Cinta Tidak Netral

 gaulislam edisi 589/tahun ke-12 (29 Jumadil Awal 1440 H/ 4 Februari 2019)

Assalaamu’alaikum… Halo Bro en Sis pembaca setia gaulislam. Udah pada ngeh belom, di minimarket-minimarket banyak banget cokelat dijual berbagai ukuran dan merek. Dari yang katanya enak banget sampe yang belom tahu rasanya seenak apa. Yups, yang kayak gini nih, udah tanda-tanda hitung mundur ke perayaan yang katanya (iya, katanya): Hari Kasih Sayang. Valentine Day!

Memanfaatkan momen, menjelang Valentine Day alias VD, produk-produk cokelat mulai ngasih label kuning (diskon) yang narik banyak pelanggan pecinta cokelat buat beli.

Tren cokelat di hari VD udah basi, remaja jatuh cinta punya agenda sendiri demi merayakan VD. Mulai dari kencan manis, mesra, romantis (katanya!) sampai party hura-hura di tempat yang nggak kalah meriah.

Wabah Valentine’s Day dan liberalisme

Ya, VD itu bukan perayaan asli orang Indonesia, Asia, apalagi Islam. Yup, perayaan Hari Kasih Sayang atau VD memang bukan dari budaya Indonesia, Asia dan Islam. Orang Barat-lah yang menggiatkan perayaan ini.

Buktinya aja, banyak negara yang menolak perayaan VD kayak di India. Dan sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Indonesia juga seharusnya (wajib) menolak Hari Kasih Sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari mendatang. Bukan hanya karena VD nggak sesuai sama budaya Indonesia, nggak ada tradisi dan adatnya, VD jelas bertentangan dengan syariat Islam.

Tapi masalahnya nih, remaja millenial banyak banget yang menunggu-nunggu datangnya 14 Februari cuma buat ngerayain Hari Kasih Sayang. Sekadar nge-date sama doinya, party hura-hura sampai pergi ke tempat sepi untuk berzina (padahal Allah Maha Tahu) buat ngerayain Hari Kasih Sayang.

Konon kabarnya, atas nama cinta, Hari Kasih Sayang jadi ajang yang pas buat banyak orang menghalalkan hal yang haram. Inilah virus kebebasan yang diusung-usung Barat untuk menghancurkan akidah, moral remaja Muslim di seluruh dunia.

Sayangnya, banyak Muslim yang nggak sadar bahwa mereka sedang dicekoki virus liberalisme, paham kebebasan.

Meski Valentine’s Day cuma ada setahun sekali, tapi orang-orang yang pacaran nggak cuma setahun sekali. Tapi setiap detik, menit, akan selalu ada orang yang pacaran. Yang menyukai lawan jenis. Yang ingin punya hubungan spesial dengan si doi. Melalui orang-orang yang sedang jatuh cinta itu, paham liberalisme berhasil menguasai pikiran mereka, perlahan merusak adab, akidahnya, dan tanpa disadari remaja Indonesia, khususnya Muslim luluh lantak di bawah paham kebebasan yang nggak punya aturan tersebut alias aturannya sesuai hawa nafsunya.

Indonesia, dengan adat ketimuran, haruslah sadar kalo VD dan segala perayaan Barat ini dibiarkan mewabah dikalangan remaja dan pemuda, yang merupakan generasi penerus bangsa. Budaya kita bisa tergerus oleh paham kebebasan yang dibawa Barat. Bisa dibuktikan dengan seks bebas yang semakin marak terjadi bukan cuma dikalangan remaja. Tapi di semua umur, perilaku seks bebas udah banyak terkuak dengan kasus-kasus viral yang muncul di medsos.

Lebih parahnya lagi, Muslim bisa kehilangan identitasnya sebagai pemeluk agama Islam karena pemikirannya yang tercemari pola pikir liberal. Pola pikir itu nggak cuma tentang bagaimana mereka menyikapi kehidupan dunia, tapi sampai ke gaya berpakaian yang sangat terbuka, adab, sikap dan perilaku.

So, Bro en Sis, sebagai orang Indonesia yang memiliki ragam budaya sekaligus muslim sejati, ayo bahu membahu mengingatkan teman-teman di sekitar untuk menolak perayaan Valentine’s Day alias Hari Kasih Sayang ini. Bukan cuma karena budaya Indonesia yang bisa tergerus, pemudanya yang condong ke pola pikir Barat, tapi juga karena VD tidak pernah disyariatkan dalam agama Islam. Catet ya!

Sudut pandang cinta

Sobat gaulislam, hati dan perasaan adalah satu hal yang abstrak. Tidak bisa dilihat atau disentuh. Hanya bisa dirasakan. Dirasa ketika manusia merasa bahagia, sedih, patah hati, apalagi pas jatuh cinta sama lawan jenis. Memang begitu perasaan, nggak bisa begitu aja manusia mengendalikannya.

Begitu juga ketika banyak orang jatuh cinta. Kebanyakan biasanya bilang: “Manusia nggak akan tahu, kepada siapa hati mereka bakal berlabuh,”

Yup, kamu juga pasti sangat menyadari, kalau kita, manusia nggak akan tahu sama siapa bakalan sukanya. Sama siapa bakalan cintanya. Bisa aja, tiba-tiba kita udah jatuh cinta sama orang yang dulunya kita benci, atau teman sendiri. Atau stranger yang cuma lewat bersisian di trotoar. Who knows?!

Nggak masalah kok, Bro en Sis, kita mau suka sama siapa aja (asal sama lawan jenis, yah. Bukan sesama jenis, dosa loh!). Tapi ketika kita suka atau cinta sama seseorang perlu tahu bagaimana harus menyikapi rasa suka atau cinta itu. Meski cinta itu bersifat abstrak, susah buat didefinisiin. Tapi cinta tetap ada nilainya. Nah, nilai cinta ditentukan berdasarkan pemahaman diri kita terhadap cinta.

Sudahkah kita, muslim dan muslimah, mengerti bahwa cinta bisa dilihat dari sudut pandang positif dan negatif? Sudahkah kita, aku dan Bro en Sis sekalian tahu apa yang membedakan antara sudut pandang positif dan negatif?

Cinta dan sudut pandang negatif

Well, kamu pernah nonton drakor alias drama Korea? Atau dorama, drama Jepang? Atau yang paling deket deh, sinetron dan film-film di Indonesia! Kalaupun cuma tengok sedikit-sedikit, pasti tahu dong, gimana rata-rata model alur ceritanya. Yup, nggak jauh dari roman picisan, melankolis, dramatis, yang bikin penonton baper abis. Sampe bikin komentar: “Namanya juga cinta, yang jelek aja keliatan indah”.

Nggak banyak yang nyadar loh, ternyata kalo komentar-komentar kayak gitu, teori remeh macam itu ternyata banyak dipegang erat sama remaja yang lagi jatuh cinta. Ini udah masuk zona ber-ba-ha-ya! Kenapa?

Komentar, atau sedikit perasaan yang membenarkan teori itu adalah bagian dari hawa nafsu. Bisikan setan. Karena teori itu bikin banyak orang lupa dan menganggap angin lalu larangan dan perintah yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan. Bikin banyak orang cuma pengen memuaskan keinginan mereka, tanpa peduli ada langkah dan cara yang baik buat mewujudkannya.

“Yang penting gua bahagia, yang lainnya, nanti aja” mungkin itu yang dipikirin sebagian orang ketika jatuh cinta. Wah, kalo kamu ada yang berpikiran kayak gitu, hati-hati loh, karena bisa menjerumuskan. Menjerumuskan karena terkategori lalai terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Menjerumuskan ke lembah siksa paling pedih: neraka. Naudzubillahi min dzalik!

Yups, itulah ending kalo membiarkan cinta disikapi dengan sudut pandang negatif.

Cinta dan sudut pandang positif

Cinta itu nggak netral. Nggak fifty-fifty. Nggak di tengah-tengah. Cinta itu ada nilainya. Kalau kita membiarkan cinta dinilai dari sudut pandang negatif, nggak akan dapet apa-apa selain tenggelam di jurang dosa, masuk ke lembah neraka. Tapi kalau kita mau dan berjuang buat menyikapi cinta dari sudut pandang positif, maka insyaa Allah, janji-Nya pasti untuk kita.

Gimana caranya menyikapi cinta (khususnya cinta ke lawan jenis) dari sudut pandang positif? Hmm…

Setiap orang yang jatuh cinta pasti pengen doinya itu bahagia. Sebagai seorang muslim, kamu harus paham dulu kalau kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita memasuki surga Allah, bertemu dengan kekasih Allah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, menemui Allah di kehidupan abadi akhirat. Kebahagiaan sejati seorang muslim adalah ketika mampu menggapai ridho Allah.

Bagaimana caranya menggapai ridho Allah? Yakni dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Supaya tahu apa aja perintah dan larangan Allah sangat dibutuhkan ilmu. Itu sebabnya, cus lah, belajar nggak cuma materi umum macam Matematika, IPA, IPS, dan sejenisnya, tapi juga ilmu agama.

Kalo kamu paham dan mengerti hal itu, maka kamu juga bakal tahu gimana caranya supaya kita bisa bikin doi kita bahagia. Nggak perlu tuh, pedekate, nge-date, pacaran, ngapel ke rumah doi apalagi ngerayain acara ini-itu yang sebenernya nggak penting (dan malah bikin dosa).

Bukan semata karena buang-buang waktu atau uang, tapi karena Allah tidak memerintahkannya dan justru melarangnya. Kalau kita melakukan sesuatu ke si doi yang justru melanggar perintah Allah, gimana si doi bisa bahagia? Yang ada nanti tersiksa. Tersiksa di mana? Mungkin di dunia nggak keliatan siksanya, tapi di akhirat, nggak tahan deh, pedihnya! Beneran. Silakan baca ayat-ayat al-Quran atau hadits terkait siksaan di neraka.

Kalo tetep pengen sama si doi tapi tetap membahagiakannya dunia akhirat, cus lah langsung lamar. Wong tinggal lamar aja, minta restu abis itu ijab, beres! Sah deh mau nge-date di mana aja, terserah! (Hehe…)

Bro en sis tahu nggak sih, dilansir dari portal hidayatullah.com kalo ternyata ketika laki-laki bersentuhan dengan perempuan suhu kulit di beberapa area tubuh bakal meningkat. Laki-laki suhu kulitnya meningkat 0,3 derajat celcius, sementara perempuan 10 derajat celcius.

So, buat laki-laki dan perempuan inilah alasan kenapa kalian dilarang bersentuhan dengan yang bukan mahram. Islam melarang berpacaran, berpelukan dan bersentuhan dengan lawan jenis sebelum menikah bukan tanpa sebab, tapi karena sentuhan melahirkan gerakan otak, kemaluan dan nafsu.

Nah kan, jauhi deh pacaran, pedekate, TTM-an atau justru nggak punya status apa-apa tapi pegang-pegangan tangan. Bahaya! Yang ada nanti malah memberikan setan celah buat ngegoda sampe akhirnya berbuat yang dilarang sama Allah sebagai dalam surat al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”

Cinta dalam koridor Islam

Sobat gaulislam, hati manusia memang nggak ada yang tahu. Maka di situlah Allah memberikan rahmat dan hidayahnya supaya kita bisa lebih dekat pada-Nya. Tapi di situ jugalah setan membisikkan godaannya. Seperti dalam surat an-Naas ayat 4-5: “dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”

Cinta memang abstrak. Tapi cinta tidak netral. Cinta bisa dikendalikan supaya tidak keluar dari koridor Islam. Cinta pula hanya perasaan. Sementara perasaan itu sesuatu yang nggak pasti. Karena itu, jangan mendewakan cinta sehingga mengabaikan aturan Islam.

Cus lah, mulai membiasakan Islam sebagai pengatur kehidupan kita. Perdalam ilmu Islam dengan mengaji dan sejenisnya supaya bisa mengingatkan yang lain dan kehidupan lebih terarah dengan syariat Islam. Keep fight-o! [Zadia Mardha | IG @willyaaziza]

Leave a Reply

%d bloggers like this: