Akhir Petualanganku

Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya.

Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. Aku hanya tahu, suatu hari di rumah ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku perhatikan beberapa bulan terakhir itu orangtuaku memang sering bertengkar. Setelah itu, ayahku tak pernah pulang lagi ke rumah. Dengar-dengar dari tetangga, katanya ayahku menikah lagi. Aku masih tak mengerti. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan besar dan rumit bagi otakku.

Waktu terus berjalan, usiaku pun bertambah. Aku menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah ketika kakak laki-lakiku yang pertama pindah ke kota lain karena harus studi di sana. Aku masih punya satu kakak perempuan dan tiga adik perempuan. Sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah, seharusnya aku lebih dewasa. Lebih mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi ayah sudah jarang datang ke rumah lagi meski masih memberi nafkah buat kami. Seringnya bahkan uang buat kami dititipkan lewat kawan ayah. Dan itu membuat aku dan saudara-saudaraku terbiasa hidup tanpa kehadiran ayah dan curahan kasih-sayangnya. Ayah tak lagi menemani kami di rumah dengan cerita dan canda. Padahal jujur saja, kehadiran ayah sangat kami rindukan.

Aku membenci ayah

Setelah aku SMP dan pergaulanku mulai luas, aku sering iri dengan kawan-kawanku yang keluarganya utuh dan harmonis. Aku sering menangis dalam hati setiap pembagian rapot hanya ibu yang hadir. Aku sakit hati. Apalagi ayah sepertinya melupakan aku dan saudaraku. Berbagai macam cerita dan omongan dari tetangga, kerabat, teman, dan aku saksikan sendiri kelakuan ayah, mulai tumbuh dalam perasaanku untuk membenci ayah.

Bahkan sejak ayah jarang memberi nafkah, dan ibu harus banting tulang untuk menyekolahkan keenam anaknya, aku kian menggunungkan perasaan benciku pada ayahku sendiri. Waktu terus berjalan sementara aku tak menemukan tempat yang baik untuk muara emosiku. Akhirnya aku menemukan hidupku di jalanan. Ya, di saat aku masih labil itulah, aku bergaul dengan teman-teman berandalanku.

Aku tak bisa mengendalikan diri. Kebencianku kepada ayah akhirnya menjadi justifikasi atas semua perbuatanku. Aku mencari perhatian dari ayah. Sebenarnya bukan untuk mencari perhatian sih, karena dalam hati kecilku tersimpan rencana jahat, bahwa aku harus membuat perhitungan dengan ayahku. Aku berharap, dengan aksi ini ayah dibuat pusing.

Ikut kakak lelakiku

Aku benar-benar berada di luar kendali. Hubunganku dengan kawan-kawan di jalanan terus intensif. Rumah aku jadikan tempat transit saja. Malam hari lebih banyak aku habiskan di luar bersama kawan-kawanku. Tentu saja membuat ibu kecewa. Aku juga tak paham mengapa aku bisa terlalu jauh berubah seperti itu. Waktu itu aku akan masuk SMA, untuk biaya pendaftaran saja ibuku tak punya. Tapi demi masa depan anak, ibu rela meminjam uang ke famili dan tetangga karena mengandalkan hasil penjualan pakaian yang dikreditkan harus menunggu lebih lama.

Anehnya aku waktu itu, meski telah masuk SMA negeri, tapi karena beda kecamatan dan harus kos, aku mulai rewel. Aku bilang kejauhan dan nggak betah. Padahal, sejatinya aku tak bisa bergaul dengan kawan-kawanku yang berandalan itu. Yang menurutku mampu menjadi muara emosiku. Akhirnya, aku dipindah ke sekolah yang dekat dengan rumah.

Tapi, itu tak berlangsung lama. Ibu merasa khawatir dengan pergaulan yang aku jalani, akhirnya dengan sangat terpaksa setelah dibujuk ibu dan paman, aku memutuskan untuk ikut dengan kakakku di kota lain, yang kebetulan waktu itu sudah lulus sekolah dan bekerja.

Ibu dan keluarga berharap aku lebih bisa tenang karena dijaga kakakku yang lelaki. Aku memang menaruh hormat kepadanya, meski menyebalkan juga dengan banyaknya aturan ini dan itu. Terutama soal agama. Mungkin ini pula yang membuat ibu yakin bahwa aku akan aman tinggal bersama kakak lelakiku.

Di kota bersama kakakku, aku justru menemukan dunia baru. Aku banyak bergaul dengan anak-anak kota. Kakakku memang menyekolahkan aku di sebuah sekolah negeri. Dengan harapan pergaulannya terjaga. Tapi dalam perjalanannya, aku justru telah mengkhianati kepercayaan kakakku. Uang SPP yang diberikan tiap bulan justru aku habiskan di meja bilyard bersama rekan-rekanku. Prestasi di sekolahku hancur. Kakakku tentu saja kecewa. Tapi ia tak banyak bicara, hanya sesekali saja menasihatiku. Justru itu yang membuat aku malu. Untuk meredam kelakuanku aku sengaja dititipkan di teman kerjanya. Di sini memang aku jadi lebih bebas, tapi keuangan terbatas. Mungkin kakakku berharap aku mulai mikir. Tapi tidak. Aku semakin kacau.

Petualangan baru

Petualanganku di kota bersama kakak berakhir setelah aku lulus SMA dengan predikat yang tak memuaskan. Aku pamitan dan akhirnya aku pergi ke kota lain ikut bersama pamanku. Aku jalani hidup di bengkel, jadi tukang cuci mobil, dan apa saja yang aku bisa lakukan. Sedih juga. Tapi itulah yang harus aku lakukan. Mau tidak mau. Anehnya, di sini pun aku seperti ditakdirkan untuk bertemu dengan berandalan. Aku pun larut lagi dalam dosa dan maksiat.

Kondisi ini membuat kakakku kecewa, ibu kecewa, juga adik-adikku menaruh ketidakpercayaan kepadaku. Sekitar lima tahun sejak lulus SMA aku jalani kehidupan liar. Bahkan semakin liar karena lepas dari pengawasan ibuku. Jika kakakku jarang marah dan hanya sesekali ngasih nasihat, tidak dengan pamanku yang memang polisi. Aku sering dimarahi. Tapi aku tahu diri, bahwa aku memang salah. Akhirnya aku pindah dan kos, meski akhirnya balik lagi karena pergaulanku tambah parah.

Setelah sekian lama bertualang, aku lelah. Cukup lelah. Sampai ibuku merasa perlu memaksaku untuk segera berkeluarga saja. Karena ibu menganggap itu jalan terbaik untuk meredam gejolak jiwa liarku. Itu sebabnya, ketika aku mendapatkan seorang gadis, ibu buru-buru memintaku menikah. Awalnya aku tidak menurut, hingga ibu jatuh sakit parah dan dirawat di RS, tapi kemudian aku sadar dan mau menikah.

Kini aku sudah menikah. Semoga ibu dan saudaraku mau memaafkan kesalahanku selama ini. Aku sering merenung dan aku berusaha untuk lebih baik dalam hidup. Karena, sebentar lagi aku akan punya anak, sangat malu jika bapaknya tetap seorang berandalan. Semoga kuat melangkah di jalan yang baru kupilih ini. [seperti dituturkan seorang ikhwan kepada SoDa]

[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]

%d bloggers like this: