Terhalang dari Kebaikan

gaulislam edisi 757/tahun ke-15 (24 Ramadhan 1443 H/ 25 April 2022)

Rugi banget sih kalo kita punya kesempatan yang malah kita sia-siakan karena nggak diambil atau nggak dimanfaatkan. Padahal, kesempatan itu belum tentu datang untuk kedua kalinya. Waktu luang ada, sehat pula. Namun, tak mengambil kesempatan di depan mata. Kita biarkan berlalu begitu saja. Nanti baru kerasa kalo kita udah nyadar. Cuma, ya telat aja sih. Ujung-ujungnya rugi. Itu pun kalo merasa bahwa itu kerugian. Kalo nggak merasa bahwa itu kerugian, ya lebih parah berarti. Jangan sampe, deh.

Tak semua orang punya kesempatan untuk berbuat baik, lho. Ada yang pengen berbuat baik, tetapi waktu dia susah dibagi karena banyak kerjaan atau urusan lainnya. Akhirnya nggak jadi berbuat baik. Misalnya aja ada di antara kamu yang sibuk belajar. Ada tugas ini ada tugas itu. Termasuk bagi yang udah kerja. Fokus dengan urusan kerjaan sehingga perhatian pada hal lain berkurang atau malah nggak ada. Begitu datang kesempatan untuk melakukan kebaikan, alasannya selalu ada. Mengerjakan tugas ini itu atau urusan pekerjaan yang nggak bisa ditinggal. Jadinya, nggak bisa berbuat baik.

Contohnya shalat dhuha, ya. Itu kan waktunya panjang banget (sebenarnya), dari mulai sekitar 15 menit setelah waktu syuruq (terbitnya matahari), sampai sekitar jam 11-an siang. 5 jam lebih kesempatan untuk melaksanakan shalat dhuha. Namun, banyak yang tak bisa melakukannya. Bukan karena tidak tahu caranya, tetapi enggan dan malas melakukannya. Sebelum berangkat sekolah kan bisa. Apalagi yang mondok di pesantren, biasanya ada waktu belajar sejak pagi. Shalat Subuh udah berjamaah, dilanjut dzikir pagi, disusul kegiatan tilawah al-Quran, tahfidz al-Quran, atau kajian dengan ustaznya. Biasanya sampai pukul 6.30.

Nah, itu pas banget untuk shalat isyraq (shalat dhuha di awal waktu). Meski demikian ada juga yang tak memanfaatkannya untuk shalat dhuha. Malah langsung ngibrit ke asrama. Padahal ada waktu luang, paling tak sampai 10 menit, mungkin hanya 5 menit untuk shalat dhuha minimal 2 rakaat. Tapi sayangnya, tak dilakukan. Khawatirnya, kita jadi terhalang dari berbuat kebaikan. Terhalang oleh rasa enggan dan malas untuk meraih pahala. Rugi kuadrat, pake banget.

Mumpung masih Ramadhan, apalagi sudah memasuki 10 hari terakhir. Semangat ibadahnya harus lebih hebat. Shalat sunnah, tilawah al-Quran, dzikir, berdoa, sedekah, dan berbagai kebaikan lainnya. Momen ini malah harus disempatkan, jangan nyari sempatnya. Itu sebabnya, banyak orang yang kemudian berusaha untuk mendapatkannya dengan sungguh-sungguh di tengah kesibukan hariannya mengejar dunia. Maka, alangkah ruginya kita jika tak memanfaatkan untuk menyempatkan ibadah di 10 malam terakhir Ramadhan. Rugi karena terhalang dari kebaikan.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang istiqamah lebih bersemangat pada masa-masa akhir mereka, dibandingkan dengan pada masa-masa awalnya.” (dalam Madarijus Salikin, jilid 3, hlm. 118)

Ibnu al-Jauzy rahimahullah berkata, “Malam-malam dan hari-hari yang memiliki keutamaan yang tidak pantas–bagi orang yang ingin meraih keutamaan–untuk melalaikannya, karena jika seorang pedagang melalaikan musim untung, maka kapankah dia akan meraih keuntungan?” (dalam Minhajul-Qashidin, jilid 1, hlm. 343)

Sudah tahu tapi tak mau tahu

Sobat gaulislam, kalo prinsip model gini, jelas merugikan diri sendiri, dong. Kok bisa-bisanya nggak mau tahu padahal sudah tahu. Sudah diajarkan pula bahwa banyak kesempatan untuk berbuat baik dan mendapatkan pahala. Misalnya, sudah tahu bahwa mengerjakan shalat sunnah rawatib itu berpahala, tetapi enggan melakukannya.

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” (Hadits shahih riwayat Muslim, no. 728)

Semoga di tengah kesibukan kita, masih bisa menyempatkan untuk melaksanakan shalat sunnah rawatib setiap hari. Urutannya itu: 2 rakaat sebelum Subuh; 4 rakaat sebelum Dhuhur; 2 rakaat sesudah Dhuhur; 2 rakaat sesudah Maghrib; dan 2 rakaat setelah Isya. Meski belum bisa full mengerjakan semua, jangan ditinggalkan semuanya. Mulailah dengan merutinkan shalat sunnah rawatib meski tak seluruhnya. Bahkan pahala shalat sunnah fajar (2 rakaat sebelum shalat Subuh), sangat luar biasa.

Dikisahkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah Subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)

Keutamaan shalat sunnah Subuh ini secara khusus juga disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Dua rakaat shalat sunnah Subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.” (HR Muslim725)

Sungguh suatu keutamaan yang sangat agung yang merupakan karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya. So, nggak layak banget kalo seorang hamba yang beriman melewatkan kesempatan untuk dapat meraihnya. Rugi berat, Bro en Sis.

Itu sebabnya, mulai rajin bangun sebelum Subuh, ya. Apalagi kalo sebelum Subuh kan bisa kita shalat tahajud juga. Dilanjut dzikir dan shalat sunnah sebelum Subuh. Lalu ke masjid atau mushola untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Yuk, kita rutinkan dan biasakan agar kita setiap hari mendapatkan pahala yang besar dari Allah Ta’ala. Semoga dimudahkan, ya.

Oya, banyak juga lho teman-teman kita yang sebenarnya tahu juga pahala shalat dhuha di awal waktu, apalagi udah dikasih tahu sama ustaznya atau gurunya. Apa pahala shalat dhuha di awal waktu atau biasa dikenal dengan shalat isyraq? Pahalanya, seperti pahala ibadah haji dan umroh. Beneran. Syaratnya, sebelumnya sudah melakukan shalat Subuh berjamaah, dilanjut tilawah atau tahfidz al-Quran atau kajian bersama ustaznya atau melakukan kebaikan-kebaikan lainnya hingga waktu syuruq.

Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.” (HR Thabrani)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR Tirmidzi, no. 586)

Manfaatkan di akhir Ramadhan

Sobat gaulislam, saat buletin kesayangan kamu ini terbit sudah di hari ke-24 Ramadhan. Sebentar lagi Ramadhan akan berpisah dengan kita. Semoga di sisa hari ini, kita tambah semangat beribadah untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala dan berharap pahala.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Wahai para hamba Allah, sesungguhnya bulan Ramadhan itu jelas akan berlalu, dan (sekarang) tidak tersisa kecuali tinggal sedikit. Maka barang siapa di antara kalian telah berbuat baik padanya, hendaknya ia menyempurnakannya. Dan barang siapa yang meremehkan, hendaknya ia menutupnya dengan kebaikan. Maka amalan itu tergantung akhirnya. Itu sebabnya, bersenang-senanglah kalian dengan yang masih tersisa dari malam-malam yang penuh cahaya dan siangnya. Sampaikanlah ucapan perpisahan dengan amalan shalih, yang akan bersaksi untuk kalian di sisi Dzat Yang Maha Raja, Yang Maha Mengetahui. Dan, sampaikanlah pelepasan ketika berpisah dengan Ramadhan dengan sesuci-suci penghormatan dan salam.” (dalam Lathaif al-Ma’arif, jilid 1, hlm. 209)

Jangan sampe kita jadi orang yang terhalang dari kebaikan. Itu sebabnya, yuk kita rutin beribadah dan beramal shalih lainnya. Rutin shalat wajib berjamaah di masjid atau mushola (bagi kamu yang laki, ya), rutin shalat tahajud, rutin shalat dhuha, sedekah, dzikir pagi dan petang, berdoa, dan kebaikan lainnya. Ini untuk pembiasaan sekaligus melatih kita taat kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan ibadah sunnah. Jika yang sunnah saja dijaga, apalagi yang wajib. Pasti sangat diupayakan untuk dipenuhi.

Melaksanakan ibadah yang wajib itu bukti bahwa kita mencintai Allah Ta’ala. Melaksanakan ibadah Sunnah, karena kita berharap dicintai Allah Ta’ala. Betul. Orang yang menunaikan hal-hal yang wajib dengan sempurna berarti ia mencintai Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang masih menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, ia dicintai Allah Ta’ala. Ini seperti dalam hadits qudsi (yang artinya):

“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR Bukhari 6502 dalam Fathul Baari, jilid 11, hlm. 348)

Kalo kita udah rutin melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, maka selain kita akan terbiasa, juga akan tetap dinilai beramal meski ketika itu kita uzur (sakit aau dalam perjalanan).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.” (HR Ahmad)

Amalan yang dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun jumlahnya sedikit.” (HR Bukhari, no. 6465; HR Muslim, no. 78)

Yuk, merutinkan ibadah dan amal shalih lainnya agar kita tak terhalang dari kebaikan. Niatkan semuanya untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan balasan pahala dari-Nya. Semoga kita dimudahkan untuk terus berbuat baik (beramal shalih) hingga akhir hayat kita. Aamiin ya rabbal alamiin. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

  

  

  

%d bloggers like this: