nafsu mereka yang memaksakan pendapatnya ttg liberalisme. Padahal, lengkapnya ayat tsb adalah:

    Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Betul, bahwa orang Islam memang nggak boleh memaksa manusia lain untuk memeluk Islam dengan ancaman misalnya. Tapi, jika orang tsb sudah masuk Islam, maka wajib taat. Nggak boleh merasa harus liberal dan kemudian suka2 pindah agama.

    Nah, dalam Islam, untuk memelihara agama ini juga diminta agar pemeluknya melaksanakan seluruh ajaran Islam. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

    Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (‘akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247)

    Imam an-Nasafiy menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa berserah diri dan taat kepada Allah Swt. atau Islam (Imam al-Nasafiy, Madaarik al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta’wiil, I/112). Imam Qurthubiy menjelaskan bahwa, lafadz “kaaffah” merupakan “haal” dari dlamiir “mu’miniin”. Makna “kaaffah” adalah “jamii’an.” (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, III/18)

    Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas.

    Terus nih, Imam Thabariy juga menyatakan: “Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syari’at Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337)

    Ketika seorang Muslim pindah agama, maka akan disadarkan dan diminta bertobat. Jika tetap bandel, maka akan dibunuh. Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Ikrimah yang berkata, “Dihadapkan kepada Amirul Muk-minin ‘Ali ra orang-orang zindiq, kemudian beliau ra membakar mereka. Hal ini disampaikan kepada ‘Ibnu ‘Abbas dan ia berkata, “Seandainya aku (yang menghukum), maka aku tidak akan membakarnya karena larangan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: “Janganlah kalian mengadzab (menghukum) dengan ‘adzabnya Allah.” Dan aku (Ibnu ‘Abbas) akan membunuhnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.”

    Membunuh laki-laki yang murtad berdasarkan dzahir hadis tersebut. Sedangkan membunuh wanita yang murtad berdasarkan keumuman hadis. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengganti (agamanya)”. Sedangkan lafadz “man” termasuk lafadz umum. Juga diriwayatkan oleh Daruquthniy dan Baihaqiy dari Jabir, “Bahwa Ummu Marwan telah murtad. Rasulullah saw. memerintahkan untuk menasihatinya agar ia kembali kepada Islam. Jika ia bertaubat (maka dibiarkan), bila ia tidak, maka dibunuh.” (Abdurrahman al-Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, hlm. 128-129)

    Kemudian tentang Plurisme, ayat yang dicantumkan itu sama sekali keliru. Lagi-lagi hanya diambil sebagian ayat itu saja. Padahal ada penjelasan sebelumnya di ayat 147 dan juga ayat 149 dan 150. Berikut ayat2 tsb:

    Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (147)

    Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (149)

    Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (150)

    Penjelasan ini semua tentang Islam. Ketika Islam datang semuanya harus mengikuti Islam.

    Ini diperkuat dalam ayat Allah Swt:
    Allah Swt. berfirman (yang artinya): “(yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (Muhammad) yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu- belenggu (hukum yang amat berat pelaksanaannya) yang ada pada mereka (yang ada di dalam Taurat dan injil). Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan (senantiasa) mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-A’raf [7]: 157)

    Dalam ayat lain Allah Swt. menjelaskan (yang artinya): “Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) al kitab (al-Quran) yang membenarkan kitab-kitab terdahulu dan sebagai Muhaimin (penganti bagi kitab-kitab terdahulu itu).” (QS al-Ma’idah [5]: 48)

    Penggantian al-Quran terhadap kitab-kitab terdahulu adalah berupa penghapusan terhadap syari’at-syari’at terdahulu itu. Telah diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Khathab ra. mendatangi Rasul dengan membawa naskah (sepucuk tulisan) Taurat lalu ia berkata: ”Wahai Rasulullah ini adalah tulisan Taurat, lalu Rasul diam. Lalu ‘Umar membacanya, maka berubahlah raut muka Rasulullah kemudian Beliau bersabda: “Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa as. masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku sunguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus, seandainya ia (Musa) masih hidup dan mengetahui kenabianku sungguh ia akan mengikuti aku.” (HR ad-Darimiy dalam as sunan no. 436)

    Itu sebabnya, ada kaidah ushul (fikih), “syar’u man qablana laisa syar’an lana” (syariat orang-orang sebelum kita bukanlah syariat bagi kita). Nah, kaidah ini tentu nggak asal dibuat, karena tentunya berdasarkan ijma’ para shahabat bahwa syariat Muhammad saw. merupakan penghapus seluruh syariat terdahulu. Dengan demikian maka Nasrani dan Yahudi, mereka diseru dengan syariat Islam dan diperintahkan untuk meninggalkan syariat mereka. Karena Islam telah menghapus (menasakh) syariat mereka (Dr. Abdurrahman al-Baghdadiy, Engkaulah Rasul Panutan Kami, Al-Azhar Press, 2002, hlm. 16-18)

    Semoga bermanfaat dan mampu menyadarkan kita semua. Kecuali… kalo kita sendiri memang sudah memilih hawa nafsu sebagai Tuhan.. ya penjelasan apa pun tak akan nyambung. Allahu’alam.

    Salam,
    Sholihin

  12. Alfie said,

    on May 28th, 2007 at 10:15 am

    Pak Quraish dan Pak Solihin, penjelasan antum-2 luar biasa nih… harus lebih banyak membaca

  13. Masrawi said,

    on May 31st, 2007 at 4:13 pm

    Setuju. Jawaban Pak Quraish dan juga Pak Solihin sangat bagus. Kita perlu orang2 yang bisa memberikan bantahan kepada mereka yang membenci Islam. Jazakumullah khairan jaza.

  14. sumeleh said,

    on June 13th, 2007 at 8:21 pm

    Penjelasan yang cukup gamblang dari Pak Quraish dan Pak Solihin.
    Semoga Pak Suganda bisa lebih terbuka menerima kebenaran, kesampingkan hawa nafsu Pak, jika kita masih merasa beragama Islam, kenapa masih ragu dengan Al-Qur’an, dan membenarkan satu persoalan dengan dalil yang dipotong-potong ? Orang yang merasa dirinya ilmiah dan segala sesuatunya diukur dengan akal tak akan cukup hanya dengan dalil yang enak-enak dan pas saja tanpa keinginan untuk menggali lebih dalam lagi.

    Semog Allah membuka pintu hati Pak Suganda. Amien.

  15. alfathani said,

    on June 21st, 2007 at 10:34 am

    yah kalo menrut saya memang bagi umat islam sendiri jil terlalu menyimpang dari syariah, mereka lebih menekankan akal dari pada hati. tapi bagi umat non muslim kehadirannya malah mbikin nuansa baru karena jil mengusung nilai-nilai kemanusian ,toleran. sedangkan saat ini umat islam telalu fundamentalis dan kadang islam saat ini kurang peka terhadap masalah2 kemanusian yang sedang dihadapi umat manusia. jadi seharusnya umat islam juga perlu memahami juga sisi-sisi kebenaran menrut islam yang ada dalam jil. Islam adalah agama yang diturunkan Allah bagi seluruh umat manusia yang pada awalnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang, toleransi, rasa persaudaraan sesama muslim yang tinggi, tapi sekarang sperti apa???

    Yang diperlukan umat Islam adalh
    keseimbangan hati dan akal
    keseimbangan dunia dan akherat

  16. Miranda Sinan said,

    on June 24th, 2007 at 12:59 pm

    Artikel yang bagus. Karena umat manusia saat ini terlena dengan masalah2 yang dihadapinya akibat jauhnya pemahaman mereka tentang Islam. Kehadiran JIL memberikan pencerahan bagi mereka yang sudah salah jalan dan jauh dari nilai Islam. Sebaiknya kita ucapkan istigfar seribu kali atau bahkan lebih kepada mereka yang terjerumus masuk perangkap JIL dan bahkan membela JIL dan membenarkan kesalahan JIL. JIL harus dibubarkan dan dihancurkan. Agar umat manusia ini paham tentang masalah yang sebenarnya. Orang2 kafir harus sadar bahwa mereka sebenarnya ditipu oleh JIL. Sebagaimana mereka telah menipu umat Islam, dan dirinya sendiri.

  17. badboy said,

    on June 27th, 2007 at 7:53 pm

    setuju memang JIL adalah jaringan perangkap buat umat Islam didanai oleh USAID, mengusung aliran Liberalisme, sebaiknya jangan terlena dan teracuni oleh paham JIL, paham orang yang tidak percaya diri dan penjilat para imperialis, singkatan sebenarnya dari JIL adalah Jaringan Iblis Lieur….setuju…….

  18. Xcraft said,

    on July 6th, 2007 at 10:54 am

    Dari mulai munculnya perangkap2 iblis melalui kaki tangannya yakni kolonialisme, imperalisme inggris serta fasisme zionis, dan kapitalisme&liberalisme AMerika Serikat, Yang akan menjauhkan dan menghilangkan islam dari muka bumi ini. maka ada baiknya kita mulai mengevaluasi diri untuk kembali ke al-quran dan Assunah agar dapat bersama-sama menjadikan islam sbagai peradaban dunia dan Kedamaian pada zaman modern saat ini.. Semoga Allah merahmati dan memberi Kekuatan kepada Umat-umatnya yang Bertakwa..

    Wassalam

  19. Hilman Hanafiah said,

    on July 12th, 2007 at 12:52 pm

    Yah cara basi dunia barat untuk melemahkan umat Islam, Dikiranya kita2 ini bener2 tolol, bisa dikibulin dengan cara2 begitu.
    Yang saya bikin heran dan aneh, mereka itu punya segalanya, uang, power, media massa, dll. tapi masih saja takut sama ajaran Islam. Katanya Islam itu salah, tapi kok ditakutin ? tapi memang bukti lebih berbicara, orang2 yang masuk Islam dari agama lain adalah mereka2 yang kebingungan oleh ajaran agama nya terdahulu. Tapi kalau dari Islam pindah ke agama lain, paling2 orang bodoh dan kelaparan/faktor ekonomi. http://www.islam4all.com/newpage71.htm, link ini salah satu contoh bukti dari dunia barat untuk merusak Islam sejak jaman penjajahan Inggris di India dahulu kala,
    Juga link dibawah ini cukup bagus sebgai tambahan bacaan bagi kita,
    http://www.davidduke.com/

  20. Orang_pulau said,

    on July 17th, 2007 at 4:05 pm

    JIL itu pertanda menjelang kiamat.

    Mari kita sucikan diri, ihklaskan hati dalam beribadah, berusaha lisan sejalan dengan perbuatan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW,
    kembali ke kesucian Quran dan Al Hadis, Sayangi orang tua

  21. Odi said,

    on July 28th, 2007 at 12:18 pm

    Imperialisme (al-isti’mar) itu sendiri, menurut Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Mafahim Siyasiyah li Hizb At-Tahrir (1969:13) adalah pemaksaan dominasi politik, militer, budaya dan ekonomi atas negeri-negeri yang dikalahkan untuk kemudian dieksploitasi.

    Setahu saya kekhalifahan islam sampai runtuh tahun ‘20-an juga mendominasi politik, militer, budaya dan ekonomi di negara/daerah yang mereka rebut/kuasai.
    Jadi imperialisme adalah hal yang dilakukan oleh berbagai pihak di dunia sampai berujung pada PD1/2. Satu hal lagi bila kekhalifahan Turki tidak mempraktekkan hal-hal yang mirip imperialisme kenapa mereka teribat dalam Perang Dunia 1 ?

  22. Ahmad said,

    on August 31st, 2007 at 11:13 pm

    Pak Soeganda itu JIL ato misinaris??

    Koment nya ga nyambung semua…

    Ilmu nya dangkal dan menyimpang.

    Ga usah kirim koment lagi deh..

    Bikin enek bacanya..

    Mo muntah jadinya…


  23. on September 6th, 2007 at 3:29 pm

    Janganlah berfikir tentang islam dengan predikat islam ini atau islam itu.

    Islam sejak Adam (10.000 tahun yang lalu sesuai Al Hajj (22) ayat 78) adalah persepsi tunggal tidak dua, tidak tiga dan seterusnnya.

    Orang era globalisasi berfikir persepsi tentang agama islam adalah sejak kehadiran Nabi Muhammad saw. pada usia beliau 40 tahun dan cara berpersepsi seperti ini adalah kesalahan yang fatal yang dialami oleh umat Islam seluruh bola atlas yang jumlah penganutnya sekitar 1.3 milyar orang.

    Agama Islam berproses dengan siklus 10.000 tahun sekali dan awalnya tidak ada orang yang mengetahuinya sejak manusia tinggal dipermukaan bola atlas ini dan kapan akhirnya proses siklus 10.000 tahunna itupun tidak akan orang mengetahuinya selam bola atlas ini masih berputar untuk masa yang akan datang.

    Dimulai dengan ilmu globalisasi pengetahuan Adam sekitar 5000 tahun sebelum masehi sesuai Al Baqarah (2) ayat 30-39, kemudain belaku Al Qashah (28) ayat 58,59 dan akan terulang kembali mulai awal millennium ke-3 masehi sesuai Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha (20) ayat 117.

    Kemudian manusia yang sekarang sebanyak 6,5 milayar banyaknya akan menjadi 20 triliun pada 1000 tahun yang akan datang.

    Dalam masa dekat yang akan datang menurut perhitungan Allah manusia akan mengalami kemusnahan umat sesuai Al,Qashash (28) ayat 58,59 dan berjumlah tinggal sedikit.

    Inilah siklus manusia sejak sebelum zaman batu sampai era globalisasi yang diramalkan oleh Nabi Muhammad saw. sesuai Al Isro (17) ayat 104, Al Kahfi (18) ayat 99, Al Qari’ah (101) ayat 4 dan terus menerus berulang-ulang sunnatullahnya sesuai Al Fath (48) ayat 23.

    DAN BERPERSEPSI AGAMA ISLAM SEPERTI INILAH SEHARUSNNYA UMAT MUHAMMAD SAW. SESUAI DENGAN I.Q NABI SUCI YANG DILUKISKAN DIDALAM THAWAF MENGELILINGI KABAH SESUAI AL BAQARAH (2) AYAT 125, ALI IMRAN (3) AYAT 96,97, AL MAIDAH (5) AYAT 97.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  24. Reader Blog said,

    on September 6th, 2007 at 5:16 pm

    Biarlah Pak Soegana sepertinya sedang mengembara di alam intelektualnya sendiri yang bisa saja tak pernah diakui oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri. pak Soegana contoh orang yang masih perlu bimbingan. Apalagi sering mengutip ayat Al Quran tapi mengapa tidak selalu nyambung? Jadi saya sendiri balik bertanya: Yang ingin disatukan oleh Pak Soegana ini agama Islam, atau persepsinya sendiri tentang agama milenium 3? Masih mengherankan….

  25. yuni said,

    on September 7th, 2007 at 7:47 am

    assalamualaikum wrwb

    pak soegana adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini. anda seperti orang yang melawan arus. kenapa memutar balikkan agama sendiri. kalo tidak tahu alangkah baiknya jika diam. karena pendapat yang “nyeleneh” seperti ini bisa memicu perpecahan umat islam. semoga pak soegana di beri Hidayah oleh Allah SWT.

    wasalam

  26. khoirossi said,

    on September 11th, 2007 at 6:47 am

    assalamualaikum wr. wb.

    maaf saya orang awam mau ikut rembug…yg saya tahu kebenaran itu tempatnya tidak dalam tafsiran orang perorang. oleh karena itu siapapun yg menafsirkan nilai absolutisme agama maka penafisranya tetap saja nisbi. Ia tidak mewakili kehendak dan kebenaran yang ada dalam Islam itu sendiri. Siapapun yang berpendapat itu adalah benar, benar menurut pribadinya, organisasinya, sektenya pendukungnya dan pendapatnya bisa jadi salah menurut lawan atau orang yang bukan kelompoknya. Saya yakin pak quraish sendiri juga tdk berani mengklaim bahwa pendapat beliau adalah benar dan mewakili suara Tuhan/ suara al qur’an. beliau berspekulasi sesuai dengan kemampuan atau disiplin ilmu yg beliau geluti . demikian pula dg yang lain, saya kira begitu…mudah-mudahan diskusi kecil ini membawa kemajuan Islam menuju rahmatan lil alamin dan bukannya khizyan wa manadamatan lil alamin…semoga Amiinn…

    wassalaman…..
    al Faqir fil ‘Ilm
    Khoirossi

  27. robby said,

    on September 11th, 2007 at 3:16 pm

    Jaringan Islam Libral telah meluas pemahamannya. bagi umat muslim yg mendambakan ketenangan dalam beragama ia akan membantah orang2 libral, liberalisme dalam islam tidak ada karna Islam mempunyi hukum yg harus di tegakakan,hanya kepongahan merekalah yg membawa kehancuran bagi mereka sendiri di akhirat kelak.

    untuk saudara soegana.. alangkah baiknya jika anda memahami surah maryam disana akan anda dapatkan bahwa agama kristen itu salah fatal…………..

    wslam

  28. joy said,

    on September 12th, 2007 at 11:54 am

    COBA DECH NIH WEBSITE LEBIH DI PERLUAS LAGI JANGAN CUMA ITU ITU AJA

  29. sholihin said,

    on September 13th, 2007 at 11:36 am

    @ Joy:
    Terima kasih atas sarannya. Tapi, yang dimaksud “diperluas” itu apa dan yang dimaksud “cuma itu-itu aja” itu apa saja? Terima kasih.

    GI

  30. Yassin El Cordova said,

    on September 14th, 2007 at 1:56 pm

    A’udzubillahiminasyaithanirajiim
    Bismillahirahmanrahim

    gue berharap kader-kader JIL yang ngotot mempertahankan idealismenywe dalam kebebasan berbicara dan pluralitas tidak terjebak pada pandangan buta tokoh2 JIL macam Azyumardi Azra , de el el
    saya yakin orang-orang semacam yang mengedepankan sikap anti tradisionalis dan akan bersikap dewasa bhawa ide yang mereka kampanyekan sudah sangat usang alis jadul
    pada akhirnya pluralist berpikir bahawa golongan mereka sendirilah yang diridhai oleh tUHAN dalam versi mereka
    dan menafikan kelompok semacam Imam Samudra de el el
    tidak lain nereka tempatnya

  31. saladin el ubed said,

    on September 18th, 2007 at 11:05 pm

    Ass wr wb,

    Prinsipnya adalah, kebebasan berfikir yang kita miliki tidak bisa diterapkan secara mutlak dalam pelaksanaan agama. Sudah jelas dasar berpikir agama yang pertama yaitu Quran, berikutnya Al-Hadist, dan selanjutnya ijmak/ijtihad para ulama.

    Lalu dimana letak kebebasan berpikir ?? di dalam Islam kebebasan berpikir ada pada ijtihad para ulama. Ijtihad pun tidak bisa berpikir asal-asalan waton bebas. Namun harus dilandasi kerangka berpikir yang lebih kuat, yakni kerangka berpikir Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

    Kenapa harus menggunakan kerangka berpikir?? Analoginya seperti orang yang mau naik sepeda. Naik sepeda itu bebas caranya, namun harus sesuai dengan kerangka berfikir yang benar. Misalnya saking bebasnya berfikir maka timbul ide bahwa naik sepeda bisa dilakukan dengan duduk di roda depan, tangan memegang stang sepeda, dan kaki menginjak pedal. Pertanyaanya bisa ga ?? iya bisa…namun tentu tidak bisa jalan. Seperti itulah, kerangka berpikir yang benar mengacu pada siapa ?? Sudah pasti merujuk pada firman-firman Alloh dan sabda nabiNya. pertanyaan berikutnya bisakah Alloh salah ?? tentu tidak bisa, karena jika Alloh salah maka hidung kita pasti menghadap ke atas. Tidak kan ??

    Seperti itulah kira-kira, jika anggota JIL itu merasa pintar yang hanya berlandaskan background pendidikan yang tinggi, apakah mereka selalu benar ?? jika dibandingkan dengan firman Alloh, seberapa murah harga ucapan dan tulisan yang mereka buat ?? tentu tidak ada harganya bahkan sebelum mereka menulis kepintaran mereka tidak bisa dibandingkan dengan kemahapintaran Alloh yang menurunkan Al Quran.

    Jadi seharusnya anggota-anggota JIL bercermin di depan cermin yang besar dan luas. Untuk bisa menilai diri sendiri dan juga menghitung kepantasan kapasitas otak mereka yang katanya orang intelektual. Selain itu rabalah diri sendiri untuk mengira-ira apakah pola pikir mereka sudah sangat hebat sehingga mampu membuat hukum di dalam hukum ?? Sesungguhnya yang hebat di kalangan JIL adalah motivasi dan kemauannya yang keras untuk memperturutkan hawa nafsunya yang kotor.

    Janganlah membawa nama Islam untuk melindungi setiap inci gerak syahwatmu yang akan diperturutkan. Kembalilah pada ajaran yang Haq.

    Wassalamualaikum Wr Wb,

    Search, See, Analyze, Measure, Count, and make a Result…!!

  32. Tuqul Gak Tukhul said,

    on September 19th, 2007 at 8:50 am

    Wong Katrox mau urun rembug….
    Sebenarnya anak-anak muda macam mas lutfi as syaukani dan mas ulil abshar adalah mahluq langka di negeri Indonesia. Sebuah negri Muslim terbesar tapi tidak pernah melahirkan ulama berkaliber internasional yg pendapatnya bis amenjadi rujukan banyak umat muslim lainnya dunia. barangkali Mas-mas yg ada di JIL itu sedang menerapkan teori Hadis Ghorib..bahwa Islam lahir, berkembang dan mati dalam keadaan ghorib, dan berbahagialah orang yang ghorib…., makna gharib saya maknai menyimpang arus utama, karena arus utama selama ini tidak progessif, beku, jumud mandeg pemikirannya. Mas Uli interupsi aja, daripada bengong dikamar nyoba2 narkoba mending ngasah/ngecharge otak. mengapa harus dimusuhi..?orang-orang besar di dunia ini bukankah lahir dari sebuah kontroversi pada arus besar zamannya???dan orang-orang yang kontroversial adalah orang-orang yang bakal menjadi orang besar. bagi yang suka pada Islam klasik gak ada salahnya memang itu adalah pilihan hidup. OK buat umat Islam indonesia selamat berjuang berjihad menurut kadar kemampuan masing-masing…Viva Islam Allahu Akbar

  33. Mikhael_Juan said,

    on September 26th, 2007 at 3:45 pm

    ya iyalah…. anda (mas Willy) bisa mengatakan seperti itu, karena JIL itu dia pada prinsipnya musuh dalam selimut…,

    covernya se..islam tapi jalan pikirannya sama saja merusak islam…(pahami ndiri ya..)

    anda harus tau banyak gmana JIL itu…jgn coba mengatakan sesuatu apa yang anda belum paham akan hal itu..!!OK peace jg.

  34. Tommy said,

    on September 27th, 2007 at 10:27 am

    Assalamu’alaykum
    keberadaan JIL merupakan pertumbuhan dari penafsiran Al-Qur’an dan Hadist secara akal dan asal-asalan, banyak sekali teman-teman saya yang masuk perangkap JIL. Penafisran orang-orang bodoh JIL mengakibatkan dampak buruk bagi perkembangan islam kedepan, makin bertambahnya Bid’ah, ajaran sesat dan menyesatkan. Smoga kita dijauhkan dari tindak-tanduknya.Amin

  35. Dariku said,

    on September 27th, 2007 at 4:46 pm

    To: Tuqul gak Thukul::

    Melawan arus mungkin saja dianggap kontroversial. Tapi tetap harus punya standar kebenaran. Rasulullah SAW membawa Islam dianggap kontroversial saat itu karena mengancam kedigdayaan Romawi dan Persia. Tapi jalan Rasulullah benar karena membawa Islam.

    Che Guevara juga dinggap kontroversial. Tapi jalan yang dipilih beda. Sama2 terkenal dan mungkin pemujanya, tapi jalan hidup yang dipilih beda. Ini menunjukkan bahwa akhir dari kehidupannya pun beda. Satu ke surga, satu lagi ke neraka. Tinggal dipilih saja maunya ke mana :-)


  36. on October 21st, 2007 at 6:42 am

    I. Sebelum mengkritik orang lain tentang agama islam, terlebih dahulu orang islam mengotokritik diri sendiri. Ingat baik-baik agama islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. sejak wafatnya telah dibawa oleh umatnya kearah khilafiah sejak Khulafa Rasyidin, Tabiin dal selanjutnya sampai hari ini telah terpecah belah menjadi 73 firqah golongan sekte. dan anda sendiri termasuk saya sebelumnya dalam keadaan posisi seperti ini.
    Apa sebabnya saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa kita telah meninggalkan Al Quran sesuai Af Furqaan (25) ayat 30, padahal mudah sesuai Al Qamar (54) atar 17,22,32,40. Yang anehnya sebanyak 1,3 milyard umat islam telah merasa paling benar dibandingkan dengan persepsi agam-agama lainnya.

    II. Sepengetahuan kami tidak ada umat Islam sampai kemarin yang mengamati pesan-pesan hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw., hujjah kitab suci-Nya yang wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan agar Islam menjadi satu kembali sesuai An Nahl (16) ayat 93, dan menjadi Persepsi Tunggal Agama Allah sesuai An Nashr (110) ayat 1,2,3, yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. sebagai Rahmat semesta alam sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 107 sebagai berikut:

    1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab.

    2. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab.

    3. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnakan pewahyuan Al Quran berkat do’a ilmu pengetahauan agama akhir zaman oleh umat manusia.

    4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya Allah membangkitkan semua manusia dengan ilmu pengetahuan agama akahir zaman awal millennium ke-3 masehi.

    5. Sebelum datangnya hal-hal tersebut diatas jangan mengangap anda sudah benar dalam menganut agama Islam, pada hal dalam keadaan masih pecah belah sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, temasuk jangan menyalahkan Islam Liberal dan yang lain-lainnya.dan cara berfikir seperti ini adalah sesuai dengan hujjah Allah, Nabi dan Kitab sucinya.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 mashei.


  37. on October 21st, 2007 at 6:52 am

    KALAU SAJA KITA SEMUANNYA MENUNGGU-NUNGGU DAN TIDAK MELUPAKAN HAL-HAL TERSEBUT DIATAS, PASTI KITA TIDAK SALING MENYALAHKAN DALAM BERAGAMA, DAN AKIBATNYA PASTI DAMAI-DAMAI SAJA KARENA KITA SEMUANYA SEDANG MENUNGGU.
    KALAU KITA SAMA-SAMA MENGUNGGU PASTI TIDAK BERSELISIH AGAMA.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  38. Ray said,

    on October 23rd, 2007 at 8:27 am

    to Soegana:
    “sebanyak 1,3 milyard umat islam telah merasa paling benar dibandingkan dengan persepsi agama-agama lainnya..”sadarkah bpk dg semua yg bapak katakan itu? dapat angka2 itu darimana ? angka-2 statistik itu sangat ngawurrrr…bangun pak! he he…jangan asal klaim gitulah…bener juga kata sebagian mas2 di atas, bapak agak kurang konsisten, kurang menyadari apa yang ditulis, asal tulis aja…barangkali bapak belum waktunya berdiskusi di sini…ya nggak apa-apalah bapak masuk di Gaulislam sembari belajar Islam yang benar dari mas2/mbak2 Tim redaktur-nya he he..kasihan banget memikirkan sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikiran semua ummat Islam..bapak sendirian lho mikir ato berpendapat sebagaimana tulisan posted:21 oct 2007 itu..ha ha..kasihan deh…UNTUK GAULISLAM TERUS BIKIN ARTIKEL YANG BAGUS BIAR PAK SUGANA SEMAKIN MENDAPAT ILMU DAN RAHMAT..DAN GAULISLAM DAPAT PAHALA AMIINN..

  39. Yogie W. Abarri said,

    on October 24th, 2007 at 7:05 am

    Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
    Hidup Internet. Internet memang hebat. Dengan internet, kita bisa menilai suatu pendapat yang dilontarkan oleh seseorang, murni dengan hanya memandang isi dari pendapat tersebut. Kita tidak perlu disibukkan dan disilaukan oleh penampilan seseorang yang kalau di dunia nyata terkadang mampu mengalihkan perhatian.
    Di dunia nyata manusia seringkali terkecoh dengan penampilan seseorang yang bisa jadi mirip kyai, ustadz, mubaligh, dll, lengkap dengan tampilan wajah & cara berpakaian yang sengaja diset supaya menimbulkan kesan ‘alim, zuhud, tawadhu’, ahli ibadah, dll.
    Adapun di dunia maya (internet) kita tidak perlu khawatir akan disilaukan dengan hal-hal yang bersifat “kulit luar” tersebut. Kita toh tidak akan bisa membedakan, seseorang yang ngirim postingan tersebut ketika ngetik tulisannya dia sedang pake sorban atau sedang pake helm, sedang sambil megang kitab-kitab tafsir atau sedang sambil nyekek botol arak cap tikus kejepit pintu, sedang pake baju koko atau sedang pake jubah pendeta, sedang dalam keadaan menutup aurat atau sedang cuma pake selembar benang aja (dalam arti yang sebenarnya, alias bugil), dll. Kita membaca postingan dan menganalisanya dalam keadaan betul-betul fokus pada tulisan dalam postingan tersebut.
    Kita bisa menilai seseorang itu punya pemikiran yang Islami apa tidak, cukup dengan membaca tulisannya. Kitapun bisa menilai seseorang itu memang berniat mencari kebenaran atau cuma sekedar mencari pembenaran, cukup dengan mencermati tulisannya.
    Antara orang yang mencari kebenaran dengan yang mencari pembenaran, beda banget caranya mengutip, merangkai, maupun ketika menerima dalil. Orang yang mencari kebenaran, akan cenderung mengumpulkan semua dalil yang terkait dengan tema yang sedang ia bahas, dan ia akan berusaha mencari kesimpulan berdasarkan semua dalil tersebut, serta berupaya agar kesimpulannya tersebut tidak menabrak dalil manapun yang ada yang terkait dengan tema pembahasannya itu. Sehingga, apabila kesimpulannya ternyata diindikasikan salah, yaitu ketika ada orang lain yang mengingatkan dia dengan suatu dalil valid lain yang tertabrak oleh kesimpulan salahnya itu, ia akan segera merevisi kesimpulannya itu.
    Adapun orang yang mencari pembenaran, beda. Sejak awal ia sudah meyakini suatu kesimpulan dulu, yang bisa saja ia tarik atau temukan dari buku atau tulisan manapun yang ia sukai. (Jadi disini yang bicara memang hawa nafsu.) Lalu dia akan mencari dalil yang sesuai dengan kesimpulan sejak awalnya itu tadi, bergantung pada siapa obyek yang sedang menjadi lawan komunikasinya itu. Kalau lawan komunikasinya adalah orang Islam, ia akan mencomot dalil-dalil pembenarannya, untuk mendukung kesimpulan awalnya itu dari sumber-sumber hukum yang diakui oleh orang Islam, yaitu semisal al-Qur’an dan al-Hadits. Lalu, kalau tiba-tiba ada orang yang muncul dengan menunjukkan dalil valid lain yang tertabrak oleh kesimpulan salahnya itu, tentu saja tidak akan ia gubris, karena dalil itu bukanlah dalil yang ia butuhkan. Yang ia butuhkan dan gunakan adalah hanyalah dalil yang memang mampu mendukung pembenaran kesimpulan awalnya itu tadi.
    Nah, kalau kita memang sudah tahu perbedaan antara orang yang mencari kebenaran dengan orang yang mencari pembenaran, dan kitapun juga sudah dapat membaca arah tulisannya Sugana, maka kita tidak usah lagi terlalu serius menanggapi tulisannya Sugana itu. Masudnya, ndak usahlah kita itu repot-repot pake nyari dalil-dalil segala untuk melawan tulisannya. Toh kita semua sudah pada menyaksikan sendiri, bagaimana respon yang ia berikan pada dalil-dalil valid yang tertabrak oleh kesimpulan aneh bin ajaibnya itu. Dalil-dalil itu tidak ia gubris kan?
    Lalu apa yang bisa kita lakukan? Gunakan saja logika-logika yang ia pakai, yang banyak bertebaran dalam tulisannya itu, lalu bentur-benturkan terus dengan dalil-dalil valid lainnya, dengan kenyataan, maupun dengan bagian lain dari tulisannya sendiri. Tidak perlu kita sibuk menjawab. Justru dialah yang harus kita buat stres untuk mempertahankan kesimpulannya itu.
    Mengapa demikian? Karena, kalau memang kesimpulan dan logikanya itu lurus, tentu tidak akan bertabrakan dengan dalil-dalil valid, dengan kenyataan, maupun berkontradiksi dengan tulisannya sendiri. Itu pulalah cara kita membedakan kitab suci mana yang benar dan mana yang salah. Karena, kitab suci yang benar tidak akan mungkin bertabrakan dengan kenyataan maupun berkontradiksi dengan sesama ayat-ayatnya sendiri.
    Lagipula, toh kita juga tidak tahu pasti apa agamanya Sugana itu. Pun, seandainya akhirnya tahupun, “tahu”-nya kita itupun juga tidak ada gunanya bagi kita maupun baginya. Karena, menurut dia kan semua agama itu sama to? Maka, agama apapun yang nanti akan ia sebut sebagai agamanya, juga akan bernilai sama saja. Ngaku Islam pun nggak akan ada bedanya dengan ngaku Kristen, ngaku Yahudi, maupun ngaku atheis sekalipun.
    Adapun dengan tulisannya Willy, yang dengan jujur mengakui bahwa ia bukan beragama Islam, bukankah itu justru malah semakin membuat kita yakin dengan firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah [2] : 120, yang menginfokan pada kita bahwa sampai kapanpun mereka itu tidak akan pernah ridha pada agama Islam yang kita peluk ini? Agama yang mereka ridhai itu ya agama yang semodel dengan agama “Islam”-nya orang-orang JIL itu. Jadi, pengakuannya itu justru sesuai dengan info yang kita dapat dari Allah SWT. Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.
    Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Yogie W. Abarri
    Cuma orang Islam biasa (bukan orang Islam yang aneh dan nganeh-nganehi)

  40. dedelesmana said,

    on October 26th, 2007 at 7:38 pm

    ..JIL ini aneh, Islam koq Liberal…jadi bingung..koq bisa?..kLo mo Liberal mending ga usah bawa_bawa nama isLam…bikin aja sekte atau aliran atau agama sendiri..!!!

  41. Dirga said,

    on October 29th, 2007 at 1:30 pm

    Sesungguhnya Islam Liberal adalah peradaban Barat yang diartikulasikan dengan bahasa dan idiom-idiom keislaman. Islam hanyalah kulit atau kemasan. Namun saripati atau substansinya adalah peradaban atau ideologi Barat, bukan yang lain.

    Istilah Islam Liberal memang bukan hal baru. Rasanya saya pernah membaca suatu buku lama tulisan Lorthrop Stoddart “Dunia Baru Islam”. Di bab akhir ada tulisan tentang berbagai pembaruan pemikiran islam awal abad 20. Salah satunya yang disebut adalah “Islam Liberal” atau “Neo mutazilah”.

    Jadi, sebenarnya Islam LIberal pernah muncul di dunia Islam yaitu semasa zaman Mutazilah dulu. Orang barat juga sebenarnya hanya menyimpulkan gejala pemikiran yang ada di Islam saja kemudian membuat istilah baru sesuai pandangannya misalnya “Islam Liberal” atau istilah lainnya. Saya malah heran kalau Islam Liberal di sebut modern padahal sudah ada sejak dulu (buku itu tulisan tahun 20-an tapi baru dicetak oleh Gunung Agung tahun 60-an). Cuma anehnya anak-anak JIL yang sekarang memang lebih suka “nyambat” tulisan orang Bule. Padahal orang bule “Nyontek” ilmunya orang Islam cuma sudah dikemas sedemkkian rupa ide dasar nya dengan gaya bahasa yang nampak beda akhirnya malah Umat Islam tidak kenal dengan ilmunya sendiri.

    Jadi memang nampak aneh bin ajaib kita ini suka membaratkan dan mengislamkan suatu entity tapi intinya sebenarnya sama-sama tidak tahu kalau sumbernya sama. Ini memang jadi mirip orang2 buta yang yang meributkan gajah sama-sama tidak tahu apa itu gajah?

  42. dedelesmana said,

    on October 31st, 2007 at 12:45 am

    paham mutaziLah itu gw biLang mah sesat..soaLna mereka biLang kaLo ALquran itu dibuat manusia bukan wahyu dari ALLah..dan paham ini biLang alquran tidak cocok lagi buat zaman mereka..maka perlu pembaharuan, karena kata mereka ALquran tidak abadi…mereka biLang itu kalo gak salah zamannya ma’mun al rashid anaknya harun alrashid…koq bisa ya mereka bilang begitu? padahal isi dari ALquran terbukti kebenarannya saat ini dari urusan ilmu pengetahuan sampai kehidupan sehari_hari.
    mestinya mereka harus bertobat yang berusaha untuk melakukan pembaharuan ALquran…ilmu dan akal manusia itu dangkal banget buat memahami kandungan isi dalam ALquran. kita diberi akaL memang untuk berpikir, ALquran diturunkan dalam bahasa arab karena agar apa yang tersirat didalamnya dapat diungkap isinya dikemudian hari…kalau misalkan ALquran dirubah kedalam bahasa selain arab niscaya nantinya akan sulit untuk memahami kebenaran dalam isi ALquran..bahasa dalam ALquraan itu kayak sastra puisi (menurut gw)..dan isi dan bahasanya sangat kuat sekali…jadi kalo paham mutazilah itu menganggap ALquran itu buatan manusia kayaknya mereka bakaLan bengong deh kaLo orang_orang duLu itu hidup Zaman sekarang dan mengakui ALquran itu memang wahyu yang diturunkan ALLah swt kepada nabi Muhammad saw…..

  43. Khawarij said,

    on November 3rd, 2007 at 11:13 pm

    Iya yah JIL itu Islam kok liberal ya, islam itu kan ekstrem dan membenci semua agama2 kasih, dan fanatis dangkal lagi!

    Btw, JIL itu memang hebat, berpendidikan dan santun serta tidak menyembunyikan fakta2 kebenaran sejarah2 agama walau pahit kenyataannya tidak seperti islam skarang yg picik, ekstrem (suka konflik, rusuh) serta merasa paling bener sendiri (ngawur).
    Viva JIL! Ayo jalan terus!!!
    Allohu Akbar!

  44. Khawarij said,

    on November 3rd, 2007 at 11:16 pm

    Anda benar pak soeganda, Islam sekarang telah dibawa ke jalan yg jauh dari damai dan sempurna, sejarah terulang kembali, setelah murni lalu menjadi sesat.
    Allohu Akbar!

  45. Dudung said,

    on November 4th, 2007 at 8:00 am

    Kalau Al Qiyadah bagaimana? Dibahas diblogs ini juga, mohon masuk ke blogs ini dahulu :

    http://tausyiah275.blogsome.com/2007/10/26/aliran-al-qiyadah-jelas-sesat/

    Terimakasih.


  46. on November 7th, 2007 at 8:50 am

    JIL bagus kalian semua yang gak bisa ngerti…

  47. crazy sufy said,

    on November 8th, 2007 at 5:26 pm

    PEMAHAMAN SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT ISLAM KITA ADALAH PEMAHAMAN JIL

    Waktu kecil, kalau tidak salah saat duduk di kelas 4 SD, saya pernah dengar obrolan antar orang- orang tua di kampung. Obrolan terjadi di sebuah gubuk ditengah sawah..Sambil menikmati makanan dan melepas lelah mereka asyik ngobrol tentang segala hal dari mulai pengalaman berjuang melawan Belanda, memori saat pacaran sampai akhirnya tentang agama. Obrolan mereka bagi saya sangat menarik kadang lucu kadang ada cerita sedih.
    Obrolan kemudian menjurus ke masalah agama. Obrolan paling seru karena tiap orang punya pandangan masing-masing .Ya, namanya juga obrolan pelepas lelah.. Bicarapun sekenanya,asal bunyi Obrolan bermula dari kekecewaan seorang petani yang kesal karena kambingnya dicuri orang.
    “ Mun panggih diteukteuk ku aing tah leungeuna (bhs Sunda artinya : kalau ketemu saya potong tuh tangannya),” katanya berapi-api. Dan yang lainpun mengiyakan. Wajar, karena kejadian tersebut sudah sering kali terjadi.
    “ Saya sih setuju kalau hukum di kita seperti hukum di Arab. Pencuri dipotong tangannya, pembunuh di hukum mati. Mungkin kita aman ya..”
    “ Ya aman.Tapi kita kan tidak bisa seperti itu, Kitakan Indonesia, beda dengan di sana . negara kita bukan Negara Agama. Di negara kita banyak agama lain selain Islam”
    “ Agama itu artinya Ageman atau pegangan. Jadi agama mah sama saja. Mau Islam, Kristen, Hindu dan lain –lain.Tujuannya sih sama Ke Gusti Allah, Gusti Allah juga. Ibarat banyak sungai yang berasal dari mata air yang sama kemudian berkumpul di laut. Begitu….” Kata Seorang kakek berfilsafat sambil kemudian menghirup lintingan klobotnya. “ Yang penting mah kelakuan kita harus baik., bersih hati, kepada orang lain tidak boleh menyakiti, hidup harus eling, sadar ka Pangeran.”
    Saya tidak tahu persis siapa yang terlibat obrolan-obrolan itu selanjutnya. Saat itu saya hanya mendegar sambil tiduran di ranjang bambu.
    “Betul juga, percuma saja kita shalat, naik haji dan lain-lain Kalau pelit dengan tetangga dan tidak akur.”
    “ Hidup jangan terlalu fanatik. Coba sekarang pikir ! bagaimana kalau istri-istri kita berjilbab seperti orang-orang Arab Gimana kalau kerja di sawah…haa haa.. haaa…” kata seorang Bapak lain disambut riuh tawa yang lain.
    “ Meraka mah sudah pada kaya shalat tenang, tidak diuber-uber waktu , naik haji gampang karena banyak duit,Tidak seperti kita. Kita sih belum waktunya seperti itu. Pangeran Maha Adil, Masa tidak shalat saja masuk neraka Sepanjang kita berbuat baik. Insya Allah selamat hidup ”
    “ Kita tidak tahu seperti apa neraka atau sorga itu. Yang rajin ke Mesjid dan lain-lain juga, belum tentu masuk sorga. Lagi pula jangan terlalu usil ke orang. Banyak kan yang Ceramah tapi isinya menyinggung orang lain. Apa itu tidak dosa ? Yang penting diri kita saja dulu.“
    Sekarang, beberapa puluh tahun setelah dengar obrolan tersebut, muncul fenomena JIL (Jaringan Islam Liberal). Setelah saya baca buku-bukunya kok isinya persis seperti pandangan Islam masyarakat kita kebanyakan (awam) dalam obrolan di atas. Bukankah tema yang diusungnya adalah :

    Menyamakan berbagai agama atau istilah kerennya Pluralisme.
    Penolakan terhadap berlakunya Hukum Islam (Syariat) secara Formal dalam sebuah Institusi (Negara) dengan alasan banyak agama selain Islam.
    Berpendapat bahwa Hukum Islam hanya cocok di Arab, hukum usang dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Lalu dikatakan pula jilbab sebagai budaya Arab, bukan syariat Islam.
    Ajaran Islam hanya sebatas ajaran-ajaran atau agama untuk kepentingan spiritual atau moral.Seperti obrolan diatas : yang penting hati bersih, baik pada manusia, eling. Bedanya dengan JIL , JIL menggunakan kata-kata yang berbau ilmiah, enak didengar dalam diskusi, seminar atau untuk buat skripsi. Apalagi keberadaannya didukung oleh kalangan akademis/ intelektual. Kalu isinya sih sama saja.

    Dari uraian di atas dan dari hasil pengamatan saya hidup di tengah masyarakat, ternyata kebanyakan masyarakat kita adalah penganut paham-paham yang dibawa orang JIL sebelum JIL ada . Menurut saya , JIL tidak usah “berdawah” mati-matian untuk menebarkan pemahamanya. Masyarakat kita memang sudah seperti itu. Kalau masyarakat Islam kita sebagian besar Islam Ideologis, secara logika tidak akan negara kita berbentuk seperti ini. Meski demikian he..he.. jangan coba mengajak si kakek , orang tua saya dan teman-temannya diajak diskusi atau membaca essay-essay orang orang JIL. Pasti mereka bingung. Mereka kan ngobrol untuk melepas lelah, asal bunyi saja dan tanpa landasan ilmiah.
    Keberadaan JIL, katanya untuk mengcounter kelompok-kelompok fundamental, Radikal, Islam Ideologis, Islam Kanan, Islam Struktural atau apa kek ( hayoo….barangkali mau nyumbang istilah lagi ?). Dan katanya lagi keberadaan kelompok-kelompok itu bak jamur di musim hujan setelah era reformasi bergulir. Kelompok-kelompok tersebut dianggap berbahaya bagi demokrasi, HAM ,Nasionalisme. Hmmmmm…..
    Yang bikin JIL pede. Pengikut mereka juga berasal dari kalangan-kalangan intelektual. Yang bahasa Inggrisnya lumayan. Banyak juga dari lulusan Universitas-Universitas Islam ternama baik di dalam maupun luar negeri. Menurutku apa bedanya pemahaman profesor-profesor, mahasiswa-mahasiswa itu dengan si kakek dan tetangga-tetenggaku di kampung yang lulusan SR (SD jaman dulu) bahkan ada yang tidak lulus. Hee..hee…lalu ngapain jauh-jauh kuliah ke Amrik atau timteng kalau sekedar untuk membela pemikiran yang kacau (menurut saya). Mereka menyebutnya pencerahan. Entah pencerahan bagi siapa.Mungkin bagi mereka. Karena dengan pemikiran mereka, nama mereka mentereng di seminar-seminar, koran-koran dan buku-buku ilmiah. Dan tentunya masa depan mereka juga cerah selain karena gelar bertumpuk (prof,DR,Msc,Mph dll)juga karena dapet proyek dan sokongan dari negara-negara donatur.
    Pemahaman Islam sebagian besar masyarakat kita sekarang tidak lepas dari peran penjajah Belanda. Dalam pelajaran sejarah kita mengenal Snouck Hourgrounye seorang Intelektual yang pura-pura masuk Islam. Di negeri Belanda dia disebut pahlawan karena berhasil memadamkan perlawanan rakyat Aceh lewat ajaran-ajarannya. Bukan hanya di Aceh, seluruh nusantara terpengaruh juga ajaran-ajarannya. Juga ada Van der Plast. Kalau saya baca ajaran-ajaran mereka, persis seperti ajaran-ajaran JIL. JIL yang dibiayai barat bisa pula dianggap sebagai pahlawan bagi barat karena berperan melawan pemikiran-pemikiran kaum yang mereka sebut fundamental. Sedangkan kaum fundamental dianggap sebagai duri dalam daging dalam perkembangan demokrasi dan HAM ala mereka.
    Kalau menurut saya JIL adalah reinkarnasi dari Sonuck Hourgrounye, Van der Plast dan tokoh sejenisnya. Bukankah mereka juga ilmu agamanya tinggi, shalat lima waktu, pandai berdebat dan berdiskusi. Namun semuanya itu sebagai kamuflase dan digunakan untuk memadamkan perjuangan Islam.

  48. hindin said,

    on November 26th, 2007 at 9:48 am

    Assalamualaikum.
    Saya setuju semua dengan apa yang diposting pak Soegana. Saya merasa aneh dengan sebagian besar tulisan di atas. Bukankah kita ini sedang mempraktekkan kebebasan? kok anti kebebasan?
    Mari kita saling menghormati. Sesungguhnya Rosul diutus untuk menyempurnakan Akhlak. Banyak tulisan di atas yang tidak berakhlaq, contohnya ada kata hancurkan atau apalah yang tidak berakhlaq sama sekali, inikah Islam anda? Hormati juga mas Willy yang mau menyumbang pikiran meski dia orrang non-muslim.
    Banyak tulisan yang mengira ilmiah tapi tidak ilmiah karena banyak yang menambahi dengan opini. Banyak tulisan yang ditambah-tambah dengan kata-kata dalam kurung). Jika kita mengedepankan keilmiahan, bukankah itu sekular?
    Alloh yang maha mengetahui.

  49. Joi said,

    on December 1st, 2007 at 8:32 am

    Saya juga aneh dengan orang-orang yang mengkritik pak Soegana. Mengkritik tanpa dibarengi dengan alasan atau bukti2. Tidak sekadar bilang “pak Soegana ini ngawur, bla bla bla … “. Kalau memang ngawur, kasih alasan donk harusnya gimana yang gak ngawurnya? Bukankah pada saat Anda bilang pak Soegana itu ngawur, Anda harus tahu dulu bagaimana yang tidak ngawurnya, bukan? Supaya tidak asbun juga pada saat mengkritik siapapun yang melakukan posting disini.

    Saya setuju dengan mas Hindin, semoga umat Islam (mau JIL atau non-JIL) bisa lebih berakhlak … kepada siapapun itu tanpa memandang dia muslim atau non muslim… bukankah Islam yang kita semua yakini dengan berotot dan berurat ini adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin?

    wassalam

  50. ia said,

    on December 6th, 2007 at 12:03 pm

    itulah kalo standart berfikir masing-masing orang dijadikan dasar, pasti akan terjadi perselisihan bahkan bisa terjadi pertentangan, karena apa? coz manusia kan lemah to? pasti yang lahir dari sesuatu yang lemah juga akan lemah. maka kita harus belajr bahwa kita meyakini Islam sebagai kebenaran yang sudah nyata-nyata terbukti kebenarannya sejak pertama kali diturunkan, bahkan sampai sekarang bisa dibuktikan kembali kalo masih ragu. hal ini berbeda dengan aqidah yang lain, tidak sesuai dg fitrah manusia, tdk memuaskan akal dan tdk menentramkan hati
    makanya cobalah kita berfikir bahwa Islam sudah lahir sebagai penyempurna dan solusi yang datang dari yang maha segala maha benar, otomatis donk apa yang lahir dari kebenaran itu pasti benar.
    adapun penafsiran orang terhadap ayat Al Qur’an, tdk boleh sembarang orang, kan sudah ada syarat2 yang ketat dan kemungkinan bohong, ngawur pasti bisa dihindari.
    yang paling penting sekarang adalah kalo org JIL bilang kebenaran itu relatif itu benar, tapi kalo kebenaran yang nyata2 dtg dari Allah tdk mgk relatif dongk, spt yang tlh tercantum dlam ayat2 muhkamat jelas mengenai hukum2nya.
    marilah kita semua mencoba mendalami ilmu2 Allah lagi dengan penyerahan total hanya krn ingin raih ridhoNya dengan cara yang sdh dicontohkan Rosulullah, insya Allah kita akan terhindar dari kesalah pahaman terhadap hukum2 ISlam.
    selamat menjemput rahmat Allah yang tidak hanya untuk kaum muslim saja.

  51. azzanee said,

    on December 9th, 2007 at 3:43 am

    saya penganut islam biasa yg tidak menganut ‘paham2′ tertentu.

    menurut saya, pemikiran2 JIL cukup logis, misalnya ttg solat dalam bahasa indonesia (http://islamlib.com/id/index.php?id=816&page=article). bagi seorang muallaf, yg selama hidupnya belum pernah mengeja bahasa arab, yg belum bisa mengaji, yg lidahnya tentu akan kaku apabila ‘dipaksakan’ berbahasa arab, tentulah lebih mudah utk solat dalam bahasanya sendiri. lalu, apakah Islam melarang hal itu?

    kemudian, ttg wanita dalam islam (http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&task=view&id=16). saya sebagai wanita muslim justru tersanjung dengan adanya pemikiran/artikel ini. apakah pemahaman tersebut bertentangan dengan Islam?
    apa salahnya dengan emansipasi wanita? apakah pengekangan thd wanita (seperti di arab saudi, dimana pilihan ‘pekerjaan’ utk wanita sangat dibatasi) merupakan sistem negara Islam yang ideal?

    jadi sebetulnya, “masalah” atau prinsip2 apa sajakah yg dimiliki oleh JIL, yg dipermasalahkan (dan bahkan dihujat) oleh penganut islam lainnya?

  52. Dede Hermawan said,

    on December 21st, 2007 at 1:38 pm

    Logis? Coba diralat.. Orang JIL menghalalkan pernikahan sejenis. Itu logis? Lebih mendukung Israel yang penjajah daripada palestina yang tertindas.. Itu logis? huuweeekkk

  53. me said,

    on December 27th, 2007 at 3:50 pm

    JIL?
    hemmm…ngawur..cuman ngambil enaknya aja si JIL tu..gimana caranya beragama yang enak…yang ga nyusahin…yang bebas dari segala aturan dan yang jelas nanti endingnya masuk surga….
    capeeek dey

  54. Andri Darmawan said,

    on December 29th, 2007 at 7:23 pm

    JIL merupakan usaha besar kaum non muslim/barat untuk merubah umat Islam secara halus agar bergeser dari Qur’an & Hadits. Mereka selalu memandang Islam sebagai musuh sejak dulu. Bukankah kaum Yahudi & Nasrani telah membenci agama ini sejak kelahirannya dulu.

  55. Johan Ali Gufron said,

    on January 7th, 2008 at 7:23 pm

    Saya bingung melihat komentar2 di atas, beda pendapat jadi ribut, berdebat tapi bilang orang sesat…bukan kah Islam memang akan terpecah jadi 73 aliran, dan yang benar hanya satu…beginilah hasilnya semua ngerasa benar…
    Akhirnya sesama Islam saling hujat, kapan bersatunya !!! sementara di luar sana orang sibuk bersiasat menghancurkan Islam.
    Kenapa sih isinya ribut melulu, menghujat….buatlah dunia ini tenang, bersahabat dengan siapa aja…(sekalipun dengan iblis yang penting jangan ikut2an dengan iblis) kan keren, Islam jadi dipuji non Muslim kalo gitu….bukannya ribut, hujat, marah …bukan Islam itu!!! itu gaya orang ARAB, liat aja di TV, teriak2, emosian, bunuh sana, bom sini, kayak keledai liar…sebenarnya tolol….

  56. boby said,

    on January 9th, 2008 at 11:08 am

    saya tau perasaan bapak johan ali tentang islam bahwa kaum muslimin selalu saling hujat akan tetapi kaum muslimin memiliki hak untuk membela ajaran yg benar ajaran yang sesuai al qur’an dan as sunah sesuai yagng dituntunkan rasululah saw. kalau kaum muslimin sendiri tidak ada rasa membela gimana. apakah islam yang bebas tanpa membedakan mana salah mana benar. seperti yang terucap pada hadis sampaikanlah kebenaran meskipun cuma satu ayat.hadis tersebut bukan hanya untuk kaum non muslim tapi juga untuk kaum muslimin supaya tercipta islam yang sebenarnya.

    peace to muslimin

    wasalam

  57. oetheqpedjah said,

    on January 12th, 2008 at 5:50 am

    Senang bisa menemukan GAULISLAM ini… dan.. kaget juga sih ngeliat coment2 diatas. Hampir semua penuh murka dan amarah, kadang terbayang di kelapa saya, andai Bapak-bapak, ibu-ibu, Mas-mas atau mbak-mbak yg coment disini duduk dalam satu ruangan terus ngelanjutin omongan masing2 pasti dah seru abis… gak nutup kemungkinan kursi pada melayang kekekekkekeke….. ups! maaf.
    Memang gini yah?… cara orang islam ngadepin beda pendapat, harus pake cacian bin marah-marah pada si Beda. Wih.. serem..!!!!

  58. Rangganteng said,

    on January 15th, 2008 at 12:59 pm

    Bagi penganut ide JIL dan fans beratnya, yuk.. istigfar!

  59. Ding Dung said,

    on January 16th, 2008 at 5:15 pm

    Untuk semua Pendukung, simpatisan dan khususnya anggota Tetap JIL,…
    JIL itu ..menekankan Kebebasan berpikir,beragama, Keragaman dalam beragama, keragaman dalam berpikir ….Tapi kok komentarnya Otoriter yah ….pusssiiinggg ….katanya liberal ..tapi Kok bisa2nya nuduh sesat MUI…
    katanya menghargai kebebasan berpikir ….kok memaksakan pikirannya dengan jalan demo …….piyeeee tooooh … JIL …walah JIL ..JIL ….

  60. IWAN said,

    on January 25th, 2008 at 8:07 am

    mau urug rembug nih,
    setahu saya rosulullah pernah bilang bahwa kita yang seorang muslim harus mengemukakan pendapat harus sesuai dengan alqur’an dan as-sunah, nah kalo memang yang kita bahas disini tentang islam ya berarti yang digunakan rujukan ya alqur’an dan as-sunah, jadi kalo jil sudah jelas tidak menganut yang dua itu sebagai rujukan kalaupun mengambil referensi hanya sepotong-potong, jadi saya rasa jil itu patut kita kasih tahu kebenarannya.
    kalaupun JIL benar bersikap ramah ya semua orang juga bisa bersikap ramah, termasuk orang yang berseberangan dengan JIL, setahu saya JIL kalau diajak dialog dengan umat muslim selalu menghindar, mereka beralasan bahwa yang diajak dialog akan melakukan anarkis, kalaupun dialog juga selalu kalah dengan pendpat yang di ajukannya karena tidak sesuai dengan alqur’an dan as-sunah.
    kalau kita tahu JIL didanai oleh orang non muslim, kalau memang orang JIL pintar kenapa tidak bisa cari duit sendiri, atau kalau memang menyebut sebagai pembaharu islam kenapa harus mengemis dana dari non islam saya kira banyak orang islam yang berduit.
    Toh JIL kenapa selalu menyerang islam dengan idenya yang menyimpang, ingat perbuatan diawali dengan niatnya, kalau JIL niatnya baik kenapa harus mengganti yang sudah baik menjadi kacau. Niat suatu perbuatan pun harus sesuai dengan tuntunan rosulullah kalau tidak berarti bukan golongan kita, nah lagi-lagi JIL niatnya tidak sesuai dengan nabi Muhammad SAW. ya pantas saja JIL memang harus diperangi.
    O YA UNTUK YANG MEMBELA JIL SAYA MAU TANYA ANDA DIBAYAR BERAPA SAMA JIL? KARENA SETAHU SAYA ORANG YANG MEMBELA JIL AKAN DIKASIH DUIT. SOALNYA DANANYA DARI ASING.

  61. anti IN-JIL said,

    on January 31st, 2008 at 6:29 am

    asw….

    jil…? hm….
    dari lair (2001) cuma bikin sensasi…
    taruhan potong leher….orang murtad… (jil mungkin blm murtad?)
    cuma sebagian besar sudah mirip dgn tokoh di jamn Rasulullah SAW
    mirip abdullah…. Bin ubay… :-)

    JIL berdiri dan disponsori TAF (the Asia Foundation) yg ujung-ujung ny adalah alat intervensi CIA…
    aku ngga sedang ngibul…
    baca arsip majalah suara Hidayatullah 2004

    JIL…
    jleas lahir setalah…. konferensi Khilafah islamiyah yang pertama di indonesia… 28 Mei 2000 (e.o by HTI)
    setalah itu.. kalo gak salah
    dibentuk ICWRP
    international conference world religion and peace…

    bagi muslim yg menderita sakit, bermental terjajah, tersubordinasi…
    pasti Amerika adalah yang maha hebat….”
    kaya…..(SEHINGGA ORANG2 JIL RELA MENJUAL AGAMA INI UNTUK SEKEPING DOLAR….)
    ini aku ngga asal tulis
    lha wong gembongnya jil dw yg bilang..
    yaitu MR.ULIL di majalah Hidayatullah…
    pertahun cuma dapat 1 M (MILAYAR RUPIAH, bukan 1 ember!)
    dan katanya itu CUMA SEDIKIT DIBANDING 2 ORMAS ISLAM TERBESAR DI INDONESIA>>>>

    singkatnya orang JIL ngga k bs makan,
    tanpa sering2 menyemir sepatu majikan mereka orang 2 TAF
    tanpa tidak bs tidak harus menjilat….pantat orang2 kafir

    status mreka bhakan lebih rendah dari pelacur
    mereka adlah pelacur intelektual

    saran sya untuk suganda. cs… kalo cuma untuk ngaco di forum ini…
    percuma….
    nggak ada duitnya…
    (kecuali ternyata anda mmg jg di bayar.. untuk
    ber snouck hourgronye.. ria..
    ber vanderplass ria…

    anda masuk aja jawapos tiap minggu, hubungi orang2 utan.. kayu…
    nanti duit juga masuk di kantong anda…

    “bagus” kan…
    pokoknya sering2 nyleneh dan bikin sensasi…
    diut tambah banyak… tambah nyohor….
    mirip pepatah arab kuno…
    kencingi air zam-zam anda akan terkena…..

    KATA KUNCI, JIKA SYARIAT INI TEGAK, SERING PROKLAMASI KHILAFAH ISLAMIYAH

    ORANG2 IN-JIL (intervensi jaringan Iblis laknatullah)
    PASTI AKN TERDIAM
    NGGA BANYAK CINCONG…..

    KERJAKAN APA YG KAMU PERJUANGKAN>>>
    KAMI PUN DEMIKIAN>>>
    JIKA KAMU MENUNGGU2
    PEMENANG PERTARUNGAN AKHIR JAMAN>>
    maka TUNGGULAH>>>

    KAMU (MUNAFIKIN, MURTADIN< MUSYRIKIN&