Tuesday, 6 January 2026, 22:40
Pembunuhan-185919443

gaulislam edisi 950/tahun ke-19 (16 Rajab 1447 H/ 5 Januari 2026)

Pelakunya berinisial AL, usia 12 tahun. Korbannya adalah ibu kandungnya sendiri, F, berusia 42 tahun. Kejadian berlangsung di rumah mereka di Medan, dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, 10 Desember 2025 lalu.

Malam itu, korban tidur bersama dua anaknya di kamar lantai satu. Sang ayah berada di lantai dua. Nggak ada keributan. Nggak ada tanda-tanda drama. Semua tampak normal, setidaknya dari luar.

Lalu AL terbangun. Ia berjalan mengambil pisau. Tanpa teriakan. Tanpa peringatan. Pisau itu kemudian dihujamkan ke tubuh ibunya yang sedang tertidur. Sekali. Dua kali. Dan terus berulang. Total ada 26 luka tusuk.

Angka itu penting disebut, bukan untuk bikin ngeri, tapi untuk menegaskan satu hal: ini bukan refleks sesaat. Ini bukan “khilaf satu detik”. Ada kemarahan yang sudah lama mengendap, lalu tumpah tanpa sisa.

Kakak AL terbangun karena tubuhnya tertimpa. Ia melihat langsung adiknya menikam ibu mereka berkali-kali. Dengan panik, ia berusaha merebut pisau itu. Tangannya tersayat. Pisau berhasil dibuang, tapi belum selesai. AL pergi ke dapur. Mengambil pisau lain.

Astaghfirullah, kita berhenti sebentar dan bertanya dalam hati: anak usia 12 tahun, di rumahnya sendiri, kepada ibunya sendiri, why? Itu bukan proses instan. Itu hasil dari sesuatu yang sudah lama terbentuk.

Kakaknya berhasil mengunci pintu kamar sebelum AL masuk kembali. Pisau kedua jatuh. Ibu mereka sudah bersimbah darah, tapi masih hidup. Masih sempat meminta ambulans. Masih sempat meminta minum. Dan di saat-saat terakhir itu, seorang ibu masih berharap bisa diselamatkan.

Ambulans datang sekitar pukul 05.40 WIB. Terlambat. Nyawa ibu itu nggak tertolong. Sementara itu, AL duduk lemas di sofa ruang tamu. Nggak berteriak. Nggak kabur. Nggak histeris. Bahkan sempat memeluk ayahnya. Adegan yang, kalo dipikir-pikir, terasa sangat janggal sekaligus menyedihkan. Anak yang baru saja melakukan kekerasan ekstrem, tapi masih mencari pelukan.

Banyak orang lalu sibuk memperdebatkan satu hal: “Emang bisa anak 12 tahun melakukan ini?”

Psikolog forensik menjawab dengan tegas: bisa. Sangat bisa. Secara fisik, AL bukan anak kecil seperti yang dibayangkan warganet dari foto-foto lamanya. Tingginya sekitar 167 cm, aktif olahraga basket, taekwondo, dan latihan fisik. Tapi lagi-lagi, ini bukan cuma soal badan. Sebab, yang lebih menentukan adalah kondisi di dalam rumah. Keluarga yang nggak harmonis. Paparan kekerasan dari orang tua. Ditambah konsumsi game online berisi kekerasan yang membuat kekerasan terasa “biasa”. Semua itu seperti bahan bakar yang dikumpulkan pelan-pelan, lalu disulut oleh satu percikan kecil.

Dan percikan itu, kata sejumlah pihak, adalah kemarahan yang memuncak ketika game online dihapus. Fakta-fakta ini pahit. Tapi harus ditelan. Karena tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi, kita akan terjebak pada reaksi dangkal: menyalahkan anak semata, atau menuding game sebagai biang kerok tunggal. Padahal, tragedi sebesar ini selalu lahir dari rangkaian sebab, bukan satu tombol ajaib.

Nah, pertanyaan besarnya mulai mengeras: kalo ini bukan kejadian tiba-tiba, lalu siapa saja yang selama ini ikut membiarkannya tumbuh?

Ada banyak sebab

Sobat gaulislam, wajar kalo dada terasa sesak. Ada marah. Ada ngeri. Ada bingung. Bahkan mungkin ada satu kalimat yang spontan mampir di kepala: “Anaknya kejam banget.”

Pelan-pelan. Kita tarik napas dulu. Sebab, kasus ini bukan cerita hitam-putih. Bukan dongeng tentang anak jahat dan ibu yang sepenuhnya salah atau sebaliknya. Kalo kita buru-buru memberi label, kita justru menutup pintu untuk memahami akar masalahnya.

Pertanyaannya bukan cuma, “Kok bisa sampai segitunya?” Tapi mungkin bisa bertanya, “Marah segede apa yang dipendam anak ini, sampai pisau jadi jawaban untuk menghentikan ibunya?”

Kemarahan itu bisa tumbuh. Dipupuk. Dibiarkan. Lalu suatu hari meledak. Dan ketika meledak, korbannya adalah orang yang paling dekat. Orang yang seharusnya jadi tempat aman.

Banyak orang di media sosial sibuk mencari kambing hitam tercepat. Ada yang menunjuk game online. Ada yang langsung menuding orang tua. Ada juga yang menghakimi si anak seolah dia lahir sudah membawa watak kejam. Semua ingin jawaban instan.

Padahal kenyataannya jauh lebih nggak nyaman. Psikolog menjelaskan bahwa anak ini hidup dalam keluarga yang kurang harmonis. Ada paparan kekerasan dari orang tua. Ada emosi yang nggak pernah benar-benar diolah. Ditambah paparan tontonan dan game berisi kekerasan yang membuat rasa empati menipis pelan-pelan. Bukan hilang sekaligus, tapi aus sedikit demi sedikit, seperti karet yang ditarik terus sampai akhirnya putus.

Itu artinya, bisa jadi rumah bukan selalu tempat paling aman bagi semua anak. Setidaknya untuk anak itu, dan anak yang mengalami hal serupa. Bagi sebagian anak, rumah justru tempat mereka belajar bahwa teriakan adalah bahasa, dan pukulan adalah solusi. Kalo setiap hari yang mereka lihat adalah amarah, jangan heran kalo suatu saat amarah itu mereka tiru, lalu mereka besarkan.

Ironisnya, saat tragedi terjadi, kita sering lupa menoleh ke belakang. Kita lupa bertanya: selama ini, ke mana saja orang dewasa? Ke mana lingkungan? Ke mana sistem yang seharusnya melindungi anak sebelum semuanya terlambat?

Kasus ini seperti cermin besar yang dipasang di tengah masyarakat. Cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Wajah keluarga yang sibuk, lelah, gampang emosi. Wajah masyarakat yang menyerahkan anak ke layar, lalu kaget saat layar itu ikut membentuk cara berpikir mereka.

Dan mungkin aja, bagian paling menyakitkan dari kisah ini adalah satu fakta kecil tapi menohok: setelah kejadian itu, anak ini masih mencari pelukan. Artinya, di balik tindakan brutal tersebut, ada jiwa anak yang sebenarnya masih butuh kasih sayang, tapi nggak tahu lagi cara meminta tanpa melukai.

Oya, kalo kita terus menolak melihat kompleksitas masalah, kita akan mengulang pola yang sama. Menghakimi setelah kejadian. Sibuk berkomentar setelah nyawa melayang. Tapi abai saat tanda-tanda awal sebenarnya sudah lama berteriak minta diperhatikan.

Itu artinya, kritik yang lebih tajam harus dimulai. Bukan cuma soal satu anak, tapi soal budaya kita yang terlalu sering menyederhanakan luka batin anak-anak.

Setiap kali ada kasus kekerasan yang melibatkan anak, pola reaksi kita hampir selalu sama. Jari telunjuk langsung terangkat, dan satu kata sakti pun meluncur: game online. Seolah-olah setelah kata itu disebut, semua jadi jelas, rapi, dan selesai.

Padahal hidup nggak sesimpel itu. Iya, psikolog forensik memang menyebut game online berisi kekerasan sebagai salah satu faktor kuat. Game bisa bikin anak terbiasa melihat kekerasan sebagai sesuatu yang “normal”. Tusuk, pukul, bunuh, lalu respawn. Nggak ada darah yang benar-benar berbau besi. Nggak ada nyawa yang benar-benar hilang. Semua bisa diulang.

Masalahnya, kalo game adalah satu-satunya penyebab, harusnya semua anak yang main game kekerasan jadi pelaku. Faktanya nggak. Banyak remaja main game serupa, tapi tetap tahu batas. Tetap punya empati. Tetap sadar bahwa nyawa manusia bukan nyawa karakter.

Artinya, game bukan sumber api. Ia lebih mirip bensin. Berbahaya kalo disiram ke api yang sudah menyala. Tapi kalo nggak ada api sebelumnya, bensin itu nggak otomatis membakar rumah. Api itu biasanya lahir dari rumah yang nggak berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam banyak kasus, termasuk yang ini, ada cerita tentang keluarga yang nggak harmonis. Ada kekerasan, baik fisik maupun verbal, yang dialami anak. Teriakan. Bentakan. Hukuman tanpa dialog. Luka yang dianggap “biasa” karena terjadi di dalam rumah sendiri.

Anak yang tumbuh dalam kondisi seperti ini bisa jadi akhirnya belajar bahwa yang kuat boleh menyakiti. Bahwa yang sedang marah boleh melampiaskan. Dan kalo kata-kata nggak mempan, tangan atau benda bisa jadi perpanjangan emosi.

Ironisnya, ketika orang tua mendidik dengan kekerasan, sering kali niatnya adalah agar anak “jadi baik”. Tapi yang sampai ke kepala anak justru sebaliknya: kekerasan adalah bahasa yang sah.

Lalu datanglah dunia digital. Game. Video. Konten. Semua itu mempertebal apa yang sudah ada. Kekerasan yang sebelumnya hanya terjadi di rumah, kini mendapat panggung, musik latar, dan skor. Pelan-pelan, empati anak terkikis. Bukan karena dia lahir tanpa hati, tapi karena hatinya nggak pernah dilatih untuk merasa aman dan dipahami.

Itu sebabnya, anak bukan nggak tahu mana yang benar dan salah. Ia tahu. Tapi emosinya udah terlalu penuh untuk peduli. Marah nggak lagi mencari solusi, tapi pelampiasan. Bahaya.

Maka, udah saatnya kita berhenti menyederhanakan masalah. Kasus ini bukan tentang satu anak yang “rusak”. Ini tentang ekosistem yang gagal. Rumah yang kehilangan fungsi mendidik dengan kebaikan dan tuntunan syariat. Lingkungan yang membiarkan anak tumbuh tanpa bimbingan emosi. Dan masyarakat yang baru ribut ketika tragedi sudah terjadi. Ribut pun nggak jelas solusinya. Ditambah negara nggak menerapkan aturan dan sanksi yang tegas sejak lama.

Dan setelah ini, kritiknya harus kita bawa lebih dalam lagi. Bukan cuma soal rumah dan game, tapi soal krisis empati dan kendali diri, sesuatu yang dalam Islam udah lama banget diingatkan, tapi sering kita anggap sepele.

Nabi kita yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah perhatian terhadap anak-anak kecil, memerintahkan kita untuk menyayangi mereka dan mencintai mereka. Beliau bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil.” (HR Tirmidzi no. 1919)

Kemarahan tanpa saluran?

Oya, marah itu manusiawi. Tapi Islam udah ngasih tuntunan dan solusi. Kapan boleh marah dan kondisi kayak gimana nggak boleh marah, untuk apa, dan bagaimana solusinya. Dalam kasus ini, kita melihat amarah yang nggak lagi punya rem. Bukan marah lima menit, bukan jengkel sesaat. Tapi kemarahan yang disimpan, dipendam, lalu tumbuh menjadi dendam. Dan ketika dendam bertemu kesempatan, hasilnya adalah kehancuran.

Anak ini nggak bangun tidur lalu tiba-tiba ingin membunuh. Itu bukan cara kerja jiwa. Sebab, yang terjadi lebih mirip seperti ini: hatinya lama kosong, emosi kemarahannya penuh, dan nggak ada satu pun saluran yang sehat untuk mengeluarkannya. Saat hati nggak pernah diajak berdzikir, yang berbicara akhirnya hanya emosi mentah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Persoalannya, bagaimana seorang anak bisa menahan marah kalo sejak kecil ia nggak pernah diajari cara meredamnya? Kalo yang ia lihat setiap hari justru orang dewasa yang kalah oleh emosinya sendiri?

Di sinilah Islam menaruh tanggung jawab besar pada keluarga. Rumah bukan sekadar tempat tidur dan makan. Rumah adalah madrasah pertama. Tempat anak belajar adab sebelum ilmu. Tempat anak belajar sabar sebelum pintar. Dan yang paling penting, tempat anak belajar mengenal Allah Ta’ala sebelum mengenal dunia.

Itu sebabnya, ketika rumah kehilangan fungsi ini, anak tumbuh dengan tubuh yang kuat, tapi jiwa yang rapuh. Lisan mungkin terbiasa mendengar nasihat, tapi hati nggak pernah merasakannya. Shalat bisa jadi rutinitas, tapi nggak pernah menjadi penenang. Dzikir terdengar, tapi nggak membentuk karakter.

Kalo kita mau bersikap bijak, ini bukan soal anak kurang ibadah semata. Ini soal lingkungan yang nggak memberi teladan. Sebab dalam Islam, pendidikan paling efektif bukan sekadar ceramah, tapi contoh hidup. Anak belajar sabar dari orang tua yang sabar. Anak belajar menahan marah dari orang tua yang memilih diam saat emosi naik, tidak melampiaskannya.

Nah, kalo yang ditampilkan setiap hari justru bentakan, ancaman, dan hukuman tanpa dialog, maka jangan heran kalo anak tumbuh dengan keyakinan keliru: marah itu wajar, melukai itu biasa. Kan, jadinya bikin repot.

Kasus ini seperti potret ekstrem dari krisis yang lebih luas. Banyak rumah hari ini penuh aktivitas, tapi sepi ketenangan. Banyak keluarga rajin kumpul, tapi jarang benar-benar hadir. Anak dikelilingi orang, tapi sendirian secara emosional.

Dan ketika iman nggak menjadi pegangan, saat emosi memuncak, anak akan mencari pegangan lain. Bisa ke game. Bisa ke kekerasan. Bisa ke pelampiasan apa pun yang membuat marah terasa “lega”, meski hanya sesaat, dan meninggalkan penyesalan yang tak bisa diputar ulang.

Islam datang bukan untuk mematikan emosi, tapi menuntunnya. Bukan untuk menekan marah, tapi mengarahkannya. Dan tragedi ini mengingatkan kita, betapa mahal harga yang harus dibayar ketika tuntunan itu absen dari kehidupan sehari-hari.

Menambal retakan

Sobat gaulislam, kalo tragedi ini kita akui sebagai peringatan, maka solusi nggak boleh berhenti di empati dan air mata. Islam itu bukan cuma agama yang pandai menasihati, tapi juga pandai menata. Ada langkah-langkah nyata yang bisa dilakukan, terutama di level keluarga dan anak, sebelum marah berubah jadi monster.

Jadi, berhentilah mendidik dengan amarah. Harus kita akui bahwa banyak orang tua hari ini lelah. Capek kerja, capek hidup, capek mikir. Anak jadi sasaran paling dekat ketika emosi butuh tempat mendarat. Bentakan dianggap wajar. Cubitan dianggap pelajaran. Padahal, yang sedang dibangun bukan karakter, tapi trauma. Islam nggak pernah mengajarkan mendidik dengan kekerasan. Tapi mendidik dengan keteladanan, dialog, dan kasih sayang. Seperti apa teknisnya?

Pertama, pisahkan disiplin dari pelampiasan emosi. Anak boleh ditegur, tapi bukan saat orang tua sedang meledak. Kalo marah belum reda, diam itu lebih menyelamatkan daripada bicara panjang tapi melukai.

Kedua, hadir sebagai pendengar, bukan cuma pengatur. Anak perlu tempat bercerita tanpa takut dihakimi. Kadang anak nggak butuh solusi, ia cuma butuh dimengerti. Dan itu seringkali sudah cukup untuk menurunkan setengah dari amarahnya.

Ketiga, melek digital, bukan cuma galak digital. Melarang game tanpa pendampingan sama saja menutup panci berisi air mendidih. Tekanan tetap ada, tinggal menunggu celah. Orang tua perlu tahu apa yang ditonton, dimainkan, dan dikonsumsi anak, lalu membicarakannya dan menjelaskan dampaknya. Bukan sekadar memarahi dan menyita gadgetnya.

Oya, bagaimana bagi anak dan remaja ketika marah? Dalam Islam, marah itu manusiawi, tapi nggak dibiarkan liar. Anak dan remaja perlu diajari satu skill penting yang sering dilupakan: mengelola emosi. Gimana teknisnya?

Pertama, ajari anak menamai perasaan. Marah karena apa? Kecewa? Merasa nggak dihargai? Cemburu? Perasaan yang dikenali lebih mudah dikendalikan. Perasaan yang dipendam justru mencari jalan keluar sendiri, dan seringkali jalannya salah.

Kedua, beri saluran tepat untuk emosi. Bisa olahraga, menulis, ngobrol, atau bahkan diam sejenak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan perubahan posisi saat marah. Berdiri jadi duduk. Duduk jadi berbaring. Itu teknik manajemen emosi, jauh sebelum istilah itu populer.

Dan yang tak kalah penting, jadikan ibadah sebagai rem, bukan sekadar rutinitas. Shalat yang khusyuk itu bukan cuma untuk dapat pahala, tapi latihan menenangkan jiwa. Dzikir bukan ucapan yang kosong, tapi cara menurunkan volume emosi dan mengharap keridhaan Allah Ta’ala.

Anak yang terbiasa mendekat kepada Allah Ta’ala akan lebih cepat sadar ketika emosinya mulai kebablasan. Bukan karena dia sempurna, tapi karena dia punya tempat kembali, dan menyelamatan. Itu sebabnya, kalo rumah sudah jadi ruang aman, game dan dunia luar nggak akan mudah mengambil alih peran itu. Anak yang merasa diterima di rumah nggak akan mencari pelarian sejauh ini.

Solusi sistemik

Sobat gaulislam, masih ada satu level yang nggak boleh kita lupakan. Sebab, nggak semua keluarga kuat sendirian. Di situlah peran sistem dan masyarakat harus dibicarakan. Masyarakat dan negara harus hadir.

Jujur aja, nggak semua keluarga kuat. Nggak semua orang tua siap. Dan nggak semua rumah punya sumber daya yang cukup untuk mendampingi anak di tengah dunia yang makin ruwet. Kalo kita hanya berkata, “Ini salah orang tuanya,” lalu selesai, kita sedang menutup mata dari kenyataan sosial yang lebih besar.

Di era digital, anak-anak hari ini nggak hanya dibesarkan oleh keluarga. Mereka juga dibesarkan oleh algoritma. Diarahkan oleh layar yang tahu apa yang bikin mereka betah, marah, atau kecanduan. Dan sayangnya, algoritma nggak bakalan peduli apakah jiwa anak sedang sehat atau rapuh. Sebab, logika mesin itu memang dibuat oleh mereka yang nggak peduli apa pun kecuali kepentingannya.

Jadi harus bagaimana? Pertama, negara. Ya, negara jangan baru nyadar setelah darah tumpah. Tapi selama ini kesannya negara sering hadir setelah tragedi. Konferensi pers, pernyataan keprihatinan, lalu perlahan menghilang. Padahal yang dibutuhkan adalah kehadiran sebelum semuanya terlambat.

Literasi kesehatan mental anak harus jadi program serius, bukan tempelan. Anak perlu diajari mengenali emosi, bukan hanya menghafal pelajaran. Orang tua perlu dibekali ilmu pengasuhan, bukan hanya dituntut sempurna. Bisa jadi ini sudah dilakukan, karena memang ada lembaganya, tapi sayangnya selalu terulang kejadian serupa. Aneh, kan?

Belum lagi soal dunia digital, regulasi konten anak nggak bisa setengah hati. Anak bukan versi mini orang dewasa. Mereka belum punya rem emosi yang matang. Konten kekerasan yang dibiarkan bebas itu seperti memberikan pisau pada tangan yang belum tahu cara menggenggam.

Oya, sekolah juga mestinya punya peran. Sebab, hari ini sekolah sering jadi pabrik angka. Ranking, nilai, prestasi. Tapi siapa yang mengecek kondisi jiwa anak di balik rapor?

Guru idealnya bukan cuma pengajar, tapi juga pendidik yang bisa mendeteksi dini perilaku muridnya. Anak yang berubah drastis, pendiam ekstrem, atau mudah meledak perlu diperhatikan, bukan hanya ditegur. Bimbingan konseling nggak boleh jadi ruang sunyi yang hanya didatangi anak bermasalah setelah kejadian.

Pendidikan karakter bukan slogan di spanduk. Ia harus hidup di kelas, di cara guru menegur, di cara sekolah menyelesaikan konflik. Mengapa? Karena anak belajar bukan dari teori saja, tapi dari kejadian nyata yang dialaminya, juga dari hiburan digital yang membersamainya.

Siapa lagi yang perlu andil dalam hal ini? Ya, masjid, majelis taklim, dan ruang dakwah punya peran besar, terutama untuk remaja. Dakwah, selain membahas halal-haram, surga-neraka, juga perlu menyentuh luka batin yang sedang mereka rasakan. Ada pendekatan. Memang nggak bisa semua mengerjakan karena keahliannya nggak merata. Berbagi peran di antara para pegiat dakwah sesuai keahliannya masing-masing. Ada sinergi, ada yang mengkoordinir. Dakwah yang menyentuh jiwa harus berani turun ke wilayah ini. Membahas emosi, kesehatan mental, dan hubungan keluarga dalam kacamata Islam. Bukan menghakimi, tapi menemani.

Kalo sistem berjalan, keluarga nggak sendirian. Kalo sekolah peka, anak nggak dibiarkan memendam. Kalo dakwah relevan, iman nggak hanya hidup di mimbar, tapi di keseharian. Dan, kalo negara menerapkan Islam sebagai ideologi negara, maka kejadian seperti ini nggak akan terulang. Sayangnya, pejabat dan mayoritas rakyat masih betah dengan sistem negara sekuler macam sekarang. Jadi, kapan akan menjadi lebih baik?

Karena tragedi seperti ini bukan hanya kegagalan satu rumah. Ia adalah tanda bahwa banyak pintu pengaman yang seharusnya terkunci, tapi dibiarkan terbuka bersamaan. Apalagi negara yang semestinya menerapkan aturan dan sanksi malah nggak peduli. Lihat aja, banyak yang sibuk ngejar dan mempertahankan jabatan, zalim pada rakyat, dan korupsi menjadi-jadi. Ironisnya, ini terjadi di negeri muslim terbesar di dunia.

Semoga ini jadi pengingat. Sebelum alarm berikutnya kembali berbunyi, dan kita kembali pura-pura kaget. [O. Solihin | Join Channel WhatsApp]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *