Monday, 24 June 2024, 07:52

gaulislam edisi 846/tahun ke-17 (26 Jumadil Akhir 1445 H/ 8 Januari 2024)

Mestinya sih malu kalo kita berbuat salah, apalagi kalo perbuatan salah itu terkategori dosa. Iya, malu banget kalo kita masih punya iman tertancap kuat di hati. Nggak bakalan melakukan maksiat, apalagi bangga saat melakukannya. Itu artinya, kalo kita nggak malu ketika berbuat dosa, maka waspadalah. Mengapa? Karena itu artinya keimanan kita diragukan. Masih lemah atau bahkan hilang. Beneran. Sebab, malu itu bagian dari iman.

Mengumbar aib sendiri, menceritakan bahwa dirinya sudah bermaksiat ini dan itu, lalu merasa bangga. Aduh, kebangetan deh. Nggak punya rasa malu. Ringan aja bercerita ke temannya tentang kemaksiatan yang dilakukannya tanpa rasa malu, bahkan menjadikannya sebagai sebuah prestasi. Merasa senang dengan gelar “bad boy” atau “bad girl”. Aduh, jangan begitu. Nggak baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.” (HR Bukhari)

Gini deh, normalnya kan kalo seseorang berbuat salah di rumah atau di sekolah atau di mana pun, pasti takut kalo ketahuan oleh orang lain. Itu sebabnya dia sembunyi-sembunyi. Berarti kalo malah bangga ketika melakukan dosa, orang tersebut nggak normal. Beneran. Ada yang error dalam cara berpikirnya. Sebab, Rasulullah sudah memberikan warning dalam hadits tadi.

Remaja yang melakukan aktivitas pacaran, meski udah banyak yang ngasih nasihat agar jangan melakukan kemaksiatan tersebut, eh malah ada yang kian atraktif melakukannya. Merasa bangga bisa punya pacar. Merasa excited karena nggak disebut jomblo. Bahkan memamerkan kemesraan bersama pacarnya di media sosial, pake acara live di IG atau Tiktok segala. Aduh, kok nggak malu? Kok malah bangga? Jelas ada something wrong.

Mestinya punya rasa takut  

Sobat gaulislam, dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad, karya Imam Nawawi al-Bantani, beliau mengutip perkataan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu bahwa seorang mukmin mestinya merasa takut dalam enam hal, yakni: 1) takut kepada Allah Ta’ala, khawatir jangan-jangan Allah Ta’ala mencabut keimanannya (saat sakaratul maut); 2) takut kepada malaikat pencatat amal, khawatir jangan-jangan mereka menulis amal kita dengan catatan yang sangat memalukan jika dibeberkan pada hari Kiamat nanti; 3) takut kepada setan, khawatir jangan-jangan para setan itu berhasil merusak amal yang kita kerjakan; 4) takut kepada Malaikat Izrail, khawatir jangan-jangan ia mencabut nyawa kita saat kita lupa kepada Allah Ta’ala; 5) takut kepada dunia, khawatir jangan-jangan dunia itu membuat kita terlena sehingga kita melupakan urusan akhirat kita; dan 6) takut kepada keluarga sendiri, khawatir jangan-jangan mereka telah menyibukkan kita untuk memenuhi urusan mereka, sehingga kita melupakan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Secara ringkas coba saya jelaskan dari keenam poin tersebut, ya. Supaya kamu bisa memahami dengan mudah dalam bahasa yang familiar di kalangan remaja.

Keimanan itu harus kita jaga sampai akhir hayat kita. Jangan sampai lepas. Rugi banget kalo iman kita copot. Kalo lagi kendor aja kita kudu waspada. Segera balik lagi untuk memperbaiki, menguatkan lagi. Ngeri banget kalo iman dicabut saat sakaratul maut. Naudzubillahi min dzalik.

Lalu bagaimana agar kita bisa mempertahankan keimanan sampai akhir hayat kita? Sebab, kita paham betul bahwa keimanan kita nggak statis alias tetap. Sebaliknya iman itu fluktuatif alias berubah-ubah. Kadang naik, kadang turun atau kadang bertambah kadang berkurang. Ada keterangan yang pernah saya dapatkan dari guru ngaji saya, bahwa iman akan bertambah dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Begitu pun sebaliknya, iman akan berkurang dengan kemaksiatan. Maksudnya kalo kita melakukan ketaatan maka iman kita bertambah. Kalo kita berbuat maksiat, maka pada saat itulah iman kita berkurang atau turun.

Jadi kesimpulannya, senantiasalah untuk melakukan ketaatan. Beramal secara konsisten walau pelan-pelan. Tetaplah beramal walau sedikit tetapi rutin. Misalnya shalat tahajud, meski baru bisa dua rakaat, tetapi setiap hari. Intinya tetap bergerak, jangan berhenti. Sebab, kalo bergerak itu meski lambat insya Allah akan sampai juga. Kalo berhenti ya jadinya diam. Upayakan terus melakukan amal shalih agar keimanan terus bertambah.

Firman Allah Ta’ala (yang artinya) , “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS al-Anfal [8]: 2)

Di ayat lain Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS Maryam [19]: 76)

Juga dalam firman-Nya (yang artinya), “Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS al-Mudatsir [74]: 31)

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS al-Fath [48]: 4)

Semoga dengan senantiasa melakukan kataatan kepada Allah Ta’ala, iman kita tetap terjaga sampai akhir hayat kita.

Dari Hanzhalah al-Usayyidiy–beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam–, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”

Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu (terus-menerus) dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan kalian. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR Muslim, no. 2750)

Oya, ini nyambung dengan poin kedua, yakni khawatir jangan sampai kita selalu berbuat keburukan sehingga catatan amal kita dipenuhi dengan keburukan. Malu banget kalo nanti dibeberkan di hari kiamat. So, berusahalah agar malaikat pencatat amal lebih banyak mencatat amal baik kita. Jadi, teruslah berbuat baik. Itu sebabnya, kalo bisa berbuat baik secara konsisten, peluang untuk mengumbar aib dan bangga dengan dosa yang udah dilakukan nggak bakalan ada. Beneran.

Saat beramal shalih juga pastikan nggak disisipi dengan penyakit hati yang ditebar setan. Jangan sampe beramal tapi nggak ikhlas. Kita takut soal itu, sehingga menjaga amal baik kita agar tak ternoda dengan penyakit hati. Kalo udah bisa kayak gini, tentu nggak bakalan merasa bangga saat berbuat dosa.

Kita juga mesti berhati-hati dan takut, khawatir ajal datang saat kita lupa kepada Allah Ta’ala, jauh dari Allah Ta’ala. Nadzubillahi min dzalik. Jangan sampe, deh. Ngeri betul pas lagi bangga-banggain dosa yang dilakukan, eh ajalnya datang. Rugi.

Begitu pula jangan sampe urusan dunia membuat kita lupa pada urusan akhirat. Dunia boleh diraih, tetapi seperlunya saja. Jangan dijadikan tujuan utama sehingga lupa akhirat. Dapat dunia dan jadi kaya harta nggak apa-apa. Asalkan dengan kekayaan tersebut bisa beramal shalih untuk bekal di kehidupan akhirat kelak. Maka, orang yang beriman nggak bakalan bangga saat berbuat dosa karena paham soal ini.

Penjelasan terakhir, jangan sampe urusan keluarga kita melupakan kita dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi karena fokus mikirin nafkah keluarga, akhirnya malah nggak taat sama Allah. Alasannya demi keluarga, lalu menghalakan segala cara. Nggak boleh begitu. Ada tuh yang sayang sama anak (termasuk tentu sayang pada dirinya sendiri), seorang ayah sampe bela-belain nabrak aturan demi memuluskan tujuannya dengan alasan masa depan anak jadi pemimpin negeri. Aduh, sorry, ye!

Jadi, keimanan mestinya menjadi pembeda kita dengan orang kafir. Tunjukkan identitas sebagai mukmin sejati, dalam pikiran dan tindakan. Malu kalo berbuat salah, malu kalo maksiat, malu kepada Allah Ta’ala. Jika itu dimiliki, maka kita akan melangkah dengan hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Nggak asal berbuat, tetapi kudu berdasarkan tuntunan syariat. Kalo udah begini, nggak akan ada yang bangga ketika berbuat dosa.

Dosa adalah kesulitan dan kerugian

Sobat gaulislam, jangan sampe sengaja bikin dosa. Apalagi terus-terusan berbuat dosa dan kerusakan. Bahaya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

الذنوب للقلب بمنزلة السُمُوم، إن لم تُهلِكْهُ أضْعفَتْهُ ولا بد، وإذا ضعُفتْ قُوَّتُه لم يَقْدِرْ على مقاومةِ الأمراض.

“Perbuatan dosa layaknya racun bagi kalbu. Kalaupun dosa tidak membunuh kalbu, pasti akan membuatnya lemah. Apabila telah melemah kekuatannya, kalbu tidak akan mampu melawan berbagai penyakit.” (dalam Zadul Ma’ad, jilid 4, hlm. 185)

Hati-hati juga, bahwa dosa akan menghalangi pelakunya dari berbuat baik, dari beramal shalih. Syaikh Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,

إذا لم تقدر على قيام الليل، وصيام النهار، فاعلم أنك محروم، كبلتك خطيئتك.

“Apabila engkau tidak mampu untuk shalat malam dan berpuasa di siang hari, sungguh engkau telah terhalangi oleh dosamu yang membelenggumu.” (dalam Siyar A’lam an-Nubala’, jilid 8, hlm. 435)

Itu sebabnya, kalo kita bisa terbebas dari kemaksiatan, itu artinya kita berada dalam keselamatan. Zuhair al-Baby al-Abid rahimahullah berkata,

إن كنتَ سلمت من المعاصي فإنك في عافية، وإلا فلا داء أدوى من الذنوب.

“Jika engkau bisa terbebas dari kemaksiatan, maka sesungguhnya engkau berada dalam keselamatan. Kalau tidak, maka tidak ada penyakit yang lebih membahayakan dibandingkan dosa.” (dalam at-Taubah, karya Ibnu Abid Dunya, hlm. 50)

Jadi, begitulah dosa. Bikin rugi dan membuat hidup jadi sulit, bahkan celaka. Maka, waspadalah jangan sampe tercebur melakukan dosa, bahkan bangga bisa berbuat dosa. Ngeri.

Mestinya, yang segera dilakukan bagi yang sering berbuat dosa, yakni bertaubat. Menyesal, nggak mau melakukan lagi, menjauhinya, dan iringi dengan memperbanak amal shalih. Itulah taubat yang sesungguhnya.

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan,

فمن تاب أشبه أباه آدم، ومن أصر واحتج بالقدر أشبه إبليس.

“Siapa pun yang bertaubat, maka ia serupa dengan ayahnya, Adam. Namun, barang siapa justru terus-menerus dalam dosa dan berdalih dengan takdir, berarti ia serupa dengan Iblis.” (dalam Majmu’ al-Fatawa, jilid 8, hlm. 108)

Yuk, sadar diri dan perbaiki iman kita agar lebih kuat. Jangan sengaja melakukan maksiat, dan jangan bangga saat melakukan dosa. Sebab, dosa bikin rugi di dunia dan di akhirat! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *