Jomblo Fisabilillah

gaulislam edisi 528/tahun ke-11 (15 Rabiul Awwal 1439 H/ 4 Desember 2017)

 

Hai Bro en Sis, ketemu lagi nih, dengan buletin kesayangan kamu. Ya, tema gaulislam kali ini udah saya tunggu-tunggu buat dibahas, nih! Yaitu “mending jomblo daripada pacaran”. Judulnya? Ya, seperti yang kamu baca hehe…

Hmm…pacaran, yah. Wah, kalo ini mah, dari zaman saya SD sampe sekarang udah marak dilakuin. Bedanya dulu ngumpet-ngumpet alias diem-diem. Nggak berani tuh, terang-terangan pacaran. Tapi kalo kids zaman now, beuuuh makin berani aja muda-mudi yang pacaran. Sekali liat kanan-kiri. Mau itu di tempat parkir sampe pasar sayur. Ada aja orang-orang yang lagi pacaran. Duh, duh…

Seiring dengan perkembangan zaman, masuknya budaya-budaya luar lewat film, lagu dan sejenisnya. Selain itu tayangan-tayangan sinetron remaja di Indonesia yang mengusung tema ‘cinta dan pacaran’ tersebar di hampir semua stasiun televisi. Hampir semua orang di Indonesia dari berbagai kalangan melakukan yang namanya, ‘pacaran’. Waduh!

Mungkin pernah kali ya kamu dengar kalimat model gini: “Kalo lo belom pernah pacaran, cupu!” atau yang kayak gini: “Zaman sekarang, masih jomblo? Gak laku, lo?!”

Wah, itu adalah kalimat pedas yang bakalan terucap kepada para jombloers di luaran sana. Kalo mereka belom pernah pacaran.

Jujur aja, menurut saya, itu adalah kalimat yang salah. Tidak berbobot. Penuh kesesatan. Dan pastinya, sangat, saaaangat tidak patut untuk dipegang teguh oleh Bro en Sis yang insyaallah muslim dan muslimah sejati. Kamu semua kan emang nggak lagi jualan, ya. Jadi nggak butuh, tuh. Laku atau nggaknya kagak ngaruh. Bener, kan? Bener, dong!

 

Dari jomlo ke ‘jomblo’

Di zaman now ini, kalo kamu nggak punya pacar, maka siap aja disebut jomblo atau single. Pertanyaannya, kenapa orang-orang yang belum punya pacar alias gebetan disebut jomblo?

Well, bro and sis, menurut sebuah artkkel di brilio.net, ternyata ada banyak versi asal-usul kenapa orang-orang yang nggak punya pacar disebut jomblo. Mulai dari bahasa serapan luar, bahasa daerah saaampe makanan! Woah, sangat tidak terduga, cuma gara-gara makanan orang yang nggak punya pacar disebut jomblo. Hmmm, tidak logis, sih, menurut saya.

Tapi sobat gaulislam, di antara sekiaaan banyak versi, menurut saya, ada satu versi yang paling mendekati dan setidaknya cukup diterima logika. Bahwa kata ‘jomblo’ diambil dari Bahasa Sunda ‘jomlo’ yang artinya perempuan yang udah berumur tapi nggak or belum menikah. Perempuan yah, Bro en Sis. Perlu ditegaskan, PEREMPUAN!

So, kata ‘jomlo’ ini jadi bergeser deh maknanya, juga nulisnya jadi jomblo. Yang tadinya perempuan udah berumur jadi perempuan dan laki-laki dari semua umur yang belom punya pacar. Jadi, deh orang-orang yang gak punya pacar disebut jomblo! Aneh yang punya bapak ajaib alias aneh bin ajaib.

 

Alasan pacaran kata yang pacaran

Kenapa sih, banyak orang yang suka pacaran di luaran sana? Sampe bisa gonta-ganti pacar tiga kali seminggu. Atau malah sekali pacaran tiga orang? Ck..ck..ck…

Kilas balik pengalaman pribadi, nih. Jadi waktu itu saya nanya ke salah seorang temen sekelas pertanyaan semacam ‘kenapa orang-orang suka pacaran?’ atau sejenisnya.

Saya sendiri lupa kenapa saya bisa tanya hal itu ke dia. Tapi pada intinya, di antara sekian meter panjangnya kalimat jawaban dari dia, ada beberapa kalimat yang terus mangkel alias ngeganjel di hati saya saaampai sekarang. Apa kalimat yang saya ingat? Pertama, “Pacaran itu latihan,”. Kedua, “Kan seneng, ada yang perhatian,”

Well, hal yang terlintas pertama kali dalam benak saya ketika inget itu cuma satu pertanyaan, “kenapa?”

 

‘pacaran itu latihan’

Kenapa pacaran itu latihan? Kok, bisa pacaran dijadiin latihan? Latihan untuk apa? Oh, okay, latihan untuk ke tahap selanjutnya. Hmm…(mikir keras) berarti siapapun orang yang dipacari, jadi bahan percobaan, dong?

No, no, no, jangan teriak nggak terima karena doi disebut bahan percobaan, yah! Nggak usah angkat tinju, dong! Saya, kan, cuma menyimpulkan dari kalimat ‘pacaran itu latihan’. Duh, duh, bro and sis nggak usah nge-gas, dong…

Pasalnya nih, atlet bulu tangkis aja kalo latihan butuh bahan percobaan. Nyoba raketnya, enak dipandang nggak, enak di tangan nggak, enak dipake buat main nggak, talinya gampang rusak nggak. Namanya juga percobaan, kalo ternyata nggak enak dan gampang rusak, ya udah pake yang lain aja.

Menurut saya sih sama aja sama kalimat ‘pacaran itu latihan’. Pasangannya klop sama hati nggak, enak dipandang nggak, enak diajak ngobrol nggak, emosian nggak, sikap dan sifatnya enak di hati nggak. Yah, namanya juga percobaan, kalo ternyata nggak enak, ya udah cari yang lain aja. Gampang, kan?

“Perempuan yang jomblo nggak cuma satu di dunia, kan?”

“Laki-laki yang jomblo nggak cuma satu di dunia, kan?”

Itu adalah kalimat penghiburan diri bagi orang-orang yang baru putus cinta. Dan sayang banget, di tulisan ini, kalimat itu jadi boomerang bagi kalian para pencari pacar yang mencoba menghibur hati dengan kalimat itu. Kenapa? Karena bisa jadi, kalian adalah bahan percobaan selanjutnya bagi para pemegang kalimat di atas itu. Waspadalah!

Dijadiin kelinci percobaan? Dih, saya sih, ogah, yah. Kalo kamu gimana, mau dijadiin kelinci percobaan?

“Bukan kelinci percobaan. Kan kita cinta sama dia. Perasaan kita ini tulus karena cinta. Dan cinta itu nggak main-main. Cuma yah, karena nggak cocok lagi, ya udah, putus,”

Bagi orang-orang yang mencoba menyangkal dengan kalimat semacam itu, hal pertama yang akan saya tanyakan adalah, “terus?”

Katanya cinta sama si dia. Katanya perasaannya tulus sama si dia. Katanya cinta itu nggak main-main. Terus, kenapa milih jalan pacaran yang main-main? Mendekati zina, dan jelas itu dosa!

Bagi para lelaki, brother sekalian, penggoda ulung yang mampu menaklukkan hati perempuan. Nggak perlu, deh, merangkai kata seeedemikian rupa untuk meluluhkan hati pujaan tercinta (ahai!). Karena meski diiming-imingi kalimat semacam ‘aku serius sama kamu’. Kalian bukanlah pria sejati atau brother sejati, kalau harus manis di bibir tapi pahit di action.

Karena pria sejati sesungguhnya adalah yang begitu cinta langsung menemui orangtua or wali pujaan hati dan bilang, “Saya ingin menikahi putri Anda,”

Ecieee…yang deg-degan tuh. Hahaha…

 

‘kan seneng, ada yang perhatian’

Hello, para sister yang mudah baper! Saya mau nanya, nih. Kira-kira bentuk perhatian kayak gimana, sih, yang bikin hati kalian luluh lantak sama rayuan cowok?

Seneng ada yang ngingetin makan? Meleleh karena dianter jemput? Bahagia karena ada yang nanya ‘kamu lagi ngapain’? Seneng karena ada temen ngobrol, curhat, sekaligus temen nongkrong yang asyik? Bangga karena ada temen ‘mesra-mesraan’ yang bikin para jombloers keki? Atau ngerasa aman karena yayangmu bilang hal-hal semacam ‘aku bakal ngelindungin dan ngejagain kamu’?

Hai, ladies! Makan nggak perlu diingetin juga kelees. Kalo laper mah, pasti langsung makan, dong! Kan nggak lucu kalo kalian mau sarapan harus diingetin makan dulu. Mending kalo ngingetinnya tepat waktu. Kalo ngingetinnya udah otw siang, perut kalian udah bunyi minta diisi, kan berabe. Duh, duh…

Dianter jemput sama si doi? Idiih…yang ada ngasih kesempatan yang bukan mahram buat berdua-duaan sama kalian. Udah mendekati zina, eh malah makin deket lagi. Tambah dosa lagi. Naudzubillah!

‘Ngobrol’ dan curhat yang paling asyik itu, yah, sama Allah. Mau nangis kejer-kejer, bergalau ria, nggak masalah. Mau berdoa dan berharap sebanyak apapun pasti Allah Ta’ala denger. Jika Dia berkehendak atas doamu, ya terkabul, deh. Kalo mau temen nongkrong, yah, ajak temen sejenis aja. Nggak perlu lah, ngajak yang bukan mahram dan menambah dosa yang menuntun ke nereka. Jangan sampe deh, ya!

Apakah kamu yakin kalo pacaran dan mesra-mesraan bisa membuat diri kalian bangga? Ck..ck..ck.. alih-alih bangga, justru bikin ngerasa hina. Hina karena sudah melanggar perintah Allah, digembar-gemborkan, lagi. Malu, dong, sama yang Maha Mencipta. Catet, deh!

Well, untuk para sister, kalo si doi ngerayu dengan iming-iming bakal ngejaga, ngelindungin, memberi keamanan, kenyaman, duuuh…nggak usah kemakan omongan mereka, deh. Karena itu cuma manis di lisan doang. Emang mereka mau ngelindungin dari api neraka?

Cuma Allah yang Maha Melindungi yang bisa ngelakuin itu semua. Baik itu dari tusukan pisau para penjahat kelas teri di bumi. Saaampe lidah api neraka di akhirat nanti. Cuma Allah yang bisa melindungi!

So, stop melting karena rayuan manis si doi! Nggak ada gunanya pula, kok.

 

Pacaran is jahiliyah

Sobat gaulislam, khususnya for all jombloers sejati. Nggak usah ngerasa iri sama mereka yang pacaran, ya! Kenapa? Karena pacaran adalah aktivitas orang-orang jahiliyah yang masih bodoh karena belum mendapat hidayah Islam. Bukan nuduh, ini fakta.

Pacaran jelas mendekati zina. Dan mendekati zina adalah dosa besar. Dalam al-Quran surat al-Isra ayat 32 (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. Semua orang tahu itu, tapi banyak orang yang tahu tetap melakukan yang namanya pacaran. Apa nggak bodoh, namanya?

Oke, Bro en Sis. Jadilah cerdas dengan merefleksikan ilmu al-Quran ke dalam kehidupan sehari-hari. Nggak cuma teori, tapi action alias amalnya juga.

Jangan takut nggak dapet jodoh. Karena Allah Ta’ala sudah memilihkan pasangan terbaik untuk kita semua. Insya Allah. So, don’t worry be happy, okay?

Nah, yang perlu dilakukan para jombloers sekarang adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan perbaiki diri dengan akhlak yang mulia. Bagi kamu yang laki, yang kepengen jadi lelaki sejati, cari ilmu yaaang banyak dan persiapkan ekonomi kalian. Supaya kalo jodohnya udah ketemu, tinggal tancap gas datengin walinya si doi. Ngapain? Ya, nikahlah! Apa nggak berani? Waduh, emang nikah bukan buat yang pengecut. Sebab, yang pengecut bisanya cuma pacaran. Sori agak pedes, abisnya kezel banget, deh!

Bagi para sister yang nunggui si doi, cari ilmu sebanyak-baaanyaknya dan pastaskan diri kalian. Kalo kepengen punya suami hafidzh 30 juz, yang sholeh, yang birrul walidain, yang sayang istri sama anak. Berarti kalian juga harus berusaha hafalin al-Quran. Menjadi sholehah, sayang orangtua, dan mampu mengayomi anak-anak dan menghormati orangtua. Deal, ya!

 

Keep in jomblo

Sobat gaulislam, pacaran itu cuma main-main, kok. Buktinya, pacaran yang udah bertahun-tahun sampe jamuran, nggak membuktikan mereka bakal nikah dan hidup happily ever after.

Sementara jomblo adalah pilihan bagi kamu yang menjaga izzah hanya untuk pasangan tercinta sampai akhir hayat. Jomblo di jalan Allah. Ya, jomblo fisabilillaah. Pertahankan jomblomu sampai Allah Ta’ala berikan jodoh terbaik bagimu. Berdoa saja, walau tak pacaran nggak sering ketemu, kalo emang udah jodoh pasti ketemu juga meski tiba-tiba datangnya. Insya Allah.

Beneran! Bukan mustahil kok, kalo yang ketemu cuma sekali dan cuma seeepersekian detik. Eh, malah terus sampe nikah (tanpa pacaran, lho). Dan tahunya…jadi keluarga sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah. Keluarga samara beneran. Aamiin. [Zadia “willyaziza” Mardha]

Leave a Reply

%d bloggers like this: