22/07/2026
ghibah

gaulislam edisi 978/tahun ke-19 (6 Safar 1448 H/ 20 Juli 2026)

Piala Dunia udahan, ya. Pemenangnya juga udah kita ketahui bersama. Ayo, balik lagi ke normal day in your life. Ribut-ribut saling dukung timnas yang berlaga mestinya ikutan reda, ya. Timeline bersih dari hujatan dan makian yang menyertai perang komentar. Perkara ini udah dibahas di edisi pekan kemarin. Bagi kamu yang belum sempat baca edisi tersebut, gaskeun aja langsung ke website kita. Nah, edisi ini kita ngobrolin tema baru.

Oya, pernah ngerasain nggak pas lagi asyik-asyik nongkrong di kafe aesthetic atau sekadar scrolling lini masa media sosial, tiba-tiba ada notifikasi grup WhatsApp yang ‘berisik’ banget? Isinya bukan update tugas atau rencana liburan, tapi bedah kasus kehidupan orang lain. Diulik sampe ke akar-akarnya, digosok-gosok makin sip alias ngegosip.

“Eh, kamu tahu nggak si A yang itu? Tumben banget pamer outfit baru, padahal kemarin curhat lagi bokek. Jangan-jangan pakai paylater tuh?”

Lalu, disahut dengan stiker-stiker nyinyir, diikuti analisis tajam ala detektif Conan tentang kenapa si A begini dan begitu. Rasanya nikmat banget, ya? Ada sensasi adrenalin saat kita ‘menguliti’ hidup orang lain. Kita merasa lebih ‘tahu’ segalanya, lebih pintar, dan entah kenapa, merasa sedikit lebih lega. Tapi tunggu dulu, apakah ini hobi yang menyehatkan atau sebenarnya kita cuma lagi menutupi rasa minder yang menumpuk di dalam hati? Mari kita bongkar fenomena ini dengan kepala dingin. Ya, dalam Islam, ini udah masuk kategori ghibah.

Oya, ghibah itu bukan cuma gosip biasa. Banyak yang bilang, “Ya kan aku cuma ngomong fakta, bukan fitnah. Namanya juga ghibah, bukan fitnah. Kalo fitnah kan bohong, kalo ini kan kenyataan.”

Hold on. Di sinilah letak kesalahpahaman paling fatal yang sering menghalalkan dosa. Dalam Islam, ghibah itu justru terjadi ketika apa yang kita katakan itu benar adanya, tapi hal tersebut nggak disukai oleh orang yang dibicarakan jika dia mendengarnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim memberikan definisi yang sangat presisi, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.” Ketika sahabat bertanya, “Bagaimana jika apa yang saya katakan itu benar ada pada dirinya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka kamu telah mengghibahnya, dan jika tidak benar, maka kamu telah memfitnahnya.”

Jadi, clear ya? Ghibah bukan tentang salah atau benar faktanya, tapi tentang “aib” yang dibuka. Dalam QS al-Hujurat ayat 12, Allah Ta’ala memberikan analogi yang sangat to-the-point dan menohok, “…Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”

Coba bayangkan, kita sedang ‘mengunyah’ reputasi teman kita sendiri. Daging saudara sendiri, lho! Ew, disgusting! Kalo secara logika manusiawi kita jijik memakan daging manusia, kenapa saat lisan kita ‘mengunyah’ harga diri teman sendiri, kita malah merasa nikmat? Ini adalah disonansi kognitif yang parah. Beneran. Pake banget.

Anatomi ghibah

Sobat gaulislam, ghibah itu punya banyak varian, dan seringkali kita nggak sadar kalo sedang melakukannya karena sudah terbungkus rapi oleh “norma tongkrongan”. Ada yang hardcore (terang-terangan ngejek atau mencaci), ada yang tipe pasif-agresif, sampai yang paling berbahaya: ghibah berkedok ‘kebaikan’.

Mari kita lihat wajah-wajah ghibah yang sering kita temui:

Pertama, “Si Pasif-Agresif”. Ini tipe ghibah yang paling populer di kalangan remaja media sosial. Pernah lihat story Instagram seseorang yang isinya kutipan (quotes) tentang “teman bermuka dua” atau “orang yang merasa paling benar”? Padahal, si pemilik story sedang menyindir teman yang baru saja berselisih paham dengannya.

Contoh, nih. Si B nggak sengaja lupa membalas chat si A. Bukannya tanya langsung, si A malah membuat story dengan latar hitam dan tulisan: “Lucu ya, pas lagi butuh baru ingat. Pas udah senang, teman lama dilupain. Emang bener kata orang, sifat asli orang kelihatan pas kita lagi nggak ada gunanya.”

Kenapa ini masuk kategori ghibah? Karena ini adalah bentuk pembunuhan karakter secara publik. Si A nggak sedang menyelesaikan masalah, dia sedang menggiring opini publik agar orang lain ikut membenci si B. Walau mungkin nggak semua orang tahu dengan siapa dia bermasalah. Kecuali, orang yang pernah berinteraksi dan merasakannya.

Kedua, ghibah berkedok “Curhat dari solusi”. Ini adalah bentuk ghibah yang cukup mematikan. Kita datang ke teman dengan wajah sedih, seolah-olah kita sedang dizalimi.

Contohnya, “Eh, aku sebenarnya nggak enak banget mau ngomong ini, tapi aku harus cerita ke siapa lagi, ya? Si C itu sebenarnya agak aneh deh sifatnya. Kayaknya dia iri banget sama pencapaianku. Tadi aja pas aku presentasi, dia bukannya kasih support malah nanya hal-hal yang jatuhnya ngeremehin di depan guru. Menurut kamu, aku harus gimana ya ngadepin orang modelan begitu?”

Kenapa ini dikategorikan ghibah? Kalimat “aku nggak enak mau ngomong ini” hanyalah pembuka pintu untuk memuaskan ego. Kita bukan mencari solusi, kita mencari sekutu. Kita ingin teman kita mengiyakan, “Iya, si C emang jahat banget, ya!” Saat teman kita setuju, rasa benci kita mendapat validasi. Itulah cara kita membangun kubu untuk melegitimasi kebencian.

Ketiga, ghibah “analisis detektif”. Ini biasanya terjadi di grup WhatsApp saat membahas seseorang yang nggak ada di sana. Kita merasa sedang berdiskusi kritis, padahal kita hanya sedang membedah hidup orang lain.

Contoh, nih, “Kamu perhatiin nggak si D sekarang gaya hidupnya beda banget? Padahal ortunya kan bukan orang kaya. Apa jangan-jangan dia…” (lalu dilanjutkan dengan asumsi-asumsi tanpa bukti).

Kenapa ini ghibah? Karena kita merasa memiliki hak untuk mengaudit hidup orang lain. Kita menukar rasa rendah diri kita dengan merasa lebih tahu daripada orang lain.

Efek domino yang merusak

Ya, efek dominonya mengerikan. Ghibah merusak vibes pertemanan yang seharusnya suportif jadi toxic. Kita jadi kehilangan rasa aman dalam pertemanan. Muncul bisikan cemas di pikiran: “Kalo hari ini dia ngerumpiin si A sama gue, jangan-jangan besok saat gue melakukan kesalahan sedikit saja, dia bakal ngerumpiin gue sama orang lain?”

Pertemanan yang dibangun di atas fondasi menggunjingkan orang lain itu ibarat membangun istana pasir di pinggir pantai. Terlihat kokoh saat kita tertawa bersama, tapi sebenarnya sangat rapuh. Begitu ada salah paham sedikit saja di antara kita, ombak kepercayaan yang hilang akan menerjang, dan persahabatan itu akan rata dengan tanah.

Ya, kita akhirnya sadar bahwa kita nggak pernah benar-benar punya teman; yang kita punya hanyalah sesama ‘pemakan bangkai’ yang suatu saat akan saling mengunyah satu sama lain. Kita kehilangan kejujuran, kehilangan kedamaian hati, dan yang paling parah, kita kehilangan integritas diri sendiri. Kenapa? Karena orang yang berkelas nggak akan pernah membangun circle di atas penderitaan atau aib orang lain.

Saat persahabatan jadi tumbal

Sobat gaulislam, mari bicara soal dampak nyata. Pertama, ghibah membunuh kepercayaan. Kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam persahabatan. Sekali kita tertangkap basah mengumbar aib teman, label si tukang gosip akan menempel permanen. Siapa yang mau deep talk dengan orang yang mulutnya ‘bocor’?

Kedua, secara spiritual, ini adalah kerugian yang nggak terbayangkan. Bayangkan kamu rajin salat tahajud, rutin shalat dhuha, puasa sunnah, dan sedekah tiap Jumat. Tabungan akhiratmu sudah lumayan. Tapi, di hari kiamat nanti, kamu justru jatuh miskin. Kenapa? Karena pahala-pahala itu habis ‘dicicil’ untuk membayar dosa kepada orang-orang yang dulu pernah kamu ghibahi.

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah menyebut orang seperti ini sebagai al-Muflis (orang yang bangkrut). Bayangkan betapa nyeseknya, udah capek-capek beribadah, eh pahalanya malah ‘ditransfer’ ke orang yang paling kita benci atau kita gosipkan. Kamu berbuat dosa, tapi orang yang kamu ghibahi justru mendapat ‘sedekah’ pahala dari kamu. It’s not worth it at all.

Perbaiki diri, yuk!

Terus, gimana caranya biar kita nggak gampang terjebak ghibah di dunia yang serba ‘berisik’ ini? Kita butuh strategi yang teknis sekaligus perubahan mindset.

Secara teknis, yang pertama kita coba terapkan “the 5-second rule”. Jadi, sebelum mengomentari orang lain, diamlah selama 5 detik. Tanyakan, “Ini manfaatnya apa buat aku? Apa ini benar, penting, dan baik untuk dibicarakan?” Kalo jawabannya nggak, segera telan kembali kata-kata itu.

Kedua, redirect talk. Kalo teman mulai buka topik gosip, gunakan teknik pengalihan isu yang halus tapi tegas. Misalnya, “Eh, BTW, aku kemarin baca artikel seru nih tentang…” atau “Eh, tugas yang itu gimana, ya? Aku masih bingung nih.” Nah, dengan mengalihkan pembicaraan, kamu sedang menyelamatkan mereka dari dosa.

Ketiga, upayakan untuk the ‘What If’ check. Jadi, selalu tempatkan diri di posisi orang yang sedang dibicarakan. Bayangkan jika kamu yang ada di posisi itu, sedang menghadapi masalah, dan orang-orang justru menertawakan atau menganalisis aibmu. Do you want that? Definitely not. Duh, nulisnya jadi ada ng-inggris, gara-gara sering main duolingo. Hehehe…

Selain pake cara teknis, kita perlu juga mencari solusi ideologis. Gini, kita perlu menyadari bahwa setiap manusia adalah ‘proyek’ yang belum selesai. Kita semua punya aib yang Allah Ta’ala tutup rapat-rapat. Fokuslah pada self-improvement. Orang yang sibuk memperbaiki diri nggak akan punya waktu untuk mengaudit kekurangan orang lain. Mengapa harus pusing dengan drama hidup orang lain kalo hidup kita sendiri masih banyak yang harus diperbaiki?

Ghibah adalah tanda rendahnya kualitas diri. Orang yang berkelas (elegan) lebih memilih membicarakan ide, visi, atau solusi daripada membicarakan orang. Ingatlah kaidah emas, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menjadi pribadi berkelas

Sobat gaulislam, menjadi remaja yang berkelas itu nggak sesederhana outfit yang on point, sepatu limited edition, atau feed Instagram yang estetik dengan filter yang pas. Itu hanya kulit luar. Kualitas diri yang sesungguhnya—yang membuat seseorang terlihat ‘mahal’ di mata manusia dan di mata Allah Ta’ala—justru terpancar dari bagaimana ia mampu menjaga ‘gerbang’ di antara dua bibirnya.

Bayangkan dirimu sebagai sebuah brand. Apakah kamu ingin dikenal sebagai orang yang ‘berisik’ karena membicarakan drama orang lain, atau orang yang ‘berisi’ karena kata-katanya membawa solusi dan inspirasi? Orang yang sering mengghibah itu ibarat orang yang membuang sampah ke rumah orang lain; lama-lama, halaman rumahnya sendirilah yang akan terlihat paling kotor dan berantakan.

Itu sebabnya, mulai detik ini, mari kita sepakati satu hal, yakni circle yang keren bukan lagi circle yang paling tahu gosip terkini, melainkan circle yang saling mendukung untuk tumbuh. Circle yang ketika salah satu anggotanya absen, nggak ada ‘bedah kasus’ yang terjadi, melainkan justru doa-doa baik yang dipanjatkan.

Terus, jika ada teman mulai memancing gosip, jangan ikut terbawa arus. Coba pakai kalimat pengalihan seperti ini: “Eh, BTW, mending kita bahas rencana buat proyek ke depan yuk, atau menurut kamu mending kita bikin podcast apa ya weekend ini?”

Jika kamu merasa ingin mengkritik, sejenak tanyakan pada diri sendiri, apakah kritikan ini akan membangun dia, atau cuma sekadar memuaskan egoku yang ingin merasa lebih baik? Jika nggak memberi solusi, lebih baik diam.

Jika ingin berkeluh kesah, coba ubah narasi curhatmu. Alih-alih membongkar aib teman, katakan, “Aku lagi ada masalah sama si F nih, menurutmu gimana ya caranya supaya aku bisa lebih sabar atau cara menyikapinya yang lebih bijak?” Fokus pada dirimu, bukan keburukan dia. So, kenapa harus ghibah?

Jadi, ingatlah bahwa setiap kali kamu tergoda untuk membicarakan kejelekan seseorang, alihkan dengan satu doa pendek: “Ya Allah, ampuni dia, dan perbaiki hatiku agar tidak jatuh dalam dosa yang sama.”

Dunia ini sudah terlalu sempit dan penuh dengan tekanan yang menguras energi. Jangan lagi ditambah dengan polusi kata-kata buruk yang hanya akan mengeraskan hatimu sendiri. Lisan yang terjaga adalah tanda bahwa imanmu sedang bertumbuh subur. Kamu bukan lagi sekadar remaja yang mengikuti arus drama, tapi seseorang yang memiliki kendali penuh atas harga dirinya.

Jadilah pendengar yang bijak, pembicara yang memberi manfaat, dan pribadi yang menenangkan bagi siapa pun yang ada di sekitarmu. Stay classy, stay silent, and let’s grow together! Ingat, lisanmu adalah cerminan hatimu. Kalo hatimu bersih dan penuh rasa syukur, maka yang akan keluar dari lisanmu hanyalah mutiara-mutiara kebaikan yang akan membuat orang lain merasa sejuk di dekatmu.

Jangan biarkan dirimu menjadi bankrupt di akhirat hanya karena nggak bisa menahan diri di dunia. Mulailah hari ini, jadilah versi dirimu yang paling elegan, yang nggak perlu merendahkan orang lain hanya untuk terlihat lebih tinggi. Sebab, orang yang paling hebat adalah dia yang mampu menaklukkan ego di dalam dirinya sendiri. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *