Audrey Bukan yang Pertama dan Terakhir

gaulislam edisi 599/tahun ke-12 (10 Sya’ban 1440 H/ 15 April 2019)

Assalaamu’alaikum, Bro en Sis. Bagi kamu yang aktif berselancar di media sosial, nih, rasanya jendela internet di negeri kita ini kebanjiran berita-berita menghebohkan, ya. Mulai dari berita politik, entertaiment, dan juga tentu saja hashtag-hashtag yang memancing kontroversi. Wah… susah buat fokus nih, jadinya. Well… nggak juga sih. Wkwkwkwk…

Kalau kamu ngikutin beritanya, ada salah satu pemberitaan yang akhir-akhir ini ramai banget dibicarain di sosial media. Apa itu? Ya, tentang perundungan seorang anak berumur 14 tahun oleh 3 siswi SMA yang disaksikan 9 orang temannya. Yups! Hashtag JusticeForAudrey disertai dengan postingan-postingan simpati dari para netizen, yang beberapa hari setelahnya, muncul hashtag AudreyJugaBersalah mewarnai tagar di dunia maya ini. Wah.. Tentang apa ini, ya?

JusticeForAudrey, kronologinya

Jadi ceritanya gini, Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Entah dari mana mulanya, sebuah berita yang menyedihkan muncul di halaman-halaman media sosial. Yaitu tentang seorang siswa SMP berinisial AU yang diceritakan bahwa AU dicelakai dengan cara yang kejam oleh 3 siswa SMA di dua tempat di Kota Pontianak. Saat itu AU diberitakan sedang dirawat di rumah sakit. Ia juga dikabarkan mendapat luka fisik yang lumayan parah akibat pengeroyokan tersebut. Sederhananya fakta-fakta brutal ini menimbulkan banyak simpati dari para netizen terhadap AU dan sikap mencela perbuatan para pelaku. Maka muncullah di mana-mana hashtag JusticeForAudrey, yang saking booming-nya mencapai tranding nomor satu worldwide di twitter. Wow! Lebih heboh lagi, ketika para influencer, baik para selebgram terkenal sampai pengacara ternama, ikut menunjukkan sikap mereka terhadap kasus ini. Dari sini udah berasa banget hebohnya, kan, Bro en Sis..

Nah, Bro en Sis, kisah ini ternyata menimbulkan pro dan kontra dari banyak pihak juga. Apalagi setelah dipublikasikannya laporan resmi dari polisi yang menyatakan bahwa laporan dari pihak korban adalah dilebih-lebihkan dari fakta yang sebenarnya. Kemudian kisah pun berlanjut hingga netizen-netizen pun menemukan keanehan serta hal-hal janggal dalam kasus tersebut. Yaitu tentang latar belakang permasalahan antara para pelaku dan korban yang sudah memercikkan pertikaian di komentar facebook. Singkat cerita akhirnya muncullah hashtag baru, yaitu AudreyJugaBersalah. Well.. Kira-kira begitulah kronologi kisah yang mengawali pembahasan dalam topik utama gaulislam kali ini.

Gawat! Bullying masih eksis

Huft.. Jadi Bro en Sis, kalau kita merujuk kepada kasus Audrey ini, maka ada hal yang harus kita sorot. Yang paling jelas terlihat di awal kasus ini adalah kasus bullying antar remaja yang masih dan bahkan mencapai tingkat parah di negeri kita ini. Kita bisa lihat fakta-fakta tentang kasus bullying alias perundungan antar remaja usia sekolah yang seharusnya cukup mencengangkan para pakar pendidikan. Apalagi karena Indonesia ini berbeda dengan negara ‘bebas’ yang setiap individunya diharapkan tidak mencampuri urusan orang lain. Lalu pertanyaannya; dari mana munculnya pemikiran dan tindakan remaja semacam ini?

Bro en Sis, kalau kita lihat fakta dalam kasus ini, kita bisa lihat baik pelaku maupun korban, dua-duanya bersalah. Tentu saja tindakan kekerasan adalah sesuatu yang salah. Apalagi ditambah dengan tidak ada tanda-tanda penyesalan bahkan justru tidak ada rasa bersalah. Itu jelas salah, karena menyakiti sesama adalah perbuatan yang tidak terpuji, baik secara agama maupun kemanusiaan.

Kemudian dari sisi korban, dalam faktanya ia juga bersalah. Karena tindakan provokasi dan pernyataan tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Yang mengakibatkan kejadian ini merupakan satu berita selingan yang cukup kontroversial yang melintasi ruang pemberitaan kita.

Bro en Sis, kasus ini memang sangat penting untuk diketahui oleh kita semua. Kasus Audrey ini bukan yang pertama kali terjadi di dunia ini, atau bahkan di negeri kita ini. Ini hanya satu kasus yang sempat terdengar kemudian akan berlalu setelah beberapa lama, seperti halnya kasus-kasus serupa sebelumnya. Dan ada banyak kasus serupa yang nggak bisa diliput semua. Kasus ini adalah suatu obyek permasalahan yang butuh banget penyelesaiannya. Ya, kan? Apakah kita senang membayangkan korban-korban atau pelaku-pelaku lainnya di negeri kita ini? Jangan sampai, deh.

Krisis adab pelajar

Sobat gaulislam, seharusnya nih, kita bisa melihat bahwa ada yang salah dari kasus ini. Terutama tentang adab dan produk pendidikan yang gagal. Juga bagaimana peran orangtua dalam membina masing-masing anak-anaknya di dalam rumah.

Permasalahan tentang adab ini bisa dibilang adalah permasalahan dasar dari semua problem anak muda saat ini. Percaya deh, Bro en Sis, bahwa kasus seperti pergaulan bebas, curang dalam ujian, tidak hormat kepada orangtua dan guru, bullying antar pelajar, tawuran, dan banyak kasus lagi, tidak akan terjadi jika seorang remaja diajarkan adab yang benar semenjak kecil. Adab kepada orangtua, guru, saudara, teman, lawan jenis, dan lain sebagainya.

Tapi bukannya kita nggak diajarin adab dan akhlak di sekolah, kan, Bro en Sis? Well, seharusnya setiap warga negara muslim mendapatkan pelajaran tentang adab dan tata krama dalam pelajaran agama atau kewarganegaraan. Berarti apakah memang ada yang salah dengan sistem pengajaran kita? Satu contoh aja nih, pastinya kita semua diajarkan untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan sejak di bangku taman kanak-kanak hingga universitas. Tapi, tentu saja kita bisa melihat bagaimana pengaruhnya yang seakan tak berpengaruh sama sekali. Wkwk… Lucu sih, tapi miris.

Haduh.. Kok bisa jadi gini, ya? Hmm.. Bro en Sis, jawabannya sebenernya nggak ribet-ribet amat, sih. Yaitu karena yang didapatkan oleh para siswa di bangku sekolahnya itu, yah, bisa dibilang sekadar pengetahuan aja. Tanpa pengawasan, atau perintah mutlak untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin guru-guru di sekolah memang tidak bisa selalu mengawasi anak didiknya di luar sekolah. Maka peran orangtua memanglah yang utama dalam mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya di luar sekolah.

Walaupun ada satu contoh yang bisa dinilai salah dalam pendidikan beberapa pengajar. Misalnya ketika guru atau orangtua melarang siswa atau anaknya membuang sampah sembarangan, tetapi sebagai orang dewasa tidak mencontohkan hal serupa, malah mengerjakan apa yang dilarangnya sendiri. Pepatah ‘guru kencing berdiri murid kencing berlari’ itu kadang ada benarnya, loh. Jangan sampai salah.

‘Postinganmu Harimaumu’

Sebenarnya ada hal lain lagi, nih, Bro en Sis, yang menarik juga untuk diulas dalam kasus Audrey ini. Yaitu bahwa kita harus berhati-hati dalam berkomentar, terutama di media sosial. Kenapa? Kita ambil saja hikmah dari latar belakang kasus Audrey ini, yang diawali dari pertikaian di sosial media.

Ingat loh, Bro en Sis, ada pepatah ‘mulutmu harimaumu’. Artinya perkataan kita itu bisa berbahaya. Ia bisa menjadi pisau bermata dua yang bisa kita pakai untuk melindungi kita, atau bisa juga malah mencelakai diri sendiri. Sama halnya dengan pernyataan-pernyataan yang kita posting di sosial media kita. So, hati-hati!

Alasan ini semua bisa terjadi

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ternyata alasan kenapa hal-hal tidak diinginkan yang lahir dari kerusakan moral ini adalah karena kita masih memiliki sistem kehidupan yang belum sesuai. Well, selama sistem kehidupan yang diterapkan saat ini masih Kapitalisme-Liberalisme, maka pasti kasus seperti ini masih akan terus terjadi. Oya, kapitalisme itu adalah sistem kehidupan yang diterapkan oleh negara dengan mengacu pada modal, kapital.

Intinya yang ada di pikiran pembuat kebijakan dan juga rakyat adalah duit, duit, dan duit. Ukurannya materi dalam menimbang untung-rugi atas suatu kebijakan atau perbuatan. Ditambah lagi, secara akidah, menganut sekularisme alias memisahkan antara agama dan kehidupan. Walhasil, urusan negara diserahkan kepada pemerintah, urusan agama serahkan ke agamawan. Akibatnya, agama tidak boleh mengatur urusan individu atau urusan negara jika itu menyangkut kebebasan. Aneh, kan?

Itu sebabnya, dalam negara yang menganut Kapitalisme-Liberalisme, kebebasan menjadi panglima, agama tak boleh mengaturnya, karena itu sama saja mengekang kebebasan mereka. Begitu deh, kayak zaman now ini. Itu sebabnya, miras banyak beredar, narkoba tak bisa dicegah, pergaulan bebas marak, pacaran jadi budaya, korupsi jadi tradisi, perzinaan dilokalisasi, pun demikian dengan judi. Ancur deh!

Permasalahan-permasalahan ini adalah hasil dari sistem yang rusak. Jadi, kasus Audrey ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Karena sudah banyak kasus-kasus serupa sebelumnya. Mungkin Bro en Sis ingat berita murid yang menganiaya gurunya, atau tawuran pelajar yang mengakibatkan korban tewas, dan lain sebagainya. Hmm.. Bisa jadi juga kasus Audrey ini bukan yang terakhir, karena bisa jadi akan ada korban-korban dan pelaku berikutnya selama negara ini menerapkan sistem Kapitalisme-Liberalisme. Hii… ngeri! Na’udzubillahi min dzalik.

Bro en Sis, jadi jelas, ya, kalau semua permasalahan ini kembali pada dua hal. Yaitu tentang adab dan pendidikan. Remaja yang saat ini krisis akan pemahaman tentang adab tidak tahu perbuatan yang membahayakan dirinya dan harus dijauhi. Maka menuntut ilmu itu penting banget-banget-banget, Bro en Sis.

Solusi menjaga diri; ngaji dan dakwah

Kita bisa kok, menjaga diri kita dan orang-orang terdekat supaya nggak salah dalam bertingkah laku. Seruan ngaji dan dakwah selalu jadi solusi terbaik supaya kita terjaga. Ngaji Islam, supaya menguatkan keimanan dan ketakwaan sebagai asupan perbaikan adab dan keseharian kita. Kemudian, setelah mengetahui untuk diri kita, jangan lupa menyebarkannya melalui dakwah. Supaya tidak hanya kita menjaga diri dari kerusakan, tetapi berusaha memperbaiki kerusakan masyarakat supaya bisa lebih menguatkan perbaikan diri kita.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS an-Nahl [16]: 125)

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam memerintahkan setiap muslim untuk menghilangkan kemungkaran sesuai dengan kemampuannya, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemunkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya merubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)

So, ngaji dan dakwah! Belajar Islam dan menyebarkan lagi, sebagai benteng bagi diri sendiri, maupun menyelamatkan orang lain. Semoga kasus Audrey cukup sampai di sini, dan tak ada yang mengulangi lagi di berbagai tempat lainnya.

Nah, supaya terhindar dari keburukan dan siap mengajak orang lain untuk juga menghindar dari sesuatu yang dapat merusak kehidupan dunia kita dan juga akhirat kita, maka kita wajib untuk ngaji dan berdakwah. Mau? Pastinya, ya! [Fathimah NJL | IG @FathimahNJL]

Leave a Reply

%d bloggers like this: