Hilangnya Rasa Malu

gaulislam edisi 611/tahun ke-12 (5 Dzulqo’dah 1440 H/ 8 Juli 2019)

Saat ini banyak orang yang tanpa rasa malu berbuat maksiat. Mereka cuek aja melakukan pelanggaran syariat, bahkan di depan orang banyak. Kalo di depan orang berani maksiat, maka ketika sendirian besar kemungkinan akan lebih berani bermaksiat. Kok bisa begitu? Iya, mestinya orang yang masih memiliki rasa malu nggak nyaman melakukan kesalahan di depan orang. Dia akan sembunyi-sembunyi. Tapi kalo sudah berani di depan orang melakukan maksiat, itu artinya sudah nekat. Sudah nggak punya rasa malu. Jika sudah tak punya rasa malu kepada manusia, dugaan kuat nih, dia tak punya rasa malu kepada Allah Ta’ala. Bahaya bener!

Sobat gaulislam, kecurangan sudah terjadi dan dianggap lumrah dalam kehidupan bermasyarakat. Saat ujian nyontek, dibiarin. Bahkan direstui. Adanya suap untuk transaksi tertentu, termasuk ada pejabat partai dan menteri yang terciduk ketahuan biasa melakukan kecurangan dengan menjual-belikan jabatan di kementriannya. Tentu saja, namanya juga jaul-beli pasti ada transaksi. Masalahnya, sejatinya itu bukan jual beli, tapi suap. Dosa banget dong. Kalo mereka malu kepada Allah Ta’ala, nggak bakalan deh melakukan hal begituan. Ini memang parah banget.

Kasus lainnya, pilpres yang baru aja usai. Meski paslon 01 dinyatakan menang, tapi suasananya biasa saja. Maklum, banyak kecurangan, kebohongan, dan praktek tak terpuji lainnya yang sudah jadi rahasia umum. Rakyat tak sudi alias tak menerima hasil keputusan Mahkamah Konstitusi dalam penyelesaian sengketa pilpres. Itu artinya, presiden yang tak dirindukan sebagian besar rakyatnya.

Dinyatakan menang tapi nggak pede. Akhirnya ngemis-ngemis pengen rekonsiliasi. Rekonsiliasi untuk apa? Apalagi ketika ada tokoh dari BPN (kubu 02) yang menginginkan bahwa rekonsiliasi akan dimanfaatkan untuk memulangkan Habib Rizieq Shihab, ternyata ada tokoh dari TKN (kubu 01) yang menolak. Berarti ajakan rekonsiliasi ini cuma omong kosong. Rekonsiliasi nggak tulus. Berarti memang ada maunya, yakni meminta legitimasi atas kemenangan yang curang tersebut. Udah nggak punya rasa malu, memang. Tapi, begitulah kelakuan pihak yang terbiasa berbuat salah akan hilang rasa malunya.

Hilangnya rasa malu juga bisa kita saksikan ada begitu banyak orang yang tak mau diatur dengan akidah dan syariat Islam. Mereka berpikir bahwa melanggar syariat bukan masalah. Dianggap lumrah. Padahal, semestinya dia berpikir bahwa manusia tak ada apa-apanya dibanding pemilik alam semesta, manusia, dan kehidupan ini. Aneh banget, kan. Apa nggak malu numpang hidup di bumi Allah, tapi melanggar syariat Allah? Kalo alasannya nggak tahu, ya belajar. Jangan malas belajar. Tapi yang jadi persoalan adalah, yang nggak tahu tapi sok tahu. Udah gitu, malas belajar, pula. Bah, itu sih kebangetan!

Seharusnya, malu!

Dalam Kitab Hadits Arbain, hadits ke-20, Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR Bukhari, no. 3484, 6120)

Berdasarkan penjelasan di situs rumaysho.com, Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan mengenai perkataan dalam hadits tersebut “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu.”

“Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa (atsar) dari ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari para Nabi tersebut pada setiap zaman. Maka hal ini menunjukkan bahwa kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada umat Islam.” (Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, 1:497)

Artinya, sifat malu sudah diajarkan sejak dulu, sejak masa kenabian terdahulu yaitu (mulai dari) awal Rasul dan Nabi: Nuh, Ibrahim dan lain-lain. Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 112.

Perkataan umat terdahulu bisa saja dinukil melalui jalan wahyu yaitu al-Quran, as-Sunnah (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau dinukil dari perkataan orang-orang terdahulu. Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 207.

Itu sebabnya, ini adalah perkataan Nabi terdahulu maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan ini memiliki faedah yang besar sehingga sangat penting sekali untuk diperhatikan.

Oya, dalam hadits ini, terkesan bahwa jika tidak malu berbuatlah sesukamu. Nah, supaya kamu nggak bingung, ada penjelasannya juga di situs rumaysho.com, para ulama mengatakan bahwa perkataan ini ada dua makna:

Pertama, kalimat tersebut bermakna perintah dan perintah ini bermakna mubah. Maknanya adalah jika perbuatan tersebut tidak membuatmu malu, maka lakukanlah sesukamu. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan.

Kedua, kalimat tersebut bukanlah bermakna perintah. Para ulama memiliki dua tinjauan dalam perkataan kedua ini:

Satu, kalimat perintah tersebut bermakna ancaman. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.” (QS Fushilat [41]: 40)

Maksud ayat ini bukanlah maksudnya agar kita melakukan sesuka kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah ancaman: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukamu. Pasti engkau akan mendapatkan akibatnya.

Dua, kalimat perintah tersebut bermakna berita. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. Dan penghalangmu untuk melakukan kejelekan adalah rasa malu. Jadi bagi siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan dan kemungkaran. Dan yang menghalangi hal semacam ini adalah rasa malu. Kalimat semacam ini juga terdapat dalam hadits Nabi yang mutawatir, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.” (HR Bukhari, no. 110 dan Muslim, no. 3)

Kalimat ini adalah perintah, namun bermakna khabar (berita). Jadi jika tidak memiliki sifat malu, pasti engkau akan terjerumus dalam kemungkaran. Itu maksud perintah di sini bermakna berita. (Lihat Tawdhih al-Ahkam, 4:794, Darul Atsar; Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 113; Syarh Arba’in al-Utsaimin, hlm. 207; Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 255)

Dari Utsman ibnu Affan radhiallahu ‘anhu dan Aisyah rahiallahu ‘anha, keduanya menceritakan:

“Suatu ketika Abu Bakar meminta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam – ketika itu beliau sedang berbaring di tempat tidur Aisyah sambil memakai kain panjang istrinya-. Beliau lalu mengizinkan Abu Bakar dan beliau tetap dalam keadaan semula. Abu Bakar lalu mengutarakan keperluannya lalu pergi. Setelah itu datanglah Umar ibnul Khaththab radliallahu ‘anhu meminta izin dan beliau mengizinkannya masuk sedang beliau masih dalam kondisi semula. Umar lalu mengutarakan keperluannya lalu setelah itu ia pun pergi.

Utsman ibnu Affan berkata, “Lalu saya meminta izin, beliau lalu duduk”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Aisyah, “Tutupkanlah bajumu padaku”. Lalu kuutarakan keperluanku lalu saya pun pergi.

Aisyah lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, tindakanmu terhadap Abu Bakar dan ‘Umar radliallahu ‘anhuma kok tidak seperti tindakanmu pada Utsman [?]” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menjawab, “Sesungguhnya Utsman adalah seorang pria pemalu dan saya khawatir jika dia kuizinkan dan saya dalam keadaan demikian, dia lalu tidak mengutarakan keperluannya.” (Muslim: 44-Kitab Fadhoil ash-Shohabah, hlm. 26-27)

Sobat gaulislam, dari uraian di atas terkait rasa malu, atau sifat malu, nampak jelas bahwa para nabi, juga sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wassalam adalah orang-orang yang memiliki rasa malu.

Tentu, hal ini berbeda banget dengan kondisi kaum muslimin saat ini, yang umumnya tak memiliki rasa malu, atau malah telah hilang. Buktinya, banyak yang melakukan maksiat. Padahal, Allah melihat dan malaikat mencatat apa yang dilakukannya.

Jangan malu-maluin!

Oya, mungkin di antara kamu ada yang masih bingung terkait rasa malu. Ini berbeda lho dengan rasa malu misalnya ketika berbicara di depan umum, itu sih kurang pede alias percaya diri. Bukan ini yang dimaksud, ya. Nanti kamu jadi alasan nggak mau tampil di depan kelas karena mengutamakan rasa malu. Itu sih salah penempatan.

Jadi, yang dimaksud di sini adalah, setiap muslim harus memiliki rasa malu sehingga terjaga dari berbuat maksiat. Paham, ya?

Nah, ada lagi ungkapan seperti dalam subjudul ini, “jangan malu-maluin”. Ini maksudnya bikin malu. Contoh, kamu dan tim kamu ikut lomba di sebuah sekolah dalam event tertentu. Tapi kamu malah nggak nenyiapkan diri untuk lomba tersebut, wajar kalo tim kamu bilang, “Jangan malu-maluin, nanti!”’

Mestinya ya kalo akan ikut lomba, sudah menyiapkan sejak lama. Sehingga bisa tampil prima dan nggak malu-maluin.

Oya, hilagnya rasa malu menyebabkan orang lupa diri. Waktu shalat datang, tapi masih nongkrong bareng teman haha hihi sambil ngeliatin layar hape. Harusnya kan malu, azan adalah panggilan untuk shalat, tapi kamu malah asyik bercanda dan ketawa lalu melupakan shalat. Ini gawat!

Berlaku curang juga mestinya malu ya. Masih ingat, kan, di pilpres tahun ini banyak kecurangan tapi dibiarkan. Ya, mestinya malu. Tapi kalo ada yang muka tembok alias nggak tahu malu sih, kayaknya tetep aja maksiat. Bisa jadi bukan karena tidak tahu, tapi khawatirnya justru karena tak mau tahu.

Oke deh, semoga kita bisa memiliki sifat malu, istiqomah bersama Islam dan tetap semangat melaksanakan syariat Islam. Jangan sampe malu-maluin karena dikatakan oleh orang-orang, “Muslim kok shalatnya bolong-bolong?”

Atau ungkapan lain, “Katanya muslim, kok pacaran? Bikin malu saja!” Duh, nonjok banget, dah!

Bisa juga perkatan sebagai berikut yang dilontarkan orang kepada kamu gara-gara malu-maluin, “Idih, muslim kok jadi koruptor?” dan seabrek permasalahan yang menimpa kaum muslimin, dan intinya sih, jangan bikin malu, deh.

Semoga kita tetap terjaga dari keinginan untuk berbuat maksiat. Justru sebaliknya menghalau jauh maksiat. Jadilah teladan bagi muslim lainnya dalam kebaikan. Jangan pernah sengaja berbuat maksiat. Bentengi diri kita dengan sifat malu. Siap ya? Harus! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: