Friday, 19 April 2024, 01:14

gaulislam edisi 854/tahun ke-17 (23 Sya’ban 1445 H/ 4 Maret 2024)

Dunia terbalik, yang salah dibela, yang benar dicela. Kejahatan didukung, kebaikan ditelikung. Ada banyak yang mengajak kepada yang munkar, tak sedikit yang justru melarang yang ma’ruf. Aneh bin ajaib. Kalo amar munkar, artinya menyuruh orang berbuat jahat. Nahi ma’ruf berarti melarang orang untuk berbuat kebaikan. Kok bisa?

Membingungkan. Namun di zaman sekarang udah terbukti. Betapa banyak orang yang udah terang-terangan menawarkan judi online, nggak sedikit yang jemput bola dan memfasilitasi perzinaan melalui prostitusi, banyak juga orang yang nggak malu-malu berbuat curang bahkan mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Sisi lainnya, mau pengajian kok malah dilarang, ustaznya diusir jamaahnya dibubarin, nggak sedikit yang melawan kebaikan. Orang jujur ancur, yang tukang dusta dipuja-puja. Ini sudah kebangetan error-nya.

Kamu bisa saksikan sendiri di sekolahmu dan di lingkungan tempat kamu tinggal. Gimana terbiasanya teman-teman kamu yang melakukan pacaran. Dianggap pacaran itu sudah lumrah dan nggak takut dosa. Padahal, pacaran jelas mendekati zina, dan zina terkategori dosa. Namun, selama ini malah dibiarkan dan dianggap sebagai realitas kehidupan yang biasa terjadi di kalangan remaja. Fakta yang seharusnya diubah, malah dibiarkan dengan alasan kebebasan. Coba, apa nggak mikir bahayanya dan itu udah sering terjadi, kan?

Sebaliknya, anak-anak muda yang ingin menjalani kebaikan, ada yang aktif di rohis sekolah atau remaja masjid di lingkungannya, malah dicurigai karena dianggap komunitas rohis adalah benih radikalisme dan intoleransi. Ini sudah keterlaluan sih. Benci banget sama Islam dan kaum muslimin, padahal mereka yang benci itu juga ngakunya muslim. Ah, sepertinya cuma ngaku doang, sih. Kalo beneran muslim, nggak bakalan membenci Islam dan kaum muslimin. Iya, kan?

Beberapa waktu lalu juga viral di media sosial. Berawal dari video yang diunggah Ustaz Aa Gym, yang mempertanyakan kenapa ada swalayan yang buka sampai tengah malam dan di situ disediakan tempat nongkrong remaja. Ngopi dan ngobrol plus ngerokok. Ada anak laki dan perempuan pula yang berbaur di situ. Padahal, itu dekat masjid dan di dekat lingkungan pondok pesantren.

Ketika ditegur sama Aa Gym, eh anak-anaknya malah ketawa-ketawa aja, nggak ada takzimnya sama ustaz. Kalo kayak gitu, bisa jadi orang tuanya juga nggak dihormati, kok. Buktinya bisa bebas keluar malam. Mungkin saja sudah dilarang ortunya, tetapi mereka nekat keluyuran malam hari. Kalo ortunya dihormati, mereka nggak bakalan keluyuran tengah malam melakukan hal-hal yang nggak bermanfaat. Saat ditegur sama orang yang lebih tua, apalagi ulama, pasti mereka menghormati. Buktinya, kan nggak. Fixed, udah hilang rasa malu dan rasa hormat kepada yang lebih tua. Musibah banget.

Para ustaz, mubaligh dan ulama udah berjuang keras berusaha mengajak umat ke jalan yang terang, ke jalan kebaikan. Namun di pihak lain yang didukung balatentara setan justru menawarkan kepada umat agar tetap dalam kegelapan dan jalan keburukan. Ini sebenarnya perjuangan antara pembela kebaikan versus pemuja keburukan. Waspadalah. Jangan sampai tertukar posisimu.

Bela siapa dapat apa?

Sobat gaulislam, kalo kita dekat dengan orang-orang baik, kita bakalan kebawa baik. Cara berpikir kita jadi baik, kita mendapat pemahaman yang baik, dan tentu akan berdampak pada perbuatan yang juga akan menjadi baik. Itu satu paket. Berawal dari kebaikan, maka akan berakhir juga dalam kebaikan. Orang baik menolong orang baik lagi. Mestinya demikian. Normalnya begitu. Apa yang didapat? Tentu, kalo membela orang yang berbuat kebaikan, akan mendapat kebaikan, pahala. Tapi kalo mendukung orang yang berbuat keburukan, maka akan mendapat keburukan, dosa. Rugi, dong? Pastinya.  

Oya, jangan pernah membenci kebaikan, apalagi mencintai keburukan. Itu namanya terbalik cara pandangnya. Membahayakan. Mestinya, orang beriman itu pasti mendukung orang beriman lainnya. Membela perjuangannya. Sebab, memang normalnya begitu.

Selain itu, kalo kita memberikan kebaikan kepada orang lain, sejatinya memberikan kebaikan untuk diri kita sendiri. Kalo kita malah memberikan keburukan kepada orang lain, juga itu artinya kita sedang memberikan keburukan kepada diri sendiri.

Hal ini disebutkan di surat al-Isra’ ayat 7 yang berbunyi, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”

Jadi, kebaikan untuk orang lain akan mendatangkan kebaikan untuk diri sendiri. Sebaliknya, perbuatan buruk kepada orang lain juga akan mendatangkan keburukan bagi siapa pun yang melakukannya.

Ada nasihat bagus dari Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata, “Siapa yang tidak suka membelanjakan hartanya untuk ketaatan kepada Allah, maka dia akan ditimpa (musibah) dengan membelanjakannya untuk selain Allah dalam keadaan dia tidak menyukainya. Demikian juga siapa yang tidak suka keletihan untuk Allah, maka dia akan ditimpa dengan keletihan untuk melayani makhluk, mau tidak mau. Demikian juga siapa yang tidak suka dengan petunjuk yang berasal dari wahyu, maka dia akan ditimpa dengan pendapat yang kotor, sampah pikiran, dan limbah pemikiran. Itu sebabnya, siapa saja yang menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan keberuntungan untuk dirinya; hendaklah dia memperhatikan hal ini pada dirinya dan pada orang lain.” (dalam Madarijus Salikin, jilid 1, hlm. 184)

Nah, jadi yang kita mesti bela adalah orang-orang baik agar mendapatkan kebaikan pula. Kebaikan buat kita dan juga bagi orang lain. Kalo kita berbuat baik, pahala akan kita dapatkan. Teman kita yang bersama kita, juga akan mendapatkan manfaatnya, karena mengikuti kebaikan kita. Jadilah orang yang senantiasa beramar ma’ruf dan nahi munkar. Jangan malah sebaliknya.

Oya, kalo kamu sulit untuk mendapatkan teman yang baik, sehingga susah untuk melakukan kebaikan, maka renungkanlah nasihat dari Imam Junaid al-Baghdadi. Beliau rahimahullah menyampaikan, “Berkumpulnya seluruh kebaikan terdapat dalam tiga perkara sebagai berikut: 1) Jika kamu tidak bisa melalui harimu dengan apa yang bermanfaat bagimu, jangan kau lalui harimu dengan hal yang merugikanmu; 2) Jika kamu tidak bisa berteman dengan orang-orang baik janganlah berteman dengan orang-orang buruk; 3) Jika kamu tidak mampu membelanjakan hartamu dalam hal yang diridhai Allah, janganlah kamu membelanjakan hartamu dalam hal yang dimurkai Allah.” (dalam al-Zuhdu al-Kabir, jilid 1, hlm. 69)

So, pilihlah kebaikan. Jangan malah menyebarkan keburukan dan menghalangi orang dari berbuat baik. Jadilah seseorang yang suka dan setuju dengan kebaikan. Lebih keren lagi kalo menjadi pejuang dan pembelanya. Namun, kalo kamu nggak bisa berbuat banyak untuk kebaikan, tetaplah mencintai kebaikan dan membenci keburukan.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Jika engkau tidak termasuk pembela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang turun di medan perang, maka jadilah engkau termasuk para penjaga tenda pasukan, jika engkau tidak mau melakukannya maka jadilah salah seorang penonton yang mengharapkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan jangan sampai engkau menjadi yang keempat (penggembos) sehingga engkau akan binasa.” (dalam Bada-i’ul Fawaid, hlm. 1204)

Kalo kamu memperhatikan kondisi saat ini usai pemilu, mestinya prihatin. Ada orang yang sampe berebut kekuasaan dengan tanpa rasa malu lagi. Berbuat curang pun dilakukan demi meraih kekuasaan. Padahal, kekuasaan itu duniawi, akan sirna. Fana alias nggak abadi. Tetapi para pemburunya seperti lupa etika, nggak inget dosa. Sehingga bersemangat melakukan kecurangan demi sekerat nikmat kekuasaan yang tak abadi. Itu sama saja artinya mengajak kepada keburukan dan melarang kebaikan. Miris banget. Lebih miris lagi mengapa banyak yang mendukungnya.

Renungkanlah…

Sobat gaulislam, rasa-rasanya tak perlu memiliki pemikiran yang cemerlang untuk bisa menilai orang yang melakukan kebaikan atau keburukan. Cukup dilihat sejenak mestinya tahu, sih. Mana yang benar dan mana yang salah. Siapa yang mengajak kepada kebaikan dan siapa yang mengajak kepada keburukan. Siapa yang melarang berbuat jahat, dan siapa yang malah mencegah orang untuk berbuat taat. Bisa kok membedakan. Kecuali, kalo kamu pura-pura nggak tahu dan memang nggak mau tahu. Menutup mata karena mulut udah disumpal cuan dan jabatan kayak para politikus busuk. Ngeri banget kalo sampe kayak gitu.

Di zaman banyak fitnah ini, kita memang mesti berhati-hati dan senantisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dekati orang-orang shalih, para ustaz, dan para ulama. Agar kita mendapat ilmu dan keberkahan. Bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Ada nasihat bagus yang diberikan Imam Syafi’i rahimahullah kepada salah satu muridnya, yakni Imam al-Muzany rahimahullah. Beliau, Imam Al-Muzany rahimahullah bercerita, “Aku menemui Imam asy-Syafi’i menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustazku?”

Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku berkata, “Nasihatilah aku.”

Imam asy-Syafi’i berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu–walaupun nikmat itu sedikit–dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari) orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapa pun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”

Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharah-mu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, al-Quran sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Barang siapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.” (dalam Tarikh Ibnu Asakir, Juz 51, hlm. 430-431)

Luar biasa pesan Imam Syafi’i kepada muridnya, yang diceritakan dengan detil oleh sang murid, yakni Imam al-Muzany. Kalo kita dekat dengan orang-orang baik, maka pasti akan mendapatkan kebaikan. Pikiran kita waras, perbuatan kita lurus. Itu sebabnya, sangatlah bejat mereka yang malah mengajak kepada keburukan dan kejahatan dan melarang orang dari berbuat kebaikan dan ketaatan. Itu sama artinya dengan amar munkar nahi ma’ruf. Aduh, naudzubillahi min dzalik. Nggak banget, deh! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *