Jilbab, Cadar, dan Instagram

gaulislam edisi 544/tahun ke-11 (8 Rajab 1439 H/ 26 Maret 2018)

 

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Masih semangat kan buat belajar Islam lebih luas? Harus dong! Saya aja udah semangat duluan, nih. Buktinya aja awal-awal udah heboh nyapanya. Hehehe… Biarin! Oke, di edisi kali ini, kita akan bahas tentang jilbab dan cadar di medsos. Siap-siap, ya!

Heran nggak sih kalau lihat akhwat berjilbab suka selfie? Sebenarnya nggak terlalu sih. Cuma, yang diheranin tuh, akhwat berjilbab plus bercadar tapi doyan selfie. Haishh, bingung, sih. Habisnya, tujuan dari berjilbab (termasuk yang melengkapinya dengan bercadar) itu kan selain melaksanakan syariat Islam, juga untuk melindungi diri dari mata-mata jahat yang melihat kita. Nah, tapi kenyatannya, di zaman sekarang banyak sekali akhwat yang mengabaikan tujuan dari apa yang mereka pakai. Apalagi sekarang banyak banget selebgram bercadar dengan ribuan follower-nya. Kebayang kan, gimana banyaknya mata-mata yang sudah menikmati keindahan akhwat bercadar. Mungkin kamu berpikir, “Kan bercadar, jadi no problem, dong.” Eits, malah itu masalahnya, Sis.

Namun memang di sisi lain, banyak yang bercadar sesuai tujuan, yaitu menjaga iffah dan izzah mereka. Ataupun niatnya buat jualan busana muslimah. Ya, pasti dong kalau jualan cadar plus jilbab online di instagram, harus ada fotonya (walau lebih aman tampilkan aja foto jilbab dan cadarnya, jangan sama orangnya). Tapi, akhwat yang bercadar namun melenceng dari tujuan juga nggak kalah banyak, tuh. Salah satu contohnya, sebagaimana yang telah disebut di atas, ya.

Di media sosial, khususnya Facebook dan Instagram, bertebaran tuh akun-akun para akhwat bercadar. Nah, dari situ, saya melihat bahwa akhwat yang bercadar itu sangat cantik dan anggun. Astaghfirullah, padahal udah tertutup, lho. Kok masih ada yang tertarik, ya. Dengan begitu kita dapat menyimpulkan, bahwa meluruskan niat itu penting. Kalau nggak, nanti jadinya malah bawa mudharat sendiri bukan malah melindungi. Jangan mau rugi, gaes!

 

Ridho Allah, bukan ridho manusia

Sobat gaulislam, apa yang seharusnya kita harapkan dari menutup aurat? Pastilah ridha dari Allah Ta’ala, dong. Lha, kalau tujuannya jadi selebgram yang pamer kecantikan meski sebagian besar wajah tertutup cadar, gimana Allah mau ridha, coba? Berarti kita mengharapkan nikmat duniawi doang, dong. Ridho dari manusia, dong? Ketenaran, nggak bakalan ngejamin kita buat masuk surga, Bro en Sis. Allah menyuruh kita untuk menutup aurat agar kita mudah dikenal. Dikenal sebagai apa? Sebagai seorang muslimah. Sehingga kita bisa mendapatkan rahmat dan juga terhindar dari fitnah.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilababnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak digangggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Tuh, jadi jangan sampai kita menutup aurat, tapi masih aja doyan cekrek-cekrek habis itu upload-upload demi liker yang banyak. Seharusnya, dengan semakin tertutupnya diri kita, semakin pula kita taat pada Allah. Bukan malah jauh dari tuntunan dan melencengkan niat kita dalam menutup aurat. Menutup aurat bukanlah untuk pamer kecantikan, dan membanggakan diri hanya karena keindahan fisik kita, lho. Kalau gitu sih, apa bedanya kita dengan wanita yang tidak menutup aurat? Palingan cara berpakaiannya yang beda, tapi niatnya sama aja. Jangan-jangan dosanya juga nggak jauh beda, kan? Capek, deh!

Sebagaimana perintah Allah di surah al-Ahzab ayat 59, kita berjilbab, menutup aurat agar kita menjadi muslimah yang taat pada Allah dan agar tak sembarang orang dapat melihat kita sehingga mengakibatkan suatu fitnah yang akan membawa kita pada keburukan itu sendiri. Itu tujuan utamanya. Kalau ada tujuan yang lain, buang ke laut aja!

Apa jadinya kalau para muslimah yang bercadar malah memamerkan kecantikannya dan keanggunannya yang tertutup di medsos? Tanpa kita sadari, sebenarnya fitnah sudah ada di mana-mana, loh. Sekarang salah siapa? Salah sendiri. Kalau yang bercadar saja sampai bisa mengakibatkan fitnah, apalagi yang tidak menutup auratnya dengan sempurna? Pasti bakal lebih kacau, kan. Duh, kasihan juga, ya. Kalau menutup auratnya sudah sempurna, niatnya juga harus diluruskan dengan sempurna. Agar tidak terjadi kerugian satu sama lain.

Kalau ada desas-desus, “Mendingan nggak nutup aurat, kalau yang bercadar aja kelakuannya nggak jauh beda kayak kita.” Jleb. Kok kesel, ya. Tanggapan yang kayak gitu jangan dibenarkan, gaes. Itu namanya malah memperburuk keadaan. Hati-hati juga buat yang punya tanggapan kayak gitu. Khawatirnya diiyakan alias dijadikan dalih sama mereka yang lebih kuat nafsunya ketimbang takwanya, lalu dibuat prinsip. Nah, nanti dosanya jadi dosa jariyah, lho. Ngeri!

Harusnya emang nggak gitu. Kenapa kita nggak fokus aja untuk mulai dengan menutup aurat dan taat, jangan melulu lihat orang lain. Jadikan diri sendiri contoh bagi orang lain, bukan menjadikan orang lain sebagai contoh diri. Kalau orang yang dicontoh bener, sih nggak masalah. Kalau nggak bener, ya kita yang kudu benerin.

Terus kalau foto bareng, gitu? Itu sih nggak masalah kalau dibuat untuk mengabadikan sebuah momen kebahagiaan bersama. Tapi, kalau upload, terus dipamerin, apalagi teruntuk kalian yang makan-makan satu geng di tempat mewah? Please deh, kalian tuh muslimah. Jaga izzah, jaga iffah, jaga hati juga agar tidak terlalu membanggakan diri setiap kali ada notifikasi di instagram bahwa liker dari foto yang kalian upload tadi udah nyampe ratusan or ribuan. Ditambah lagi kalau follower-nya juga membludak. Duh, hati-hati aja deh pokoknya, ya. Banyak-banyak istighfar ya, Sis. Intinya sih, jangan sampe upload yang begituan, sehingga orang gagal fokus.

Buat kalian juga para Bro, maksudnya yang ikhwan, nih. Jangan asal follow, like, terus comment aja akun-akun para akhwat muslimah (terutama yang udah bercadar namun masih belum beda kelakuannya dengan yang muslimah biasa). Takutnya kalian juga bisa menjadi dalang dari kemiringan niat mereka dalam menutup aurat. Paham nggak, nih? Harus!

Kok bisa, sih? Kan akhwatnya yang upload? Sama aja. Karena biasanya, nih, adalah akhwat yang sekadar iseng upload foto. Entah itu foto momen atau sekadar selfie. Terus ada satu, dua, sepuluh ikhwan yang nge-like, plus nge-follow si akhwat. Kebayanglah gimana nge-fly-nya si akhwat ini (kalau pas akhwatnya yang baperan). Kalau udah gitu, akhwatnya jadi ketagihan buat upload-upload lagi, karena pasti senenglah kalau jadi pusat perhatian. Waspada, Sis!

 

Lakukan tips ini

Sobat gaulislam, agar nggak terjadi hal-hal yang negatif seperti cerita di atas, beberapa hal harus kita lakukan dengan istiqomah. Nah, memang istiqomah itu berat. Tapi, semua bertahap. Istiqomah bisa terjaga kalau kita melakukan hal-hal yang diridhai Allah. Apa saja itu? Yuks, simak kiat-kiatnya.

Pertama, ngaji, ngaji, dan ngaji. Ngaji mulu, nggak bosen? Eits, jangan bilang bosen kalau kita masih susah untuk menjaga keistiqomahan kita. Gaes, ngaji itu bukan membaca al-Quran dong. Tapi mentadabburi dan mengkajinya. Kalau sulit kita lakukan sendiri, jangan susah hati. Zaman sekarang serba mudah kalau masalah itu. Kita bisa mencari informasi seputar Islam di internet. Ataupun, kita bisa juga menyambung relasi, sehingga kita bisa juga tahu dan ikutan kajian-kajian keislaman di majelis taklim atau komunitas kajian remaja. So, nggak ada alasan untuk nggak ngaji. Bosen atau malas, bukan alasan yang syar’i. Jadi nggak diterima, hehehe…

Kedua, senantiasa bergaul dengan orang-orag yang bisa saling menjaga. Menjaga agar salah satu dari kita tidak terjerumus pada hal yang dilarang Allah. Saling mengingatkan, itu penting dalam suatu hubungan persahabatan. Biar masuk surganya bareng-bareng, gitu lho.

Ketiga, kudu ada niat peduli dengan orang lain. Jangan cuma mikirin diri sendiri. Itu artinya, kalo ngaji udah rajin, gabung dengan orang-orang shalih (kalo antar perempuan ya gabung dengan yang shalihah), maka ajak orang lain untuk juga jadi lebih baik. Ini bentuk kepedulian kepada orang lain. Nah, dakwahkan deh ilmunya. Setuju ya? Kudu!

Kalau kiat-kiat di atas sudah kita lakukan, Insya Allah keistiqomahan kita terjaga kok. Keistiqomahan dalam apa? Ya, tentu dalam menutup aurat. Kalau menutup aurat sudah diistiqomahkan, langkah selanjutnya adalah terus mengkaji ilmu Islam lebih luas lagi. Ya, tentunya agar kita bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. Agar tidak tercampur aduk pada takaran yang tidak pas.

Oya, abaikan orang yang berkata, “Dalamnya dulu yang diperbaiki, baru luar.” Hadeuh, gimana mau bener yang di dalam kalau yang di luar belum diperbaiki (tepok jidat). Jangan sampai deh kita malas ngaji. Why? Karena menuntut ilmu itu harus terus menerus, apalagi belajar Islam, harus lebih serius. Jangan sampai kita berhenti menuntut ilmu karena merasa cukup. Aiiih, kelakuan masih nggak bener gitu kok ngerasa cukup. Jleb!

Eh, ada pesan nih, terutama akhwat yang udah menutup aurat. Jangan sampai deh gara-gara nggak tahu ilmunya, kelakuannya masih sama aja kayak yang nggak nutup aurat. Contohnya, ngerayain ulang tahun dengan cara dibanjur air dan ditaburi bedak atau dilempar telor busuk. Itu kan budaya jahiliyah. Apalagi kemudian di-video-kan dan di-upload ke instagram. Na’udzubillah min dzalik.

Ya, jadi kita sebagai muslimah yang baik, kita harus mengusahakan diri kita agar menjadi baik lagi. Semakin baik, semakin berhargalah kita. Tak perlu memfokuskan diri agar diminati oleh makhluk duniawi yang fana. Sedangkan surga beserta bidadari di dalamnya bisa iri dengan keshalihan kalian para muslimah yang berjuang dan menahan diri agar iffah dan izzahnya terjaga. So, siapa yang mau jadi pusat perhatian bidadari di surga? Angkat tangan. Hehehe… buat yang angkat tangan, kalian harus siap. Ok? Semangat! [Natasha ADW | IG @natashaara11]

Dilema Busana Muslimah

gaulislam edisi 527/tahun ke-11 (8 Rabiul Awwal 1439 H/ 27 November 2017)

 

“Ada seratus Aisyah berbusana muslimah.. Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah..” Yup! Mungkin Bro en Sis, sobat setia gaulislam, ada yang tahu cuplikan lirik lagu lawas di atas. Atau mungkin, boleh deh tanyain ke orangtua atau kakak yang lahir di eranya lagu ini, lagu apaan sih? Yaa.. Bro en Sis, itu tadi adalah sepenggal lirik dari lagu yang dipopulerkan oleh Bimbo yang berjudul “Aisyah Adinda Kita”.

Hmm.. ada apa ya, dengan lagu “Aisyah Adinda Kita” ini? Gini nih, Bro en Sis. Saya sih menemukan sebuah informasi dari lagu tersebut. Bahwa si Aisyah ini, ia berbusana muslimah. Di dalam lagu dijelaskan bahwa Aisyah itu adalah seorang anak perempuan yang sopan dan jelita. Selain itu, ia juga berprestasi. Dan begitulah ceritanya. Hehehe.. Singkat aja, ya. Bro en Sis bisa search sendiri, deh, tentang lagunya Aisyah.

Kenapa, sih, tiba-tiba ngomongin tentang Aisyah yang sopan yang berbusana muslimah? Bener banget, Bro en Sis. Jadi, si Aisyah dalam lagu tersebut adalah sebuah gambaran seorang muslimah. Ketika ia memakai busana muslimah, tercermin pada dirinya juga bahwa ia memiliki sifat yang sopan, paras yang jelita, dan prestasi yang menjulang. Idaman banget nggak, sih?

Seharusnya memang seperti itu, Bro en Sis. Seorang akhwat atau perempuan yang berbusana muslimah, yang tampak dari dirinya seharusnya adalah sesuatu yang baik. Bukannya dengan memakai busana muslimah itu, ia bertingkah yang tidak sesuai dan malah membuat kekhasan busana muslimah itu jadi ternodai.

Kalau melihat fakta-fakta yang terjadi sekarang, rasanya sedih sekali. Terutama kalau menyorot kepada seleb-seleb yang berbusana muslimah, tapi tingkah lakunya bisa dibilang tidak mencerminkan sebagaimana seorang muslimah. Tapi yang lebih membuat sedih lagi ketika melihat seleb yang sebelumnya mengenakan busana muslimah, kemudian melepaskannya. Tidak cukup hanya menghela nafas panjang. Rasanya sangat menyedihkan.

Mengambil dari berita aktual baru-baru ini, kita bisa melihat tentang Rina Nose, yang beberapa waktu lalu terlihat tidak mengenakan busana muslimahnya. Padahal sebelumnya ia dikenal selalu berbusana muslimah. Kira-kira apa alasannya melepas busana muslimahnya, dalam hal ini, kerudungnya? Alasannya bisa beragam. Beberapa media menyebutkan bahwa alasannya berkaitan dengan pandangan bahwa berbusana muslimah tidak menjamin suatu sifat yang baik. RN juga bilang kalo tanpa beragama aja bisa baik, buat apa beragama. Itu dibilang setelah kunjungannya ke Jepang selama dua hari dalam program acara televisi yang dipandunya. Plus juga beberapa alasan lain. Bro en Sis bisa search juga tentang hal ini di Mbah Google, ya.

Kenapa bisa ada muslimah yang ragu untuk berbusana muslimah? Kita bisa mengambil beberapa dugaan dari sini. Mungkin karena ia tidak tahu bahwa ada kewajiban-kewajiban untuk mengenakannya. Atau mungkin karena ia melihat fakta bahwa orang-orang yang berbusana muslimah justru melakukan hal-hal yang tidak baik. Atau mungkin ia sudah tahu tentang aturannya, tetapi masih menggampangkan dalam prakteknya. Nah, Bro en Sis, In Syaa Allah kita akan kupas persoalan ini dalam gaulislam edisi ini. So, stay tune!

 

Berbusana muslimah, kok dilema?

Sobat gaulislam, kalau kita melihat yang sering terjadi pada seleb-seleb yang sering buka-pasang busana muslimah, kita bisa menarik kesimpulan. Apa tuh? Bahwa ketika mereka memakai busana muslimahnya, mereka terkesan jadi main-main atau nggak serius. Bener nggak? Gimana nggak main-main? Coba kita pikirkan, busana muslimah itu seharusnya menjadi sesuatu yang menjadi ciri pengamalan terhadap agamanya. Itu sebabnya, seorang muslimah sadar betul akan konsekuensi yang akan ia pegang ketika mulai memakai busana muslimahnya. Tetapi jika faktanya seperti hanya sekadar kostum saja, maka jadi main-main, kan?

Bro en Sis rahimakumullah, khususnya yang akhwat-akhwat, nih. Kita seharusnya mengetahui hakikat busana muslimah bagi diri kita sendiri. Busana muslimah bukan hanya sekadar kostum atau seragam saja. Tetapi ia adalah sebuah kewajiban. Di dalam aturan Islam yang menjelaskan tentang Tata Pergaulan Pria Wanita dalam Islam, ada sebuah poin yang menyinggung soal pakaian wanita. Yaitu seorang wanita yang sudah terbebani hukum alias baligh atau sudah dewasa secara fisik, wajib mengenakan pakaian lengkap ketika di luar rumah. Ini dia yang kita kenal dengan busana muslimah.

 

Jilbab yang syar’i

Sobat gaulislam. Kamu semua pasti pernah atau bahkan sering mendengar istilah Hijab atau Jilbab Syar’i. Hihihi… Sebenarnya, istilah-istilah tersebut kurang tepat untuk dipakai. Karena jilbab itu sudah pasti syar’i. Karena yang namanya jilbab itu ada syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi agar menjadi jilbab. Nah, kalau ada yang tidak sesuai, maka namanya bukan jilbab. Bener nggak?

Seperti dijelaskan dalam Tata Pergaulan Pria dan Wanita dalam Islam, pakaian wanita ketika pergi ke luar rumah itu ada dua. Yang pertama adalah jilbab. Jilbab artinya adalah baju kurung yang menutupi seluruh tubuh wanita. Di dalam al-Quran, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam agar menyuruh para wanita yang beriman untuk mengulurkan jilbab mereka.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Banyak pendapat yang berbeda tentang bagaimana jilbab itu. Tetapi umumnya, syarat sebuah jilbab yang harus dikenakan wanita ketika keluar rumah adalah tidak tipis atau menerawang dan tidak membentuk tubuh atau ketat. Berarti jilbab itu panjang, tebal, dan lebar.

Oya, yang kedua adalah kerudung. Bro en Sis, di era sekarang ini, orang-orang berbeda-beda dalam menyebutkan pakaian ini. ada yang menyebutnya kerudung, khimar, dan hijab. Ketiganya dapat dibenarkan. Karena kerudung adalah kain yang dipakai untuk menutupi rambut dan leher wanita. Ya, yang boleh terlihat hanya wajahnya. Batasannya adalah menutupi kerah baju tempat keluarnya kepala. Tetapi itu batas minimalnya. Jika ada yang menutupi sampai lebih panjang lagi, itu yang lebih utama bagi wanita. Dan jika ada yang menutupi wajahnya dengan cadar, maka lebih utama lagi. Tidak diwajibkan, tetapi jika ada yang mengenakannya, maka ia lebih baik lagi.

Sobat gaulislam, perlu diingat, nih. Ternyata kalau seorang wanita keluar rumah dengan pakaian yang salah, maka bisa menjadi sangat berbahaya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa mereka seperti berpakaian tetapi telanjang.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, katanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Ada dua macam penduduk neraka yang keduanya belum kelihatan olehku. (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat. Atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka), dan wanita-wanita yang mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal baru surga dapat tercium dari jarak yang sangat jauh.” (HR Muslim)

Serem banget, kan. Itu sebabnya, para akhwat yang In Syaa Allah selalu dijaga oleh Allah Ta’ala, kita harus berhati-hati dalam berpakaian. Mengetahui tuntunannya sangat penting, supaya tidak salah jalan. Ingatkan juga saudara-saudara kita yang lain, ya.. supaya kita bisa masuk ke dalam surga bersama-sama. Aamiin..

 

Jilbab fisik, sikap, dan hati

Bro en Sis rahimakumullah, banyak banget muslimah yang ragu ketika menjilbabkan diri. Kenapa? Mungkin Bro en Sis pernah mendengar argumen seperti ini, “Belum siap, ah, berjilbab. Jilbab-in hati dulu” atau “Mending nggak berjilbab tapi jujur dan budi pekertinya bagus daripada berjilbab tapi munafik”. Hehehe.. Saya selalu ingin ketawa kalau denger argumen-argumen semacam itu. Why? Iya. Kenapa cuma mikir gitu aja. Padahal, masih ada pikiran lain, misalnya: kenapa nggak berjilbab dulu sambil memperbaiki diri? Lebih realistis, kan?

Bro en Sis, khususnya yang Sis, nih. Ya iya, lah. Kalau Bro nggak boleh, ya, berjilbab. Hihihi.. Ayo beranikan diri! Jangan ragu untuk berbusana muslimah. Karena busana muslimah adalah salah satu penanda ketaatan kita kepada Allah Ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan Islam.

Mungkin para Sis kita, masih sedikit ragu karena argumen-argumen di atas tadi. Gini nih, Sis. Seperti yang sempat dibahas sebelumnya, seorang akhwat yang berbusana muslimah, seharusnya akan menampakkan sifat yang baik dari dirinya. Karena ia sudah mengetahui konsekuensinya. Jilbab dan kerudung adalah penanda. Penanda bahwa akhwat tersebut telah mengerti kewajibannya. Maka ia dapat menjadi sosok Aisyah dalam lagunya Bimbo tadi.

Tapi kenapa ada perempuan yang berjilbab tetapi sifatnya tidak juga menunjukkan kebaikan? Nah, itu berarti ia belum mengerti hakikat jilbab yang sebenarnya. Jadi, satu-satunya jalan yang paling tepat untuk diambil adalah sambil belajar memakai busana muslimah, kita juga belajar memperbaiki diri. Oh, iya. Memakai jilbab juga termasuk cara memperbaiki diri, loh.

 

Mengaji untuk menjaga diri

Buat akhwat-akhwat yang sedang berusaha memperbaiki diri, penting sekali untuk selalu bersabar. Sabar dari apa? Sabar dari godaan setan. Baik dari dalam diri maupun yang berkeliaran di luar sana. Bener, loh. Sangat diperlukan untuk bersabar ketika membiasakan diri untuk berbuat baik. Setuju, kan? Pastinya, ya!

Bro en Sis, dalam kebaikan, baik bagi kita untuk melakukannya bersama-sama, dengan keluarga dan juga teman. Untuk apa? Supaya bisa saling menguatkan. Saling mengingatkan untuk kebaikan dan mencegah kemungkaran, tolong-menolong dalam kebaikan, dan juga berlomba-lomba dalam mencapai keridhaan-Nya. Termasuk mengenakan busana muslimah dan menjaganya.

Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah. Menuntut ilmu di mana saja dan kapan saja. Menuntut ilmu itu tidak akan ada habisnya. Mulai ketika akal kita dapat menangkap pelajaran, dan baru akan berhenti ketika akal sudah tidak dapat menangkap apa-apa lagi.

So, sekali lagi khususnya yang Sis, nih. Kita bisa mencapai kebaikan dengan berjilbab. Tidak perlu khawatir kalau masih belum baik. Karena sambil berjilbab, kita harus terus memperbaiki dari. Tetap dekat dengan Allah, dan jangan lupa bersabar agar tak perlu dilema lagi saat mengenakan busana muslimah! [Fathimah NJL | Twitter @FathimahNJL]

Berguguran di Jalan Hijrah

gaulislam edisi 525/tahun ke-11 (24 Safar 1439 H/ 13 November 2017)

 

Sedih, pake banget. Tapi, mau gimana lagi. Semua itu pilihan. Namun tetap ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala kelak. Beberapa hari belakangan ini kita dihebohkan dengan kabar seorang seleb yang memutuskan melepas kerudung trendinya. Eh, kok kerudung? Bukannya itu jilbab? Hehehe… kids zaman now or parent jaman kiwari sudah salah kaprah dalam istilah. Jilbab berbeda–pake banget, dengan kerudung. Jilbab itu pakaian semacam gamis yang tebal-lebar-panjang hingga menutupi mata kaki. Kalo kerudung ya penutup kepala, tapi bukan sekadar menutupi rambut di kepala, lho, tapi wajib hingga menjuntai menutupi bagian punggung dan dada sampai perut. Dalam bahasa Arab disebut khimar.

Lho, kok malah membahas pengertian perbedaan jlbab dan kerudung? Bukankah yang jadi persoalan adalah seleb yang melepas hijabnya? Nah, ini lagi, hijab. Padahal, istilah hijab itu lebih luas lagi. Artinya penghalang. Istilah yang bisa digunakan untuk banyak keperluan. Misalnya, kalo anak laki dan perempuan yang udah pada baligh dalam satu tempat pengajian, itu harus dipisah dengan adanya hijab, misalnya pake kain atau pembatas dari triplek. Ulama juga ada yang menyebutkan bahwa umat Islam saat ini terhijab dengan agamanya sendiri. Artinya, banyak umat Islam terhalang (karena kebodohannya) dari ajaran Islam. Jadi, kebodohan itu menjadi hijab bagi kaum muslimin dari mengetahui ajaran agamanya.

Sobat gaulislam, selain dua pengertian hijab itu, ada juga konsekuensi ketika berhijab. Misalnya, ketika mengenakan hijab berarti kelakuan alias perbuatannya juga wajib disingkirkan dari semua hal yang mengotori atau menodai arti hijab itu sendiri. Mengenakan hijab berarti melakukan kebaikan dan tidak mencampurnya dengan keburukan. Hijabnya akan menghalangi dia dari perbuatan maksiat. It sebabnya, selama masih melakukan keburukan dan maksiat, meskipun mengenakan hijab, berarti belum sempurna berhijab. Gitu!

Wuih, banyak banget aturan ginian. Pantes aja banyak orang yang mau dan sedang berhijrah pada gugur di tengah jalan!

Hei, bukan begitu maksudnya. Justru mereka yang hijrah itu seharusnya dibimbing, dibantu, diarahkan untuk menghindari lingkungan yang bakal menggoda mereka untuk balik ke habitat asalnya. Bukan sekadar disanjung-puji tanpa diarahkan tauhidnya, tanpa disadarkan perhatiannya kepada syariat, tanpa diajak belajar untuk menjadi muslim yang kaafah. Sebaliknya, yang berhijrah juga kudu meniatkan diri untuk sadar total, bukan kadarkum alias kadang sadar kadang kumat. Kedua belah pihak harus serius dalam berhijrah (baik membimbing maupun menjalani hijrah). Mereka yang berhijrah memang kudu disambut dan didukung. Lalu diarahkan. Ya, kita yang udah tahu duluan wajib memberikan bimbingan dan arahan. Jangan membiarkan mereka berada dalam wilayah yang rawan membuat mereka balik lagi jadi jahiliyah.

Begitu pula dari sisi yang hijrah, niat untuk hijrah harus kuat. Bukan sekadar tren atau perasaan semata. Sebab, semua akan dimintai pertanggunganjawab masing-masing. Harus kuat niatnya dan upayanya. Jangan manja, misalnya orang lain diminta memaklumi apa yang kita lakukan walau itu salah dengan alasan masih proses hijrah. Nggak begitu juga kelesss.. Harus siap dan rela meninggalkan lingkungan yang sebelumnya telah berhasil membuat dirinya jatuh ke dalam keburukan. Jangan ambil jalan tengah. Hijrah jalan, tapi lingkungan sebelumnya nggak mau ditinggal. Ini rawan. Iya dong. Bahaya! Beneran. Gimana mau siap kalo kita sendiri nggak berusaha menyiapkan diri untuk serius berhijrah.

Ketika kita memilih hijrah kepada kebaikan Islam, maka totalitas kita membenci jalan keburukan yang dulu menjauhkan kita dari Islam. Seorang selebriti wanita yang memutuskan mengenakan busana muslimah, maka semestinya juga total meninggalkan dunia entertainment. Jika tidak, misalnya memilih jalan tengah dengan tetap mengenakan busana muslimah (yang modelnya mengikuti tren, bukan tuntunan syariat) dan masih ngendon di dunia hiburan, itulah awal bencananya. Setan selalu hadir untuk menggoda manusia kembali maksiat, sehingga banyak yang berguguran di jalan hijrah. Tidak sampai ke jalan kebaikan yang dituju, tapi di tengah jalan balik lagi ke habitat awal keburukannya. Waspadalah! Naudzubillah min dzalik.

 

Hijrah bukan sekadar status

Sobat gaulislam, netizen dibuat heboh ketika seorang selebriti memutuskan melepas kerudungnya. Begitu pun ketika seorang selebriti yang kembali joget setelah lama meninggalkan dunia itu, netizen sontak gaduh. Pro dan kontra pun dengan cepat menyebar memenuhi ruang jagat maya media sosial. Komentar pedas dihunjamkan. Ada juga komentar yang agak bijak, tak sedikit juga nyinyir. Hadeuh… berita buruk kayak gini memang cepat nyebar. Saya sendiri mencoba membahas dari sisi lain. Lebih ke akar masalah. Tidak sepenuhnya menyalahkan pihak yang pro maupun kontra, atau juga kepada selebriti yang bersangkutan. Ini tentang apa yang kita semua ada dalam sistem kehidupan sekularistik saat ini. Tentang banyak di antara kita yang masih percaya (pake banget banget) dengan sebuah bungkus alias casing. Ini tentang kita semua yang hanya memuja-muji tapi tidak memberi bimbingan dan arahan. Ini tentang kita yang hanya bisa mengkritik tanpa solusi. Ini tentang di antara kita yang belum total berhijrah dan meninggalkan keburukan. Ini juga tentang hijrah yang sayangnya masih sebatas status saja dengan tujuan semu duniawi. Bukan tentang keyakinan yang harus diperjuangkan dan membutuhkan pengorbanan.

Padahal, sebelum memutuskan berhijrah, niat itu paling penting. Beneran. Ini ada haditsnya, Bro en Sis. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, itu sebabnya niat memang menjadi kunci penentu perbuatan kita dan konsekuensinya. Niatnya keliru, keliru juga akhirnya. Niatnya benar, benar juga akhirnya. So, pastikan segala sesuatu yang hendak dijalani wajib diniatkan sesuai dengan tuntunan Islam.

Maka, hijrah memang bukan sekadar tren, ikut-ikutan, dan berharap sesuatu dari pujian manusia atau hal duniawi lainnya. Nggak banget. Hijrah niatnya karena Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Nggak boleh dikotori dengan niat lainnya yang sifatnya semu dan sekadar pemuas syahwat dunia. Kalo terlintas dalam pikiran dan perasaan, segera istighfar dan memohon kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjalani proses hijrah kepada kebaikan yang diajarkan Islam.

 

Mengapa berguguran?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kasus selebriti yang baru-baru ini melepas busana muslimahnya bukanlah hal baru. Sebelumnya sudah banyak. Hidayah memang sepenuhnya dari Allah Ta’ala. Dialah yang berkehendak atas segala sesuatu, termasuk memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Tugas kita hanya menunjukkan jalan menuju hidayah kepada seseorang, bukan memberi hidayah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS al-Qashshash [28]: 56)

Nah, mengapa bisa mudah kembali kepada keburukan yang telah dijalaninya di masa lalu? Ini bukan hanya selebriti lho, orang-orang biasa juga banyak. Hanya saja, namanya juga selebriti, orang terkenal, maka apa pun yang dilakukannya pasti jadi sorotan dan jadi bahan berita. Kalo orang biasa kan, hebohnya cuma di lingkungan kecil mereka saja. Nggak bakal dibahas di infotainment atau disebar akun gosip di media sosial. Jadi, apa penyebab banyak orang berguguran di jalan hijrah ini?

Faktor pertama, belum mantap niatnya. Ini sudah disinggung sedikit di subjudul sebelumnya. Ya, niat memang menjadi ukuran seseorang memutuskan apa yang akan dilakukannya. Salah niat, salah juga memutuskan. Harus ikhlas karena Allah Ta’ala. Menurut Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”

Faktor kedua, belum ajeg pemahaman tentang penciptaan manusia. Untuk apa sih kita hidup di dunia ini? Padahal, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Allah tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS al-Mu’minun [23]: 115)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (dalam Madarij as-Salikin, 1: 98)

Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS al-Qiyaamah [75]: 36)

Faktor ketiga, taubatnya belum optimal. Sehingga hijrahnya jadi belum ideal. Harus taubat beneran. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS at-Tahrim [66]: 8)

Ibnu Katsir menerangkan mengenai taubat yang tulus sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.”

Faktor keempat, lingkungan yang belum baik. Bagi para selebriti yang hendak berhijrah, atau kita-kita yang orang biasa (karena belum terkenal se-Nusantara dan se-alam dunia), lingkungan yang buruk harus dijauhi dan ditinggalkan. Ini ada hubungannya dengan faktor ketiga di atas. Beneran. Sulit banget kalo kita mau baik, tetapi kita masih betah dan ngendon di lingkungan yang nggak baik, bahkan buruk. Padahal, pada saat udah taubat dan ingin hijrah beneran, maka segala hal yang bisa menggoda agar kita kembali maksiat wajib kita hindari dan jauhi. Kalo nggak, ya setan paling pinter menggoda manusia labil. Waspada!

Yuk, kita doakan semoga siapa saja yang ingin berhijrah kepada kebaikan Islam, semoga dikuatkan dan dimudahkan menjalaninya. Bagi yang berguguruan di jalan hijrah, semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kembali dan kita juga berusaha menyadarkan mereka. Ya, diajak dan disadarkan.Bukan di-bully atau dinyiyirin. Jika sudah berusaha menyadarkan kembali, baik langsung maupun tidak langsung seperti pada tulisan ini, semoga kita tak termasuk saudara sesama muslim yang lalai, sebab sudah berbuat semaksimal kita bisa untuk menyadarkan mereka.

Bagaimana pun pada akhirnya, semua itu pilihan. Tetapi ingat, ada konsekuensi atas apa yang kita pilih. Semoga kita memilih yang terbaik bagi kehidupan kita di dunia dan di akhirat, yakni memilih Islam sebagai pedoman hidup kita. Semangat! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Anak dan Kenakalan Orangtua

gaulislam edisi 511/tahun ke-10 (14 Dzulqa’dah 1438 H/ 7 Agustus 2017)

 

Waduh! Emang ada ortu yang nakal ya? Kalo di cerita Pendekar Pemanah Rajawali sih ada, namanya Ciu Pek Tong (dikenal sebagai Bocah Tua Nakal), salah satu gurunya Kwee Ceng. Jiahaha, itu sih dalam cerita fiksi, dong (lagian kurang nyambung dengan tema ini, hehe..). Kalo dalam kenyataan ada nggak? Banyak! Jujur aja nih, sebenarnya kalo mau fair ngelihat aksi ortu dalam keluarga kita, atau keluarga besar kita rasanya perlu juga kita jembrengin. Ya, siapa tahu para orangtua kita juga akhirnya nyadar supaya jangan selalu menyalahkan seratus persen bahwa kenakalan remaja itu akibat kita nggak taat, kita nggak nurut sama ortu. Sebab, seringkali ortu dalam keluarga dan ikatan keluarga besar justru mengajarkan kenakalan yang akhirnya lambat-laun kita ikuti. Tapi, tentu saja nggak semua ortu nakal, sebagaimana nggak semua remaja tuh nakal. Betul nggak?

Apa sih yang dilakukan ortu kita di rumah dan keluarga besar kita sehingga bisa disebut kenakalan orangtua?

 

Seputar akhlak

Sobat gaulislam, pertama kita lihat dari sisi akhlak. Kok bisa? Bener lho. Entah apakah karena terlalu sibuk atau nggak ngerti harus berbuat, banyak ortu di rumah yang abai dalam soal akhlak Islam yang baik ini. Padahal, anak or kita-kita akan belajar pertama kali dari cara ortu, karena begitu dekatnya jarak antara kita dengan ortu.

Oya, akhlak ini adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim. Sebab, secara etimologis atau bahasa (lughatan) akhlaaq (bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Secara terminoligis (ishtilaahan) ada beberapa definisi. Misalnya menurut Imam al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara menurut Abdul Karim Zaidan, akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, hlm. 1-2)

Oya, definisi yang agak mudah dipahami dan sesuai fakta adalah yang saya dapetin nih pendapatnya Muhammad Husain Abdullah (Dalam bukunya, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm 100), disebutkan bahwa secara bahasa akhlaq berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (as-sajiyah) dan tabiat (at-thab’u). Sedangkan menurut istilah (makna syara’) akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat akhlak ini tampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitas—seperti ibadah, mu’amalah, dan lain sebagainya. Tentu, jika semua aktivitas itu ia lakukan secara benar sesuai tuntunan syariat.

Intinya nih, akhlak bukan semata sifat moral, tapi emang perintah dari Allah Ta’ala. Itu sebabnya, ada penjelasan bahwa harus dilakukan dengan cara yang benar sesuai perintah Allah Ta’ala. Dengan kata lain, jika ada orang yang jujur, sopan-santun, bertutur kata yang baik, tapi semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan perintah Allah Ta’ala maka nggak diterima amalannya. Contoh mudahnya, apa yang dilakukan oleh orang yang nggak beriman kepada Allah Ta’ala, perbuatan mereka sia-sia dilihat dari segi amalannya.

Nah, para ortu kita di rumah nggak semuanya ngerti soal ini. Bukan kita ngeledekin or ngejelek-jelekin, tapi emang faktanya ada yang begitu. Dalam hubungan dengan tetangga saja, banyak ortu yang malah secara tidak langsung ngajarin anak-anaknya untuk nggak baik dengan tetangga. Misalnya, kelakuan ortu yang doyan berantem ama tetangga atau yang kasuk-kusuk ngomongin tetangga. Eh, tetangga yang digosipin nggak suka, akhirnya nggak jarang terjadilah adu mulut sampe adu otot. Teman saya pernah jadi ketua RT dan ia sering dipusingkan dengan salah seorang warganya dari kalangan emak-emak yang doyan berantem dan nyari musuh dengan tetangga sendiri. Coba, kalo anak-anaknya sampe tahu gimana? Mungkin ada anaknya yang malu. Tapi nggak sedikit juga anak yang kemudian malah terinspirasi dengan kenakalan orangtuanya tersebut. Waktu saya di kampung dulu, ada orangtua yang suka ikut ngomporin anaknya untuk berantem dengan temannya. Kata-kata penyemangat yang sebenarnya lebih terasa hasutan dihembuskan, “Kamu jangan mau kalah sama dia. Lawan!”, misalnya.

Akibatnya, memang anak-anak di satu keluarga itu akhirnya jadi belagu dan sering nyebelin kalo bergaul, juga kerap berbuat onar karena merasa ada legalitas secara tidak tertulis dari ortunya itu. Jadi, merasa pasti ada yang bakal ngebelain mereka, gitu lho.

Duh, kacau banget kan? Model ortu dalam keluarga yang kayak gitu nggak baik buat perkembangan anak-anaknya. Sebab, dalam hal akhlak bertetangga dan bergaul aja malah ngajarin nggak benar. Padahal, kita bertetangga dengan baik tuh bagian dari ajaran Islam. Oya, selain diminta berbuat baik, kita juga dilarang mengganggu tetangga kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Muslim)

Ya, kita yakin ortu yang berbuat begitu memang ada alasannya. Yang paling mungkin adalah karena mereka ingin melindungi anak-anaknya. Cuma, caranya aja yang kurang atau malah nggak tepat. Tapi semoga saja ortu yang begini rupa nggak banyak. Ini sekadar satu contoh lho. Belum lagi soal ucapan, nggak jarang ortu yang ngeluarin kata-kata kasar dan kesannya jorok abis kalo kesel ama anak-anaknya pas marah. Waspadalah para ortu, sebab anak-anak akan meniru apa yang ortunya lakukan.

Ortu yang rada gengsi untuk meminta maaf ketika ia salah juga akan memberikan dampak buruk kepada anak-anaknya. Kesan yang paling mudah ditangkap sama anak adalah bahwa ortu tuh digambarkan susah untuk mengalah dan sekadar meminta maaf meski udah jelas berbuat salah. Misalnya aja kalo diskusi suka pengen menang sendiri. Mungkin awalnya malu kalo sampe kalah sama anaknya. Tapi, itu menjadi blunder karena anak akan menilai bahwa sikap ortu yang kayak gitu tuh nggak benar. Kalo anaknya yang kritis dan berani mungkin akan mengingatkan. Tapi, bagi anak yang nggak bisa komunikasi dengan baik, bukan mustahil kalo akhirnya antipati dan justru melakukan hal yang sama dengan ortunya. Apalagi ia merasa kalo kemudian kelakuannya ditegur sama ortunya, ia akan balik menegur dan menyalahkan ortunya (karena ortunya juga udah melakukan hal yang sama sebelumnya). Waduh, jadi tambah ribet kan?

 

Mengabaikan pelaksanaan syariat

Sobat gaulislam, kenakalan kedua nih, shalat. Ya, urusan shalat seringkali jadi masalah. Pelaksanaan syariat untuk individu ini acapkali diabaikan. Kalo ortunya aja sholatnya sesukanya, atau bahkan nggak sama sekali, akan menimbulkan dampak bagi anak. Apalagi jika menyuruh atau mengingatkan anaknya saja untuk sholat nggak pernah. Wah, mungkin nggak adil juga kalo di kemudian hari nyalahin anak yang nggak sholat. Wong, orangtuanya aja nggak sholat dan nggak membimbing anaknya untuk sholat. Kasihan juga kan?

Padahal, sejak awal tuh sebenarnya bisa dilakukan. Kadang nggak perlu ceramah berbusa-busa dari ortunya untuk mengajak anak-anaknya sholat. Cukup dengan teladan. Misalnya aja, kalo pas azan maghrib, ketika anak nonton televisi langsung diberitahukan singkat bahwa sudah masuk waktu sholat maghrib, tolong di-off-kan dulu tivinya, langsung wudhu dan barengan melaksanakan sholat maghrib. Insya Allah dengan pembiasaan seperti itu akan membekas pada anak.

Jadi, bukan cuma nyuruh-nyuruh doang tapi ia sendiri nggak melakukan dan mencontohkan kepada anak. Padahal, anak butuh teladan dari orangtuanya. Sekaligus tentunya anak akan menilai tentang kesesuaian antara ucapan dan perilaku ortunya. Kalo nggak match alias kagak nyambung, mungkin jangan nyalahin seratus persen kepada anak kalo akhirnya anak jadi ngeledekin ortunya.

Suer nih, bahwa anak-anak adalah cermin bagi orangtua. Bagaimana orangtuanya, begitulah anaknya. Like father, like sons. Saat kita sebagai orang tua menatap mata anak kita, mengamati bentuk hidungnya, cara berjalannya dan gaya bicaranya, kita akan temukan diri kita sebagai ortunya pada anak-anak kita. Maka bila ortu kepengen nggak dipermalukan di depan orang lain oleh tingkah polah anak-anak, berarti sebagai ortu pun jangan berbuat hal yang memalukan di depan anak-anak kita sendiri. Ini pesan buat kita para orangtua (soalnya saya yang nulis juga punya anak kelas 2 SMA).

Oya, dari sisi kita sebagai anak, mungkin kita bisa mengingatkan kepada para orangtua yang ada saat ini bahwa pelaksanaan syariat yang lemah dalam kehidupan ortu di rumah sebagai keluarga dan keluarga besar juga lambat-laun akan berpengaruh kepada kita-kita sebagai anak-anaknya. Dalam soal berbusana saja, banyak di antara ortu kita (khususnya yang belum ngerti tuntunan syariat) yang mendandani kita dengan pakaian yang nggak benar dan nggak baik. Kita sih dulu nggak berpikir kalo berpakaian itu ada aturannya apa nggak. Pokoknya pake. Atau mungkin adik-adik kita saat ini, mereka nggak mafhum juga kalo berpakaian itu ada batasannya. Kapan boleh harus berpakaian menutup aurat, kapan dan di mana aurat tidak harus ditutupi.

Pengetahuan dalam hal pelaksanaan syariat untuk individu saja, khususnya berpakaian, seringkali terabaikan oleh para orangtua. Kenakalan ortu yang (mungkin saja) tidak disengaja ini bisa membentuk karakter kita dan sudut pandang kita dalam melihat berbagai masalah. Wajar dong kalo kemudian banyak di antara temen cewek kita yang sulit dikasih tahu tentang wajibnya berjilbab kalo keluar rumah atau ada orang asing (bukan mahram) yang berkunjung ke rumahnya. Karena merasa berkerudung dan berjilbab tuh kalo mo ke tempat pengajian aja. Duh, menyedihkan banget deh. Dan, itu sebagian dari kita pernah merasakannya. Itu sebabnya, kita memohon kepada orangtua untuk membina kita sebagai anak-anaknya dengan pembinaan yang benar dan baik sesuai tuntunan syariat Islam.

Ini baru soal sholat dan berbusana lho (dan kebetulan memang ini yang lebih menonjol masalahnya). Kayaknya masih banyak deh pelaksanaan syariat Islam yang belum dibiasakan di tengah keluarga oleh para orangtua. Misalnya tentang kewajiban menuntut ilmu agama. Itu kan bagian dari kewajiban yang harus ditunaikan juga. Seringkali kita dapati orangtua justru menggeber anak-anaknya untuk belajar ilmu-ilmu umum seperti matematika, kimia, fisika, bahasa Inggris dan sejenisnya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam.Bukan nggak boleh belajar ilmu umum, lho. Silakan saja jika mampu. Tapi seharusnya ortu juga mendorong anak-anaknya untuk belajar Islam secara maksimal. Dalam hal ini seringkali abai, gitu lho. Bahkan kebanyakan dari orangtua lebih ngerasa bangga kalo anaknya tuh pinter matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris. Bangga dalam hal itu boleh aja, tapi jangan sampe kemudian melupakan kebanggaan yang lebih baik yakni kalo anaknya bisa ngaji, bisa baca al-Quran, dan rajin dakwahnya. Tapi sekarang lebih menyedihkan lagi ketika banyak orangtua yang merasa lebih bangga jika anaknya pinter nyanyi dan juara kontes di ajang unjuk bakat dan ajang sejenisnya. Bahkan ada orangtua yang gigih mengarahkan dan memfasilitasi anak-anaknya untuk bisa ikutan di ajang begituan. Duh, bentuk kenakalan orangtua yang seperti ini bisa mengantarkan anak-anaknya untuk permisif dan hedonis. Oya, nggak semua orangtua begini, tapi itu umumnya memang demikian. Nelangsa banget deh kita-kita sebagai anak. Tapi bagi kita yang ortunya udah ngarahin kita ke jalan kebenaran Islam, bersyukurlah.

Yuk, kita sadar diri, bentengi diri dengan ajaran Islam, sambil mencoba mengajak ortu kita agar juga taat agama. Supaya masuk surga sekeluarga. Bukan sebaliknya. Stop kenakalan ortu, agar kenakalan anak tak begitu saja terjadi. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Muslimah, Hijab, dan Prestasi

gaulislam edisi 500/tahun ke-10 (25 Sya’ban 1438 H/ 22 Mei 2017)

 

Lupakan aja soal remaja yang katanya cerdas dan bernas cara berpikirnya. Sehingga banyak orang terpesona dengan rangkaian kata dan kalimatnya yang luar biasa untuk anak SMA. Itu lho, yang nulis kalo agama itu warisan. Muter-muter gunakan kata dan kalimat menarik, ujung-ujungnya nulis kalo semua agama itu sama. Ih, nggak sama atuh! Cuma Islam yang benar.

Hehehe… saya juga anak SMA. Tapi sori lah, kalo yang disampaikan itu sampah, meski dikemas sebaik mungkin tetap saja sampah. Mereka yang menganggapnya bagus, berarti cara berpikirnya sama dengan isi tulisan tersebut. Ya iyalah mana mungkin orang beriman (termasuk remaja yang beriman) dengan benar dan baik menulis seperti itu atau memuji-muji isi tulisan tersebut. Betul nggak?

Eh, tapi saya nggak bakalan bahas tentang si dia itu, tapi mau bahas yang bermanfaat aja. Insya Allah. Apa itu? Ini dia!

Sobat gaulislam yang insyaallah muslim dan muslimah sejati pasti udah pada tahu sama salah satu ajang kecantikan yang lagi diselenggarain ini, Sunsilk Hijab Hunt. Dari awal diadain sampai sekarang, muslimah yang mengikuti ajang ini makin banyak. Dikutip dari blognya langsung, katanya sih, acara ini bukan sekadar kontes wanita berhijab biasa. Loh, kok bisa?

Well, kriteria penilaiannya itu bukan cuma cantik, tapi berkepribadian dan harus memiliki bakat. Selain itu, tujuan ajang ini juga memacu muslimah yang berhijab supaya bisa mengeksplorasi dan ngegali lagi potensi dirinya. Katanya sih, supaya hijab para muslimah nggak lagi jadi penghalang buat bisa berkarya dan jadi inspirasi.

Sama halnya kayak Sunsilk Hijab Hunt, ajang kecantikan Miss Indonesia juga lagi berlangsung, loh. Pasti kamu juga tahu dong, sama ajang yang satu ini. Ya iyalah, kan disiarin secara langsung di salah satu stasiun tivi swasta Indonesia. Kayaknya nih, ajang Miss Indonesia tuh bergengsiiii… banget. Soalnya kalo berhasil jadi pemenang bakal dikirim buat ngewakilin Indonesia di ajang Miss World. Belum lagi bakalan jadi duta sosial buat UNICEF. Wuih, wuih, pasti hebat banget, deh, pemenangnya. Hehehe.. sayangnya ukuran hebat ini menurut ukuran hawa nafsu, bukan syariat.

Duh, kayaknya ajang-ajang semacam ini banyak banget, ya? Soalnya lokal tiap daerah aja ada. Contohnya sih, ajang Moka (Mojang-Jajaka) di Jawa Barat dan Abang-None Jakarta itu. Bedanya, tujuan Moka dan Abang-None itu buat mempertahankan kebudayaan yang ada di daerahnya. Walaupun pasti ada ukuran khusus, yakni tampilannya menarik. Ya, sama aja sih jadinya. Ganteng or cantik jadi prioritas, apalagi jika ditambah piter . Kasihan ya, prestasinya diukur dari kriteria begituan.

 

Selalu ada negatifnya

Emh, bagus-bagus sih, tujuan dari ajang-ajang itu diadakan. Mulai dari bisa jadi inspirasi banyak orang, menjaga kesenian dan kebudayaan daerah, pelopor kegiatan sosial dan sebagainya. Terlebih, ajang semacam ini juga bisa ngajak orang-orang buat berpikir terbuka untuk berkarya dan mengukir prestasi.

Tapi, di balik sisi positif, selalu ada negatifnya. Pada intinya, semua ajang ini mengutakan 3B. Beauty, brain, behavior. Yah, kok cantik dijadiin kriteria penilaian? Cantik kan relatif. Lagian yang namanya perempuan pasti cantik, masa ganteng. Ada-ada aja, deh, kriteria penilaiannya. Belum lagi harus pintar dan berbakat. Berarti kalo ngga punya bakat ngga boleh ikutan, dong? Udah gitu harus satu paket: cantik, pinter, dan berkepribadian. Ck..ck…ck… (nggak kebayang kalo yang pinter dan baik attitude-nya tapi penampilannya nggak menarik. Pasti nggak menang tuh! Atau malah tersisih di audisi awal?)

Sobat gaulislam, coba perhatiin deh, peserta-peserta yang terdaftar. Ada nggak sih yang tetap menjalankan kewajibannya sebagai muslimah? Yang tetap berkerudung dan menutup aurat, nggak berpakaian ketat dan menjaga kehormatannya sebagai muslimah?

Bukannya jadi tempat unjuk bakat, ajang kayak gini malah jadi tempat buat pamer aurat dan menghilangkan kehormatan, juga rendahkan harga diri seorang muslimah.

Kamu pasti udah pada tahu dong, kalo seorang muslimah itu harus menutup aurat. Bukan malah memamerkannya. Contohnya aja ajang Sunsilk Hijab Hunt, walaupun ada embel-embel hijabnya dan semua peserta yang daftar berhijab, tapi kebanyakan dari mereka berpakaian tidak sesuai dengan perintah agama. Begitu juga ajang Putri Indonesia, Moka Jawa Barat dan Abang None Jakarta.

Pake bajunya ada yang ketat, malah ada yang pake celana. Atau pake baju atasan yang panjang tangannya cuman sepertiga aja. Ckckck…. Padahal, kan Islam memerintahkan buat mengulurkan kainnya ke seluruh tubuh, kayak yang dijelasin di al-Quran surat al-Ahzab ayat 59 yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

So, berdasar dari ayat itu, berarti kan seharusnya muslimah memakai baju luar berupa jilbab atau yang biasa disebut gamis. Bukannya malah pake setelan (atasan dan bawahan), pakaian yang nge-press di badan, atau yang tembus pandang. Apalagi malah pake celana panjang! (eits, celana panjang boleh dipake asalkan untuk daleman, luarnya tetap jilbab—yang mirip gamis itu).

Allah subhanahu wa taala udah ngelarang perempuan buat menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan. Celana itu, jadi ciri khas laki-laki, dan sebagai seorang muslimah seharusnya nggak memakai celana panjang sebagai pakaian luar, soalnya bisa menyerupai laki-laki meskipun modelnya itu beda.

Belum lagi kerudung yang dipake para muslimah. Kebanyakan dari peserta ‘memodifikasi’ kerudungnya dengan melilit-lilitkannya kayak punuk unta. Atau diangkat-angkat sampe nggak nutupin dada.

Padahalkan kerudung (atau dalam bahasa Arab disebut khimar) itu fungsinya buat nutupin dada (termasuk punggung), kayak yang dijelasin di al-Quran surat an-Nuur ayat 31 yang artinya: “…. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka….”

Nah, dari surat al-Ahzab ayat 59 dan an-Nuur ayat 31 udah jelas banget kalo seorang muslimah sejati itu harusnya pake pakaian yang terulur menutupi tubuh kayak gamis (jilbab), dan pake kerudung yang nutupin dada.

Sobat gaulislam, selain sebagai ajang pamer aurat, kamu percaya gak sih, kalo ajang kayak gini juga bisa menghilangkan kehormatan dan harga diri seorang muslimah? Bagi kamu yang masih nggak percaya, aku jelasin, deh!

Pamer aurat yang dilakuin para peserta itu, berarti kan, memperlihatkan apa yang seharusnya nggak boleh dilihatin ke orang banyak. Hanya dengan hal itu aja, udah menghilangkan kehormatan dan harga diri. Belum lagi, unjuk bakat yang dilakuin peserta seperti menari, berjalan di atas catwalk dan sebagainya, pasti ada aja gerakan yang meliukkan badan. Nah, gerakan ini bisa memancing ketertarikan yang berbahaya bagi lawan jenis dan pastinya merusak kehormatan seorang perempuan.

 

Sekali dayung, dapet banyak!

Nih, aku kasih tau ya, dalam agama kita tercinta, Islam, ada peraturan-peraturan berupa perintah dari Allah yang harus dipatuhi. Dan selalu ada alasan di balik perintah yang Allah subhanahu wa taala berikan. Alasan itu akan bermanfaat dan berguna buat siapa aja yang menjalankannya. Manfaat yang didapet selain bersifat akhirat kayak nambah pahala, menjauhkan dari siksa neraka dan sebagainya, tapi juga bersifat dunia. Duh, ini mah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!

Hmm… tanpa mengikuti ajang-ajang semacam ini, kamu juga masih bisa, kok, berprestasi dan berkarya. Yang lebih penting, muslimah juga bisa tetap tunduk sama perintah Allah buat ngejaga aurat, pake busana muslimah dan terjaga kehormatan dan harga dirinya tapi tetap berkarya dan berprestasi buat kemashlahatan umat.

Sobat gaulislam yang insyaallah muslim dan muslimah sejati, ajang-ajang semacam Sunsilk Hijab Hunt, Miss Indonesia, Moka Jawa Barat, Abang None Jakarta dan sejenisnya memang memberikan manfaat yang beragam buat diri sendiri dan banyak orang. Tapi itu cuma bersifat dunia aja. Kenapa? Karena banyak perintah agama yang terabaikan dengan adanya ajang-ajang ini.

Percuma dong, kalo susah-susah berusaha tapi yang diusahain cuma bersifat dunia. Udah gitu, yang bersifat akhirat belum tentu didapetin. Padahal kalo kita ngejar akhirat, dunia pasti juga bakalan kegenggam. So, nggak masalah kok buat ninggalin semua kriteria penilaian menjadi perempuan yang seperti ajang ini atau ajang itu. Karena semua itu cuma penilaian juri di ajang lomba aja. Jurinya manusia, dan yang nggak taat syariat. Bahaya!

Padahal kan, prestasi terbaik bukan dinilai dari ajang apa yang diikutin. Tapi sebaik apa atau seberapa besar ketakwaan kita terhadap Allah subhanahu wa taala.

 

Hadiah yang lebih ‘WAH’!

Sobat gaulislam, ajang lomba semacam Sunsilk Hijab Hunt, Miss Indonesia, Moka Jawa Barat, Abang None Jakarta dan sejenisnya mungkin keliatan menguntungkan. Tapi, bisa jadi itu malah ngejauhin baik Bro yang insyaallah muslim sejati ataupun Sis yang insyaallah muslimah sejati dari mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Apalagi dalam hal ngejaga kehormatan dan juga harga diri seorang muslimah.

So, daripada terjerumus semakin dalam, yuk kita mulai beralih ke kriteria penilaian menjadi seorang muslimah yang benar, baik dan sejati. Yang bakal nilai bukan manusia, loh, tapi langsung Allah Ta’ala yang menilai!

Dan hadiah yang didapet bakal berjuta kali lebih banyak dan lebih ‘WAH’ dari hadiah yang didapet di ajang perlombaan.

Surga, loh, surga! [Zadia “willyaaziza” Mardha]