gaulislam edisi 957/tahun ke-19 (6 Ramadhan 1447 H/ 23 Februari 2026)
Remaja hari ini bukan generasi penakut. Buktinya, berani begadang sampai subuh. Berani debat panjang di komentar. Berani tampil beda di tongkrongan. Berani mencoba hal-hal baru demi dibilang seru. Tapi ada satu hal yang sering luput dari daftar keberanian mereka: takut pada dosa.
Makian? Biasa. Roasting keterlaluan? Biasa. Pacaran tanpa batas? Biasa. Nunda shalat karena “sebentar lagi”? Biasa. Konten nggak pantas lewat layar tiap hari dan dinikmati? Biasa. Kata “biasa” pelan-pelan berubah jadi selimut yang hangat. Nyaman. Meninabobokan. Dan diam-diam membuat hati nggak lagi sensitif. Sesuatu yang dulu bikin deg-degan, sekarang terasa datar. Hal yang dulu bikin malu, sekarang jadi candaan. Perilaku yang dulu terasa salah, sekarang masuk kategori “ya udahlah”.
Ini masalahnya. Karena ketika maksiat sudah terasa biasa, yang hilang bukan cuma rasa bersalah. Tapi rasa ingat pada akhirat. Kamu bisa panik kalo kuota habis. Bisa gelisah kalo nilai turun. Bisa overthinking kalo chat dibaca tapi nggak dibalas. Tapi jarang banget gelisah karena hari ini shalat masih bolong. Jarang kepikiran, “Kalo hari ini terakhir, amalku udah cukup belum?”
Seolah-olah akhirat itu jauh. Seolah-olah kematian itu urusan nanti. Seolah-olah dosa itu cuma pelanggaran ringan tanpa dampak panjang. Padahal setiap “biasa aja” yang kita ucapkan pada dosa, adalah satu langkah kecil menjauh dari kesadaran bahwa hidup ini akan dimintai pertanggungjawaban.
Kita takut di-unfollow manusia. Tapi santai kalo kebaikan makin jarang dilakukan. Kita takut kehilangan eksistensi di dunia. Tapi nggak takut kehilangan arah menuju akhirat. Dan mungkin masalahnya bukan karena kita nggak tahu. Tapi karena kita sudah terlalu terbiasa melakukan dosa.
Biasa jadi bahaya
Sobat gaulislam, sesuatu yang diulang terus-menerus akan berubah status. Awalnya terasa salah. Lalu terasa wajar. Akhirnya terasa normal. Dosa yang dulunya bikin hati bergetar, lama-lama jadi kebiasaan harian tanpa drama. Dan anehnya, setiap kebiasaan dosa hampir selalu ditemani satu kalimat penenang yang sama: “Nanti aja tobat.”
Kalimat ini terdengar lembut. Nggak kasar. Nggak ekstrem. Nggak juga terlihat menolak kebaikan. Ia cuma menyuruh kita menunda. Menunda shalat yang sering telat. Menunda berhenti dari hubungan yang jelas melanggar batas. Menunda memperbaiki lisan yang makin tajam. Menunda meninggalkan konten yang jelas merusak hati. Senjata andalan untuk ngeles: “Nanti kalo sudah siap.” atau “Nanti kalo sudah dewasa.” atau “Nanti kalo sudah capek sendiri.”
Padahal lucunya, kita nggak pernah menunda hal yang kita suka. Nggak pernah bilang, “Nanti aja scroll, belum siap mental.” atau “Nanti aja nonton, belum waktunya.” Tapi yang selalu ditunda justru perubahan ke arah kebaikan. Di sinilah hubungan antara biasa maksiat dan lupa akhirat jadi terlihat jelas.
Benar. Ketika dosa dianggap biasa, akhirat otomatis terasa jauh. Dan ketika akhirat terasa jauh, taubat terasa nggak mendesak. Seolah-olah hidup ini panjang. Seolah-olah waktu selalu sabar menunggu kita sadar. Padahal nggak ada satu pun dari kita yang memegang remote umur sendiri. Nggak ada notifikasi: “Sisa hidup: 8 tahun lagi. Harap segera memperbaiki ibadah.” Nggak begitu.
Kematian datang tanpa trailer. Tanpa pengumuman resmi. Tanpa tanya kesiapan. Banyak yang rencananya panjang, tapi waktunya pendek. Dan sering kali yang mengejutkan bukan kematiannya, tapi betapa santainya kita sebelumnya. Menyedihkan.
Jangan remehkan maksiat
Sobat gaulislam, banyak remaja membayangkan dosa itu harus yang ekstrem dulu baru dianggap serius. Padahal yang paling berbahaya justru dosa yang kecil, ringan, tapi rutin. Sekarang, komentar pedas dianggap hiburan. Semakin nyelekit, semakin lucu. Semakin kasar, semakin viral. Teman diejek fisiknya. Orang lain dihina di kolom komentar. Sarkas jadi bahasa sehari-hari. Dan hampir selalu ada pembelaan klasik alias ngeles, “Cuma bercanda.”
Padahal satu kalimat jahat mungkin cuma beberapa detik, tapi dampaknya bisa lama. Dan catatan amalnya nggak hilang hanya karena diberi label “candaan”. So, lisan itu ringan diucapkan, tapi berat dipertanggungjawabkan. Jari yang mengetik komentar, juga akan jadi saksi suatu hari nanti. Waspadalah!
Hal lain yang sering dianggap normal adalah soal pergaulan antar lawan jenis. Maksiatnya jelas, tapi diremehkan. Dengan alasan ngeles, “Cuma chat kok.” atau “Cuma jalan bareng.” Ditambah pula dengan pembenaran, “Semua juga gitu.” Kalimat-kalimat ini terdengar ringan. Tapi sering jadi pintu masuk ke pelanggaran yang lebih besar. Batasan syariat dianggap kuno. Kedekatan tanpa ikatan dianggap wajar, yang penting nyaman, kata hati (dan nafsu, tentunya).
Hal yang dulunya dijaga, sekarang dipamerkan. Perilaku yang dulunya bikin malu, sekarang jadi standar pergaulan. Dan ketika maksiat sudah jadi budaya, yang menjaga diri justru dianggap aneh. Padahal menjaga diri di tengah arus bebas itu bukan kelemahan. Itu kekuatan yang jarang dimiliki.
Belum lagi soal shalat yang nyaris selalu kalah oleh scroll. Niat awal: “Sebentar lagi shalat.” Lalu buka HP. Scroll sebentar. Tahu-tahu satu jam lewat seperti kilat. Aneh ya. Scroll dua jam terasa cepat. Shalat lima menit terasa berat. Kita hafal jadwal rilis film. Hafal jadwal live streaming. Tapi sering telat pada panggilan azan. Bukan karena nggak sempat. Seringkali karena nggak diprioritaskan. Padahal shalat bukan sekadar kewajiban. Itu jeda untuk jiwa. Reset hati di tengah hiruk-pikuk dunia.
So, ketika maksiat sudah biasa, yang wajib dan sunnah justru terasa berat, dan yang melalaikan bin dosa terasa ringan. Zaman sekarang, maksiat nggak perlu dicari jauh-jauh. Ia datang lewat rekomendasi. Satu klik. Satu swipe. Satu rasa penasaran. Lalu algoritma bekerja seperti pelayan setia. Jadinya, yang dilihat sekali, ditawarkan berkali-kali.
Awalnya “cuma lihat”, lama-lama jadi kebiasaan. Awalnya risih, lama-lama terasa biasa. Hati itu seperti kaca. Kalo sering terkena debu, lama-lama buram. Dan yang paling bahaya, bukan saat kita berbuat dosa, tapi saat kita nggak lagi merasa itu dosa. Bahaya banget, kan? So, jangan remehkan maksiat.
Neraka dan pintu taubat
Sobat gaulislam, sebagian orang alergi ketika dengar kata neraka. Dibilang terlalu menakutkan. Terlalu berat. Terlalu jauh dari kehidupan remaja. Padahal neraka bukan dongeng. Bukan cerita simbolik. Bukan juga sekadar bahan ceramah. Ia disebut berkali-kali sebagai peringatan nyata. Bukan untuk membuat manusia putus asa. Tapi untuk menyadarkan sebelum terlambat. Dan yang sering dilupakan, neraka bukan cuma soal panasnya siksa. Tapi tentang penyesalan yang nggak bisa diulang.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “…takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS al-Baqarah [2]: 24)
Bayangkan momen ketika seseorang sadar: Dulu bisa shalat tepat waktu, tapi ditunda. Dulu bisa menjaga diri, tapi ikut arus. Dulu sering dengar nasihat, tapi dianggap angin lalu. Lalu muncul kalimat yang paling menyakitkan, “Andai dulu aku berubah.”
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal.” (QS an-Naba’ [78]: 24-26)
Masalahnya, di akhirat nggak ada tombol undo. Nggak ada kesempatan replay masa muda. Nggak ada opsi kembali ke masa lalu untuk memperbaiki. Dunia itu singkat. Kadang terasa lama karena diisi hiburan tanpa jeda. Tapi dibandingkan akhirat yang kekal, ia hanya persinggahan yang sangat cepat. Dan, yang paling menyakitkan bukan sekadar hukuman, tapi kesadaran bahwa dulu sebenarnya punya banyak kesempatan, tetapi memilih menunda.
Oya, ketika bahas tentang neraka, ada satu hal yang nggak boleh dilupakan. Islam bukan agama yang hanya menakut-nakuti. Allah Ta’ala nggak hanya menyebut neraka. Allah Ta’ala juga membuka pintu taubat seluas langit dan bumi. Selama napas masih ada, pintu kembali belum dikunci.
Berkata al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah, “Puncak dari angan-angan orang-orang yang telah mati di kubur-kubur mereka adalah berharap bisa hidup kembali barang sesaat untuk mengejar apa-apa yang terluputkan dari mereka (ketika di dunia) berupa taubat dan amal shalih. Sementara orang-orang (yang masih hidup) di dunia ini masih saja menyia-nyiakan hidupnya sehingga hilanglah umur-umur mereka secara sia-sia dalam kelalaian, bahkan di antara mereka ada yang menghabiskan umurnya dengan kemaksiatan.” (dalam Latha-iful Ma’arif, hlm. 339)
Seringkali remaja merasa bahwa “Aku udah terlalu jauh.” atau “Dosaku udah banyak.” atau malah ada yang pesimis, “Kayaknya udah telat buat berubah”. Padahal justru itu jebakan putus asa. Taubat bukan untuk orang yang sempurna. Taubat justru untuk orang yang sadar pernah salah. Seberapa pun masa lalu kita, rahmat Allah Ta’ala selalu lebih luas. Sebab, yang penting bukan seberapa jauh kita pernah tersesat, tapi seberapa serius kita ingin kembali. Neraka adalah peringatan. Rahmat Allah adalah undangan pulang (taubat).
Bertahan dari godaan maksiat
Sobat gaulislam, standar keren zaman sekarang sering aneh. Mereka yang bebas dianggap dewasa. Mereka yang berani melanggar dianggap berani hidup. Tapi mereka yang menjaga diri dianggap kaku. Padahal realitanya justru terbalik. Menjaga shalat di tengah distraksi digital itu nggak mudah. Menjaga pandangan di era konten tanpa batas itu berat. Menjaga pergaulan di lingkungan permisif itu butuh mental kuat. Justru di zaman ketika maksiat semudah sentuhan layar, remaja yang taat adalah pejuang.
Mereka yang memiliih taat mungkin nggak paling viral. Nggak paling heboh di tongkrongan. Tapi mereka sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga: iman. Butuh keberanian besar untuk berkata “nggak” ketika banyak orang berkata “biasa aja”. Butuh hati yang hidup untuk tetap ingat Allah Ta’ala di tengah dunia yang penuh distraksi (gangguan). Ya, di zaman maksiat jadi tren, istiqamah itu bukan kuno. Itu langka. Dan sesuatu yang langka, nilainya selalu tinggi di sisi Allah Ta’ala.
Bro en Sis, coba berhenti sebentar. Tarik napas. Lalu jujur pada diri sendiri. Kalo hari ini adalah hari terakhir hidup, apa yang lebih banyak kita ingat? Waktu bersama al-Quran, atau waktu bersama layar ponsel? Apa yang lebih sering kita lakukan? Istighfar atau scroll tanpa arah? Berapa kali kita menunda shalat dengan alasan “nanti”, tapi nggak pernah menunda hiburan dengan alasan yang sama?
Kita sibuk menyiapkan masa depan dunia: sekolah, karier, mimpi, dan rencana panjang. Semua disusun dengan serius. Tapi masa depan akhirat sering ditaruh di folder: “nanti kalo udah siap”. Padahal kematian nggak pernah menunggu kesiapan dan usia. Selain itu, kudu nyiapin amal shalih. Sebab, yang dilihat adalah amal. Sebab, yang ditimbang adalah kebiasaan. Sebab, yang dipertanggungjawabkan adalah pilihan.
Kebiasaan melakukan maksiat bukan terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dibiarkan. Dari dosa yang diremehkan. Dari taubat yang ditunda. Namun selama kita masih hidup hari ini, selama hati masih bisa tersentuh, itu artinya kesempatan masih terbuka. Masih ada waktu untuk memperbaiki shalat. Memperbaiki lisan. Memperbaiki pergaulan. Dan memperbaiki arah hidup.
Ya, sebab yang paling merugi bukan remaja yang kurang gaul. Tapi remaja yang sadar akan kebenaran, lalu terus menundanya. Nggak pernah melakukan kebenaran. Dan mungkin pertanyaan paling menohok hari ini bukan, “Apakah kita pernah berbuat dosa?” Tapi, “Ketika maksiat sudah terasa biasa, apakah kita masih ingat akhirat?” [O Solihin | Join WhatsApp Channel]