Sunday, 26 May 2024, 15:58

gaulislam edisi 794/tahun ke-16 (16 Jumadil Akhir 1444 H/ 9 Januari 2023)

Kamu perlu tahu juga bahwa saat ini, ada upaya pihak tertentu yang mengarahkan umat Islam agar tampil moderat. Sebenarnya ini udah dari dulu, sih. Proyek liberalisasi terhadap Islam. Kini yang digembar-gemborkan adalah moderasi beragama. Jadi, umat Islam digiring agar tidak berlebihan dalam menjalankan syariat Islam, nggak ekstrem dan nggak radikal. Begitu kampanyenya. Muslimah yang mengenakan jilbab dianggap berlebihan (apalagi yang mengenakan cadar/niqab), berjenggot aja, yang agak panjang dikit dicurigai, celana cingkrang dipermasalahkan. Ada kegiatan rohis di sekolah malah dituduh sebagai tempat menyemai paham terorisme. Idih, aneh aja kalo yang begitu dianggap berlebihan dan bahkan ada penyematan radikal segala. Begitulah, ini zaman aneh. Tapi apa iya kita harus malu-malu dalam menjalankan syariat agama kita sendiri dan ragu menunjukkan totalitas dalam mengamalkannya? Sementara, remaja yang pacaran dibiarin, remaja yang pake tato nggak dicolek untuk ditegur dan lain sebagainya.

Padahal, kalo jadi muslim yang benar, mestinya pernah baca firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Syaikh Prof Dr Wahbah az-Zuhaili, pakar fikih dan tafsir negeri Suriah, memberikan penjelasan tafsir terkait ayat ini. Beliau menuliskan dalam Tafsir al-Wajiz, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah Islam dengan sepenuhnya, bukan setengah-setengah, atau masuklah Islam, kerjakanlah seluruh hukum-hukumnya, janganlah berbuat munafik, waspadailah bisikan setan, dan jangan taati apa yang dia perintahkan kepada kalian, karena sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagi kalian. Imam ath-Thabari meriwayatkan bahwa ayat ini turun untuk Abdullah bin Salam dan para sahabat Yahudinya, ketika mereka tetap mengagungkan hari sabtu dan membenci unta setelah menerima Islam, Lalu orang-orang muslim mencegah mereka melakukan hal tersebut.”

Berarti kita sebagai muslim memang kudu totalitas bersama Islam. Nggak boleh setengah-setengah alias ngakunya muslim, tetapi masih mengamalkan ajaran selain Islam. Bilangnya muslim, tetapi masih doyan pacaran. Lha, itu aneh namanya. Sebab, kalo kamu ngaku muslim, maka jauhi maksiat. Pacaran adalah kemaksiatan tersebab melanggar aturan dalam pergaulan dengan lawan jenis. Itu pergaulan yang dilarang dalam Islam. Kalo tetap melakukan, ya berarti masih belum totalitas melaksanakan syariat Islam. Ada juga remaja yang shalatnya rajin, tetapi berkata kasar kepada temannya atau bahkan kepada kedua ortunya. Ada yang hafal beberapa juz dalam al-Quran, tetapi gandrung juga dengan K-Pop dan sejenisnya lalu menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya tersebut. Itulah sekularisme, memisahkan antara agama dan kehidupan. Padahal, kita diminta untuk berserah diri hanya kepada Allah Ta’ala, bukan kepada hawa nafsu kita atau mengikuti jejak langkah iblis. Ngeri!

Sobat gaulislam, jadi muslim itu anugerah terindah dalam hidup kita. Sebab, akan selamat di dunia dan di akhirat. Sesuai dengan pengertian muslim itu sendiri. Apa artinya? Lha, kamu belum tahu, ya? Oke, kalo belum tahu, muslim itu artinya orang yang tunduk, patuh, atau berserah diri kepada Allah Ta’ala. Pemeluk agama Islam. Tentu saja ini sesuai dengan pengertian Islam (secara bahasa), yakni tunduk, patuh, atau berserah diri.

Oya, karena dalam Islam ada makna bahasa dan makna istilah (syara), maka kita perlu tahu juga makna istilah alias terminologi, yakni mengakui dengan lisan, meyakini dengan hati dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla atas semua yang telah ditentukan dan ditakdirkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim Alaihissallam (yang artinya), “(Ingatlah) ketika Rabb-nya berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Berserahdirilah!’ Dia menjawab: ‘Aku berserah diri kepada Rabb seluruh alam.’” (QS al-Baqarah [2]: 131)

Bangga jadi muslim, dong!

Nggak semua orang dengan mudah dapetin hidayah menjadi muslim, lho. Beneran, hanya Allah yang memberi petunjuk. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya): “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raaf [7]: 178)

Pengertian disesatkan Allah dalam ayat ini, bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat (lihat catatan kaki no 34 dan 583 pada al-Quran dan Terjemahnya, Departeman Agama RI, hlm 13 dan 251)

Itu sebabnya, kita wajib bersyukur banget sudah menjadi muslim. Kita pantas untuk bangga. Oya, makna bangga itu sendiri menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah besar hati, merasa gagah (karena mempunyai keunggulan). Beda ama sombong. Dalam penjelasan di KBBI, sombong adalah menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah. Nah, berbesar hati karena sudah menjadi muslim tuh emang wajar. Karena nggak mudah lho untuk mendapatkannya. Bagi kita yang ortunya emang udah muslim sejak kita dilahirkan, terus membimbing kita dengan Islam, insya Allah agak mudah.

Namun, coba deh bayangin gimana susahnya mereka yang ortu atau keluarganya bukan muslim. Mereka harus berjuang lebih keras untuk meraih hidayah dari Allah, karena hanya Allah yang memang pemberi petunjuk bagi manusia. Itu sebabnya, jangan kaget bin heran kalo paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, Abu Thalib, sampe meninggalnya belum masuk Islam. Belum Muslim. Itu paman Nabi, lho. Orang yang mengasuh dan melindungi Nabi. Maka, ketika meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersedih. Tapi ya nggak bisa berbuat apa-apa. Meski sebelumnya udah sering ngingetin. Tapi Abu Thalib bergeming alias cuek aja, gitu.

Karena apa? Karena memang yang namanya hidayah Allah itu diberikan khusus kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS al-Qashash [28]: 56)

Sobat gaulislam, sebagai muslim kita adalah umat pilihan, lho. Eh, ini bukan geer apalagi nyombong, tapi justru ini bikin kita bangga. Karena kita adalah umat pilihan. Betul. Nggak percaya? Allah Ta’ala bahkan yang ngasih sebutan itu buat kita dalam firman-Nya (yang artinya): “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110)

Alhamdulillah, ini memang anugerah terbesar dan terindah buat kita. Sebab Allah sudah memberikan pujian yang begitu indah untuk kita, kaum muslimin. Jadi, wajar dong kalo kita tuh bangga. Tanpa maksud nyombongin diri nih, gimana juga hidup sebagai muslim tuh menyenangkan dan menentramkan.

Islam menjadi magnet bagi umat manusia. Itu sebabnya, jangan sia-siakan hidayah Allah yang sudah kita genggam ini. Jangan nodai kemusliman kita dengan perbuatan yang nggak mencerminkan identitas sebagai muslim, sebagai umat pilihan. Oke?

Islam emang beda!

Oya, ngomongin soal agama kata sebagian kalangan dianggap sensitif. Saking sensanifnya, eh, sensitifnya maka kita nggak boleh ngomongin agama secara vulgar di tempat umum. Misalnya, kamu nanya sama teman kamu di sekolah dalam forum umum: “Agama kamu apa?” Wuih, kayaknya kita dianggap arogan atau sok, atau dicap sebagai orang yang melontarkan pertanyaaan dengan nada sentimen atau tendensius serta SARA dan macam-macam pikiran lainnya.

Kenapa? Karena kita terbiasa menabukan hal tersebut. Dianggap bahwa agama adalah urusan masing-masing individu. Nggak boleh ada individu lain yang mempertanyakan dan mempersoalkan status agama seseorang. Alasannya, kita menjunjung kebersamaan. Jadi jangan heran pula kalo kemudian muncul istilah toleransi, anak bangsa, dialog lintas agama dan iman, moderasi bergama yang ini sering digaungkan dan lain sejenisnya untuk mengkampanyekan tentang pentingnya persamaan. Padahal jelas sangat berbeda jauh. Wong dasarnya juga beda kok. Jadi apa yang mau disamakan? Betul ndak? Semoga kamu bisa memahaminya.

Saat ini banyak kaum muslimin yang mulai kendor ikatannya dengan ajaran Islam, ada pula yang bahkan sudah melawan setiap ajaran yang ada dalam Islam, juga banyak yang berupaya menyamakan Islam dengan agama yang lain, maka saya merasa perlu untuk menjelaskan (semoga saja mencerahkan), tentang masalah ini. Saya ingin menegaskan bahwa Islam emang beda dengan agama yang lain. Jadi, nggak bisa pula keyakinan kita digeser-geser dan dipindah-pindah ke tempat lain (digeser-geser? Emangnya pot bunga?)

Kalo kamu berani mengatakan “Islam emang beda!”, syukur deh. Kenapa? Karena masih punya harga diri dan sekaligus percaya diri. Harga diri itu mahal, jarang ada yang rela kalo harga dirinya diinjak-injak (kecuali yang nekat dan gelap mata dengan menjual dirinya sendiri dalam kenistaan). Kebanyakan orang kalo bicara harga diri semangat dan antusias. Harga diri harus dipelihara karena urusan hidup dan mati.

Percaya diri berarti kita percaya dengan apa yang kita perbuat. Orang yang berani melakukan suatu perbuatan dan kegiatan, sudah pasti bertanggung jawab. Itu sebabnya, dengan memiliki rasa percaya diri bisa dipastikan orang tersebut udah punya alasan dan tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.

Betul, Islam memang beda. Beda banget dengan agama lain. Nggak bisa disamakan. Nggak bisa disatukan. Karena ibarat air dengan minyak, maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah akidah. Tidak ada gaya elektrostatik dalam urusan syariat antara Islam dan agama lain. Nggak ada saling tarik menarik meski ‘muatannya berlawanan jenis’. Eh, kamu tahu kan gaya elektrostatik? Gaya elektrostatik adalah gaya yang timbul pada dua benda/atom yang memiliki muatan listrik statis. Jika muatannya sama atau sejenis maka akan saling tolak menolak, sementara jika muatannya berlawanan jenis maka akan saling tarik menarik.

Sekarang coba kita bandingkan mulai dari yang sangat prinsip: yang disembah. Kita, kaum muslimin, cuma menyembah Allah Ta’ala, bukan yang lain. Sementara agama lain, Nasrani misalnya, mereka punya konsep trinitas. Ajaran lain juga sama, menyekutukan Allah. Jelas beda, kan?

Firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS al-An’aam [6]: 3)

Sementara dalam ayat lain, Allah Ta’ala pencipta kita semua menegaskan dalam firman-Nya (yang artinya): “Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (QS al-An’aam [6]: 1)

Dalam pernyataan lebih jelas dan tegas, Allah Ta’ala menyebutkan (yang artinya): “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS al-Maaidah [5]: 72)

Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun, bunga dan buahnya jelas berbeda, dong. Tul nggak? Maka sangat wajar dan adil jika Allah Ta’ala menyampaikan bahwa keyakinan kita berbeda dengan keyakinan agama lain. Itu sebabnya, jangan bingung pula kalo syariatnya juga beda. Maka, apa hak kita menyatakan bahwa semua agama sama? Sehingga ada di antara kita yang merasa kudu terlibat dan melibatkan diri dalam ibadah agama mereka. Bahkan hal itu dianggap wajar.

Bener lho, saking nggak ngertinya, ada sebagian dari kita yang latah ikutan perayaan natal bersama, misalnya. Malah dengan semangat dan gagah berani biar dianggap toleran menyambut dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka. Ah, itu namanya sudah salah menempatkan toleransi, dong. Karena dalam urusan keimanan dan ibadah ini nggak berlaku istilah toleransi. Sebaliknya, kita kudu keukeuh memegang prinsip.

Allah Ta’ala udah wanti-wanti soal ini dalam al-Quran (yang artinya): “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS al-Kaafiruun [109]: 1-6)

Oke, sampai sini paham, ya. Jadi, kita emang kudu totalitas bersama Islam. Jangan latah ikut-ikutan proyek moderasi beragama yang mengajarkan jangan berlebihan dalam beragama, jangan esktrem, dan jangan radikal. Padahal, sudah jelas ya, dalam masalah akidah dan syariat kita memang beda dengan pemeluk agama lain. Ngapain juga kudu khawatir mengganggu perasaan mereka saat kita totalitas menjadi muslim sejati karena melaksanakan syariat Islam secara menyeluruh dalam kehidupan kita. Meski kemudian bagi para pendukung proyek moderasi beragama sikap kita dianggap esktrem, berlebihan, dan radikal. Padahal, nggak ada hubungannya. Mereka aja yang baperan. Catet, ya! [O. Solihin | IG @osolihin]