Saturday, 13 August 2022

gaulislam edisi 747/tahun ke-15 (13 Rajab 1443 H/ 14 Februari 2022)

Kalo dibilangin nggak berfaedah ya memang nggak, sih. Malah, maksiat sebenarnya. Kok bisa? Jangan pura-pura nggak tahu. Eh, sori, siapa tahu emang kamu ada yang belum tahu, ya. Jadi begini. Valentine’s Day itu bukan budaya Islam. Ngapain juga dirayakan. Nggak ada gunanya juga disambut atau dijadikan hari spesial. Awalnya hari ritual menyembah dewa-dewa, lalu berubah jadi memperingati kematian pendeta, dan zaman sekarang, ada Valentine’s Day berarti ada cuan yang beredar. Cuan number one. Bisnis is bisnis. Begitulah.

Sobat gaulislam, bagi kita sebagai muslim tentunya perlu waspada. Tahu, sadar dan berpikir. Tahu bahwa itu salah, maka dengan penuh kesadaran menolak untuk terlibat di dalamnya, dan wajib berpikir untuk mendakwahkannya kepada yang lain, bahwa itu salah, bahwa itu maksiat. Nggak ada guna dilakuin oleh kaum muslimin. Nggak ada faedahnya.

Nah, mestinya memang begitu. Kudu berpikir lebih jauh lagi, yakni gimana caranya negara hadir dalam persoalan ini. Sebab, urusan budaya yang salah ini perlu peran negara untuk mengatur batasannya dan memberikan keputusan hukum. Batasannya jelas, bagi muslim terlarang. Bagi nonmuslim, silakan menurut kepercayaannya masing-masing. Kalo pengen aman, ya dilarang saja sekalian. Habis perkara. Nggak ada yang protes. Apalagi ini adalah kebaikan. Keputusan hukum untuk kebaikan bersama.

Buletin ini, sejak terbit pertama pada Oktober 2007 lalu, sampai sekarang, udah bahas soal Valentine’s Day sering banget. Sebelum tulisan di edisi ini, udah delapan kali membahas seputar VDay yang ditulis oleh empat penulis. Silakan kamu cari di arsip buletin ini, ya. Insya Allah ada kok di website kami. Ditulis dari berbagai sisi. Dinilai dan dipaparkan datanya sesuai kondisi pada saat tulisan tersebut dibuat. Nah, kenapa edisi ini kembali menulis tentang Valentine’s Day? Ini sebagai penegasan aja, bahwa budaya tersebut bukan berasal dari Islam. Bagi pembaca baru buletin ini, juga menjelaskan bahwa budaya tersebut perlu dikritisi, perlu diberitahukan kepada remaja muslim lainnya agar tak latah mengikuti budaya tak beradab tersebut.

Mereka yang menggembar-gemborkan Valentine’s Day sebagai hari kasih sayang udah kian kehilangan suaranya. Sebabnya, karena secara praktek kebanyakan omdo alias omong doang. Tentu, jika itu menyangkut nasib umat Islam. Umumnya begitu. Mereka yang katanya peduli hak asasi manusia, tetapi jika korbannya umat Islam, diam seribu bahasa dengan pura-pura nggak lihat dan nggak dengar. Buktinya, Israel tetap menjajah Palestina. Adanya diskriminasi dan persekusi terhadap muslim di negeri yang jumlah kaum musliminnya terkategori minoritas. Tak ada kasih dan sayang dalam urusan itu. So, adanya Valentine’s Day untuk apa?

Oke, jika ada yang membela bahwa Valentine’s Day jangan dibawa ke urusan politik, kita perlu mengajukan pertanyaan: “lalu bagi siapa perayaan itu ditujukan? Kasih sayang seperti apa yang dimaksud?”

Ini penting mendapatkan jawaban. Sebab dalam prakteknya, terutama di kalangan remaja yang lost control (baik oleh orang tuanya maupun pihak sekolah dan lingkungan sekitar), umumnya merayakan Valentine’s Day untuk berkencan dengan pacarnya. Bikin sebuah pesta, lalu menghibur diri masing-masing sampai puas. Tak jarang ada yang bablas berzina. Ngeri, Bro en Sis.

Pertanyaannya, jika merayakan Valentine’s Day dengan cara gaul bebas begitu, apa masih pantas disebut mengeskpresikan dan menghormati atas nama kasih sayang? Kalo masih ada yang menjawab “iya”, jelas bohong bingitz!

Iya lah. Kalo mau menghargai dan menghormati atas nama kasih sayang, nggak begitu caranya. Ngajak orang berzina, jelas menodai kehormatannya. Dosa pula. Dua-duanya dosa. Jadi, kasih sayang seperti apa yang diinginkan? Nothing!

Akidah, syariat, bisnis

Sobat gaulislam, secara akidah jelas budaya ini bukan berasal dari Islam. Jadi kudu ati-ati. Sebab, kalo kita melibatkan diri dalam budaya yang tak islami, ya jadi bagian dari penganut budaya tersebut. Kalo belum tahu, juga jangan latah ikut-ikutan aja. Nggak boleh. Sebab, sebelum melakukan wajib tahu terlebih dahulu hukumnya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa [17]: 36)

Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 3 Tahun 2017 diperingatkan bagi umat muslim bahwa haram hukumnya merayakan Hari Valentine setiap tanggal 14 Februari. Hal tersebut menganut pada tiga hal yakni:

Pertama, karena Hari Valentine bukan termasuk dalam tradisi Islam. Kedua, hari Valentine dinilai menjerumuskan pemuda muslim pada pergaulan bebas seperti seks sebelum menikah. Ketiga, hari Valentine berpotensi membawa keburukan.

Fatwa haramnya Hari Valentine ini dibuat berdasarkan tuntunan al-Quran, hadis, dan pendapat ulama, salah satunya hadis riwayat Abu Dawud yang mengatakan bahwa: “Dari Abdullah bin Umar berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang menyerupakan diri pada suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud, no. 4031)

Sementara itu, dalam al-Quran, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) “Katakanlah (Muhammad), “Wahai ahli Kitab! Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim.” (QS Ali Imran [3]: 64)

Nah, itu secara akidah jelas bertentangan dengan Islam, ya. Maka nggak boleh dirayakan. Nggak boleh pula mengkhususkan hanya satu hari untuk menaburkan kasih sayang. Meski mungkin itu kepada ortu atau saudara sesama muslim. Sebab, mengkhususkan berarti menjadikan hari tersebut sebagai perayaan. Nggak boleh. Hukumnya haram. Apalagi jika dilakukan kepada lawan jenis bukan mahram. Bahaya dan dosa.

Bagaimana dari sisi bisnis? Ini yang otaknya cuan apa aja disamber, lho. Mereka hanya berpikir gimana caranya ngeruk cuan sebanyak-banyak dari budaya ini. Korbannya siapa? Hmm.. sudah pasti mereka yang tertipu dengan budaya tersebut. Kalo yang nggak tertipu mah nggak bakalan ikut-ikutan.

Mau tahu bisnis ini menggiurkan? Ini sih di luar negeri, ya. Kalo dalam negeri mungkin nggak seheboh di sana. Contoh aja, ya. Dirilis laman economy.okezone.com (14/2/2022), ada kacamata termahal. Berapa harganya? Benda ini dibanderol dengan harga €340.000 atau setara Rp5,52 miliar. De rigo adalah kacamata desainer yang diproduksi oleh perusahaan mewah de Rigo Vision dan Chopard.

Kacamata ini dihiasi dengan 60 gram emas 24 karat dan logo perusahaan dikelilingi oleh 51 berlian. Hehe.. pantes aja mahal, karena ada berlian dan emasnya.

Selain kacamata, ada juga pulpen. Pena ini merupakan edisi terbatas yang diciptakan melalui kolaborasi merek mewah Montblanc dan Van Cleef & Arpels. Pulpen mewah ini dihargai €600.000 atau setara Rp9,7 miliar. Pena dihiasi dengan 840 berlian dan mengandung lebih dari 20 karat batu permata pilihan, seperti zamrud, berlian atau safir. Duh, itu mah bukan penanya yang bikin mahal, tetapi aksesoris yang ditaburkannya.

Oya, ada juga jam mewah. Jam ini dibanderol seharga €20 juta atau setara Rp325 miliar. Arloji Chopard 201 Carat ini bukan hanya arloji biasa. Model jam ini dihiasi dengan 874 berlian dalam warna yang sangat tidak biasa dan bentuk khusus, memberikan tampilan yang spektakuler.

Menurut iklanya, ketika kamu menekan mekanisme pegas pada arloji, batu berbentuk hati terbuka seperti bunga. Ada yang mau beli?

Tas juga menjadi salah satu hadiah. Maka, ada aja yang bikin tas dengan harga selangit. Tas mewah yang dibandrol €3,1 juta atau setara Rp50,37 miliar. Tas berlian 1001 malam berbentuk hati karya House of Moawaad ??adalah tas paling mahal dan eksklusif yang dapat Anda temukan di pasaran. Tas ini dihiasi dengan 4517 berlian kuning, merah muda dan transparan, menambah 38.192 karat. Tas ini dibuat oleh 10 desainer yang berbeda, menghabiskan 8.800 jam bersama untuk menciptakan karya yang luar biasa ini. Siapa yang mau beli, ya?

Mobil pun bisa jadi hadiah. Udah nggak aneh, sih. Cuma kalo harganya fantastis, baru nelen ludah, deh. Adalah Bugatti Chiron tahun 2016 memiliki mesin W16 dan quad turbocharger. Mobil Speedster ini dapat mencapai 420 km/jam. Berapa harganya? Mobil mewah ini dibanderol €2,1 juta atau setara Rp34,12 miliar. Hmm.. kalo beli angkot bisa berapa biji, ya?

Bagaimana dengan coklat yang selalu identik dengan Valentine’s Day? Tetap jadi andalan mengeruk cuan. Ini juga di luar negeri, ya. Kalo di sini mungkin nggak sampe segila itu harganya. Contoh aja ya, Le Chocolat Box oleh Simon Jewelers. Cokelat yang berbalut kemewahan ini dibannderol dengan harga USD1,5 juta atau sekira Rp21miliar. Disebut sebagai cokelat paling mahal di dunia.

Ada pula Patchi, Harrods dan Swarovski. Cokelat ini juga dihiasi dengan emas dan kristal Swarovski dan sutra naik. Sebelum ditempatkan dalam kotak dari kulit asli dan sutra tenunan tangan, dibanderol dengan harga USD10.000 atau Rp143juta per kotak.

Terakhir, La Madeline au Truffe oleh Knipschild. Dibuat sesuai pesanan dari dunia koki terkenal di Denmark, La Madeline au Truffe cokelat kelezatan dan kemewahan. Cokelat ini dibuat dari 70% Valrhona dark chocolate, krim kental, gula, minyak truffle dan vanili yang merupakan dasar untuk ganache. Kemudian dituangkan di atas seluruh Perigord truffle. Dinobatkan oleh Forbes sebagai coklat paling mahal di dunia. Satu buahnya dibanderol dengan USD 2.600 atau sekira Rp37juta per pon. (chatnews.id, 14/2/2022)

Udah ah, ngiler iye, kebeli nggak. Kalo teman-teman di sini mudah-mudahan masih waras dengan tak membelanjakan duitnya untuk barang-barang yang begituan, apalagi untuk kado di tradisi yang bukan dari Islam.

Seandainya ada remaja Indonesia yang mampu beli hadiah-hadiah tersebut atau harga di sini 10 persennya atau 1 persennya harga-harga tadi, ya unfaedah aja, sih. Nggak guna juga. Apa coba gunanya selain pamer nunjukkin sebagai crazy rich? Eh, ini bukan nuduh, ya. Tapi kira-kira alasan lain apa, ya?

Ah, sudah lah. Intinya sih: jangan tergoda untuk ikut-ikutan merayakan. Unfaedah. Sebagai muslim jelas akidah kita melarang meyakini kepercayaan lain selain Islam. Maka, ada konsekuensi hukum jika seorang muslim merayakan tradisi yang bukan berasal dari Islam. Haram hukumnya. Oke, deh. Itu aja. Semoga jelas, ya. Lagian udah sering juga dibahas. Semoga tulisan ini bikin kamu tambah ilmu dan wawasan serta mengokohkan akidahmu. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: