Wednesday, 28 February 2024, 16:36

gaulislam edisi 843/tahun ke-17 (5 Jumadil Akhir 1445 H/ 18 Desember 2023)

Memang sih, kayaknya hampir setiap orang pernah berbohong. Tapi orangnya model kita-kita, ya. Masih belum ajeg banget prinsipnya. Namun, kalo ada yang sering berbohong, itu perlu dipertanyakan keimanannya. Gimana pun juga, kalo dikatakan pernah, bisa jadi banyak orang pernah berbohong. Namun kemudian bertaubat nggak mau melakukannya. Mungkin juga ada yang sesekali berbohong, tetapi kemudian diiringi dengan istighfar, walau kemudian malah melakukan lagi tersebab tak tahan godaan. Kalo model gini, introspeksi diri dan masih ada peluang untuk menghentikan kebiasaan bohongnya, karena selalu diiringi dengan istighfar, minta ampunan dari Allah Ta’ala, juga menyesal.

Nah, yang agak berat, bahkan sulit banget itu kalo terbiasa berbohong sehingga udah jadi tabiat. Nggak merasa salah kalo berbohong. Bahkan sangat kreatif dalam berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Aduh, yang model gini berat banget, kecuali dia sadar diri dan mau bertaubat lalu memperbaiki diri. Namun, sayangnya, kalo udah jadi tabiat agak sulit berubah. Itu sebabnya, meski banyak yang menasihati, tetapi pelakunya juga kudu mau berusaha untuk berubah dan menyadari bahwa kebohongannya selama ini adalah kesalahan. Kalo ngotot nggak merasa bahwa itu salah, ya agak berat. Sulit, malah.

Sobat gaulislam, nggak usah jauh-jauh deh, di antara kita dan teman kita aja pastinya pernah deh kita temuin kasus kebohongan. Bohong alias nggak jujur, bagi orang yang lemah iman dianggap hal biasa. Sebab, dia melakukan karena tak merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Nggak takut azab dari Allah Ta’ala atas perbuatan dosanya. Jadi, pasti yang model gini akan merasa bebas dan menikmati kebohongannya. Kalo di kantin, zaman saya masa SMP dulu, tahun 80-an, ada istilah darmaji (dahar lima ngaku hiji, alias makan lima tapi ngakunya cuma satu). Biasanya makan gorengan di kantin. Karena sistemnya pascabayar (ambil dan makan lalu bayar kemudian), jadinya ada aja yang nggak jujur. Dimakan 5 biji tapi ngakunya cuma 1. Apalagi yang makannya lebih dari itu, tapi ngakunya cuma sebiji, dosanya banyak. Ngeri.

Kalo pejabat publik gimana? Duh, kalo soal dosa, khususnya kasus berbohong, ya tetap dosa. Mau sedikit atau banyak bohong, tetapi berdosa. Namun, tentu akan lebih besar dosanya kalo itu dilakukan sering, dia seorang pejabat publik, dan urusannya dengan rakyat banyak. Bahaya banget. Perlu diwaspadai ketika menjelang pemilu biasanya banyak orang nyebar hoax demi memenangkan jagoannya. Timses masing-masing paslon umumnya tak malu dan nggak risih bikin konten dengan narasi yang memutarbalikkan fakta. Memuji jagoannya, menyerang lawannya. Salah dibuat benar, yang benar disalahkan. Silakan kamu cari sendiri soal itu. Udah cukup sering dan memang ada faktanya. 

Janji-janji saat kampanye tinggal janji saja. Ketika dia terpilih jadi pejabat, sebagian besar janjinya malah menguap. Kalo udah kayak gini, layak menyematkan “pembohong” kepadanya. Bisa juga nggak amanah. Sebab, udah janji tapi nggak ditepati. Sepertinya memang satu paket antara kebohongan dan pengkhianatan. Orang yang sering berbohong, biasanya memang tidak amanah. Ngeri banget!

Harun bin Sufyân al-Mustamly bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Bagaimana cara engkau mengetahui para pendusta?” Imam Ahmad menjawab, “Dengan (melihat) janji-janji mereka.” (diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dalam al-Kamil dan as-Sam’âny dalam Adabul Imlâ`)

Jadi, silakan lihat janji-janji dia sekarang, lalu buktikan ketika dia udah meraih apa yang diinginkannya. Kalo berbohong, maka janjinya nggak akan ditepati. Udah, gitu aja kok repot.

Jujurlah, jangan bohong!


Sobat gaulislam, berbohong itu akan merugikan orang lain, dan juga merugikan diri sendiri. Merugikan diri sendiri karena pembohong itu sedang menzalimi dirinya sendiri karena udah berbuat dosa. Kalo berbuat dosa, tentu kelak akan diminta pertanggungan jawabnya oleh Allah Ta’ala. Artinya, akan diperhitungkan dan diberikan sanksi alias hukuman. Ngeri banget, deh!

Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berlaku jujur. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS at-Taubah [9]: 119)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

“Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS Muhammad [47]: 21)

Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Muslim, no. 2607)

Dalam riwayat lain, yakni hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR Tirmidzi, no. 2518 dan Ahmad) 

Jadi dalam hal ini, jujur adalah suatu kebaikan sedangkan dusta (menipu) adalah suatu kejelekan. Artinya, kebaikan pasti selalu mendatangkan ketenangan, sebaliknya kejelekan selalu membawa kegelisahan dalam jiwa. Silakan kamu pikirkan dengan cermat. Bohong itu bikin gelisah, nggak tenang. Takut ketahuan, takut terbongar kebohongannya. Itu sebabnya, para pembohong biasanya melakukan kebohongan untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Terus begitu entah sampai kapan. Selain itu, kamu perlu tahu bahwa orang yang sering berbohong itu akan susah dipercaya banyak orang. Beneran. Emang ada orang yang suka kalo dibohongi, apalagi ditambah dengan dikhianati? 

Kalo orang yang normal mestinya marah dan kecewa kalo dibohongi dan dikhianati. Ada dulu sesebapak yang katanya mau timbul tenggelam bersama rakyat. Hal itu disampaikan saat kampanye capres. Eh, ternyata gagal. Nggak tahan jadi opisisi, lalu menerima tawaran jabatan sebagai menteri dari orang yang jadi lawannya saat pilpres. Aduh, jelas pendukungnya yang waras pasti kecewa dengan sikap sesebapak tersebut. 

Jadilah orang yang jujur, Bro en Sis. Kejujuran adalah akhlak yang mulia. Iyyas bin Mu’awiyah rahimahullah berkata:

‏امتحنتُ خصال الرجال، فوجدت أشرفها صدق اللسان، ومَنْ عُدِمَ فضيلة الصدق، فقد فُجع بأكرم أخلاقه.

“Saya memperhatikan sifat-sifat orang-orang besar, maka saya mendapati yang paling mulia adalah kejujuran ucapan. Barang siapa tidak memiliki keutamaan sifat jujur, berarti dia telah menderita dengan kehilangan akhlaknya yang paling mulia.” (dalam Tarikh Dimasyq, jilid 20, hlm. 10)

Ada yang bilang, jujur itu bisa mujur (beruntung), tapi pendusta bakalan celaka. Ada benarnya juga. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

‌‎الصادقون يدوم أمرهم، والكذابون ينقطع أمرهم، هذا أمر جرت به العادة وسنة الله التي لن تجد لها تبديلا.

“Orang-orang yang jujur, urusan mereka akan langgeng. Adapun para pendusta, urusan mereka akan terputus. Hal ini telah terbukti berdasarkan pengalaman dan merupakan sunnatullah yang tidak akan engkau jumpai adanya perubahan padanya.” (dalam Syarh al-Aqidah al-Ashfahaniyyah, hlm. 682)

Jadi, dusta adalah dosa dan aib yang buruk banget. Selain udah jelas banget dalil dalam al-Quran dan dalam hadits terkait larangan berbohong, juga umat Islam bersepakat bahwa berdusta itu haram. Di antara dalil tegas yang menunjukkan haramnya dusta adalah hadits berikut ini,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah.” (HR Bukhari no. 2682 dan Muslim no. 59, dari Abu Hurairah)

Duh, ngeri. Bisa dicap ke golongan orang munafik. So, jangan sampe bohong jadi kebiasaan. Sebab, kalo udah biasa malah jadi karakter atau tabiat. Jadinya disebut si tukang bohong. Emang kamu mau digelari si tukang bohong? Kalo nggak mau, maka jangan jadi tukang bohong. Tukang bohong itu karena saking seringnya berbohong. Bahkan sudah jadi kebiasaan. Kalo udah kayak gitu, malah jadi tabiat alias karakter. Ngeri.

Yuk, perbaiki diri. Jangan suka berbohong dan jangan nekat berbohong. Sebab, kalo udah jadi kebiasaan bakalan sulit diubah. Dia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Parahnya, jika terus berlanjut sepanjang masa. Itu namanya rugi kuadrat. Jangan, ah. Bagi kamu yang udah terbiasa bohong, segera stop bohong, lalu start jujur. Bismillah. Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan kepada kita. [O. Solihin | IG @osolihin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *