Tuesday, 18 June 2024, 14:59

gaulislam edisi 867/tahun ke-17 (26 Zulqaidah 1445 H/ 3 Juni 2024)

Wah, bagi yang sering main sosmed mestinya udah terbiasa dengar kata-kata ini (ini sekadar menuliskan contohnya, bukan menormalisasi keburukan): SDM rendah, warga Konoha. Malah bisa jadi akrab juga dengan kata-kata: kaum 58%, kaum 24%, anak Abah, warga +62, nggak ada otak, planga-plongo, kadrun, cebong, kampret, IQ 200 sekolam, dungu, YNTKTS, nyebut nama-nama binatang kepada lawan debatnya, dan beragam gelar-gelar buruk lainnya atau setidaknya identik dengan hal negatif dan merendahkan. Begitulah. Kita disuguhi dengan hal negatif bin buruk saban hari. Sudah dianggap wajar alias normal aja dilakukan. Eh, apakah mereka nggak berpikir akibatnya, ya? Gimana kalo dibaca anak kecil, gimana kalo akhirnya jadi kebiasaan. Ngeri banget, sih.

Kalo dibilang SDM rendah, tentu nggak semua dong. Pasti ada yang kebalikannya. Cuma, mungkin saja yang lebih tinggi nilainya itu nggak suka komen modelan gitu, mereka lebih suka diam atau menunjukkannya dengan prestasi. Kadang berpikir juga sih, kalo yang seharian main di medsos dan rajin caci maki dan sumpah serapah saat komen, apa memang nggak ada kerjaan lain (atau memang itu pekerjaannya?). Cuma ya, mestinya nggak gitu-gitu amat. Sampe lupa adab. Merendahkan orang lain, bahkan kepada ulama ada yang berani menghina. Itu udah kebablasan, sih. Parah banget.

Jangankan di dunia maya, di dunia nyata pun kelakuannya ada banyak yang begitu buruk. Kalo di dunia maya orang bisa bersembunyi di balik akun anonim, nggak kelihatan wujud aslinya, bahkan memajang foto yang bukan bergambar dirinya sendiri, sehingga bisa menyamarkan dari pantauan orang lain. Itu artinya dia bisa bebas melakukan apa pun, termasuk mencaci maki pengguna medsos yang menjadi lawan debatnya. Toh mereka mungkin mengira nggak bakal ada yang tahu, walau sebenarnya ada juga teknologi yang dikuasai orang tertentu untuk melacaknya.

Nah, yang di dunia nyata aja banyak kok yang nggak beradab. Ketemu di jalan berpapasan, nggak ada senyum-senyumnya sedikit pun. Mukanya asem kayak sayur asem udah seminggu. Kalo pun nggak kenal, ya setidaknya bermuka manis lah kalo ketemu di jalan. Eh, tapi kalo sama lawan jenis jadi ribet juga urusannya, khawatir menaruh hati atau sedang caper. Tetap dijaga kalo ini mah, jangan caper niatnya. Setidaknya jangan selonong boy atau selenong girl. Ada adabnya saat berjumpa. Tapi ini perlu kajian khusus, nggak bisa dalam penjelasan sekilas. Kalo di Pesantren Media tempat saya mengajar, para santri selain belajar adab-adab keseharian, juga ada materi khusus terkait aturan dan batasan pergaulan santri putra dan santri putri, yakni materi pelajaran Tata Pergaulan Pria Wanita dalam Islam.

Sobat gaulislam, itu artinya di pembahasan edisi kali ini saya ingin mengajak kamu berpikir. Melalui pilihan judul seperti ini semoga bisa bikin sadar, ya. Emang mau dibilang SDM rendah? Emang pengen digelari sumbu pendek yang mudah marah gara-gara cuma baca judul atau caption singkat di postingan Instagram, TikTok atau thumbnail youtube? Nggak, lah! Apalagi kemudian isinya jauh berbeda dengan judul atau caption tersebut. Itu namanya musibah, kena jebakan batman. Jadi, pantes aja kalo dibilang SDM rendah. Oppss…

Aturan dan batasan

Banyak remaja yang adab atau attitude-nya rendah. Oya, sebenarnya kalo mau lebih luas pengamatanya, bukan cuma remaja kok yang begitu, tetapi semua kalangan usia, bahkan yang udah bangkotan alias bau tanah kuburan masih ada aja yang berperilaku buruk. Memprihatinkan. Seolah itu adalah gambaran (walau nggak utuh), tetapi sebagian besar memang jadi pekerjaan banget untuk memperbaikinya. Kalo mobil atau motor dan benda mati lainnya yang masih mungkin dengan mudah diperbaiki, tetapi kalo manusia itu kan punya akal, belum lagi yang punya akal tapi ngawur, maka upaya memperbaikinya jadi lebih ekstra. Baik ekstra waktunya, tenaganya, pikirannya, maupun biayanya.

Ngomong-ngomong soal aturan dan batasan, mestinya kamu para remaja mulai belajar atau setidaknya mengingatkan kembali pelajaran yang udah diberikan. Ketika bergaul dengan orang lain, baik di kehidupan langsung (nyata) sehari-hari dengan tetangga atau teman, juga di media sosial dengan teman lama atau kenalan baru tetapi nun jauh tempatnya, tetap aja kudu ada adabnya. Ada aturan dan ada batasan. Nggak bebas sesukanya. Termasuk mana teman yang bisa diajak untuk kebaikan atau malah kudu menghindari teman yang berperilaku buruk kalo nggak bisa menasihatinya.

Al-Hafizh Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti rahimahullah mengatakan, “Beberapa tanda kedunguan yang wajib bagi orang yang cerdas untuk memeriksanya pada diri orang yang statusnya masih samar baginya, yakni yang: 1) Cepat menjawab; 2) Tidak mengklarifikasi (suatu permasalahan); 3) Tertawa berlebihan; 4) Sering menoleh; 5) Menjatuhkan orang-orang yang baik; 6) Bergaul dengan orang-orang yang jelek.” (dalam Raudhatul Uqala’ wa Nuzhatul Fudhala’, hlm. 119)

Kalo di medsos atau di kehidupan sehari-hari kamu dapetin orang berperangai buruk, dan kamu nggak bisa mengingatkannya, lebih baik jaga jarak, jauhi. Khawatir kamu yang kebawa buruk kelak. Nasihat bagus dari Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah yang mengatakan, “Bergaul dengan orang yang hatinya berpenyakit dapat menimbulkan penyakit (hati), hidup bersamanya (akan membuat) keracunan (tertulari kejelekan), dan duduk-duduk bersamanya adalah suatu kebinasaan.” (dalam Ighashatul Lahfan, hlm. 9)

Jadi, kalo di medsos ada yang udah ketahuan susah dikasih tahu ketika komennya nggak ada adab, kita tinggalin aja deh. Jangan ikutan nge-like pendapatnya, apalagi bikin komen untuk menunjukkan dukungan ke dia. Diam aja. Jauhi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Jika seseorang secara diam-diam suka bergaul dengan orang-orang jahat, dia harus di-tahdzir (dijauhi dan berhati-hati darinya).” (dalam Majmu’ul Fatawa, jilid 35, hlm. 414)

Jadilah orang yang baik bagi teman dan orang lain pada umumnya. Carilah orang yang baik yang bisa menjadi teman akrabmu agar tertular menjadi baik. Akhlaknya baik. Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi, bergaul atau bermuamalah dengan manusia dengan tutur kata yang baik, lebih mereka cintai daripada berbuat baik dengan cara memberikan harta kepada mereka.” (dalam Majmu Rasail al-Hafizh ibn Rajab al-Hanbali, jilid 4, hlm. 43)

Sobat gaulislam, kadang risih juga baca komen-komen netizen di media sosial. Apa aja dikomentari, dan yang lebih gemes ada yang sok tahu. Udah salah dan banyak yang ngingetin malah kabur nggak bertanggung jawab. Banyak juga yang muka tembok alias tetap ngeyel. Nggak mau mengakui kesalahannya. Nggak fair banget. Modelan begitu nggak usah dijadikan teman. Kalo nggak bisa nasihatin, ya jauhi. Begitulah barangkali jadi wajar kalo digelari kaum SDM rendah. Amat wajar kalo Imam al-Hasan al-Bashry rahimahullah berkata, “Menjauhi orang yang dungu merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.” (dalam Kitab al-Uzlah, hlm. 48)

Masyarakat kita sedang sakit

Kamu pernah nggak sakit or ngeliat orang yang sakit? Misalnya, menderita sakit yang berat. Biasanya, penampilan yang muncul selalu yang jelek-jelek, dong. Badan kurus kering, rambut rontok, kulit borok-borok, napas udah senen-kemis, degub jantung aja lemah banget.

Kondisi masyarakat kita sekarang juga nggak jauh beda dengan orang yang sedang sakit. Tanda-tandannya apa? Itulah, yang sedang kita bahas. Caci maki jadi biasa, saling menghina, saling memberi gelar-gelar yang buruk, bahkan ada yang menghina ulama. Belum lagi urusan angka kejahatan terus membesar, pembunuhan, perjudian, pelacuran, kemiskinan yang grafiknya kian meningkat, biaya pendidikan yang kian mahal, pejabat pemerintah yang doyan korupsi, maraknya riba, ekonomi yang morat-marit, perpecahan di mana-mana, kerusuhan seperti udah nggak kenal lelah, hiburan bertabur maksiat kian marak, baik di tayangan tv maupun lingkungan kita sendiri dan di medsos, juga beragam kemaksiatan lainnya udah jadi label yang kayaknya sulit banget untuk dihapus dari masyarakat kita.

Idih, siapa sudi sih hidup kayak begini? Andai semua orang tahu kalo masyarakatnya sedang sakit, kayaknya bakalan cepet berusaha untuk menyembuhkannya. Seperti halnya, kalo yang sakit tubuh kita sendiri. Biasanya, langsung trengginas berobat ke dokter. Sayangnya, sebagian besar masyarakat nggak ngeh dengan panyakit yang mendera kehidupan ini. Atau karena mereka menjadi bagian dari penyakit itu? Wah, sangat boleh jadi, dan itu artinya nggak bakalan merasakan kejanggalan tersebut, dong? Tepat sekali.

Akibatnya, sebagian ada yang berusaha untuk memberikan penyembuhan, eh, sebagian yang lain, yang emang pelaku kemaksiatannya malah kalap dan nolak mentah-mentah, bahkan pake ngancem segala. Kayak bujangan yang lagi seneng ngimpi ketemu puteri cantik dan dikipasin segala di taman yang indah, eh, kita bangunin. Udah untung nggak disepak juga. Padahal, kalo kita pikir kan kesenangan itu cuma mimpi.

Sobat gaulislam, idealnya karena sedang sakit berarti butuh dokter, dong? Tepat sekali. Dan biasanya, kalo orang udah sadar dengan penyakitnya, maka ia akan berusaha untuk menyembuhkannya. Bahkan boleh jadi taat banget sama anjuran dokter. Misalnya aja dokter memberi resep agar obat ini diminum sehari tiga kali, obat yang itu diminum setelah makan siang, obat lain lagi diiminum dua hari sekali. Selain itu, kudu getol menjaga kesehatan badan, misalnya dianjurkan untuk olahraga ringan di pagi hari. Ada makanan yang pantang untuk dimakan, guna mempercepat proses penyembuhan. Bahkan bila sang dokter menganjurkan untuk ngecek kesehatan secara rutin tiap bulan pun akan dilakukan. Kenapa? Karena dia sayang sama badannya.

Nah, itu juga bisa diumpamakan kepada kehidupan masyarakat, lho. Bener. Jadi, kondisi masyarakat yang tengah sakit ini butuh dokter sebagaimana halnya kalo tubuh kita lagi nggak enak badan. Tentu tujuannya supaya masyarakat ini bisa sembuh dari penyakit yang selama ini dideritanya.

Nah, yang jadi dokter masyarakat ini adalah orang-orang yang tentunya udah tahu kondisi penyakit masyarakat. Kita? Bisa jadi kalo emang layak untuk memberikan solusi. Ulama? Sudah pasti, insya Allah mereka selalu berada di garis depan untuk menyadarkan mereka. Pemerintah? Mestinya, sih. Cuma, apa yang bisa diharapkan dari pemerintah saat ini yang rasa-rasanya jauh banget dari baik. Malah tugas ulama jadi berat karena selain mengingatkan umat yang awam, juga memberikan nasihat kepada para pemimpin.

Namun demikian, jangan putus asa. Mulai dari kita, dari yang bisa kita lakukan, dan mendukung para ustaz dan ulama dalam berdakwah. Kita bagian teknis juga nggak apa-apa, semisal nyebarin video atau tulisan para ustaz dan ulama untuk mengajak kepada kebaikan, dan semoga dengan begitu akan banyak orang yang sadar dan ikut berjuang. Memang di awal-awal bisa jadi belum sempurna. Jadi, kalo kamu tetap mencari yang sempurna, aku mundur. Tapi kalo kamu nyari nasi uduk, aku nitip. Eh, kok ke sini jadinya? Balik lagi, deh. Jadi intinya, selamat berjuang, kawan! [O. Solihin | TikTok @osolihin_]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *