Tuesday, 16 July 2024, 15:43

gaulislam edisi 871/tahun ke-17 (25 Zulhijah 1445 H/ 1 Juli 2024)

Ada nggak nih yang pernah denger kata baper? Pasti udah pada pernah dong, kalau nggak pernah berati kamu kudet. Hahaha, nggak kok nggak, nggak dosa kalau nggak tahu. Jadi ya, santai aja. Oke kalau gitu apa sih baper itu? Kok kayaknya kata ini sering banget sih dipake bukan hanya oleh anak muda tapi sampai emak-emak pun nggak mau ketinggalan.

Tapi, tahu nggak sih apa arti dari baper? Baper adalah kependekan dari “Bawa Perasaan”. Istilah ini tidak selalu membicarakan soal cinta-cintaan. Tapi bisa juga digunakan kepada seseorang yang memiliki sifat sensitif dan sering merasa tersinggung atas perkataan atau tingkah laku orang lain.

Nah, kacaunya kalau sifat ini dipadu dengan sifat labil. Bisa bahaya buat diri sendiri dan orang-orang sekitar. Labil kalau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya ‘Goyah atau tidak stabil’. Tuh, dari artinya aja udah meresahkan apalagi kalau diaplikasikan dalam kehidupan? Bisa gawat, tuh!

Baperan itu sebenarnya nggak selalu jelek, tapi kalo ditambah dengan sifat labil, wah bisa bahaya, lho! Labil itu artinya nggak stabil atau gampang berubah-ubah. Bayangin deh, kalo udah baperan terus labil juga, bisa-bisa tiap hari drama terus, kan capek tuh!

Tapi di zaman sekarang ini sudah banyak loh remaja, bahkan orang dewasa yang tumbuh bersama sifat baper and labil ini. Padahal sifat ini sangat tidak baik, lho. Orang yang memiliki sifat ini cenderung akan sangat mudah terkena stres ataupun depresi, adakalanya hanya dipicu alasan yang sebenarnya sepele.

Kalau disinggung dikit sakit hati, kalau dinasihatin baper. Nah, begitulah sifat orang yang baperan dan kalau ditambah dengan labil, maka hasilnya akan jadi emosian dan plin plan, nggak bisa memilih tujuan dan tak jelas dalam menjalani kehidupan. Orang yang memiliki kedua sifat ini biasanya mudah marah, gampang tersinggung, mudah diprovokasi, sering kali melakukan kesalahan yang sama, moodnya cepat berubah, egois dan tidak punya pendirian. Kok bisa? Ya, bisa lah. Kamu bisa rasakan sendiri atau lihat fakta teman-teman sekitarmu yang punya perilaku demikian.

Tapi, kenapa sih remaja bisa jadi baper dan labil? Baper itu sih hal yang lumrah saja terjadi karena kita masih remaja dan pada dasarnya manusia memang cenderung senang mendapat perhatian dari orang lain. Pada usia remaja segala tingkah laku dan pikiran masih didominasi oleh emosi, sama halnya kayak labil, remaja yang sedang berada pada masa pubertas pasti akan mengalami perubahan hormon dan perkembangan fisik yang dapat membuat emosi menjadi tidak stabil dan labil secara emosi.

Kedua sifat ini biasanya terjadi saat masa pubertas, karena pubertas adalah masa di mana seorang manusia sedang di-upgrade dari masa anak kecil menjadi dewasa dan proses ini nggak instan, lho. Butuh waktu yang lama banget untuk seseorang bisa sepenuhnya menjadi dewasa. Kalo gagal di tahap ini, biasanya kecewa banget lalu mengutuki diri sendiri plus sumpah serapah kepada yang nggak tahu apa-apa soal problem kamu.

Kamu udah dewasa, buang baper dan labi!

Sobat gaulislam, dewasa yang kita mau itu bukan dewasa asal dewasa, lho. Harus dewasa yang sempurna lahir batin dan cara mendapatkannya tentu dengan proses yang baik saat masa pubertas. Jadi segala emosi negatif kayak baper sama labil tuh jauh-jauh deh, jangan sampai kita cuma dewasa badan tapi pikiran malah gagal dewasa. Kan, nggak banget. Rugi banyak kalo begitu.

Terus apa dong yang harus kita lakukan kalau kita udah kena serangan baper dan labil? Caranya mudah, kita harus tenangkan hati, perbanyak dzikir dan mulai mendekatkan diri kepada AllahTa’ala. Baper dan labil ini terjadi di hati yang tidak tenang dan seringkali merasa gelisah, jadi untuk mengatasinya itu mulailah menenangkan hati, jangan pikirkan apa yang orang lain katakan dan jadilah dirimu sendiri.

Ada juga tips dalam Islam agar nggak jadi orang baperan. Pertama, bedakan mana candaan mana yang serius, jangan membawa hati semua perkataan orang, saring dulu barulah nanti kita tanggapi sesuai konteksnya. Karena mungkin saja apa yang kita anggap serius adalah cadaan bagi orang lain dan begitu pula sebaliknya. Kedua, jangan mudah tersinggung, ini berhubungan juga dengan yang pertama, jangan pernah menjadi orang yang mudah merasa tersinggung, karena mudah tersinggung hanya akan menyakiti diri sendiri. Ketiga, jangan mengedepankan emosi, pikirkan situasi sekitar dan berfikir tenang. Keempat, berlapang dadalah menghadapi segala macam ujian, yakinkan di dalam hati kalau setiap ujian yang kita terima adalah bentuk sayang Allah kepada kita.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tolaklah (Kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushilat [41]: 34-35)

Jangan baper, jangan juga labil. Oya, ada juga tips buat kamu nih yang suka ngerasa labil. Satu, Jadilah diri sendiri, kamu adalah dirimu sendiri, kamu yang memegang kendali bukan orang lain. Dua, terimalah setiap kritikan dengan lapang dada, mungkin saja dari kritikan itu bisa membuat kita menjadi lebih baik. Tiga, jangan memendam masalah dan perasaan sendiri, berbagilah kepada teman atau keluarga, agar hati menjadi lebih lega. Empat,percaya dan yakin kalau kita ini siap dengan segala risiko yang mungkin saja akan terjadi karena pilihan kita. Dan yang kelima, pilihlah teman dan pergaulan yang baik, agar nanti kita tidak terbawa ke arus yang buruk, kalau terbawa arus pun, kalau kita berteman dengan orang baik, Insya Allah arusnya akan membawa kita semua ke surga. Amin.

Jangan baper dan labil. Nggak ada guna. Mestinya sebaliknya, tetap semangat berusaha dan lawan keburukan, lawan kejahatan. Ada sedikit nasihat dari Imam Junaid al-Baghdadi, yang cukup relevan dengan pembahasan ini.

Imam Junaid al-Baghdadi rahimahullah bertutur: Aku pernah ditanya apa yang mampu dicegah oleh hikmah? Kemudian aku menjawab, “Hikmah mampu mencegah segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan pada kemudian hari. Hikmah mencegah dari segala sesuatu yang dapat menjadikanmu benci ketika mengingatnya, walaupun orang lain tidak mengetahuinya.”

Si Fulan bertanya lagi. “Terhadap hal apa hikmah akan memerintah?”

Aku pun menjawab, “Hikmah akan terus mengajak melakukan segala sesuatu yang pengaruhnya akan terus dipuji pada kemudian hari. Beritanya akan terus harum di khalayak umum dan aman dari akibat buruknya.”

Si Fulan menimpali lagi. “Lalu, siapakah yang berhak disematkan sifat sebagai ahli hikmah?”

Aku menjawab, “Ahli hikmah adalah orang yang ketika berbicara mampu mencapai cakupan luas serta tujuan nyata terhadap suatu hal yang dimaksud dengan ungkapan yang singkat dan isyarat yang ringkas. Ahli hikmah juga orang yang selalu optimis terhadap suatu hal yang diinginkan. Menurutnya, semua itu pasti hadir dan akan datang.”

Si Fulan bertanya lagi. “Lalu, terhadap siapakah hikmah merasa tenang, tenteram, dan bersemayam?”

Aku menjawab, “Hikmah hadir dalam diri orang yang berusaha mengurangi segala sesuatu yang diharapkan, orang yang tidak berlebihan dalam setiap hajatnya, orang-orang yang setiap keinginan dan perbuatannya ditujukan hanya kepada Allah, dan orang-orang yang tingkat manfaatnya bisa dirasakan oleh setiap individu pada zamannya.” (dalam Hilyah al-Auliyaa, jilid 10, hlm. 262)

Berbahagialah!

Sobat gaulislam, jangan banyak murung, ya. Berbahagialah dan perbanyaklah lakukan kebaikan dengan perasaan bahagia itu. Sesungguhnya bahagia itu bukan tentang materi, tapi bahagia itu adalah opini, bagaimana kita memandang kehidupan. Kalau kita memandang dunia itu kejam dan tidak adil, maka kesengsaraanlah yang akan di dapat. Tapi kalau kita memandang dunia itu menyenangkan dan selalu adil maka kebahagiaanlah yang akan ditemuinya. Positive thinking aja, kali. Jadi, kebahagiaan itu nggak melulu soal materi, tapi lebih ke gimana kita memandang kehidupan. Kalo kita selalu berpikir positif, dunia bakal terasa lebih menyenangkan. Tapi kalo kita selalu negatif, ya pasti yang ada cuma kesengsaraan.

Jadi, kita udah tahu nih tentang cara-cara mengatasi yang namanya baper sama labil. Tapi ada nggak sih tips lain buat mencegah dan menangani dua sifat ini? Ada, dong. Yang harus kita lakukan adalah perkuat akidah tauhid kita, ini yang pertama dan utama, kalau akidah kita udah kuat, insyaAllah semuanya bakal lebih mudah.

Cara memperkuatnya itu dengan memperbanyak membaca al-Quran, karena al-Quran adalah kalamallah maka setiap kita membacanya maka hati akan terasa lebih tenang dan akan menaikkan level keimanan kita.  Al-Imam Ibnu Sholah rahimahullahu berkata, “Membaca al-Quran merupakan sebuah karomah (kemuliaan), yang Allah muliakan dengannya manusia. Sementara para Malaikat mereka tidak diberi kemuliaan ini, tetapi mereka sangat semangat untuk mendengarkannya dari manusia.” (dalam al-Itqan, karya al-Imam as-Suyuthi, jilid 1, hlm. 275)

Dan yang terakhir adalah bergaul dengan orang baik, karena teman yang baik tentu akan membawa kita ke jalan yang baik dan begitu pula sebalikanya teman yang buruk tentu akan membawa ke jalan yang buruk. Nggak mau kan diajak ke neraka bareng-bareng? Sorry, yee!

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Tak ada yang lebih bermanfaat untuk hati selain: 1) Bergaul dengan manusia dengan kelembutan; 2) serta menginginkan kebaikan bagi mereka. Karena bergaul sesama manusia dengan cara seperti itu: 1) Bila dia orang yang tidak kau kenal, maka engkau akan mendapatkan rasa sayang dan cintanya; 2) Jika dia teman dan orang yang kau cintai, maka pertemanan dan kecintaan kalian akan langgeng; 3) Bila dia musuh yang membencimu, maka engkau akan padamkan kejahatannya dengan kelembutanmu serta engkau menghentikan kejelekannya. Barang siapa yang selalu berfikir positif tentang sikap orang lain, serta berbaik sangka kepada mereka, maka: Niatnya akan selamat, dadanya akan lapang, dan hatinya akan sembuh, serta Allah akan menjaganya dari kejelekan dan keburukan.” (dalam Kitab Madaarijus Saalikiin, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)

Ingat. No Baper-Baper, No Labil-Labil, Oke? Semangat terus dan tetap positive thinking! [Malika Kautsar Ilmi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *