Cantik 2

gaulislam edisi 393/tahun ke-8 (15 Rajab 1436 H/ 4 Mei 2015)

 

Elsa Schiaparelli dalam Shocking Life menyebutkan—dua puluh persen wanita mengidap kompleks rendah diri. Tujuh puluh persen memiliki ilusi. Bener tidaknya pernyataan ini, paling nggak bisa kita liat saat ini. Kalo kamu rajin merhatiin sepak-terjangnya anak cewek, ternyata banyak yang nggak merasa aman alias takut tidak dihargai bila ada yang kurang dalam dirinya. Mungkin ini penyakit umum kaum wanita, kali ye. Soalnya, anak laki mana ada yang merhatiin dandanan or tubuhnya. Karena biasanya anak laki rata-rata cuek banget sama soal begituan. Lebih memilih tampil wajar. Lagian kegenitan amat kalo sampe anak laki sibuk ngurusin dandanan atau penampilan tubuh. Jarang-jarang deh.

Menurut seorang psikolog, C.G. Jung namanya, bahwa wanita itu emang senang bila mendapat pujian; baik dari lawan jenisnya maupun dari sesama jenisnya. Maka nggak heran dong bila kemudian anak cewek biasanya ingin tampil menarik. Tepatnya pamer. Tentu dengan tujuan mulianya supaya dilirik kaum Adam. Kalo pun nggak ada pikiran ke sana, paling nggak ingin dihargai oleh sesama jenisnya. Nah, cara berpikir seperti ini akhirnya membuat anak cewek jadi suka merasa minder bila ada yang kurang dalam dirinya. Sebut saja masalah wajah, warna kulit, dan bentuk tubuh. Celakanya lagi, acapkali terpengaruh standar penilaian manusia. Ukuran cantik dan tidaknya dilihat dari wajah, kulit, dan tubuh yang aduhai.

So, bagi yang merasa tampangnya ‘kartu mati’ dan badannya berbobot alias berbodi botol (baca: guwemuk buwanget) udah merasa gerah aja takut nggak ada yang menghargai keberadaannya. Akhirnya, karena terus-terusan dikejar rasa bersalah–yang sebenarnya nggak beralasan itu–lalu berupaya menutupi kelemahannya. Misalkan harus rela berlindung di balik ‘merahnya’ lipstik dan ‘putihnya’ bedak. Biar orang tahu, kalo keberadaan dirinya nggak cuma dianggap sebagai bilangan doang, tapi juga wajib diperhitungkan.

Temen cewek yang model begini biasanya cermin suka dijadiin musuh bebuyutannya. Gimana nggak, setiap kali berhadapan dengan benda yang memantulkan gambar dirinya ini malah bikin bete. Bawaannya manyun melulu. Pengennya nonjok aja bayangan yang ada di hadapannya. Tapi apa boleh buat, itu adalah bayangannya sendiri. Terus terang, anak cewek sekarang kayaknya lebih merasa aman bila ‘bertopeng’. Terutama ini berlaku bagi mereka yang merasa kurang pede dengan penampilan ‘alaminya’. Malah bisa jadi, anak cewek yang model begini, dalam mengepas pakaian pun, bisa jadi nggak mengepaskan pakaian ke tubuh, melainkan melatih tubuh supaya pas pada pakaian. Standarnya jadi berubah ya?

Sobat gaulislam, kalo dilihat faktanya, emang banyak anak cewek yang berdandan tapi pakaiannya tulalit dengan bentuk tubuhnya. Mungkin tujuannya ingin disebut gaul atau trendi karena memakai pakaian keluaran rumah mode terkenal. Namun apa daya, bentuk tubuhnya nggak mendukung. Tapi doi enjoy aja make, dengan alasan sedang melatih tubuh supaya pas dengan pakaian. Wah?

 

Membeli kecantikan

Konsep kecantikan yang makin meluas ini karuan aja jadi peluang bisnis baru bagi produsen kosmetika dan para pengelola salon. Pergi ke salon untuk mempermak wajah dan rambut aja nggak cukup dong. Perlu ada tambahan lain, yakni pergi ke tempat fasilitas kebugaran dan kosmetika yang komplit untuk merawat tubuh luar-dalam. Peluang ini cepat banget ditanggapi. Maka nggak heran bila kini bermunculan salon yang menyediakan juga fasilitas kebugaran. Produsen kosmetika pun kebanjiran order untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat tajam. Selain dituntut melayani dalam jumlah, produsen kosmetika juga kudu lebih kreatif dan inovatif membuat berbagai produk andalan.

Urusan merawat tubuh ini emang berkaitan erat dengan upaya untuk memanjakan diri. Dan tujuan akhirnya nggak jauh dari usaha mendapatkan kecantikan yang sempurna. Ya, cantik luar-dalam itu. Dengan konsep kecantikan yang seperti itu, karuan saja untuk mendapatkannya perlu fulus yang nggak sedikit. Gimana nggak, untuk mendapatkan hasil yang sempurna—paling nggak menurut ukuran mereka—tubuh pun perlu di-tune up. Ternyata bukan cuma kendaraan yang ‘wajib’ mendapatkan perawatan mewah. Kini tubuh pun kudu di-stel dengan baik dan rutin.

Sobat gaulislam, ketika konsep kecantikan ala Barat ini terus digemar-gemborkan, maka kini para wanita, termasuk ibu-ibu dan remaja harus menambah anggaran belanjanya untuk perawatan tubuhnya. Kalo dulu cukup merawat muka dengan masker, sekarang itu nggak cukup. Kalo mau cantik dan menarik kudu menjalani perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki, manicure & padicure. Kalo merasa belum puas juga, bisa meningkat ke spa berikut programnya. Paket komplit dah!

Menjalani proses perawatan yang berliku-liku itu mengingatkan kita bagaimana para putri keraton di jaman dulu merawat kecantikannya. Kalo bicara sekarang, berarti emang ongkos yang harus dikeluarkan jadi nggak sedikit. Sekarang, untuk membeli kecantikan tersebut, para wanita harus merogoh kocek dalam-dalam. Namun soal harga yang mahal, bisa dikalahkan dengan kepuasan. Kepuasan emang mahal harganya, tapi perlukah menghamburkan uang untuk yang begituan? Hehehe.. nointon konser One Direction yang tiketnya dibandrol 2,8 juta rupiah saja mampu, apalagi kalo cuma buat merawat tubuh. Waduh, sayang banget uangnya dibuang-buang ya?

Padahal itu baru harga yang harus dibeli saat pergi ke salon dan tempat perawatan tubuh, lho. Belum lagi kalo kamu kudu beli kosmetika; dari mulai sabun kecantikan, shampo, lulur, krim pelindung, lisptik, bedak, minyak wangi, dan seabrek jenis lainnya. Kamu bisa bayangkan sendiri, berapa ratus lembar uang puluhan ribu yang kudu kamu setorkan ke toko yang menjual kelengkapan produk tersebut setiap bulannya. Ternyata emang membeli kecantikan itu mahal harganya dalam konsep cantik seperti ini. Seperti kata pepatah; “Seorang pria puas kalau ia mendapatkan sesuatu yang baik dan murah. Seorang wanita puas kalau ia mendapatkan sesuatu yang baik dan mahal”

Sobat gaulislam, ini merupakan bagian dari upaya pemenuhan naluri mempertahankan diri (gharizah al-Baqa). Iya dong, kan alasannya aja karena takut nggak dihargai. Berarti emang ini perwujudan dari naluri tersebut. Ya, segalanya bisa dibeli dengan uang, termasuk kecantikan. Apa iya sampai sebegitunya?

 

Tampil cantik islami

Tampil cantik nggak ada yang ngelarang. Apalagi kalo doi emang udah cantik (itu sih nggak usah dibahas ya?). Boleh-boleh saja selama masih dalam batas-batas yang dibolehkan dalam Islam. Pendek kata, tampil cantik sesuai aturan Islam. Seperti apa? Nah, kayaknya kamu kudu gaul dulu soal pandangan Islam tentang konsep cantik itu sendiri. Cantik dalam pandangan Islam tentu bukan yang seperti dipaparkan di atas. Itu sih ukuran dan aturan yang dibuat oleh manusia. Bisa relatif. Namanya juga pendapat manusia, pasti terbatas sesuai fitrah manusia yang emang terbatas dalam segala hal. Maka memberikan keleluasaan kepada manusia untuk membuat aturan pun adalah cara yang ceroboh, Non. Bener, soalnya bisa nggak karu-karuan jadinya. Ambil contoh tentang konsep cantik, mereka kan buat aturan sendiri. Bahwa yang namanya cantik seperti itulah, harus beginilah, seperti yang udah dipaparkan.

Islam, sebagai agama yang sempurna tentu memiliki separangkat aturan yang bisa menyelamatkan manusia. Termasuk ‘cerewet’ ketika mengatur penampilan kaum wanita. Harus kamu pahami, bahwa pengaturan ini adalah untuk kebaikan manusia juga. Bukan untuk mengekang. Firman Allah Ta’ala: “…dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah (yang dahulu)”. (QS al-Ahzab [33]: 33)

Sobat gaulislam, ayat ini menjadi pemandu bagi kita agar nggak asal aja ngelakuin perbuatan. Termasuk soal penampilan kamu. Jangan nekat tampil cantik dengan alasan ngikutin perkembangan zaman, tapi aturan Islam yang melarang berhias berlebihan ketika keluar rumah ditendang jauh-jauh. Itu nggak bener, Sis. Nggak boleh nekat begitu deh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Swt. melaknat wanita yang suka mentato tubuhnya dengan cara menusukkan jarum yang disertai nila atau celak ke dalam tubuhnya (al-Wasyimah), wanita yang meminta orang lain agar mentato dirinya (al-Mutausyimah), wanita yang mencabut bulu-bulu di sekitar wajahnya, termasuk yang memper-pendek dan menghilangkan bulu alisnya (al-Mutanamishah), wanita yang mengikir celah-celah giginya supaya menjadi renggang (al-Mutafallijat), yang mengubah ciptaan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Intinya, kamu boleh tampil cantik, tapi jangan berlebihan. Kalo keluar rumah, kamu nggak boleh memakai lipstik, bedak yang tebel banget, minyak wangi yang bikin telap orang yang menciumnya. Tapi kalo di dalam rumah—dengan suaminya—itu sih malah jadi ibadah. Inilah uniknya aturan dalam Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam menjaga kehormatan wanita bila berada di luar rumah. Dengan kata lain, tampil cantik ketika keluar rumah menurut Islam itu adalah pertama kali wajib menutup aurat; kamu wajib pakai jilbab lengkap dengan kerudungnya. Kepribadianmu pun kudu islami, yakni jadi muslimah shalihah. Mantap dah!

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua golongan penduduk neraka yang tidak pernah aku saksikan semasa hidupku. Pertama, kaum yang memiliki cemeti seperti ekor lembu, di mana mereka menggunakannya untuk memukul manusia. Kedua, wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan rambutnya bagai punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk surga, tidak pula mencium baunya, meskipun bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian (dan) sekian.” (HR Muslim)

Sobat gaulislam, jaman sekarang para cewek juga kerap tampil ‘menipu’ dengan memasang wajah di profil facebook atau twitter dan BBM, menggunakan jasa Camera360. Hehehe.. jadinya: cantik itu relatif, tapi Camera360 itu alternatif. Gubrak!

Jadi jangan tergoda untuk berpenampilan cantik, tapi malah bikin dosa. Hati-hati, ya. Tampil cantik islami aja. Ok? [O. Solihin | Twitter @osolihin]

2 thoughts on “Cantik

  1. Ines Jul 6,2015 11:44

    Assalamuallaikum solihin, nice article!

    Ketika baca dengan kalimat cantik, cukup buat saya tergerak untuk mengklik artikel ini dari beragam artikel yang lain. Kebetulan saya sendiri seorang model dan biasa tampil di depan publik, saya juga pernah menjadi talent dalam video klip yang bertemakan kecantikan sesungguhnya. Mungkin untuk penggunaan kata cantik dengan make up saya sendiri tidak menyarankan asalkan make up yang digunakan tipis saja. Tetapi balik lagi kepada individu masing-masing, wanita yang cantik adalah memang dia yang memiliki inner beauty yang luar biasa, senyumnya ikhlas, dan matanya berbinar ketika melihat sesuatu yang indah. Bukan hanya dengan polesan semata bak badut yang tengah berpesta pora.
    itu saja, kurang lebihnya mohon maaf.

    Wassalamuallaikum….

    ‘alaikumussalam Mbak Ines
    Terima kasih atas kunjungannya ke website gaulislam dan memberikan komentar dari satu artikel yang kami tayangkan. Ya, konsep cantik yang benar adalah menurut Islam. Bukan menurut konsep lain. Meski ada beragam konsep dan definisi ttg cantik, namun semuanya hanya akan menjadi problem tak berkesudahan jika tak distandarkan dengan nilai Islam. Kami menyarankan agar Mbak Ines bisa lebih baik dari sekarang, yakni menjadi muslimah shalihah dan menjadikan kecantikan yang dimiliki hanya untuk yang berhak saja, yakni suami. Bukan dipertontonkan kepada yg lain, sebagaiman model pada umumnya. Terima kasih.

    Redaksi gaulislam

  2. Ines Nov 28,2015 22:53

    Salam, terkait dengan masalah cantik lantaran bermake-up seperti halnya model yang redaksi sebutkan, bukan berarti bisa dituduh bahwa muslimah bermakeup adalah muslimah yang genit atau suka tebar pesona. Semua kembali lagi kepada niat. Bagi saya, untuk penunjang percaya diri sekaligus agar banyak yang mau menggunakan hijab. Di lain sisi, artikel ini memang menarik, tetapi di lain sisi sangaaat menjudge wanita muslimah lainnya yang berprofesi seperti model untuk berhenti. Ingat, setiap ucapanmu akan diperhitungkan di akhirat kelak. Saya pribadi, sangat tidak suka ucapan seorang muslimah apalagi kalau saya tahu muslimah itu berhijab syari tapi suka menilai rendah penampilan muslimah yang tidak syari dan merasa dirinya benar (kebanyakan sih gitu yaa…) atau ikhwan yang terlalu memaksa kehendak manusia lainnya. Padahal Rasul saja mengajak umatnya dengan lemah lembut. Kok yah artikel ini seakan memojokkan, karna saya mengkondisikan seolah-olah menjadi korban atas apa yang penulis paparkan. Banyak orang yang tidak terlalu suka dengan orang yang terlalu agamis karna hal yakni “sudah merasa dirinya benar”. Apakah penulis yakin 100% masuk surga? kapan penulis meninggal? kan penulis ga tau semua hal itu, walaupun saya tahu penulis pasti rajin bertaubah dan beribadah.

    Saran saya, ketika membuat suatu artikel, tidak sepantasnya berbau SARA. Ingat anda penulis! harusnya jago nulis! bukan menuduh wanita begini begitu. Lebih baik pakai bahasa yang santun. Ga perlu kaku, saya pribadi berkali2 dapat artikel dari redaksi ini, sering saya baca, kok seolah2 penulis tidak melihat dari sudut pandang yang objektif yah? dan terlalu memaksakan kehendak pembaca. Rugi loh, anda sebagai penulis sudah capek2 buat tulisan sepanjang ini demi nama Islam demi membela agama Allah, saya sangat mendukung sekali berkaitan agama Islam, tapi kalau kayak gini caranya dengan bahasa yang penulis paparkan diatas apa artinya jika yang membaca bukannya terinspirasi malah sakit hati??? Saran saya sekali lagi, tolong jangan menjudge beberapa wanita/ muslimah. Tetap sangat diperuntukkan adanya pencantuman ayat Al-Quran secara detail berikut tafsiran disertai dengan nasihat bijak, bukan malah menjudge beberapa pihak tertentu. Ini kesalahan fatal, karna ga semua orang suka dengan hal-hal yang sudah anda tuliskan diatas.

    Wassalam…

    Salam, terima kasih sudah membaca dan memberikan komentar. Memang tak mudah dan tak mungkin bisa memuaskan semua pihak. Itu sebabnya, tulisan ini sebagai upaya kami untuk memberikan ajakan dan penilaian. Jika pun tak ada yang suka dan merasa divonis salah melalui tulisan ini, ya silakan. Itu hak pembaca. Toh, semua juga akan dimintai pertanggungan jawabnya, seperti pada komentar yang Anda tulis.

    Kalo soal merasa tersakiti atau terinspirasi, tak selalu dikaitkan dengan gaya penulisan. Tetapi juga dari kesiapan seseorang untuk menerima nasihat. Anda bisa pilih gaya tulisan mana yang cocok bagi Anda. Sangat banyak website yang menulis ajakan kepada kebaikan, yang mungkin ada yang cocok buat Anda. Kami hanya salah satu saja yang mencoba berkontribusi di jalur kebaikan itu. Maaf, bila tulisan kami tak bisa membantu Anda untuk terinspirasi dan mendapat solusi. Tetapi kami yakin masih ada orang yang bisa mendapat kebaikan dari apa yang kami tulis.

    Terima kasih.

    Redaksi gaulislam

Comments are closed.

%d bloggers like this: