Bergaul Jangan Ngawur

gaulislam edisi 547/tahun ke-11 (29 Rajab 1439 H/ 16 April 2018)

 

Ya, bergaul boleh aja. Tapi jangan sampe ngawur, Bro en Sis. Gaul soal teknologi silakan saja. Bergaul di dunia nyata atau bergaul dengan teman menggunakan teknologi komunikasi dan informasi (di dunia maya), sah-sah saja. Tentu saja, selama gaulmu nggak ngawur dan nggak membahayakan yang bikin kamu terjerembab dalam maksiat.

Perlu diingat, bergaul di medsos itu sama seperti kita bergaul di dunia nyata. Hanya sarananya saja yang berbeda. Tetapi inti pergaulan dan aturan main dalam bergaul tetap sama. Itu sebabnya, jangan mentang-mentang di medsos bisa bebas tanpa hambatan rasa takut, rasa malu, dan rasa minder, lalu jadi bebas berbuat apa saja di medsos. Nggak lah. Tetap ada aturan mainnya.

 

Gaul dengan lawan jenis

Sobat gaulislam, bergaul dalam hal apa saja yang harus ada aturan main dan batasan-batasannya? Ketika bergaul dengan lawan jenis tetap ada aturannya, Bro en Sis. Nah, jangan sampe punya alasan bahwa bergaul di medsos dengan lawan jenis jadi malah bebas karena merasa punya alasan tidak bertemu langsung, tidak khalwat. Kan hanya chat di grup. Atau sekadar me-like status facebook-nya atau me-retweet timeline di Twitter-nya.

Memang sih, kalo sekadar menyukai status facebook-nya atau mengicaukan kembali tweet-nya, boleh-boleh saja. Namun, kalo sampe menganggap dan beralasan bahwa di medsos tidak berlaku khalwat, itu salah. Memang, tidak ada ketemu berduaan di satu tempat (sehingga bsia disebut khalwat), tetapi obrolan bisa memberikan efek juga lho. Efek seperti sedang berduaan di tempat yang sama. Apalagi disertai emoticon atau emoji plus stiker-stiker tertentu kayak di Line dan Telegram, bisa membuat suasana jadi lebih interaktif. So, kalo nggak ada kepentingan yang dibolehkan syariat, ya jangan dilakukan. Sebab, emoji dan emoticon (termasuk kata-kata yang ditulis) bisa memberikan persepsi tertentu yang mungkin saja akan membuat kamu jadi salah mengerti maksudnya. Lebih gawat lagi kalo menyalahgunakan aplikasi video call di WhatsApp atau Google Duo. Bisa berabe!

Selain itu, bergaul dengan lawan jenis pasti ada aturan mainnya. Nggak sembarangan, apalagi sampe ngawur. Pacaran misalnya, itu sudah jelas dilarang dalam ajaran Islam. Itu sebabnya, meski kamu mengatasnamakan pacaran online, tetap saja namanya pacaran berdosa dalam pandangan Islam. Malah bisa jadi via online lebih gawat lagi. Walau nggak ketemuan, namun efeknya bisa tetap bikin jantung kamu lompat-lompat hanya karena membaca statusnya atau melihat foto profilnya. Lebih jantungan kalo sampe bisa lihat videonya.

 

Jaga adab

Ya, sopan santun tetap dijaga. Benar, dalam sebuah hubungan, tetap kudu ada etika—dalam bahasa yang lebih keren: adab. Kalo di dunia nyata ada kesantunan, maka di dunia maya dalam kerumunan massa bernama medsos, juga berlaku kesantunan. Nggak sembarangan lho. Memang sih, kita bisa jadi apa saja dan bisa jadi siapa saja. Tetapi konsekuensinya juga ada, kan? So, jangan menabur angin kalo ogah menuai badai.

Kamu pastinya tahu betul bahwa setiap orang punya privasi. Itu sebabnya, nggak sembarangan sesuka kehendak kita melakukannya. Di dunia maya, termasuk dalam kerumunan medsos, bisa saja orang bergaul dan berkomunikasi. Itu memang sulit dihindari. Namun ingat, ini juga rentan salah paham kalo kita nggak buat aturan dan batasan. Caci-maki pasti kudu dihindari. Menyerang teman diskusi di medsos secara pribadi juga harus dijauhi. Selain bakalan berubah dari diskusi jadi debat nggak jelas dan nggak ada manfaat, juga nggak bakalan menyelesaikan persoalan tersebab kita nggak santun dan nggak sopan.

Menjerumuskan orang ke dalam sebuah grup di medsos bisa dikategorikan sudah melanggar kesantunan. Kita punya kewajiban menjaga privasi orang lain. Meskipun sebuah grup diskusi di Facebook atau WhatsApp dan Telegram yang menurut kita menarik, tetapi alangkah baiknya tidak langsung memasukkan akun facebook teman kita (apalagi orang yang tidak kita kenal betul) atau nomor handphone teman kita ke grup yang kita anggap menarik tersebut. Cobalah sejenak kita tanya, apakah dia bersedia jika kita masukkan ke sebuah grup yang kita rekomendasikan, atau lebih bagus lagi, kita sekadar memberi tahu ada sebuah grup yang menurut kita bagus dan menawarkan, apakah dia tertarik atau tidak untuk bergabung.

Oya, kudu waspada juga dengan isi tulisan. Jika kamu tidak ingin menuai kritikan dan komentar yang tak perlu dan tak seharusnya, sebaiknya dipikirkan ulang sebelum memposting isi tulisan yang: a) tulisan bernada jorok (porno), b) tulisan yang bahasanya kasar, c) tulisan yang mengandung kebencian terhadap orang lain, d) tulisan yang menyalahi norma agama dan norma masyarakat. Tuh, catet ya!

 

Awas fitnah!

Beneran. Kita nggak boleh melempar fitnah, berbohong, menipu, dan sejenisnya. Sebab, kelakuan yang model gini jadi pemicu perselisihan dan bahkan perseteruan. Misalnya saja kamu ingin menjual barang dagangan kamu. Maklum, peluang penjualan via online terbuka lebar. Selain investasinya kecil, juga terbebas dari pungutan jatah preman yang sok menguasai tempat usaha. Namun, kita tetap menjadi kepercayaan orang lain kepada kita dan kita berusaha untuk membayar kepercayaan mereka dengan kesungguhan dalam menerima amanah. Jangan sampe orang udah percaya sama kita, lalu berani mentransfer sejumlah uang untuk membeli produk yang kita iklankan di medsos, eh kita malah sengaja nggak kirim produk yang dimaksud si pembeli. Ini jelas kejahatan. Ini juga yang merusak kepercayaan. Ini juga terkategori bergaul yang ngawur.

Oya, termasuk dalam hal ini adalah berbohong. Saya sih yakin banget kalo di antara kamu nggak suka dibohongi. Iya kan? Itu artinya, kita benci sama orang yang berbohong. Bisa dikategorikan melakukan gaul yang ngawur ketika kita dengan sungguh-sungguh berniat untuk melakukan kebohongan kepada orang lain. Misalnya aja nih, kamu bilang ini dan itu yang nggak sesuai faktanya. Nulis status di facebook bahwa kamu udah beli sepeda motor dan untuk meyakinkan orang lain kamu tampilin dah foto motornya, yang mungkin saja kamu ambil sembarang di google.

Hmm… bisa juga sebenarnya itu motor orang lain di parkiran, cuma kamu minta teman kamu yang motret dengan angle tertentu yang pas. Padahal, faktanya nggak. Kamu melakukannya hanya karena ingin pamer, atau sekadar ngetes teman kamu supaya kemal alias kepo maksimal. Sehingga kamu berharap teman kamu iri atau minimal nanya. Idih, pengen banget ditanya, kayak pejabat penting aja. So, jangan ngawur dalam bergaul, ya.

Nah, persoalan lainnya yang perlu dijaga selain kepercayaan adalah jangan sampe kita mudah melempar fitnah. Bahaya lho. Kalo di dunia nyata saja melempar fitnah itu sudah bikin repot, apalagi di dunia maya yang kalo udah dipublis di medsos bisa dengan cepat melesat dan di-share ke berbagai tempat lagi. Lebih mengkhawatir karena yang dijangkau lebih luas lagi, dan lebih cepat tersebarnya.

Fitnah itu dosa. Nggak usah dijelasin panjang lebar, saya yakin kita sepakat bahwa fitnah adalah perbuatan dosa, tidak menyenangkan, dan jelas merugikan (terutama pihak yang difitnah). Jika dalam sebuah pergaulan penuh dengan intrik tipu-tipu dan saling lempar fitnah, saya malah khawatir pergaulan kita jadinya memang ngawur nggak karuan. Memangnya kamu akan nyaman bergaul dengan orang yang hobinya melempar fitnah? Saya rasa nggak ada satupun orang yang mau hidup dalam kubangan fitnah.

 

Saring sebelum sharing

Sobat gaulislam, jangan mudah membagikan pesan. Nah, ini juga penting, Bro en Sis. Gimana pun juga pesan yang bertebaran di medsos, masih perlu diverifikasi. Belum pasti benar adanya. Kadang kita itu mudah tergerak untuk menyebarkan kembali semua informasi yang menurut kita menarik atau penting. Padahal, harus diingat bahwa selain tak semua orang merasa tertarik terhadap sesuatu, juga kita harus mengecek kebenaran isi pesannya.

Jangan sampe kejadian kamu dibully banyak orang gara-gara pesan yang kamu share itu justru sebenarnya hoax alias berita bohong. Kalo kamu nyebarin berita bohong sama artinya kamu ikut andil dalam kerusakan itu. Cek dan selalu cek. Jangan tergoda ingin menjadi yang pertama dalam mengabarkan. Sebab, jika ceroboh justru yang terjadi kita malah menjadi yang pertama dalam mengaburkan fakta dan informasi tersebut.

Oya, selain jangan mudah membagikan pesan yang belum tentu kebenarannya, kamu juga nggak boleh sembarangan curcol di medsos. Nah, ini juga termasuk yang ngawur dalam bergaul. Kok bisa? Gini penjelasannya. Misalnya kamu punya masalah dengan temanmu di dunia maya, lalu kamu bikin status yang nyindir teman kamu tersebut, tapi naronya di medsos. Kamu jelek-jelekkin teman kamu di depan banyak orang dalam jejaring medsos yang kamu miliki.

Nah, meskipun kamu nggak nyebutin nama teman kamu, tetapi semua ciri-ciri teman kamu itu nampak jelas terpampang dalam tulisan yang kamu produksi untuk tayang di wall facebook atau timeline twitter dan instagram. Sehingga bagi sebagian teman kamu yang kenal kamu dan teman yang kamu sebutin bisa menebak, dengan siapa kamu sedang marahan. Ini contoh gaul yang ngawur, Bro en Sis.

Janganlah kamu beralasan bahwa kamu ngelakuin begituan karena mencontoh orang dewasa di medsos. Misalnya aja, ada pasangan suami-istri yang saling menguras isi hatinya dengan menampilkannya di status facebook. Seorang istri curhat kalo dia jarang diperhatikan oleh suaminya yang tergila-gila batu akik atau lebih suka merhatiin vespa bututnya. Bisa juga seorang suami yang curcol di wall sebuah grup facebook. Mengutarakan ketidak-sukaan istrinya yang boros terhadap uang belanja bulanan yang diberikannya, istri yang nggak perhatian dengan penampilannya ketika dia pulang kerja. Nah, kondisi ini nggak menyelesaikan masalah. Harusnya kan suami dan istri itu bisa saling terbuka di dunia nyata saja. Jangan malah mengumbar perasaan masing-masing di medsos. Halllloooo itu nggak nyambung! Jangan ngawur ah gaulnya.

Oke deh, menutup tulisan ini, saya ingin tegaskan bahwa bergaul dengan siapapun yang membuat kita jadi baik atau kita sendiri menebar kebaikan sih boleh-boleh saja, bahkan harus kalo memang ada kesempatan begitu. Tapi kalo ngawur gaulnya, jelas nggak boleh. Apalagi sengaja nyari teman gaul yang ngawur kelakuannya lalu kita berusaha menirunya, jelas banget dilarang. Beneran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Itu sebabnya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah)

Bergaul dengan temanmu kudu yang membawa manfaat bagimu, begitu pun kamu juga kudu memberikan manfaat bagi temanmu.

Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasihat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasihat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”. (Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hlm. 466)

So, mulai sekarang pilih teman gaul yang baik akhlaknya supaya kamu nggak ngawur. Oya, kamu juga kudu jadi teman gaul bagi temanmu tanpa ngawur. Jadi kamu juga kudu upgrade ilmu dan akhlakmu jadi lebih baik. Setuju ya? Sip! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: