Matinya Akal Sehat

gaulislam edisi 605/tahun ke-12 (22 Ramadhan 1440 H/ 27 Mei 2019)

Ketika kamu kecil nonton film superhero, apa yang kamu rasakan? Kalo saya sih, merasa terhibur. Puas ketika musuh sang superhero dihancurkan sehabis-habisnya. Anak kecil, umumnya mungkin begitu. Senang dihibur. Perkara isi cerita masuk akal atau tidak bukan urusan. Sebab, targetnya memang menghibur diri, sekaligus memuaskan ego karena superhero yang diidolakan tampil digdaya melawan musuh-musuhnya.

Tapi seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak mestinya mulai berpikir lebih realistis dan juga analitis. Gampangnya, anak Kelas 1 SMP mestinya cara berpikirnya udah jauh lebih baik ketimbang ketika dia masih kelas 1 SD. Begitu seterusnya. Intinya, jenjang pendidikan yang lebih tinggi berpeluang mengedukasi orang jadi lebih baik. Apalagi disertai berbagai pengalaman yang dia dapat. Maka, menjadi lebih baik cara berpikirnya adalah sebuah keniscayaan.

Tapi tentu akan kian aneh kalo dari hari ke hari cara berpikir kita malah lebih buruk. Nah, jangan lupakan lingkungan juga lho, itu bisa membentuk cara berpikir kita. Kalo tiap hari disuguhi tontonan di televisi (baik cerita maupun berita) yang mengada-ada, bisa dipastikan akal kita jadi jumud. Bila tiap hari nggak dilatih membaca fakta dengan cermat, hanya sebatas bagian luar yang terlihat, tidak sampai ke bagian dalamnya dari sebuah fakta, besar kemungkinan kita hanya berhenti pada cara berpikir yang dangkal.

Sinetron di negeri ini sering menghadirkan cerita yang aneh-aneh. Tapi anehnya, banyak juga yang menikmatinya. Judulnya banyak yang aneh pula. Misalnya nih, saya sampe berburu info di google. Beberapa judul (entah judul asli atau yang sudah diparodikan netizen): “Anakku Menjadi Anak Mantan Istri Suamiku” (asli ini bikin pusing mikirin silsilahnya); “Aku Tidak Bisa Mengakui Anakku adalah Anakku” (ribet amat bikin judul, jangan sampe anaknya nggak ngakui ibunya, deh!); “Anakku Anak Suamiku, Tapi Bukan Anakku” (mumet bener mikirnya, aya-aya wae); dan masih banyak lagi. Selain itu, website kumparan bahkan mencatat ada 194 judul FTV Azab dengan judul-judul yang puwanjang buwanget dan menebar ketakutan. Anehnya, digemari pemirsa. Duh, jadi pengen garuk-garuk aspal.

Sobat gaulislam, kebanyakan nonton sinetron yang bermasalah baik ide maupun jalan ceritanya juga bisa berdampak jadi pemimpi (pengkhayal tingkat tinggi), keberhasilan pengen instan, memelihara dendam, terbiasa berpikir absurd alias nggak masuk akal bin mustahil. Ujungnya, akal sehat kita mati total.

Antara sandiwara dan fakta

Aksi Damai menuntut keadilan dengan agenda menolak pemilu curang dari GNKR (Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat) pada tanggal 21-22 Mei 2019 lalu akhirnya berubah jadi rusuh. Entah siapa yang bermain di situ sehingga jadi chaos. Ada banyak korban yang meninggal dunia dan ratusan luka-luka. Memang aksi demonstrasi dengan kondisi terbuka dan malam hari seperti itu rawan penyusupan dari berbagai pihak yang ingin memancing di air keruh. Atau, bisa juga memang sudah di-setting (harus) chaos sehingga berbagai upaya dikondisikan. Mugkin saja, kan?

Nah, ada yang lagi viral dan jadi buah bibir adalah si Andri Bibir. Konon kabarnya dia adalah orang yang digebukin rame-rame oleh belasan polisi. Dihajar popor bedil, ditendang berkali-kali oleh para polisi bersepatu lars, diseret kayak nyeret anjing jalanan. Tapi anehnya, berita yang muncul di televisi justru Si Andri Bibir yang cuma diperban jidatnya, entah beneran luka apa pura-pura. Udah gitu ngucapin terima kasih kepada polisi yang anter dia ke RS. Nggak masuk akal. Netizen pun rame-rame bikin status nyinyir kalo Si Andri Bibir ini anggota baru Avengers asli Indonesia yang lebih kuat dari Thanos. Hahaha…

Padahal, dilihat dari tayangan video dari atas sebuah gedung itu memperlihatkan seorang laki-laki yang sedang disiksa belasan polisi, si perekam juga terdengar menyebutkan kalo lelaki yang disiksa itu adalah anak kecil. Kemudian beredar kabar bahwa yang disiksa adalah Harun. Ada kabar lain, itu Rayhan. Anehnya yang jadi polemik malah soal nama. Tapi yang pasti, kedua anak itu adalah manusia. Bukan boneka. Kenapa nggak fokus ke para pelaku penyiksaan?  

Ajaibnya, selang beberapa waktu pihak kepolisian menyebutkan bahwa orang yang disiksa tersebut adalah Andri Bibir. Nggak selesai di situ, ada yang bantah, yang digebukin bukan orang itu, tapi namanya Markus. Makin rumit, kan? Ini sandiwara atau fakta?

Tapi memang tak ada rekayasa yang sempurna, apalagi untuk menutupi kebohongan demi kebohongan. Institusi kepolisian, telah mencoreng nama baik mereka sebagai pengayom rakyat, penegak keadilan. Bukan pada kasus ini saja, terutama jika itu terkait umat Islam. Aksi terorisme yang sarat dengan kepentingan tertentu untuk memberikan stigma kepada Islam dan kaum muslimin, polisi hanya serius memproses laporan jika pelakunya adalah kaum oposan (yang ke sininya malah identik dengan Islam). Tapi tak pernah sedikit pun mencolek pelaku ujaran kebencian jika pelakunya adalah pendukung rezim ini. Keadilan telah mati.

Sobat gaulislam, cobalah kita berpikir jernih, berpikir lebih bijak. Sebenarnya mudah kok untuk mendeteksi bahwa itu sandiwara atau fakta. Salah satunya adalah saat Kapolri Tito Karnavian memamerkan senjata yang katanya digunakan perusuh. Apa keanehannya? Dalam video yang ditayangkan CNN Indonesia dan di-share detik.com itu dia sama sekali tak menggunakan sarung tangan. Di mana-mana kalo itu barbuk alias barang bukti ya harus menggunakan sarung tangan ketika memegangnya supaya sidik jari pelaku tetap ada. Ini kok bebas dipegang siapa pun. Duh, melanggar SOP memperlakukan barang bukti, tuh!

Minimal kalo saya sih ragu dengan polisi yang memegang barang bukti tanpa mengenakan sarung tangun. Tidak menuduh langsung, tapi caranya yang janggal dalam memperlakukan barang bukti seperti itu, sudah cukup mengindikasikan bahwa itu besar kemungkinan adalah rekayasa. Apalagi dengan sederet rekayasa selama ini yang membuat rakyat muak terhadap institusi ini. Eh, bukan berarti semuanya lho. Ini institusi ya, bukan orang per orang. Insya Allah masih banyak polisi yang baik, tapi tertutupi oleh perilaku elitnya yang ngawur seperti ini.

Selain itu, meski sudah jelas banyak rekayasa, para pendukung rezim sih, anteng aja membela mati-matian. Bahkan nyinyir juga tuh kepada para pendemo, maki-maki juga, tertawa pula di atas kematian manusia. Hanya gara-gara berseberangan dengan mereka. Tapi mereka bungkam atas ratusan petugas KPPS yang meninggal, dan ribuan lainnya sakit. Akal sehatnya udah mati. Sudah jelas salah, masih pula dibela. Lidahnya tajam jika mengomentari pihak oposan, tapi kelu dan mati rasa bila pelakunya adalah pendukung rezim, atau bahkan pemerintah yang melakukan kesalahan. Bukan dinasihati atau dikritik, malah dibela membabi-buta.

Keadilan susah didapat

Dulu, beberapa anggota Banser melakukan pembakaran bendera tauhid. Terkesan dibiarkan saja. Baru setelah netizen rame membahas, berbagai alasan dihamburkan pihak kepolisian. Ujung-ujungnya malah pembawa bendera yang ditangkap dan dihukum. Aneh bin ajaib.

Kini, yang diburu adalah perekam video penyiksaan polisi terhadap warga di Kampung Bali tersebut. Terus, polisinya diapain? Bukti rekaman itu kan atas kejadian sesungguhnya yang terlihat. Lagian zaman sekarang hampir semua orang punya smartphone. Begitu ada kejadian, tinggal pencet tombol foto atau rekam video, jadi deh. Sebar pula via medsos.

Harusnya jangan disebar? Ngawur itu mah, jadi enak di pelaku dong. Hmm.. jadi mikir, jangan-jangan penonaktifan medsos beberapa waktu lalu ada hubungannya dengan agenda kebrutalan seperti itu agar tak ada yang menyebarkan. Tapi, sekali lagi, tak ada rekayasa yang sempurna, apalagi untuk menutupi kebohongan demi kebohongan. Akal sehat telah mati.

Ujaran kebencian yang dilakukan para pendukung pemerintah, tak pernah diproses, apalagi diberikan hukuman. Nihil. Tapi bila pelaku ujaran kebencian (menurut versi mereka) ada di pihak kaum oposisi, langsung diciduk dan bila memungkinkan dijebloskan ke penjara. Sampai sini paham? (gaya Ustaz Adi Hidayat, mode “on”).

Jadi saat ini, kita sedang berada dalam rezim yang otoriter alias berkuasa sendiri dan sewenang-wenang. Penegak hukum dan keadilan dipaksa mengikuti maunya rezim. Bisa disaksikan deh sekarang, banyak banget faktanya. Islam dan kaum muslimin saat ini jumlahnya mayoritas. Tapi dikendalikan oleh segelintir musuh-musuhnya yang minoritas dengan bantuan orang-orang fasik dan munafik. Sudah terbukti dengan jelas, dalam hal apapun termasuk dalam pilpres, politik identitasnya adalah: Islam dan bukan Islam (liberal, fasik, munafik, sampai kafir). Tanpa sadar rezim memposisikan diri seperti itu dengan apa yang ditunjukkan dalam ucapan dan tindakan.

Apa yang harus dilakukan?

Sobat gaulislam, ini zaman fitnah. Hati-hati aja. Kebenaran akan dibungkam, kesalahan malah dibiarkan. Bahkan bila perlu yang benar akan disalahkan dan yang salah malah dibenarkan. Sudah terlihat juga dengan terang benderang. Ini jelas musibah bagi kita. Waspadalah!

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR Muslim no. 118)

Ya, tadi disinggung di awal bahwa ini zaman fitnah. Secara bahasa fitnah bisa bermakna ujian, cobaan, bala’, bencana dan siksaan. Pada riwayat di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam memberikan peringatan kepada umatnya agar mewaspadai adanya fitnah yang bisa menggoncang keimanan mereka.

Dalam sebuah artikel di hidayatullah.com dijelaskan bahwa penggambaran fitnah laksana potongan malam yang amat pekat itu menunjukkan betapa berat dan berbahayanya fitnah itu. Ini merupakan peringatan penting bagi setiap Muslim, bahwa banyaknya fitnah yang menyebabkan seseorang murtad merupakan tanda dekatnya akhir zaman.

Tentang fitnah yang bisa membuat kaum Muslimin terperosok pada kekufuran setelah keimanannya, diperkuat dalam riwayat yang menjelaskan tentang kemunculan fitnah duhaima’. Riwayat tentang fitnah duhaima’ bercerita tentang masa-masa yang akan dihadapi oleh kaum Muslimin menjelang keluarnya Dajjal untuk menebar fitnah dan huru-hara.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda (yang artinya), “Setelah itu akan terjadi fitnah Duhaima’, yang tidak membiarkan seorang pun dari umat ini kecuali akan ditamparnya dengan tamparan yang keras. Ketika orang-orang mengatakan, “Fitnah telah selesai”, ternyata fitnah itu masih saja terjadi. Di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman, namun di waktu sore ia telah menjadi orang kafir. Akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan beriman yang tidak ada kemunafikan sedikit pun di antara mereka, dan golongan munafik yang tidak ada keimanan sedikit pun di antara mereka. Jika hal itu telah terjadi, maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya.” (HR Abu Dawud no. 3704, Ahmad no. 5892, dan Al-Hakim no. 8574. Dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi)

Hadits di atas mengisyaratkan hakikat fitnah Duhaima’ akan meluas mengenai seluruh umat ini. Meskipun manusia menyatakan fitnah tersebut telah berhenti, ia akan terus berlangsung dan bahkan mencapai puncaknya.

Tuh, catet ya Bro en Sis. Jangan sampe kita terpesona bahkan tertipu dengan hoax, sehingga menyebabkan orang yang awalnya beriman pun malah termakan opini itu lalu menghinakan diri dengan mencela Islam dan kaum muslimin. Ada contohnya? Banyak! Silakan pantengin di medsos. Gara-gara pilpres, banyak yang berantem. Malah bukan berantem karena soal remeh, tapi sudah masuk perkara keyakinan. Umat Islam banyak yang digiring untuk membenci Islam dan kaum muslimin. Ini kan, aneh. Sudah ngawur. Tapi banyak juga yang malah membela orang yang sudah jelas salah dan berlaku zalim. Di mana keimanan dan akal sehatnya? Padahal pula, banyak di antara mereka ngakunya muslim tapi membenci Islam dan kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (HR Muslim dalam Sahihnya dari hadis Abu Said radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda (yang artiya), “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada hamba-Nya di hari kiamat sehingga Dia berfirman: Apa yang menghalangi kamu apabila melihat kemungkaran namun kamu tidak mencegahnya? Maka dia pun menjawab: Aku takut pada manusia. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak untuk engkau takuti.” (HR Ahmad dalam Musnadnya dari hadis Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Nah, dalam hal ini termasuk kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, wajib untuk diubah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya), “Akan datang suatu pemimpin dimana orang yang mendatanginya dan menolong kezalimannya, dan membenarkan kedustaannya, maka dia bukan golonganku dan aku bukan golongannya dan tidak akan minum air telagaku. Dan barangsiapa yang tidak mendatanginya dan tidak menolong kezalimannya, juga tidak membenarkan kedustaannya, maka dia golonganku dan aku golongannya, dan akan meminum air telagaku.” (Shahih at-Targhib wat Tarhib oleh Syaikh Al Albani)

Yuk, sama-sama kita belajar Islam agar lebih baik lagi. Tetap teguh memegang prinsip sebagai muslim. Jangan kehilangan akal sehat, apalagi mengorbankan keimanan demi mengejar kepentingan dunia yang fana dan nggak seberapa.

Jadilah orang yang waras. Sebab, orang yang waras akan menggunakan akal sehatnya dan hanya akan membela kebenaran. Orang yang sehat akalnya juga cenderung memilih kebaikan dan kebenaran Islam. Itu poinnya! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

%d bloggers like this: