Blacklist Blackpink

This image has an empty alt attribute; its file name is logo-gi-3.jpg

  gaulislam edisi 582/tahun ke-12 (10 Rabiul Akhir 1440 H/ 17 Desember 2018)

Mendaftarhitamkan Blackpink? Layak juga sih. Hmm.. ada yang nggak rela? Ah, nggak usah nyolot sambil ngegas segala buat para Blink (sebutan bagi penggemar Blackpink), ya. Jangan lebay. Ini sekadar nasihat. Buka mata buka hati. Lalu, buka telinga lebar-lebar untuk menerima nasihat. Eh, kok jadi ikutan ngegas juga sih ngasih nasihatnya? Ini sih bukan ngegas Bro en Sis. Tapi ngasih penegasan (ada unsur “gas”-nya juga deh).

Jujur saya sendiri nggak begitu kenal sebelumnya dengan nama Blackpink ini. Maklum, bukan penggemar K-Pop. Mungkin faktor “U” alias umur sehingga beda selera. Tetapi setelah murid saya yang SMP ada yang nyebut-nyebut nama tersebut, terus selang beberapa hari heboh di dunia maya tentang penolakan terhadap iklan yang dibintangi girl group asal Korsel itu, jadinya penasaran deh baca beritanya dan eksplor informasi seputar mereka. Ya, sekadar bahan penulisan saja. Mencatat fenomena. Lalu, mencoba memberikan nasihat (seperti yang langsung saya tulis di awal paragraf tulisan ini).

Sebagaimana yang udah rame di medsos dan pemberitaan lainnya, rasanya nggak perlu saya tulis ulang secara detil. Intinya sih, memang ada problem. Mereka yang menolak kehadiran Blackpink dalam iklan Shopee sebagai bagian dari kesepakatan girl group tersebut menjadi Brand Ambassador Shopee Asia, beralasan salah satunya soal busana. Pasti kamu tahu deh kenapa itu dipersoalkan. Ya, karena personel girl group tersebut dinilai sering mengumbar aurat. Kalo mereka hadir dalam iklan dan iklan itu ditonton banyak orang (termasuk anak-anak), itu namanya nantangin. Buktinya, ada yang bikin petisi segala untuk menolak mereka. Walau belakangan, ada juga aksi para Blink yang mengajak untuk menolak penolakan terhadap idola mereka. Hmm…

Idola yang tercela

Sobat gaulislam, bagi para penggemarnya, kayaknya profil Blackpink udah nggak perlu dijelasin panjang lebar deh. Tapi sekadar tahu doang sih, bolehlah saya share buat yang belum kenal. Sstt.. ini juga ngumpulin data nih. Sori ya, saya bukan penggemarnya, lho.

Ya, Black Pink (Hangul: ????), diformat menjadi BLACKPINK atau BL??KPI?K, adalah girl group Korea Selatan yang dibentuk tahun 2016 oleh YG Entertainment. Grup ini terdiri dari empat orang: Jisoo, Jennie, Rosé dan Lisa. Keempatnya secara resmi debut pada 8 Agustus 2016 dengan album singel mereka, Square One.

Sebagai idola, tentu saja Blackpink punya penggemar, fans. Hubungan idola dengan fansnya itu imbal-balik. Nggak akan jadi idola kalo nggak ada penggemarnya. Bagi para penggemarnya, tentu punya idola adalah semacam muara kepuasan diri.

Nah, persoalannya nih, nggak semua idola bisa jadi teladan. Mereka yang jadi seleb, belum tentu jadi panutan. Nggak semua yang dilakukan mereka bisa dan boleh kita ikuti. Bisa jadi malah ada idola yang tercela alias tidak pantas jadi idola. Blackpink, termasuk salah satunya. Eit, jangan gerah dan kejang-kejang dulu ya. Nanti tahan dulu, biar sekalian aja kejang-kejangnya. Dicicil aja, jangan disekalikan. Ini belum selesai, lho.

Jadi begini, secara kasatmata alias dapat dilihat atau nyata dari personel Blackpink, apa? Ya, busana yang dikenakan Jisoo, Jennie, Rose, dan Lisa itu nggak layak dipamerkan di depan umum. Bagi kita kaum muslimin, tata cara berpakaian saja ada aturannya. Nggak sembarang alias asal sesuai selera kita.

Itu sebabnya, gimana jadinya kalo sang idola berperilaku kurang baik (bahkan tidak baik) lalu dijadikan panutan, atau setidaknya diikuti apa yang dikenakannya. Berabe pisan, kan? Iya, bukan cuma berabe, tapi bahaya!

Beneran lho. Kudu ati-ati banget milih idola. Jangan sampe rugi dunia-akhirat. Waspada juga bagi para idola, sebab jika keburukan yang dilakukan dicontoh penggemarnya. Dosanya bisa ‘multilevel’. Naudzubillahi min dzalik.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, “Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikitpun,” (HR Ibnu Majah)

Ih, ngeri nggak sih? Bagi yang mikir panjang sih, mestinya takut bin ngeri. Tapi, bagi yang doyan nurutin hawa nafsu mah kayaknya kagak mempan deh. Buktinya, ada petisi penolakan iklan Shopee yang dibintangi Blackpink malah sewot. Alasannya macem-macem, tapi intinya nggak mau sang idola dihina, padahal sejatinya sudah tercela di mata syariat. So, itu contoh beda ukuran dalam menilai. Penilaian yang benar adalah berdasarkan akidah dan syariat Islam, juga akal sehat. Tapi penilaian yang salah itu jika didasari dengan memperturutkan hawa nafsu dan melecehkan akal sehat karena telah menolak syariat.

Blackpink dan biduan dangdut koplo   

Sobat gaulislam, sebenarnya malas ngomongin beginian. But, berhubung ada yang nyinyir karena hanya mengkritik girl group asal Korea Selatan soal penampilan busananya, padahal para biduan dangdut koplo di negeri ini juga nggak kalah ngawur soal pakaian mereka.

Eh, sebenarnya dalam soal ini kagak ada mending-mendingnya. Misalnya ada ocehan, “Masih mending Blackpink kagak norak, noh biduan dangdut koplo lebih norak dan erotis”. Hadeuuh.. yang namanya maksiat sih ama aja bikin dosa. Tetapi memang tingkatan tersebarnya dosa tergantung popularitas pendosanya juga. Ih, berarti kalo makin terkenal di seluruh dunia, makin memungkinkan lebih banyak penggemarnya? Mestinya demikian.

Namun perlu diperhatikan, saat ini, media sosial ikut mempopulerkan siapa saja. Bukan hanya mereka yang sudah terkenal jadi kian terkenal, tetapi juga yang belum terkenal bisa jadi terkenal. Lihat deh Youtube (eh, kok malah nyuruh sih?), berapa banyak channel yang menayangkan berbagai aksi sejenis seperti yang  dilakukan Blackpink. “Lagi Syantik”-nya Siti Badriah, nggak kalah ngawurnya dengan “Boombayah”-nya Blackpink. Video mereka di Youtube sama-sama ditonton lebih dari 400 juta kali. Duh, saya kok jadi ikutan nonton. Hadeuuh, konsekuensi nyari bahan tulisan. Istighfar yuk!

Nah, karena udah tersebar gampang di media sosial, maka wajar bila ada pihak yang mengajak untuk memboikot tayangan sejenis. Kalo pun dalam buletin edisi kali ini kita membahas Blackpink, itu sekadar cantolan saja. Lagi hot isunya, lagi rame diomongin, banyak pula penggemarnya di negeri ini. Apalagi Blackpink berencana manggung di Jakarta pertengahan Januari 2019 nanti. Itu artinya, keberadaan mereka diapresiasi banyak pihak. Selain urusan hiburan yang menguntungkan bagi para kapitalis, juga cara mudah menyusupkan pengaruh budaya–dalam hal ini budaya buruk. Memang sih, biduan lokal juga banyak yang merusak, tetapi ngomongin Blackpink sekadar menangkap momen sembari sekalian menyoroti perilaku menyimpang lainnya yang ada di negeri ini.

Jadi, nggak ada mending-mendingnya ya antara Blackpink dan biduan dangdut koplo dan sejenisnya. Itu sama-sama berbuat maksiat dan sama-sama berpotensi merusak akhlak umat. Maka, wajib diwaspadai dan menasihati kaum muslimin (termasuk di dalamnya remaja muslim) agar tak salah memilih idola dan jangan ngawur sesukanya dalam memilih jalan hidup. Hati-hati!

Jangan gelap mata dan keras hati

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Subjudul ini sebenarnya berisi nasihat untuk para penggemar Blackpink. Iya, khususnya dalam pembahasan ini para Blink. Memang ada ungkapan, “jangan dengerin omongan orang, yang penting kita jalani aja apa yang kita mau”. Sekilas sepertinya benar. Tapi, semestinya ada catatan. Kalo omongan berupa nasihat mah wajib didengerin, Bro en Sis. Jangan nutup kuping. Jangan nurutin hawa nafsu sehingga bikin gelap mata dan keras hati.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS al-An’am [6]:125)

Juga dalam firman-Nya (yang artinya), “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS az-Zumar [39]:22)

Dua ayat ini sebenarnya cukup bisa dipahami sebagai peringatan. Nah, kenapa sih orang susah dinasihati? Menurut Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, karena banyak dosa. Beliau berpesan, “Tidak akan kering air mata kecuali karena kerasnya hati dan tidak akan keras hati kecuali karena banyaknya dosa.”

Orang yang banyak bicara juga bisa bahaya, lho. Iya, banyak bicara biasanya nggak mau dengerin nasihat. Padahal seharusnya mengetahui hikmah diciptakan satu mulut dua telinga. Supaya banyak mendengar. Itu salah satu hikmahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya), “Janganlah kamu banyak bicara kecuali dzikrullah. Sungguh, banyak bicara itu membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras” (HR Tirmidzi No.2413, Malik dan Baihaqy)

Di dalam Kitab al-Jawabul Kafi, Ibnul Qoyyim al-Jauziyah merinci dampak-dampak buruk dari perbuatan dosa dan maksiat terhadap kehidupan seorang hamba baik di dunia maupun di akhirat. Di antaranya: “Menimbulkan sifat lemah baik pada agama dan badannya, sehingga pelaku maksiat terasa berat dan malas untuk melakukan ketaatan. Maksiat akan menghalangi seseorang dari taubat kepada Allah dan pelaku maksiat akan menjadi ‘tawanan’ bagi syaitan yang menguasainya. Maksiat akan menutup mata hati, menyebabkan kerasnya hati, dan pelakunya dianggap sebagai orang yang lalai. Maksiat bisa mematikan semangat, menghilangkan rasa malu, membutakan mata hati.”

So, buat para Blink, dan siapapun, pilihlah idola yang tak tercela. Jangan gelap mata dan keras hati sehingga tidak mau menerima nasihat. Jika itu sudah kamu rasakan, segera berhenti dari maksiat dan secepatnya bertaubat. Nggak usahlah kepedean pake bela-belain Blackpink segala. Sebagai muslim, selain hal itu termasuk membela keburukan, tentu saja salah dalam melakukan pembelaan. Seharusnya, kita membela para pejuang dakwah Islam, bukan membela pihak yang merusak akhlak masyarakat dan yang melawan dakwah Islam.

Maka, mari serukan untuk mem-blacklist Blackpink. Coret dari daftar idola. Delete dari pikiran dan hati kita. Remaja muslim nggak layak banget menjadikan mereka sebagai idola. Apalagi mencintai idola yang perilakunya buruk. Waspadalah!

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menenmui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” (HR Muslim)

Tuh, jangan sampai nanti di akhirat kita digolongkan atau bersama orang-orang yang kita cintai saat ini. Waduh, bahaya banget kalo kita mengidolakan orang yang buruk akhlaknya, akan lebih parah lagi jika yang diidolakan adalah orang kafir. Ngeri! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: