Berhala Cinta

gaulislam edisi 526/tahun ke-11 (1 Rabiul Awwal 1439 H/ 20 November 2017)

 

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kamu pasti udah pada tahu arti cinta, kan? Apa, belum tahu? Hmm.. belum yakin sih. Eh, kok belum yakin? Anu, saya ragu. Jiaah.. sama aja belum yakin ama ragu mah, Bro en Sis. Nah, ada yang tahu rupanya nih. Iyap, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cinta diartikan sebagai, cin·ta a 1 suka sekali; sayang benar; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan); 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu; 4 kl susah hati (khawatir); risau.

Jadi intinya apa sih, kok baca definisi di kamus malah bikin mumet dan bingung. Sabar Bro en Sis. Kamu kudu pelan-pelan memahaminya. Jangan gerasak-gerusuk (hehe… istilah ini nggak di KBBI), ya. Maksudnya jangan keburu-buru. Sebab, kalo gerasak-gerusuk pengen cepetnya aja, bisa berbahaya. Nggak tanya-tanya dulu, langsung hajar. Kalem, Bro.

Begini, secara singkat atau intinya aja ya, cinta itu suka alias sayang alias ingin sekali, alias berharap. Contoh, kalo ada di antara kamu yang cowok dan yang cewek saling cinta, itu bisa berarti saling sayang, saling suka, saling ingin, saling berharap. Sayang untuk apa? Suka untuk apa? Ingin untuk apa dan berharap untuk apa? Jika kasusnya pacaran, maka di antara orang yang melakukannya tentu akan saling sayang, saling suka, saling ingin dan saling berharap bahwa hubungan di antara mereka berjalan lancar dan nggak ada yang ganggu, merajut masa depan dan sejenisnya. Kira-kira begitu.

Nah, persoalannya, kalo cinta yang dibangun atas dasar nafsu doang, tanpa iman, bisa berabe, lho. Beneran. Kita akan melabrak banyak aturan (terutama aturan Islam). Tuh, contohnya pacaran. Ortu dan guru udah wanti-wanti agar menjaga diri dari pacaran, eh kamu malah kebablasan pacarannya hot banget. Islam udah ngatur pola hubungan antara laki dan perempuan, eh kamu malah semangat menghancurkannya karena udah kebelet nafsu.

Itu sebabnya, ketika cinta ditempatkan di atas segalanya, maka itu ibarat sudah jadi sesembahan. Sudah jadi berhala. Bahaya. Padahal, sebaik-baik yang wajib disembah (baca: diibadahi) hanyalah Allah Ta’ala. Jika cinta sudah dijunjung tinggi, menjadi tandingan Allah Ta’ala, berarti cinta ditempatkan sebagai berhala. Orang-orang yang melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah), bukan tidak beriman kepada Allah Ta’ala, tetapi juga menjadikan yang lain sebagai sesembahan—ini khusus untuk orang Islam tapi jadi pelaku syirik. Tapi bisa juga memang bukan orang Islam alias orang kafir yang terkategori musyrik. Nah, lebih parah jika Allah Ta’ala dipinggirkan lalu memuja cinta, padahal dia muslim. Jika demikian, cinta sudah dijadikan berhala. Bahaya, pake bingitz.

Firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 165)

 

Atas nama cinta

Sobat gaulislam, kita bisa menyaksikan di lingkungan sekitar kita, di lingkungan masyarakat yang lebih luas, bahkan di dunia ini, ada banyak penyimpangan yang mengatasnamakan cinta. Apa contohnya? Paling mudah pacaran. Atas nama cinta, para pelaku pacaran berani melanggar batasan tata pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang diatur dalam Islam. Mereka bebas bersentuhan tangan, ciuman, bahkan yang lebih parah dari itu. Lelaki yang ngegombalin pacarnya bilang kalo dia cinta dan demi cinta dia rela ngelakuin apa saja terhadap pacarnya.

Begitu pun yang cewek, demi cintanya kepada sang pacar dia rela menunjukkan bukti cinta dengan memberikan kehormatan sebagai wanita yang harusnya dijaga. Jika sudah begini, pacaran memang pintu gerbang menuju perzinaan. Cinta dan nafsu jadi tipis bedanya, meski mereka bilang, bahwa apa yang dilakukannya atas nama cinta. Wah, jika demikian pantas kalo dibilang sudah memberhalakan cinta. Gawat!

Selain pacaran, ada nggak bentuk penyimpangan yang mengatasnamakan cinta? Banyak. Homoseksualitas (gay dan lesbian), transgender, biseksual, seks bebas (walau tanpa pacaran), dan pernikahan beda agama. Mereka yang pelaku homoseksual nggak mau diatur dengan norma masyarakat (terlebih norma agama). Mereka juga nggak mau diusik perbuatan tercelanya, lalu bilang bahwa itu semua dilakukan atas nama cinta. Sama halnya yang transgender dan biseksual. Punya alasan yang sama: atas nama cinta. Preet!

Eh, ada lagi nih kasus anak penggede di negeri ini (ah nggak ditutupi, sebut saja namanya. Ya, Kaesang), pacarnya beda agama dan berencana nikah meski beda agama. Ada setan dalam bentuk manusia yang mendukung mereka dengan bilang, ‘Beda Agama, yang Penting Kaesang-Felicia Saling Sayang’—begitu judul berita di portal detik.com (9/11/2017). Waduh! Begitulah jika cinta sudah ditempatkan di atas segalanya. Mereka sudah berani memberhalakan cinta dan para pendukungnya juga adalah pengabdi setan. Naudzubillahi min dzalik.

Oya, khusus yang pacaran—apalagi nikah beda agama, wajib membaca dan memahami ayat ini. Firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS al-Baqarah [2]: 221)

 

Cinta terlarang

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuliskan dalam bukunya (al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.) hlm, 266), bahwa pencinta itu ada tiga golongan, yaitu sebagai berikut:

Pertama, pencinta semua keindahan yang dianggapnya sebagai keindahan absolut (mutlak). Kedua, pencinta keindahan yang dianggapnya sebagai keindahan relatif yang tidak absolut, baik ia berambisi mengejarnya maupun tidak. Ketiga, pencinta yang berambisi mengejar yang dicintainya.

Nah, menurut Ibnu Qayyim, tingkat kecintaan dari setiap jenis ini berbeda dan bertingkat dari segi kekuatan dan kelemahannya. Pencinta keindahan yang dianggapnya mutlak hati dan matanya gelap. Artinya setiap yang dilihatnya indah, dicintainya dan dikejar. Kecintaan yang dimilikinya lebih jauh dan luas, akan tetapi ia tidak punya pendirian dan mudah berubah-ubah. Seperti kata penyair: Ia tergila-gila dengan orang ini kemudian mencintai yang lainnya. Dan ia hanya terhibur dengan cintanya saat itu hingga subuh.

“Pencinta jenis kedua lebih teguh pendiriannya, lebih setia, lebih langgeng, dan lebih kuat daripada pencinta jenis pertama. Akan tetapi, kelemahannya adalah apabila kedua jenis tersebut tidak ada ambisi positif kepada yang dicintai. Sebab, pencinta yang memiliki ambisi kepada yang dicintai lebih cerdas dan lebih mengetahui karena ambisilah yang menguatkannya,” begitu tulis Ibnu Qayyim memberi penjelasan tambahan.

 

Hati-hati dengan cinta buta

Sobat gaulislam, cinta buta adalah cinta yang tak mengikuti aturan Islam. Ia bebas berbuat apa saja. Terumasuk saat orang yang model begitu tuh jatuh cinta, maka ia akan buta dan gelap mata. Berbuat sesukanya dan mencampakkan norma agama.

Ada beberapa kerusakan akibat cinta buta ini (ibidem, hlm, 242-244):

Pertama, lupa mengingat Allah. Lebih sibuk mengingat makhluk-Nya, yakni orang yang dicintainya, misalnya. Jika dia lebih kuat mengingat Allah, insya Allah mengingat makhluk-Nya jadi terkendali. Tapi jika lebih kuat mengingat makhluk-Nya, maka mengingat Allah akan dikalahkan.

Kedua, menyiksa hati. Cinta buta, meski adakalanya dinikmati oleh pelakunya, namun sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat.

Ketiga, hatinya tertawan dan terhina. Ya, hatinya akan tertawan dengan orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, maka ia tidak merasakan musibah yang menimpa. So, ati-ati deh kalo jatuh cinta. Jangan sampe hati kita tertawan dengannya, hingga lupa segalanya.

Keempat, melupakan agama. Tak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung cinta buta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalo ada teman kita ketika jatuh cinta tuh sampe nggak sholat, nggak sekolah, dan nggak belajar, tersebab cuma mikirin dia, maka itu udah dibilang cinta buta. Jadi, kita kudu ingatkan supaya jangan keterusan.

Kelima, mengundang bahaya. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirundung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Duh, jangan sampe kejadian. Cukup fakta-fakta soal perzinahan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk nggak melakukan hal yang sama. Naudzubillahi min dzalik.

Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa waswas. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orgil alias orang gila. Mereka nggak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. So, nggak heran dong kalo banyak yang terjerumus berbuat maksiat karena mikirnya instan banget. Cuma kepikiran enak aja menurut hawa nafsunya—walau itu enaknya sesaat. Nggak mikir jauh ke depan: soal dosa dan akibat dosa tersebut.

Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera suriya (konkret) maupun indera maknawi (abstrak). Kerusakan indera maknawi mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain, seperti mata, lisan, telinga, juga turut rusak. Artinya, ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sebagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya. Disebutkan oleh Imam Ahmad, “Cintamu kepada sesuatu membutakanmu dan membuatmu tuli.”

Ibnu Abbas pernah mendengar berita ada seorang laki-laki yang sangat kurus sehingga yang tersisa hanya kulit dan tulang. Ibnu Abbas berkata, “Kenapa ia?” “Ia terkena jatuh cinta, isyq (cinta buta)”, jawab seseorang. Ibnu Abbas berdoa dan berlindung kepada Allah sepanjang hari dari penyakit isyq.

Sobat gaulislam, inilah beberapa mafsadat alias kerusakan akibat cinta buta. Cinta  buta adalah seseorang yang mencintai secara berlebihan, sehingga orang yang dicintainya sudah pada level menguasai dan mengendalikannya. Seperti kata orang, cinta buta itu awalnya ringan dan manis, pertengahannya sedih, kesibukan, dan sakitnya hati, dan ujung-ujungnya adalah kebinasaan dan kematian, jika nggak diselamatkan oleh Allah Ta’ala. Jadi, ati-ati deh. Jangan sampe memberhalakan cinta. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: