Merdeka! Merdeka?

gaulislam edisi 669/tahun ke-13 (27 Dzulhijjah 1441 H/ 17 Agustus 2020)

Kayaknya banyak orang yang tahu definisi semu. Ya, semu itu tampak seperti asli atau sebenarnya, padahal sama sekali bukan yang asli atau sebenarnya. Nah, ini yang akan kita bahas. Mumpung momennya pas. Hari ini adalah peringatan hari kemerdekaan negeri kita dari penjajah. Diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Berarti udah 75 tahun dari sekarang. Penjajahan itu menyengsarakan. Sebab, satu negeri yang dijajah jadi tak berdaulat, diperas kekayaan alamnya dan ditindas hak-hak rakyatnya. Siapa sudi hidup begitu. Iya, kan?

Alhamdulillah, penjajahan secara militer di negeri ini nggak ada lagi. Memang pernah para penjajah masih belum rela melihat negeri ini merdeka, buktinya ada perang setelah proklamasi tersebut. Ada peristiwa 10 November 1945. Secara umum, ada catatan sejarah Indonesia selama tahun 1945—1949 (17 Agustus 1945 s.d. 27 Desember 1949) dimulai dengan masuknya Sekutu diboncengi oleh Belanda dalam hal ini Nederlandsch Indië Civiele Administratie (NICA) ke berbagai wilayah Indonesia setelah kekalahan Jepang, dan diakhiri dengan penyerahan kedaulatan kepada Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Terdapat banyak sekali peristiwa sejarah pada masa itu, pergantian berbagai posisi kabinet, Aksi Polisionil oleh Belanda, berbagai perundingan, dan peristiwa-peristiwa sejarah lainnya.  

Sobat gaulislam, ada beberapa peristiwa pemberontakan bersenjata antara tahun 1948 s.d. 1965 di beberapa daerah yang kemungkinan besar ada campur tangan pihak asing di dalamnya. Namun, alhamdulilah berhasil ditumpas. Meski, tentu saja, kalo mau jujur sih, sampai sekarang tetap ada pemberontakan semisal OPM alias Organisasi Papua Merdeka yang dideklarasikan sejak 1965. Tentu saja, ada pihak asing juga yang kuat bermain di sana. Masih ada rongrongan. Anehnya, nggak mau tuh pemerintah menyebut mereka sebagai teroris. Ya, cuma dibsebut sebagai KKB alias Kelompok Kriminal Bersenjata. Beda perlakuan kalo yang melakukannya kaum muslimin, langsung deh labelnya jadi teroris. Asli parah abis!

Jadi secara militer, tak nampak ada negara yang menjajah negeri kita. Jika pun ada, pihak asing yang nggak suka Indonesia aman, mereka meminjam tangan-tangan di dalam negeri untuk melakukan kekacauan, ya seperti OPM dan sejenisnya.

Bagaimana secara ekonomi? Hehehe.. jangan ngimpi merdeka sepenuhnya, Bos. Kita nggak bisa lepas dari tangan penjajah dalam bidang ini. Buktinya, utang negara aja guede buwanget. Entah siapa yang mampu membayarnya. Udah tercekik utang nyaris sempurna. Sebab, negeri ini meski melimpah sumber daya alam, tetapi tak dikelola dengan benar dan baik. Tambang emas di Papua tak sepenuhnya menjadi milik negeri ini. Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. sudah menambang emas sejak 1966. Memang sih kerjasama dengan perusahaan negeri ini, yakni dengan PT Indonesia Asahan Aluminium, tetapi secara fakta Freeport-McMoRan lebih berkuasa. 

Bagaimana dengan budaya? Kamu nggak usah jauh-jauh dan berat-berat mikir, sebab faktanya melimpah di sekitar kamu sendiri. Apa itu? Budaya Barat dan negara-negara lainnya menjadi tren di negeri kita. Musik, olahraga, fashion, gaya hidup, makanan, dan permainan. Pendek kata, 3 F (Food, Fashion, and Fun) sudah didominasi asing. Kita, meski ada produknya, malah kalah bersaing. Bukan saja karena pihak asing modalnya kuat, tetapi karena masyarakat kita lebih mengejar gengsi. Merasa kalo produk dari luar jadi naik level.

Beneran, lho. Kayaknya bangga banget remaja yang mengenakan merek pakaian dari Barat. Produk lokal yang dibeli bisa jadi karena tak mampu beli yang merek mancanegara. Kalah bersaing. Makanan juga sama. Maka, menjamurlah resto-resto cepat saji atau gerai-gerai produk luar di negeri kita. Produk lokal seperti tak berdaya menghadapi gempuran tersebut.

Lihatlah pula bocah dan bocahi kita yang udah tak berselera (atau memang nggak tahu) dengan permainan khas negeri ini yang lebih mengandalkan aktivitas fisik dan di luar ruangan. Sekarang banyak bocah yang lebih anteng dengan PUBG, Mobile Legend dan sejenisnya. Tak perlu keluar rumah, anggota tubuh yang gerak aktif cuma jari-jari tangan. Itu pun yang lebih sering jempol dan telunjuk.

Pun demikian. Gaya hidup seleb-seleb dari mancanegara menjadi teladan remaja negeri ini. Awalnya sekadar nonton film dan clip musik mereka. Lama-lama, kontennya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari lalu jadilah pribadi yang bukan lagi khas pribumi. Seleb-seleb dari Korea dan Eropa jadi idola remaja negeri ini, termasuk ibu-ibu yang doyan drakor.

Kalo mau dieksplor akan jadi banyak problem yang belum terselesaikan. Namun demikian, kita tetap patut bersyukur bahwa kita sudah ada di zaman bebas penjajahan secara fisik. Artinya, masih bisa memikirkan bagaimana caranya terbebas dari penjajahan nonfisik (yang udah dicontohin faktanya tadi). Syukuri yang ada, sambil terus berupaya agar bisa menjadi lebih baik.

Kemerdekaan ideal

 Bro en Sis rahimakumullahu, pembaca setia gaulislam. Merdeka, artinya nggak dijajah. Itu pasti kamu tahu. Yap, merdeka artinya kita nggak dikendalikan pihak lain. Kita bisa bebas melakukan apa saja yang kita suka selama itu memang sesuai dengan prinsip hidup kita. Orang lain nggak boleh ada yang mendikte kita, apalagi mencampuri urusan “dalam negeri” kita. Itu namanya merdeka.

Lawan dari merdeka adalah terjajah. Nah, terjajah artinya hak-hak kita dibatasi, keinginan kita juga dikebiri, kita nggak bisa bebas ngapa-ngapain. Praktis hidup kita bergantung kepada “tuan” kita.

Kamu tahu Djoko Soegiarto Tjandra alias Joe Chan? Ya, dia adalah seorang pengusaha dan buronan korupsi asal Indonesia. Pada 2009, ia melarikan diri ke Papua Nugini sehari sebelum ia dijebloskan ke penjara karena perannya dalam penggelapan dana perbankan. Kenapa dia kabur (walau sekarang katanya udah ketangkep lagi)?

Sebab dia kagak sudi hidup di balik jeruji besi. Nggak bisa bebas. Meski konon kabarnya dapat perlakuan istimewa. Tapi tetep aja namanya juga di penjara bukan seperti di rumah. Emang enak? Sebab ia tahu, yang namanya penjara adalah “rumah” paling mengerikan sedunia.

Kamu tahu Alcatraz? Yang pernah nonton film The Rocks–yang dibintangi Sean Connery dan Nicolas Cage (duh, jadul banget sih, ketahuan yang nulis umur berapa)–paling nggak bakal tahu kondisi penjara itu. Wah, itu penjara federal AS paling angker sedunia. Bener. Mereka yang dikirim ke sana biasanya napi kelas berat (tapi bukan Gerombolan Si Berat, ya).

Di antara daftar penjahat top yang pernah menghuni hotel prodeo Alcatraz adalah Al `Scarface` Capone (Alphonse Gabriel Capone), George `Machine Gun` Kelly, Robert Franklin `Birdman of Alcatraz` Stroud, Alvin `Creepy` Karpis, Floyd Hamilton, dan Arthur `Doc` Barker. Mereka yang tinggal di sini pasti nggak betah dan ingin kabur. Jangankan yang katanya angker, yang “mewah” aja bikin nggak betah. Penjara memang mengerikan. Itu sebabnya semua orang nggak mau tinggal di sana. Nah, bagi orang seperti itu, kemerdekaan adalah barang langka dan mahal harganya.

Jadi, kembali ke persoalan semula. Merdeka adalah terbebasnya kita dari segala penghambaan kepada hawa nafsu dan aturan orang lain, seraya kita mengikatkan dan menundukkan diri kita sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Sebab, itulah sebaik-baik penghambaan kita. Kalo sekarang kita masih terjajah oleh hawa nafsu, masih dikendalikan dan didikte oleh orang lain, maka kita jelas masih terjajah alias belum merdeka. Padahal dalam shalat, kita udah berikrar kepada Allah, bahwa kita akan menyerahkan segalanya kepada Allah Ta’ala. Firman-Nya, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,” (QS al-An’âm [6]: 162)

Inilah hakikat kemerdekaan. Kalo kita bicara soal masyarakat, berarti masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman aturan masyarakat lain, begitu pula dengan negara. Negara yang merdeka adalah negara yang mandiri, dan tidak dikendalikan oleh aturan negara lain.

Kalo sekarang? Kita masih terjajah, kawan. So, masyarakat kita masih belum bisa melepaskan ikatan yang dijeratkan ideologi kapitalisme. Tragisnya lagi, kita malah menjadi pejuang pesan-pesan ideologi kufur ini. Sebut saja, masyarakat kita masih doyan bergaya hidup permisive alias bebas nilai. Makna kebahagiaannya adalah banyaknya materi yang berhasil dikoleksi, bukan lagi ridho Allah.

Itu sebabnya, kemudian masyarakat kita dituntut untuk melakukan hal yang haram sekalipun untuk meraih kebahagiaan materi. Bila perlu nyari harta dengan cara gila-gilaan. Masyarakat kita pun malah fasih melafalkan dan melaksanakan ide demokrasi ketimbang Islam. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih menjadi bagian dari masyarakat Barat. Itu artinya belum merdeka, Bro en Sis.

Negara? Ih, sama aja tuh. Bayangin aja, kita masih menjadi negeri yang lemah dengan mengharap bantuan dari lembaga internasional macam IMF. Kita masih percaya dan patuh pada Amrik dan China. Kita masih mempercayakan sistem hukum kita kepada ideologi kapitalisme dan bisa jadi juga komunisme. Itu artinya, kita masih dijajah, kawan. Wah?

Ya, penjajahan gaya baru. Secara fisik memang nggak terlihat serdadu musuh berseliweran di negeri ini, tapi secara hukum, ekonomi, sosial, dan politik plus pemerintahan, kita benar-benar dikendalikan negara lain; AS dan Eropa. Berarti kita belum merdeka. Kalo gitu? “Mati!”

Ironisnya lagi, bila kemudian kita ternyata malah mewarnai hidup kita dengan gaya hidup mereka. Ih, makin kacau aja ya? Kehidupan kita benar-benar disetir dan dipoles dengan kehidupan dari negara lain. Ngurus pandemi Covid-19 aja tergantung titah WHO (lembaga kesehatan dunia). Konon kabarnya juga siapa pemimpin negeri pilihan, juga atas pertimbangan kepentingan kuasa negara lain. Para remaja gemar bertingkah ala seleb mancanegara, dalam berpakaian pun dalam kebiasaan hidup. Jadi, piye Jal?

Benar apa yang ditulis oleh sosiolog muslim terkenal, Ibnu Khaldun, bahwa “Yang kalah cenderung mengekor kepada yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”

Lalu bagaimana kita sekarang? Bagi kita yang muslim, perjuangan belum selesai. Sebab, Islam belum tegak kembali di dunia ini. Terus berjuang menyiapkan kondisi masyarakat agar siap ketika Imam Mahdi memimpin dunia ini. Alhamdulillah, sudah banyak juga yang paham ajaran Islam, dari bab thaharah hingga dakwah, dan pemerintahan. Keren. Perlu terus dikembangkan pemahamannya.

Apa kontribusi kita untuk negeri ini? Indonesia adalah negeri kaum muslimin. Pernah juga menjalin hubungan dengan kehilafahan Turki Utsmani, bahkan ada yang mengatakan bagian dari kekhilafahan tersebut. Berarti sudah ada jejak Islam di negeri ini. Bukti yang tak bisa dibantah, Indonesia adalah negeri muslim terbesar jumlah penduduknya saat ini.

Yuk, berjuang melepaskan negeri ini dari belenggu penjajahan nonfisik yang udah disebukan banyak dalam tulisan ini. Gimana caranya? Pertama banget, kamu kudu sadar bahwa negeri ini belum merdeka sepenuhnya. Kedua, menyiapkan dan memahamkan diri dengan ajaran Islam, dilanjut dengan dakwah kepada masyarakat untuk menyampaikan ajaran Islam seutuhnya. Ketiga, memperjuangkan tegaknya kembali Islam sebagai ideologi negara di bawah naungan Khilafah Islamiyah yang insya Allah akan diemban Imam Mahdi menjelang akhir zaman ini. Sehingga benar-benar merdeka. Kalo sekarang kan, masih ragu. Udah teriak: Merdeka! Eh, faktanya: “Merdeka?” [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: