Mengapa Harus Bunuh Diri?

gaulislam edisi 640/tahun ke-13 (1 Jumadil Akhir 1441 H/ 27 Januari 2020)

Assalamualaikum, Bro en Sis? Apa kabarnya nih? Wah, sudah akhir bulan lagi euy. Masih semangat, kan? Pastinya dong! Akhir bulan kayak gini sering kanker, tahu. Kantong kering. Eh, nggak kering juga sih. Yaaa menipis gitu alias lagi kritis (eits, kok jadi curcol sih?). Ada yang senasib? Oke, mungkin kalian mah masih ada duit dari orang tua ya. Santuyy! (hehehe…). Bagaimana pun kondisinya, semoga tetap semangat beribadah dan menimba ilmu, dong. Masa’ ibadahnya gitu-gitu saja. Mau ganti bulan nih, Bro en Sis! Nggak mau kan jadi rugi? Tingkatkan yuk! Asyiaaap!

By the way, bulan Januari ini diliputi dengan berbagai peristiwa yang bikin ngelus dada. Salah satunya kasus pelajar bunuh diri yang kembali terjadi. Memang nggak asing sih. Tahun-tahun sebelumnya juga ada. Yang bikin heran, kok bisa gitu melepas nyawa dengan mudahnya. Rata-rata usianya kan masih muda. Iya lah, namanya juga remaja SMP-SMA. Usia yang penuh gejolak. Termasuk gelojak (eh, sampai typo gini saking semengatnya nulis) asmara.

Cihuy! Masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Waktunya pencarian jati diri. Mengejar mimpi. Meraih cita-cita setinggi mungkin. Walaupun masih sering labil. Iya, kan? Ngaku deh! Sayang dong, cita-cita saja belum terwujud eh malah mengakhiri hidup. Caranya pun ekstrim. Apa sih yang merasuki mereka?

Masih ingat dengan Nadila siswi kelas lX SMPN 147 Jakarta yang terjun dari lantai 4 gedung sekolahnya? Kejadiannya terjadi hari Selasa, 14 Januari 2020 sekitar pukul 15.30 WIB. Sore itu jam sekolah sudah selesai. Ada beberapa siswa yang lagi ikut kegiatan ekskul. Bermodal kursi sekolah, Nadila naik dan berdiri di tepi tembok. Menginjak kanopi lalu melompat. Buuuum! Dia pun jatuh dan tergeletak di lapangan sekolah. Siswa lain berteriak histeris melihat Nadila terluka parah. Sempat dibawa ke klinik terdekat kemudian dirujuk ke RS Tugu Ibu. Lagi-lagi karena keterbatasan alat medis. Nadila pun dirujuk ke RS Polri Kramat Jati. Setelah dua hari dirawat di ruang ICU, pukul 16.45 WIB Nadila menghembuskan nafas terakhirnya.

Bullying

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Banyak yang menyayangkan dan bertanya alasan di balik aksi super nekad Nadila. Para netizen menduga dia adalah korban bullying. Apa benar Nadila sering dibully? Kabarnya sih sebelum bunuh diri, saat jam istirahat Nadila izin ke UKS karena merasa sakit. Di sana dia tidur dan bangun saat jam sekolah sudah berakhir. Tas miliknya nggak ada di kelas karena disita guru yang marah karena Nadila nggak ikut kelas terakhir. Guru baru mengizinkan Nadila mengambil tas esok harinya dengan ditemani orang tua.

Panik. Nadila takut ayahnya marah besar kalau tahu dia dihukum sampai harus mendatangkan orang tua ke sekolah. Jika ayahnya marah, beliau pun nggak segan memukul. Ditambah nggak ada satu pun teman yang memberitahu guru kalau Nadila sakit dan istirahat di UKS. Rasa marah dan kecewa pun dia tumpahkan lewat pesan WhatsApp kepada teman-temannya. Nadila memberitahu soal rencana bunuh diri. Sayangnya nggak ada yang bisa mencegah. Sebab, sebagian besar teman-temannya sudah pulang dari sekolah.

Di usianya yang masih 14 tahun, Nadila punya bakat menggambar sketsa dan anime. Hasil karyanya sering diposting di akun Instagram. Ada satu sketsa wajah seorang wanita yang diketahui adalah ibunya. Dalam status gambar itu Nadila menulis kerinduannya pada sosok ibu yang sudah meninggal bulan Maret 2019 lalu. Ternyata nih dari goresan gambar lain Nadila pernah menulis ‘I want to die’. Wah, sebenarnya rencana bunuh diri sudah lama muncul di benak Nadila.

Kasus Nadila ini mengejutkan banyak pihak. Sempat juga jadi trending topik di Twitter. Pembahasan soal bullying di sekolah pun kembali disoroti. Bullying memang sudah jadi masalah di lingkungan sekolah. Baik secara fisik atau verbal. Zaman sekarang mah beraksinya lewat sosmed, Bro en Sis. Nah, yang nge-bully di situ tuh aslinya cemen. Serius!

Masalah keluarga

Sehari sebelum kasus Nadila, siswa kelas X SMK jurusan Teater di Surabaya juga bunuh diri. Siswa berinisial RH gantung diri di rumahnya. Aksi nekad itu dia tayangkan lewat Video Call kepada salah satu temannya, Bro en Sis. Video berdurasi kurang dari 5 menit berhenti saat posisi RH sudah tergantung. Auto kaget tuh yang lihat! Kata temennya, sebenarnya sudah ada sinyal aneh dari RH. Beberapa hari terakhir dia pernah pasang gambar orang gantung diri di story WhatsApp. Dia ngejapri teman-temannya berisi permintaan maaf. Ada lagi nih. Ternyata RH menulis surat wasiat yang ditemukan di TKP. Isinya singkat. Intinya sih dia bilang sudah nggak punya cita-cita, nggak perlu ngasuh dia lagi, menyinggung soal renovasi rumah dan bertemu setiap malam Jumat. Ih, agak horor gimana gitu ya! Ckk…ckk…

Di sekolah, siswa berusia 17 tahun ini dikenal pendiam. Di rumah sering sendirian karena orang tua sibuk berjualan di Demak dan tinggal di sana. Sebenarnya kakak perempuan dan suaminya tinggal di rumah. Nyatanya, mereka pun berjualan dan selalu pulang malam. Kesepian deh! Sementara nih kata saudaranya dugaan kuat RH bunuh diri karena takut dimarahi orang tuanya. Soalnya pas malam tahun baru kemarin motornya di sita polisi.  Knalpotnya brong sih dan dimodifikasi. Ampun deh! Akhirnya motor itu diurus sama orang tuanya. Habis 600 ribu buat nebus. Waduh!

Coba saja kalau dibicarakan baik-baik. Kasihan sih sudah mah kesepian, kurang perhatian dan kasih sayang orang tua. Mungkin motornya pemberian dari orang tua. Pasti mereka pengen motornya dipake anak buat hal baik. Eh tahunya disita dan harus ditebus. Orang tua pasti kesal. Siapa tahu dulu beli motor dari hasil jerih payah mereka. Marah itu normal selama dalam batas wajar. Tanpa makian dan kekerasan. Seberapa marah sih orang tua RH? Nah itu dia yang masih tanda tanya. Ada yang tahu?

UN dan tugas sekolah

Sobat gaulislam, sudah banyak kasus pelajar bunuh diri usai UN. Depresi karena soal ujian yang susah, takut nggak lulus, gagal masuk sekolah favorit bahkan ada juga yang bunuh diri gegara ngelapor guru yang ketahuan kasih contekan. Eh bukannya si guru ditindak malah siswinya dimarahi sama guru BK. Diancam segala, loh. Katanya kalau dibocorin bakal kena denda ratusan juta. Oh no!! Salah sasaran atuh, Pak! Pasti takut dan depresi kan, dia. Jadi bunuh diri dah. Nah loh!

Di Blitar siswi SMP nekat gantung diri di kamar kostan. Kabarnya sih dia depresi nilai akademiknya turun. Cita-cita pengen masuk SMA favorit di Kota Blitar. Malah pesimis takut nggak diiterima. Cemas mikirin masalah zonasi. Soalnya dia tinggal di kabupaten. Biasanya yang diutamakan wilayah kotanya dulu. Padahal siapa tahu kan bisa lolos asal nilai UN nya tinggi. Jangan nyerah dong!

Seorang siswi SMPN 1 Tabanan Bali memutuskan mengakhiri hidupnya setelah mengikuti ujian Matematika di hari kedua. Wah, MTK nih! Ngerjainnya memang bikin puyeng, ya. Jangankan pas UN, kadang ngerjain PR nya saja sering bingung. Masa’ sih? Kamunya kali yang males atau nggak merhatiin waktu guru jelasin. Selama ini modal nyontek doang. Siapa tuh? Hehe. So, bukan hanya soal UN yang bisa jadi penyebab bunuh diri. Faktanya, banyak yang stres karena tugas sekolah. Belum lagi kalau gurunya killer. Memang ada, ya? Ah, kadang ada loh yang kasih julukan begitu. Iya, kan? Siapa guru killer di sekolahmu? Hahaha… Peace!

Percintaan

Nah, ini dia yang jadi sebab utama para buciners bunuh diri. Contoh deketnya nih seperti yang dialami Zahra Fadilla, siswi kelas lX SMP Eka Wijaya, Cibinong, Kabupaten Bogor yang melakukan hal sama seperti Nadila. Melompat dari lantai 4 gedung sekolah. Walaupun kejadiannya 4 tahun lalu tetap saja bikin pilu. Bedanya dengan Nadila, alasan Zahra bunuh diri karena diputusin pacar. Ya ampun! Segitunya coba. Cuma cinta monyet loh, padahal. Paham juga belum makna cinta sejati. Sudah merasa seperti orang yang paling tersiksa di dunia hingga berani bunuh diri.

Hellow! Hidup tanpa pacar itu disyukuri atuh. Pacaran mah nanti saja sama pasangan yang halal alias suami. Eaa… Kapan tuh? Eh, fokus belajar dulu ya! Nggak usah mikirin pacaran. Kalau suka, ya tinggal minta saja sama Allah. Yakin, jodoh mah sudah ditakdirkan. Tinggal kita yang pilih dan ikhtiar mau dapet yang sholeh/sholihah. Sip dah!

Awal Desember kemarin, seorang pelajar SMK di Kintamani gantung diri di pohon cengkeh di lahan kebun milik ayahnya. Depresi setelah didatangi keluarga mantan pacar. Sudah 4 bulan putus, tiba-tiba mantannya datang dan bilang dia lagi hamil 4 bulan. Duh, gawat! Nah, itu tih salah satu akibat dari pacaran berujung zina dan akhirnya hamil, kan. Salah sendiri! Nggak kebayang deh tuh dosanya gimana. Sudah berzina, bunuh diri lagi. Na’udzubillah min dzalik! Jangan sampe deh! Nah, belum lagi soal perselingkuhan, cinta segi-segian. Segi tiga, empat, lima dan seterusnya. So, banyak ya penyebab pelajar bisa bunuh diri. Eh, syaitan juga punya andil, loh. Seneng banget tuh deketin orang yang putus asa dan lemah iman. Hati-hati, ya!

Sabar dalam ujian

Sobat muda, siapa sih yang hidupnya adem ayem terus? Bahagia terus? Nggak ada deh! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam saja diuji, loh. Padahal beliau kan dijamin masuk surga dan bersih dari dosa. Tapi masih diuji? Sekarang kita sih enak bisa belajar Islam. Sedangkan Rasul saat mendakwahkan Islam diuji berat banget, loh. Perjuangannya luar biasa. Dihina, diludahin, dilemparin batu dan kotoran, diusir. Macem-macem deh pokoknya. Beliau tetap sabar. Tanpa membalas dengan perbuatan yang sama. Yakin, bahwa Allah akan menolong. Maa syaa Allah. Coba kalau kita yang digituin gimana jadinya tuh? Dibully dikit saja sudah sakit hati, ya. Diceramahi malah marah. Kesinggung dikit musuhan. Dendam. Gimana mau masuk surga? Lets think!

Namanya hidup ya pasti ada saja masalah. Akan selalu ada ujian menghampiri. Itu semua bagian dari Qodho (ketetapan Allah Ta’ala). Takdir manusia. Melalui ujian adalah cara Allah mengukur sekuat apa iman kita. Cara Allah menaikkan derajat orang-orang beriman. Sesulit apapun ujian hidup, cobalah terima dengan ikhlas meski pahit. Jangan mudah menyerah. Belajar sabar dalam menghadapi setiap ujian. Bunuh diri bukan solusi atas masalah yang dihadapi. Yakin, ada kemudahan di balik kesulitan. Ada hikmah dalam setiap ujian. Allah Ta’ala berfirman, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (QS Al-Insyirah 94: Ayat 5)

Juga dalam firman-Nya, “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S Hud: 115)

Peran orang tua

Sobat gaulislam, dalam menangani kasus bunuh diri yang dilakukan remaja memang perlu peran berbagai pihak. Terutama orang tua yang wajib memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak-anaknya. Mereka seharusnya yang mengawasi, mendidik dan mengarahkan kepada kebaikan. Mereka lah tempat belajar pertama bagi si anak. Bukan sekolah.

Banyak nih orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya pada sekolah. Sementara mereka sibuk bekerja. Saat anaknya bermasalah, sekolah yang harus disalahkan. Salah ini mah, Bro en Sis. Sekolah itu tempat belajar selanjutnya setelah rumah. Anak yang sudah dididik dengan baik di rumahnya akan membawa pengaruh baik pula di sekolah. Tentunya pendidikan sesuai ajaran Islam yang harus ditanamkan. Pastinya, dong!

Saat anak sedang mengalami masalah, orang tua harus peka dan jadi tempat curhat bagi anaknya. Jangan biarkan dia menumpuk masalah sendiri. Dengarkan dan berikan solusi terbaik atas masalah yang dihadapinya. Bangunlah komunikasi yang baik dengan anak. Jangan biarkan dia mencari tempat lain untuk meluapkan emosinya. Insyaa Allah anak pun pasti senang jika orang tua respek.

Perbaiki akidah, perkuat keimanan

Bro en Sis, bunuh diri di kalangan pelajar itu karena krisis iman. Akidahnya yang wajib diperbaiki. Tauhid harus dipelajari, dipahami dan diamalkan. Faktor penyebab seperti fakta di televisi yang mengarahkan kepada bunuh diri harus disetop. Berita seputar bunuh diri harus dikurangi dan diberikan penjelasan agar tidak jadi inspirasi remaja lainnya. Yuk, belajar Islam. Gabung di komunitas keislaman. Bergaul dengan orang-orang shalih/shalihah. Siap? Oke deh! Semangat semuanya! [Muhaira | IG @ukhty.muhaira]

Leave a Reply

%d bloggers like this: