Islam Bukan Mainan

gaulislam edisi 610/tahun ke-12 (28 Syawal 1440 H/ 1 Juli 2019)

Silakan cari di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), apa arti dari “mainan”. Nah, kalo ditulis begini, berarti yang jadi barang mainan ini adalah Islam. Subhanallah. Ini sih ngawur banget kalo ada orang yang menjadikan Islam sebagai barang mainan untuk tujuan apa pun. Bahaya!

Sobat gaulislam, yang lagi rame saat ini tentang video yang menunjukkan ada seorang ibu yang masuk masjid masih pake sepatu, bawa beberapa anjing, lalu marah-marah ke setiap orang di masjid tersebut. Ketika diperingatkan malah ngelawan. Video itu lantas menjadi viral. Kalo udah begitu, pastinya ada pro dan kontra. Walau sejatinya kalo urusan masjid, mestinya banyak yang menilai salah terhadap pelaku. Tapi ternyata ada juga orang yang koar-koar secara reaktif agar netizen jangan reaktif memandang kasus itu. Maksud gerombolan ini, ya sudah maafkan saja. Waduh, dasar gerombolan liberal, tuh!

 Lo kira umat Islam itu anak kecil yang gampang dibodohin. Dibodohin? Ya, ini menurut saya kata yang pas ketimbang “dibujuk”. Sebab, pelaku sudah keterlaluan menodai kewibawaan masjid sebagai tempat ibadah. Anehnya, belum ada kejelasan semisal dari ahli jiwa, tiba-tiba beredar kalo pelaku itu sedang stres, dan bisa jadi malah gila. Siapa tuh yang menyimpulkan demikian? Enak aja. Kesel nih.

Iya. Sebab, yang udah-udah kalo kasusnya yang jadi korban umat Islam dan tempat ibadah umat Islam, seringnya pelaku dianggap sebagai orang gila atau kurang waras. Akhirnya? Ya, bebaslah. Tapi giliran pilpres, orang gila disuruh milih. Di sini sering saya berpikir, siapa sebenarnya yang gila.

Masih inget kan kasus persekusi terhadap beberapa tokoh agama, juga pelaku pelemparan batu ke masjid, termasuk yang corat-coret memggambar kemaluan laki-laki di dinding masjid? Semua itu selesai dengan alasan pelaku mengalami gangguan jiwa. Aneh bin ajaib. Terus umat Islam diminta bersabar. Malah disuruh memaafkan pelaku, kayak yang kejadian si ibu yang kafir masuk masjid pake sepatu dan bawa anjing. Hadeuuh.

Kalo kayak gini terus, Islam dan umatnya jadi barang mainan. Didorong ke kiri, ditendang ke kanan, disepak jauh ke atas, dibejek, diapa-apain aja sesuka para pembencinya. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, umat Islam diminta bersabar, dan bahkan meminta pelaku dimaafkan dengan alasan pelaku gila. Mereka yang liberal malah lebih parah lagi, pake dalil segala, tapi intinya merugikan umat Islam. Ya, sudah, jadi barang mainan kalo umat Islam kebanyakan cuma diam doang menghadapi kasus kayak gini.

Eh, tapi kalo reaktif nanti dianggap tidak toleran, tidak memaafkan, radikal dan sejenisnya? Ya, kita kok jadi serba salah ya? Mau membela diri dibilang salah. Mau menanggapi, dianggap salah. Jadi maunya mereka apa sih? Ya, maunya mereka kita sebagai muslim diam aja. Nggak usah bertingkah. Eh, logika lo gila, Mas! Siapa yang salah, kok yang membela diri malah disalahkan. Jangan-jangan nanti pihak kepolisian untuk kasus ini (seperti kasus sebelumnya), malah ngejar perekam dan penyebar video tersebut. Hadeuh… kalo gitu enakan di pelaku dong?

Banyak tapi ‘sampah’

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ini memang gambaran kondisi umat Islam saat ini. Banyak, tapi bagai buih di lautan. Dipermainkan ombak, ke kiri dan ke kanan. Kadang dilambungkan ke atas bersama gelombang, dan ditenggelamkan saat gelombang menurun. Atau bagaikan sampah yang diseret air hujan di jalanan dan selokan. Menyedihkan.

Gambaran itu sangat merugikan kita sebagai muslim. Jumlah banyak, tapi gampang dipermainkan oleh mereka yang membenci Islam dan umatnya, yakni dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang kafir.

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani)

Dalam hadits dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa suka berjumpa dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridhoan serta surga-Nya, ia senang bertemu Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR Muslim no. 2685)

Penjelasan singkat dari hadits ini, para ulama menggolongkan takut akan kematian menjadi dua macam:

Pertama, takut yang tidak tercela, yaitu takut mati yang sifatnya tabi’at yang setiap orang memilikinya.

Kedua, takut yang tercela, yaitu takut mati yang menunjukkan tanda lemahnya iman. Takut seperti ini muncul karena terlalu cinta pada dunia dan tertipu dengan gemerlapnya dunia sehingga banyak memuaskan diri dengan kelezatan dan kesenangan tersebut. Inilah yang disebutkan dalam hadits dengan penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.

Duh, kita introspeksi diri, yuk. Jangan-jangan memang banyak di antara kita yang punya penyakit wahn alias cinta dunia dan takut mati. Sehingga meski jumlah kita banyak tapi ibarat buih di lautan atau malah sampah yang terbawa air hujan. Naudzubillahi min dzalik.

Sadar, lalu lawan!

Sobat gaulislam, ini bukan ngajarin reaktif, lho. Tapi sejatinya orang yang sudah sadar memang bisa melawan kalo ada ancaman terhadap dirinya. Hanya orang yang nggak sadar alias lagi lalai or lagi tidur aja yang nggak tahu kalo dirinya dalam bahaya.

Itu sebabnya, sekarang kita kudu sadar diri. Supaya nggak terus-terusan dianggap mainan sama orang-orang yang membenci Islam, yakni dari kalangan munafik dan kafir. Tapi selama kita masih planga-plongo aja, ya mereka akan senantiasa membodohi kita, mempermainkan kita, bahkan mencelakakan kita. Seperti selama ini. Banyak kasus yang merugikan kaum muslimin, tapi kaum muslimin secara umum merasa anteng-anteng aja. Tak begitu banyak yang sadar dan melakukan perlawanan. Malah, ada juga yang sengaja menjadi temannya orang yang seharusnya dilawan karena telah merugikan Islam dan kaum muslimin.

Mau tahu kasus-kasusnya? Selain yang terbaru yang sudah dituliskan di atas, ternyata umat Islam juga rata-rata lama panasnya. Lola alias loading lama, kalo itu terkait urusan agama. Banyak sudah yang menista agama Islam, tapi kaum muslimin umumnya nyantai nggak peduli. Kalo pun bereaksi, hanya sesaat saja. Setelah itu adem dan jadi beku. Contoh nyata, kasus tuduhan terorisme.

Entah kenapa, mungkin karena takut dicap radikal atau dianggap bagian dari teroris, akhirnya banyak dari kaum muslimin menutup mata, menutup mulut, bahkan malas sekadar menggerakan jari-jari tangannya untuk menuliskan perlawanan melalui rangkaian kata dan kalimat, bahwa Islam tak mengajarkan terorisme dan kaum muslimin bukan teroris. Itu saja nggak berani dilakukan. Ini sungguh menyedihkan.

Pilpres yang baru saja usai, membelah pandangan rakyat. Ada dua kubu yang berlawanan. Ngerinya, sesama muslim saling hujat hanya karena perbedaan pilihan. Itu mungkin belum seberapa. Sebab, ada juga muslim yang kebawa-bawa cara pandang orang kafir hanya karena berbeda pilihan politik.

Omong-omong, emang pilpres kali ini paling kacau dan brutal. Perbedaannya sangat runcing karena ibarat sudah berbeda akidah. Pasalnya, kubu 01 banyak didukung orang kafir, munafik, liberal, dan Islam abangan. Sementara kubu 02, lebih banyak didukung kaum muslimin yang kental keislamannya, aktivis dakwah, ulama, dan orang-orang yang cinta Islam banget. Jelas dua kubu yang sangat kontras. Bahkan sampai sekarang masih terasa ketegangannya. Apalagi setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memenangkan kubu 01, sehingga pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin jadi Presiden dan Wakil Presiden untuk Periode 2019-2024. Seluruh gugatan kubu 02 ditolak MK. Padahal, kecurangan dari kubu 01 sangat nyata dan sesuai fakta di lapangan.

Sobat gaulislam, meski masih remaja, kamu bukan berarti merasa nggak perlu bahas beginian. Justru perlu juga, agar tidak dibodohi atau dianggap mainan belaka oleh mereka yang benci ajaran Islam dan kaum muslimin. Tentang cara berbusana saja, mereka menyerang muslimah yang mengenakan kerudung dan jilbab sebagai budaya Arab. Padahal, sejatinya menyerang Islam. Cuma mereka nggak berani bilang langsung bahwa itu ajaran Islam. Kalo mereka bilang begitu, namanya ngajak perang. Umat Islam yang shalatnya bolong-bolong aja mesti mendidih darahnya kalo agama mereka dihina. Silakan dijajal.

So, Islam itu agama, keyakinan, dan ideologi. Bukan mainan. Janganlah kita mempermainkan ajaran Islam dengan berbagai candaaan, pun jangan pula diam kalo ada orang munafik dan kafir yang menista ajaran Islam. Kalo diam, nanti dicap menyetujui tindakan mereka. Memangnya kamu mau disamakan dengan orang munafik dan orang kafir? Ih, jangan sampe deh!

 Kabarkan kepada mereka, bahwa umat Islam pantang bikin onar. Tapi kalo ada pihak mana pun yang mencoba menghina dan menista ajaran Islam, maka umat Islam semestinya memang harus bangkit dan melawan. Agar mereka yang benci Islam tak lagi menganggap Islam dan umatnya sebagai mainan mereka.

Sedih rasanya, kalo Islam dan umatnya kini djadikan mainan dan tontonan. Persis singa atau macan di kebun binatang. Wibawanya jatuh, meski tampangnya masih terlihat garang. Tapi kegarangannya tak ditakuti, malah jadi hiburan pengunjung kebun binatang. Menyedihkan.

Jadi, ayo tunjukkan jati diri sebagai muslim sejati. Muslim yang diperhitungkan, bukan muslim yang hanya dianggap sebagai bilangan. Maka, ayo sadar, belajar, dan berpikir. Setelahnya, dakwahkan Islam agar nampak karakter Islam sebagai rahmatan lil alamin. Rahmat bagi semesta alam. Sebab, Islam memang bukan mainan. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: