Monday, 24 June 2024, 06:25

gaulislam edisi 801/tahun ke-16 (7 Sya’ban 1444 H/ 27 Februari 2023)

Beberapa waktu lalu di sebuah grup WhatsApp ada yang kirim video. Isinya ada anak laki yang gestur tubuhnya menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan saat diwawancara seseorang. Gerakan tangannya juga mengidentikkan gaya cewek. Udah gitu di akhir wawancara, bibirnya bergetar dimainin. Idih, kok kayak gitu sih gayanya? Emang ortunya di rumah nggak negur tuh anak? Atau bisa jadi udah ditegur tapi anaknya bandel alias nggak mempan ditegur sama ortunya.

Gimana gurunya di sekolah? Duh, jangan sampe kalo kemudian lepas tangan alias membiarkan dengan alasan hak asasi manusia. Eh, bisa jadi udah ditegur juga di sekolah sama para gurunya, cuma emang anaknya aja nggak mau nurut. Iya, kan? Mudah-mudahan sih gurunya nggak cuek. Ya, gimana pun juga, itu fakta yang ada di tengah kehidupan kita sehari-hari. Ini baru satu contoh, lho. Kalo dilihat dan diteliti lebih dalam, cukup banyak juga cowok yang kelihatannya gagah, tetapi gemulai. Hadeuuuhh!

Sobat gaulislam, cowok sebenarnya identik dengan postur tubuh yang gagah, maskulin, nunjukkin bahwa dia memang cowok. Jangan sampe ngakunya cowok tetapi gaya bicara, gestur tubuh, dan malah berpakaian yang identik dengan cewek. Itu namanya cowok “salah pasang” atau cewek jadi-jadian. Nggak banget, lah!

Pertanyaannya, mengapa bisa begitu? Apa faktor penyebabnya? Bisa jadi karena pola asuh ortu di rumah. Namun, pola asuh ini bukan satu-satunya faktor penyebab. Misalnya nih, dulu saya pernah mendapat cerita dari seorang kenalan, dia laki-lali. Dia menyampaikan bahwa dirinya waktu kecil diperlakukan seperti kakaknya yang perempuan. Semua kakaknya itu perempuan. Dari mulai mainan, bahkan dia menunjukkan kalo dirinya pernah ditindik telinganya untuk dipasangi anting. Beruntung, dia bisa lepas dari pola asuh yang seperti itu. Waduh, kalo kayak gini, bahaya juga ya.

Pergaulan di sekolah dan di tempat nongkrong sering kali memengaruhi juga cara pandang seseorang. Kalo nongkrongnya bareng orang yang menganggap bahwa keburukan itu baik, ya dia akan terbawa cara pandang itu. Misalnya aja, soal gaya berpakaian atau urusan rokok. Teman nongkrongnya suka merokok, lama-lama kebawa juga tuh untuk melakukan hal yang sama. Teman gaulnya menganggap bahwa pacaran itu biasa, dan boleh-boleh aja, maka dia akan juga berpandangan seperti itu jika tetap berada di circle tersebut. Termasuk kalo di komunitas gaulnya mempraktikkan gaya bicara dan gestur tubuh yang meniru lawan jenis, maka lambat laun anggota circle itu juga berperilaku demikian. Ngeri!

Cowok yang sering gaul dengan cewek dalam sebuah komunitas tertentu yang dominan feminin, maka cowok bisa berubah lho jadi feminin, hilang maskulinnya. Apalagi sekarang banyak orang gembar-gembor membela kesetaraan gender, yang ujung-ujungnya atas nama kebebasan berekspresi malah membolehkan atau menganggap wajar cowok yang feminin dan gagah gemulai. Didukung sebagai bagian dari hak asasi manusia. Aduh, jangan ngawur deh. Cowok itu identik dengan maskulin dan gagah. Nggak ada cowok meliuk-liuk bodinya atau gaya ngomongnya kayak cewek. Nggak banget!

Kuatkan tauhid

Mengajarkan tauhid kepada anak-anak sejak kecil itu wajib dan penting. Orang tua perlu menekankan hal ini. Gimana pun, akan kebawa sampai dewasa. Jika tauhidnya kuat, maka pelaksanaan syariat akan mudah dilakukan. Tauhid ibarat pondasi, jadi harus kuat agar bisa menahan beban penerapan syariat dan hal lainnya dalam mengamalkan ajaran agama.

Sejak kecil anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan wajib diajarkan tauhid. Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Apabila anak sudah mulai bisa berbicara, mereka hendaknya diajari mengucapkan, “LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMAD RASULULLAAH”

Hendaknya yang pertama menancap di pendengaran mereka ialah mengenal dan mentauhidkan Allah; meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya, mengawasi mereka, mendengar semua ucapan mereka, dan bersama mereka di mana pun mereka berada (dalam Tuhfatul Maudud, jilid 1, hlm 232)

Tauhid adalah inti Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Permulaan agama dan akhirnya serta lahir dan bathinnya adalah tauhid, sedangkan maksud mengikhlaskan agama secara total untuk Allah adalah merealisasikan konsekuensi ucapan Laa Ilaaha Ilallaah.” (dalam Majmu’ul Fatawa, jilid 10, hlm. 264)

Kalo tauhidnya udah bener, udah lurus, maka jalan kita nggak bakalan melenceng dari yang seharusnya sesuai ketentuan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Amal shalih tuh buah dari tauhid, lho. Kalo amal salah? Itu berarti buah dari rusaknya tauhid, atau nggak bertauhid. Waspadalah! Itu sebabnya, dalam pembahasan ini ada cowok yang nggak sesuai jati diri atau ciri-ciri cowok yang semestinya, malah dia menyerupai cewek dan di situ dia merasa bangga, maka jelas tauhidnya udah ternoda atau rusak.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah membuat permisalan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya di setiap musim dengan izin Rabb-nya. Allah membuat permisalan untuk manusia supaya mereka mengingat (mengambil pelajaran).” (QS Ibrahim [14]: 24-25)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan ayat tersebut, “Allah menyerupakan kalimat thayyibah (baik) dengan pohon yang baik. Sebab, kalimat thayyibah membuahkan amal shalih, sebagaimana pohon yang baik menghasilkan buah yang bermanfaat. Makna inilah yang tampak jelas menurut penafsiran mayoritas ahli tafsir yang berpendapat bahwa kalimat thayyibah adalah syahadat laa ilaaha illallaah. Kalimat ini membuahkan seluruh amal shalih, lahir maupun batin. Seluruh amal shalih yang membuat Allah ridha adalah buah dari kalimat ini.” (dalam I’lamul Muwaqqi’in, jilid 1, hlm. 244)

Sobat gaulislam, kalo kamu perhatikan, cowok yang bernampilan kayak cewek, jadi feminin, disebabkan dia nggak mengetahui konsekuensi dari perilakunya yang akan dihisab kelak. Bisa karena nggak tahu, bisa juga karena nggak mau tahu alias mengabaikan. Semau dirinya aja dalam berbuat. Nggak mau nurut sama syariat. Kalo kasus yang nggak tahu, bisa dikasih tahu. Namun kalo yang nggak mau tahu atau mengabaikan, kategorinya menantang. Artinya nggak mau diatur sama syariat. Jelas banget kalo yang model begini ya akidahnya atau tauhidnya bermasalah, atau malah udah rusak. Bahaya banget.

Jangan menyerupai lawan jenis

Jangan sampe deh kamu yang cowok malah berperilaku menyerupai cewek. Gaya bicara, cara berjalan, cara berpakaian, dan gestur lainnya yang identik dengan cewek. Nggak boleh. Ada larangannya, lho.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhari no. 5885)

Dalam lafazh Musnad Imam Ahmad disebutkan, “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” (HR Ahmad no. 3151, 5: 243. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari)

Begitu pula dalam hadits Abu Hurairah disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR Ahmad no. 8309)

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar mereka diusir dari dalam rumah kita.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya laki-laki”. Dan beliau memerintahkan, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kamu”. Ibnu Abbas berkata:  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengeluarkan Si Fulan, Umar telah mengeluarkan Si Fulan.” (HR al-Bukhari, no. 5886; Abu Dawud, no. 4930; Tirmidzi, no. 2992)

Perlu dicatat bahwa yang dilarang itu menyerupai dalam pakaian, sifat, gerakan dan sejenisnya. Bukan dalam amal shalih. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah meringkaskan penjelasan Abu Muhammad bin Abi Jamrah rahimahullah yang menyatakan, “Zhahir lafadz (hadits ini) adalah larangan keras terhadap perbuatan at-tasyabuh (laki-laki menyerupai wanita, atau sebaliknya) dalam segala hal. Akan tetapi, telah diketahui dari dalil-dalil lain bahwa yang dimaksud adalah (larangan) tasyabbuh dalam hal pakaian, sifat, gerakan, dan semisalnya; bukan tasyabuh (menyerupai) dalam perkara-perkara kebaikan.” (dalam Fathul Bari, jilid 10, hlm. 333)

Bagi kamu yang cowok, jadikan tuh para sahabat nabi sebagai teladan. Ada Zubair bin Awwam radhiallahu ‘anhu. Masuk Islam di saat masih muda. Pejuang tangguh di medan perang. Kalo pejuang pastinya macho alias gagah dan maskulin, dong. Zubair bin Awwam adalah salah satu di antara 10 sahabat Nabi yang mendapat berita gembira akan masuk surga. Zubair adalah sepupu Nabi karena ibunya yang bernama Safiyah binti Abdul Muttalib adalah saudara kandung dari Abdullah bin Abdul Muttalib, ayah Nabi.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu juga gagah. Tak terkalahkan di medan perang, bahkan beliau sanggup menjadikan gerbang besi benteng Khaibar sebagai perisai. Pernah tahu kisahnya?

Begini. Nabi mengatakan tentang Khaibar, “Aku akan memberikan bendera kepada orang yang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sukai. Allah akan menaklukkannya dengan tangannya dan dia tidak akan lari.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dengan bendera di tangannya melawan kaum Yahudi yang berada di benteng Khaibar. Ketika dia sampai di dekat benteng, orang-orangnya keluar untuk menyerangnya dan Ali bin Abi Thalib pun terlibat dalam pertempuran. Selama duel, salah satu orang Yahudi memukulnya dan menjatuhkan perisainya dari tangannya. Ali lalu menggenggam pintu besi benteng dan mencopotnya dari engselnya dan kemudian menggunakannya sebagai perisai. Pintu besi itu tetap berada di tangannya saat ia berjuang sampai ia menaklukkan benteng dengan tangannya.

Setelah Ali menaklukkan Khaibar, dia melemparkan pintu besi dan terlihat delapan orang berusaha untuk membalikkan pintu gerbang tersebut namun tidak dapat melakukannya.

Syaikh Ahmad Ibnu Hajr al-Haytami mengatakan dalam as-Sawaq Muharaqa bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku tidak merebut pintu Khaibar dari tempatnya dengan kekuatan tubuhku, tetapi dengan kekuatan ilahi.”

Tuh, keren banget, kan? Nggak mungkinlah itu dilakukan cowok yang klemer klemer alias gemulai bin melambai. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, kalo menurut istilah gaul anak zaman sekarang, ya macho lah. Gagah dan maskulin.

Telusuri kisah hidup pemimpin para syuhada, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhu, Panglima Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, Panglima Shalahuddin al-Ayubi, Jenderal Thariq bin Ziyad, dan Panglima Perang Penakluk Konstantinopel, yakni Sultan Muhammad al-Fatih. Itu sederet nama dari ribuan pejuang keren lainnya yang dimiliki Islam. Mereka yang jagoan di medan perang, tangguh dan perkasa, nggak mungkin gemulai. Itu sebabnya, kalo ada di antara kamu para cowok yang sekarang masih meliuk-liuk kayak cacing kepanasan pas ngomong atau malah bangga jadi gemulai, sadarlah. Sadar diri akan takdirmu. Jadilah lelaki sejati. Cowok emang kudu macho. Sebab, kita butuh para lelaki pejuang pemberani pembela Islam dan kaum muslimin. [O. Solihin | IG @osolihin]