Bangga dengan yang Fana?

gaulislam edisi 735/tahun ke-15 (17 Rabiul Akhir 1443 H/ 22 November 2021)

Gimana rasanya punya uang banyak? Seneng udah pasti, ya. Selain uang, sebagai manusia kita juga pernah (atau sering?) mencintai harta benda semisal sepeda motor, jam tangan, jaket, sepatu, handphone, mobil, dan seabrek kesenangan duniawi lainnya. Itu nggak bisa dipungkiri. Namun, nggak semua yang kita suka dan cinta itu pernah mampir kepada diri kita. Iya, kan?

Bisa jadi hanya sebagian kecil saja nikmat dunia yang kita inginkan bisa kita rasakan. Sisanya, bisa saja dinikmati kawan kita, baik yang kita kenal maupun tidak, yang ternyata kekayaannya begitu berlimpah. Entah warisan dari ortunya, atau emang dikasih ortunya, atau karena sebab lain. Intinya, dapat menikmati kekayaan dengan cara yang berlebihan.

 Sobat gaulislam, kalo kamu nonton video di youtube tentang kelakuan para crazy rich, widih, nggak nahan deh. Bikin kita cuma bisa nelen ludah atau geleng-geleng kepala dengan kekayaan yang mereka miliki (dan sekaligus seolah ingin memamerkannya). Gimana nggak, ada lho anak muda yang memiliki mobil sport Maserati, Ferrari, atau Lamborghini yang harganya bisa belasan miliar rupiah. Jam tangannya juga ada yang harganya nggak kepikir sama kita yang cuma bisa beli jam tangan kualitas bawah. Ya, ada lho yang dengan bangga menyebutkan di angka 4 miliar rupiah untuk sebuah jam tangan. Dan itu orang Indonesia. Tepuk dengkul, deh!

Ada pula video kiriman seorang teman di grup Telegram. Isinya, berupa video yang mengeksplor atau tepatnya ngorek-ngorek informasi seseorang soal harga pakaian yang dikenakan saat outfit. Di video itu ada 5 orang anak SMA swasta Islam di Jakarta. Satu orang seolah bertindak sebagai reporter yang kepo tanya-tanya kepada  keempat orang remaja lainnya (ada yang terpisah sesi wawancaranya). Remaja pertama ditanya soal harga jaket, baju, celana, dan sepatu, juga jam tangannya. Hasilnya mencengangkan. Tentu bagi kamu yang nggak pernah dapat duit jajan segede gitu.

Jaktenya aja brand Bape 1st Camo Japan Hoodie, harganya 5 jutaan rupiah. Dia bilang belinya di Jepang. Sepatunya Nike Running Shoes seharga Rp 700 ribu. Jam tangannya, Samsung Gear S3, seharga Rp 5 jutaan. Kalo baju seragam dan celananya sih, konon cuma Rp 100 ribuan aja.

Remaja kedua, jaket yang dikenakannya adalah Supreme x NBA Varsity Jacket, dia mengaku belinya di LA. Nggak tahu deh, LA itu Los Angeles atau Lenteng Agung. Berapa harganya? Rp 10 jutaan, Bro en Sis!

Terus sepatunya aja Adidas Yeezy Moonrock, harganya Rp 10 jutaan. Jam tangannya, Apple Watch, Rp 5 jutaan. Kacamata (nggak nyebut merek), harganya Rp 1,5 jutaan.

Remaja ketiga ditanya juga. Nih daftar harga outfitnya: Jaketnya merek Off-White Marble Hoodie, Rp 8 juta. Jam tangan merek Daniel Wellington, Rp 1,5 juta. Sepatunya Adidas Yeezy Turtle Dove. Harganya? Jangan kaget, Rp 25 juta!

Terakhir, remaja yang ditanya dengan pertanyaan serupa jawabannya juga hampir serupa. Jaket yang dikenakannya merek Supreme USA Box Logo Hoodie, Rp 15 juta. Dompetnya merek Gucci, harganya Rp 5 jutaan. Sepatunya Air Max 97, Rp 3 jutaan.

Eh, ini bukan nyiyir kepada mereka yang dapat kekayaan, ya. Cuma pengen ngasih tahu, ternyata masih ada orang yang kelihatannya bangga banget punya kekayaan seperti itu. Kok kayak gampang ngeluarin duit sebanyak itu. Uang sakunya berapa, ya? Berapa sih penghasilan ortunya? Apa pekerjaannya? Ah, jadi merembet ke sana, kan? Sudahlah, nggak usah pula sih kita kepo soal begituan.

Namun demikian, rasa-rasanya nggak elok lah bangga-banggain dunia. Apalagi jika mau nengok kanan-kiri, mungkin agak jauh di daerah tertentu, masih banyak kok orang yang kesusahan. Jangankan untuk beli benda-benda tadi yang harga jaket dan sepatunya aja masing-masing setara 1000 mangkok bakso (kalo semangkuk bakso diasumsikan harganya Rp 10 ribu), bisa jadi untuk beli makanan standar harianya aja belum tentu bisa kebeli.

Kalo nggak bisa ngasih bantuan untuk yang kesusahan, setidaknya jangan deh bikin konten video model gitu. Nggak asyik, aja sih. Seolah pengen nunjukkin kebanggaan bisa begini dan begitu dalam urusan harta dunia. Sementara teman-temannya yang kesusahan cuma bisa nelen ludah. Hasrat tak sampai.

Dunia itu hina dan fana

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Muhammad bin Ali rahimahullah berkata, “Saya memiliki seorang saudara (sahabat) yang sangat mulia dalam pandangan saya. Yang menyebabkan dia mulia dalam pandangan saya adalah karena rendahnya dunia dalam pandangannya.” (Hilyatul Auliya’, jilid 3, hlm. 187)

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Demi Allah, tidaklah aku heran kepada sesuatu seperti keherananku kepada seseorang yang tidak menganggap cinta dunia sebagai dosa besar. Demi Allah, sesungguhnya cinta dunia termasuk dosa besar yang paling besar. Bukankah dosa-dosa besar lain bercabang darinya? Ibadah kepada berhala, maksiat kepada ar-Rahman, bukankah semua itu karena cinta dunia? Orang yang paham tidak akan berkeluh kesah akan rendahnya dunia, tidak akan berlomba-lomba mendapatkannya saat dia dekat dengan dunia, dan tidak akan berputus asa saat dunia jauh darinya.” (Adab al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawaizuhu, hlm. 66)

Imam al-Hasan al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam suratnya, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.”

Kemudian beliau menyampaikan lagi, “Wahai Amirul Mukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat dengannya, pada dia, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.” (az-Zuhd, al-Hasan al-Bashri, Hal.169)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Adapun dunia ini maka urusannya hina, yang dianggap besar darinya sebenarnya adalah kecil, puncak urusannya bermuara kepada kepemimpinan dan harta, puncak orang yang memiliki kekuasaan dia akan menjadi seperti Firaun yang ditenggelamkan oleh Allah di laut sebagai hukuman dari-Nya, sedangkan puncak orang yang memiliki harta dia akan menjadi seperti Qarun yang Allah benamkan ke dalam perut bumi sehingga dia di dalamnya terus menerus bergerak ke bawah hingga hari kiamat ketika dia menyakiti nabi utusan Allah, Musa.” (ar-Risalah al-Qibrushiyyah, hlm. 23)

Dunia, bagaimana pun itu fana alias nggak abadi. Waspdalah. Jangan sampe deh mencintai dunia secara berlebihan. Boleh aja sih punya kecintaan kepada dunia, tetapi seperlunya saja. Bukan keinginan utama dan bukan tujuan akhir. Punya harta yang berlebih coba deh diniatkan untuk bisa memudahkan dalam beribadah. Bisa beli peci, beli sarung, beli gamis, beli baju yang layak agar bisa digunakan untuk shalat. Berharap punya uang banyak, diniatkan juga bisa ibadah umroh, bisa ibadah haji, ringan pula untuk sedekah. Jangan sampai cinta dunia memalingkan dirimu dari kecintaan kepada akhirat.

Yuk, zuhud terhadap dunia!

Di antara ayat yang menyebutkan masalah zuhud adalah firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin di kalangan keluarga Firaun yang mengatakan, “Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS Ghafir/al-Mukmin [40]: 38-39)

Mengutip dari laman rumaysho.com, dijelaskan bahwa pengertian zuhud yang lebih bagus dan mencakup setiap pengertian zuhud yang disampaikan oleh para ulama, maka pengertian yang sangat bagus adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman ad-Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.” (Disebutkan oleh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Hilyatul Awliya’, 9/258, Darul Kutub al-‘Arabi, Beirut, cetakan keempat, 1405 H)

Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, “Definisi zuhud dari Abu Sulaiman ini amatlah bagus. Definisi telah mencakup seluruh definisi, pembagian dan macam-macam zuhud.” (Jaami’ul Ulum, hlm. 350)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk–di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” (HR Muslim no. 2858)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Dunia seperti air yang tersisa di jari ketika jari tersebut dicelup di lautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa di lautan.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 11/232, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379)

Jauh banget ya perbandingnnya antara dunia dan akhirat. Itu sebabnya, ngapain juga kudu bangga bin jumawa bisa beli sepatu yang harganya puluhan juta rupiah. Nggak usah juga merasa bangga bisa beli jaket yang harganya belasan juta rupiah. Sepatu dan jaket itu bisa rusak, bisa hilang. Nggak selamanya. Itu namanya fana.

Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Di saat manusia memuaskan diri mereka dengan dunia, maka cukupkanlah dirimu dengan Allah. Di saat manusia membanggakan dunianya. Berbanggalah dirimu dengan Allah.” (Al-Fawaid, hlm. 118)

Jadi, apa kamu masih mau membanggakan yang fana? Membanggakan dunia secara berlebihan? Kalo kamu cerdas, kita semua cerdas sebagai seorang mukmin, pastilah akan memilih akhirat, bukan dunia.

Saya punya buku, judul terjemahannya, Jalan Orang Shalih Menuju Surga, karya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. Ada hal yang menarik, salah satunya beliau berkata, “Seorang hamba sejak menginjakkan telapak kakinya di dunia ini, maka ia telah mulai perjalanannya menghadap Tuhannya. Lama perjalanannya adalah sepanjang usia yang ditetapkan baginya. Umur merupakan waktu perjalanan seseorang dalam dunia ini menghadap kepada Tuhannya. Kemudian Allah Ta’ala menempatkan hari-hari beserta malamnya sebagai fase-fase perjalanannya: setiap hari dan setiap malam merupakan bagian dari fase-fase perjalanan tersebut. Seseorang akan terus menempuh langkahnya fase demi fase hingga perjalanannya berakhir. Musafir yang cerdik adalah yang dapat mengambil pelajaran dari setiap fase perjalanan yang dilaluinya, sehingga ia berusaha untuk melaluinya dengan selamat dan sehat, serta membuahkan hasil. Ketika melanjutkan perjalanannya, maka ia pun memandang fase berikutnya dengan seksama. Ia juga tidak membiarkan harapannya terlalu jauh hingga membuat hatinya keras dan menumbuhkan sifat bermalas-malasan; seperti Taswif (berjanji akan melakukannya nanti atau besok), banyak berjanji, senang terlambat, dan bahkan mengulur-ulur waktu.” (Jalan Orang Shalih Menuju Surga, hlm. 4)

Yuk, perbaiki keimanan kita. Zuhudlah terhadap dunia, yakni terhadap apa pun yang bisa melalaikan dari tujuan utama kita, yakni mendapatkan yang terbaik di akhirat kelak.

Jadi, jangan bangga dengan yang fana, ya. Jangan bangga secara berlebihan terhadap dunia. Akan ada akhirnya, dan jangan sampai menjadi orang yang hina karena menjadi budak dunia. Waspadalah! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

  

  

  

%d bloggers like this: