gaulislam edisi 959/tahun ke-19 (20 Ramadhan 1447 H/ 9 Maret 2026)
Kalo diperhatiin, dunia sekarang tuh kayak lagi masuk fase aneh tapi dianggap biasa. Dulu orang kalo berbuat dosa itu sembunyi-sembunyi. Takut ketahuan, takut dipergunjingkan, apalagi takut sama Allah Ta’ala. Sekarang? Ada yang bikin kontennya, bikin pengakuannya, bahkan dibahas santai di podcast sambil ketawa-ketawa. Maksiat yang dulu ditutup rapat, sekarang malah di-spill kayak cerita hiburan di saat liburan.
Nah, yang bikin makin bikin geleng-geleng kepala, bukan cuma perbuatannya yang viral. Reaksi netizen juga ikut heboh. Ada yang langsung bilang, “Itu jelas dosa!” Tapi nggak sedikit juga yang pasang badan: “Jangan nge-judge dong!” Bahkan ada yang sampai membela habis-habisan, seolah-olah yang bermasalah bukan perbuatannya, tapi orang yang mengingatkan. Aneh tapi nyata.
Akhirnya, timeline medsos kita kadang terasa seperti arena debat: yang satu mengingatkan, yang satu membenarkan. Terus, yang satu bicara soal dosa, yang lain bilang itu pilihan hidup. Berikutnya, yang satu ngajak sadar, yang lain malah bilang, “Santai aja, Bro. Hidup cuma sekali.” Eh, apa hubungannya?
Kalo kondisinya kayak gitu, kita jadi sadar satu hal: bukan cuma maksiatnya yang makin berani muncul ke permukaan, tapi juga pembelaannya yang makin keras. Padahal kalo dipikir-pikir, aneh bin ajaib, sih. Dosa yang jelas-jelas dilarang, tapi bisa diperdebatkan seolah-olah masih abu-abu. Orang yang jelas salah, tapi masih ada yang mati-matian bilang, bahwa itu nggak masalah. Itu sebabnya, kadang kita cuma bisa geleng kepala sambil bergumam, “Kayaknya dunia emang lagi aneh-aneh aja.”
Tapi sebagai remaja Muslim, kamu nggak boleh cuma jadi penonton yang ikut bingung. Kamu perlu melihat fenomena ini dengan kacamata yang jernih: apa sebenarnya yang sedang terjadi, kenapa maksiat bisa dinormalisasi, dan bagaimana Islam memandangnya. Begitu konsepnya, Bro en Sis.
Maksiat dipamerkan
Sobat gaulislam, kalo kita jujur melihat realitas sekarang, daftar maksiat yang muncul di ruang publik itu makin panjang. Bukan cuma terjadi, tapi juga dipertontonkan tanpa rasa sungkan. Mulai dari pacaran yang dianggap standar hubungan anak muda, pergaulan bebas yang katanya biar nggak kudet, sampai zina yang dibungkus dengan istilah manis seperti hubungan suka sama suka.
Belum lagi urusan lain yang nggak kalah bikin miris. Judi online makin menjamur sampai iklannya masuk ke HP siapa saja. Narkoba sering dianggap sekadar coba-coba doang. Riba dianggap wajar karena katanya semua sistem ekonomi juga begitu. Bahkan ada juga yang terang-terangan mempromosikan perilaku seksual menyimpang seolah itu bagian dari identitas yang harus diterima semua orang. Parah, ya?
Nah, yang lebih bikin kaget, sebagian pelakunya bukan lagi sembunyi, tapi malah bercerita dengan santai di depan kamera. Ada yang curhat di podcast tentang pengalaman maksiatnya. Ada yang bikin konten pengakuan dosa masa lalu. Bahkan ada yang menceritakan perilaku menyimpangnya seolah itu sekadar kisah lucu untuk menghibur penonton.
Anehnya lagi, kadang konten seperti itu justru ditonton jutaan orang. Kolom komentarnya ramai, bukan oleh nasihat atau pengingat, tapi oleh mereka yang penasaran: “Serius pernah begitu?” “Gimana ceritanya bisa sampai kejadian?”
Akhirnya dosa yang seharusnya membuat orang merasa malu, malah berubah jadi bahan hiburan digital. Ngeri banget! Padahal dalam Islam, ada satu nilai yang sangat penting, yakni rasa malu. Rasa malu itulah yang dulu membuat orang menutup rapat-rapat aibnya, apalagi memamerkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengingatkan bahwa ketika rasa malu sudah hilang, manusia bisa melakukan apa saja tanpa merasa bersalah. Bahaya banget, kan?
Tapi di zaman kiwari, kita seperti melihat fenomena itu secara nyata. Bukan hanya maksiat yang terjadi, tapi juga maksiat yang dipamerkan, dinormalisasi, bahkan ditertawakan. Dan ketika dosa sudah berubah menjadi tontonan, biasanya langkah berikutnya nggak jauh: orang-orang mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Naudzubillahi min dzalik.
Netizen terbelah
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Begitu ada kasus maksiat yang viral, biasanya yang terjadi berikutnya hampir selalu sama, yakni timeline langsung panas. Bukan cuma karena kasusnya, tapi karena perang komentar di kolom netizen.
Di satu sisi ada orang-orang yang mengingatkan. Mereka bilang itu salah, itu dosa, itu nggak boleh dalam agama. Ada yang menyampaikan dengan ayat, ada yang pakai hadis, ada juga yang sekadar menegaskan, “Bro, ini jelas nggak bener.”
Tapi di sisi lain, muncul juga pasukan pembela. Kalimat-kalimatnya juga hampir selalu mirip kayak gini:
“Jangan nge-judge dong.”
“Itu kan pilihan hidup dia.”
“Ah, yang penting nggak ganggu kamu.”
“Siapa kamu berani menghakimi?”
Akhirnya kolom komentar berubah jadi arena debat terbuka. Ada yang bicara soal halal dan haram, yang lain bicara soal kebebasan dan hak pribadi. Ada yang satu ingin mengingatkan, yang lain merasa sedang membela. Anehnya, kadang yang mengingatkan justru diserang balik. Dibilang sok suci. Dibilang merasa paling benar. Bahkan ada yang dituduh nggak punya empati. Kok jadi kebalik-balik?
Oya, kalo dipikir-pikir memang nggak masuk akal. Mereka yang melakukan dosa nggak diingatkan, tapi yang mengingatkan bahwa itu dosa malah dimarahi. Seolah-olah sekarang ada aturan baru di internet: yang berdosa jangan disentuh, yang menasihati jangan terlalu keras, dan yang paling aman adalah diam saja. Setan bisu, dong?
Perlu kamu tahu bahwa dalam Islam, mengingatkan itu bukan berarti merasa paling suci. Justru itu bagian dari kepedulian. Kita nggak diperintahkan untuk membuka aib orang, tapi kita juga nggak diajarkan untuk membenarkan kesalahan yang udah diumbar ke publik.
Nah, di sinilah sering terjadi salah paham besar. Banyak orang mengira bahwa menasihati itu sama dengan menghakimi. Padahal sebenarnya beda jauh. Menghakimi biasanya merasa paling suci. Sedangkan menasihati berarti peduli agar orang lain nggak terus terjatuh dalam dosa. Masalahnya, di era viral seperti sekarang, batas itu sering kabur. Orang yang salah bisa terlihat benar. Mereka yang benar bisa dianggap jahat. Kebalik-balik, kan?
Banyak orang baru mulai sadar bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan cuma opini netizen, tapi juga cara pandang generasi muda terhadap dosa itu sendiri. Catet!
Maksiat kok dinormalisasi?
Sobat gaulislam, pertanyaannya sekarang: kok bisa ya, sesuatu yang jelas-jelas maksiat malah terasa biasa saja? Bahkan ada yang sampai dibela habis-habisan. Seolah-olah yang salah bukan perbuatannya, tapi orang yang mengingatkannya. Tuh, aneh lagi, dah!
Kalo dicermati, ada beberapa alasan kenapa fenomena ini bisa terjadi. Pertama, semuanya dijadikan konten. Di era media sosial, hampir apa saja bisa dijadikan bahan tontonan. Dari hal receh sampai yang seharusnya sensitif. Bahkan dosa pun bisa berubah jadi materi cerita. Tinggal tambahkan kamera, lighting, dan mic podcast… jadilah konten viral.
Akhirnya muncul tren yang agak aneh: orang bercerita tentang pengalaman maksiatnya dengan santai. Ada yang mengungkap masa lalu pergaulan bebas, ada yang cerita pengalaman mabuk dan zina, ada juga yang membahas perilaku menyimpang. Bukan untuk ditinggalkan atau disesali, tapi sekadar untuk memancing rasa penasaran penonton. Singkatnya: dosa + kamera = konten. Duh, miris banget!
Kedua, sensasi memang lebih laku. Di dunia digital, konten yang tenang dan menyejukkan sering kalah jumlah viewer dibanding konten yang sensasional. Cerita tentang kebaikan kadang ditonton biasa saja. Tapi cerita tentang keburukan? Wah, itu bisa langsung viral. Akibatnya, sebagian orang sadar bahwa cerita yang “liar” lebih cepat menarik perhatian. Dan ketika sesuatu sudah ramai ditonton, lama-lama orang merasa itu hal yang wajar. Nggak banget, sih!
Ketiga, rasa malu mulai menghilang. Padahal dalam Islam, rasa malu adalah salah satu penjaga utama manusia dari dosa. Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR Bukhari, no. 3484, 6120)
Dulu orang menutupi aibnya rapat-rapat. Sekarang ada yang justru menceritakannya sendiri di depan publik. Bahkan kadang dengan ekspresi santai, seolah itu hanya kisah biasa.
Keempat, muncul cara berpikir baru: semua dianggap relatif. Banyak orang mulai berpikir bahwa benar dan salah itu tergantung sudut pandang. Selama menurut dirinya nggak masalah, maka dianggap sah-sah saja. Padahal dalam Islam, batas halal dan haram bukan ditentukan oleh perasaan manusia, tapi oleh aturan Allah Ta’ala. Sesuatu yang salah nggak berubah menjadi benar hanya karena banyak orang melakukannya, atau karena ramai dibela di media sosial.
Di sinilah letak bahayanya. Ketika maksiat sudah dibungkus sebagai konten, dipromosikan sebagai sensasi, rasa malu hilang, dan standar benar-salah jadi kabur… maka perlahan-lahan dosa bisa terlihat seperti sesuatu yang biasa saja. Dan kalo udah begitu, generasi muda bisa tumbuh dalam kebingungan: mana yang benar-benar salah, dan mana yang cuma dianggap salah oleh sebagian orang.
Maksiat kok dibela?
Sobat gaulislam, mungkin ada yang berpikir, “Ah, biarin aja. Itu kan urusan dia.” Kedengarannya simpel. Kedengarannya santai. Tapi sebenarnya di situlah masalahnya mulai muncul. Karena ketika maksiat bukan hanya dilakukan, tapi juga dibela dan dinormalisasi, dampaknya bisa jauh lebih besar dari sekadar satu orang yang berbuat salah. Mengapa?
Pertama, dosa lama-lama terasa biasa. Kalo sesuatu yang salah terus dibela, lama-lama orang jadi terbiasa melihatnya. Awalnya mungkin kaget. Lalu mulai terbiasa. Lama-lama dianggap normal. Inilah proses yang sering terjadi di masyarakat. Hal yang dulu dianggap tabu, perlahan berubah jadi hal yang–ya udahlah, biasa aja. Padahal dalam Islam, dosa tetaplah dosa. Ia nggak berubah menjadi halal hanya karena banyak orang melakukannya atau karena banyak yang membelanya.
Kedua, generasi muda jadi bingung. Bayangin aja jika ada seorang remaja yang setiap hari melihat dua narasi yang bertabrakan. Di satu sisi ada yang mengatakan itu dosa. Di sisi lain ada yang berkata itu hak pribadi yang nggak boleh diganggu. Akhirnya muncul kebingungan:
kalo banyak yang membela, berarti nggak masalah dong? Atau ini sebenarnya salah, tapi orang-orang malah menormalisasi? So, ketika standar benar dan salah mulai kabur, generasi muda bisa kehilangan panduan moralnya.
Ketiga, batas halal dan haram makin kabur. Dalam Islam, Allah Ta’ala sudah menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram. Tapi kalo masyarakat terus-menerus menormalisasi maksiat, batas itu bisa terlihat samar. Terutama oleh orang yang minim ilmu dan tipis iman. Jadinya, yang haram dianggap sekadar pilihan gaya hidup. Mereka yang berdosa justru dianggap cuma perbedaan pendapat. Padahal kalo garis ini hilang, manusia bisa terseret ke mana saja tanpa arah. Bahaya.
Itu sebabnya, persoalan ini sebenarnya bukan sekadar soal satu kasus viral atau satu orang yang berbuat salah, yang lebih berbahaya adalah cara masyarakat meresponsnya. Ketika dosa nggak lagi dianggap dosa, dan orang-orang justru sibuk membelanya, di situlah kita harus mulai khawatir. Bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan generasi setelah kita.
Sikap Islam
Di tengah banyak orang yang makin ribut berdebat soal benar dan salah, Islam sebenarnya udah memberikan sikap yang sangat jelas. Nggak rumit, nggak abu-abu, dan nggak ikut-ikutan tren. Prinsipnya sederhana: yang halal tetap halal, yang haram tetap haram. Sebab dalam Islam, maksiat nggak berubah menjadi benar hanya karena banyak orang melakukannya. Ia juga nggak berubah menjadi wajar hanya karena viral di media sosial. Standar benar dan salah dalam Islam bukan ditentukan oleh jumlah like, komentar, atau pembelaan netizen, tapi oleh wahyu dari Allah Ta’ala.
Tapi di saat yang sama, Islam juga mengajarkan sesuatu yang sangat penting: membedakan antara perbuatan dan pelakunya. Perbuatannya bisa saja salah. Bahkan jelas dosa. Tapi pelakunya tetap manusia yang punya kesempatan untuk berubah. Artinya, seorang Muslim nggak diajarkan untuk membenci muslim lainnya. Kita nggak diperintahkan untuk menghina, merendahkan, atau mempermalukan sesama muslim. Namun kita juga nggak diajarkan untuk membenarkan kesalahan.
Inilah keseimbangan yang sering hilang di dunia medsos. Ada yang terlalu keras sampai menghina pelaku dosa. Ada juga yang terlalu longgar sampai membela perbuatannya. Padahal Islam berada di posisi yang adil: menolak maksiatnya, tapi tetap membuka pintu taubat bagi pelakunya. Semoga ada hidayah untuk pelaku maksiat tersebut. Sebab, semua manusia pernah salah. Semua manusia pernah tergelincir. Bedanya, ada yang mau sadar dan kembali, ada juga yang terus mempertahankan kesalahannya.
Nah, di sinilah tugas seorang Muslim, yakni mengingatkan dengan cara yang baik. Bukan untuk merasa paling suci, tapi karena peduli. Bukan untuk mempermalukan orang, tapi agar dosa nggak terus dianggap sebagai hal yang biasa. Sebab kalo maksiat dibiarkan dianggap normal, lama-lama bukan hanya pelakunya yang terbiasa, tapi juga masyarakat yang menontonnya. Dan ketika itu terjadi, yang hilang bukan cuma rasa malu, tapi hilang juga kejelasan batas antara benar dan salah.
Itu sebabnya, cari lingkungan yang saling menjaga. Teman itu punya pengaruh besar. Kalo lingkungan kita terbiasa menertawakan dosa, lama-lama kita bisa ikut terbawa. Tapi kalo lingkungan kita saling mengingatkan, iman bisa ikut terjaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengingatkan bahwa seseorang itu sering mengikuti agama temannya. Itu sebabnya, memilih teman bukan cuma soal siapa yang seru diajak nongkrong, tapi juga siapa yang membantu kita tetap dekat dengan Allah Ta’ala.
Itu artinya, menjadi remaja Muslim di zaman sekarang memang penuh tantangan. Tapi justru di situlah letak istimewanya. Ketika banyak orang ikut arus, seorang Muslim tetap berusaha berjalan di jalan yang benar. Bukan karena ingin terlihat berbeda, tapi karena tahu ke mana arah hidupnya.
Jangan support kemaksiatan
Perlu diingatkan lagi bahwa sejak dulu, maksiat sebenarnya selalu ada. Di zaman apa pun, manusia pasti pernah tergoda melakukan kesalahan. Jadi keberadaan dosa di dunia ini bukan hal baru. Tapi yang baru justru fenomena sekarang: maksiat bukan cuma dilakukan, tapi juga dipamerkan, lalu dibela ramai-ramai. Kadang kita seperti sedang menonton panggung besar di media sosial. Ada orang yang melakukan kesalahan. Videonya viral. Lalu penonton berdatangan. Ada yang mengingatkan, ada yang mengkritik, tapi nggak sedikit juga yang ikut tertawa, ikut penasaran, bahkan ikut membela.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: kita sedang berada di posisi yang mana? Apakah kita termasuk yang ikut menormalisasi dosa? Ikut menertawakannya? Atau malah ikut menyebarkannya tanpa berpikir panjang? Karena sering kali tanpa sadar, seseorang nggak melakukan maksiat itu secara langsung, tapi justru ikut meramaikan panggungnya. Padahal seorang Muslim seharusnya nggak menjadi bagian dari keramaian yang membela dosa. Bukan berarti kita harus menjadi orang yang paling keras menghakimi. Tapi senggaknya kita tahu di mana harus berdiri: di sisi kebenaran, bukan di sisi pembelaan terhadap kemaksiatan.
Mungkin dunia sedang berubah. Bisa jadi standar moral di media sosial makin kabur. Sangat mungkin banyak orang sudah nggak lagi merasa aneh melihat dosa yang dipertontonkan. Tapi bagi seorang Muslim, satu hal tetap jelas bahwa yang viral belum tentu benar, dan yang benar nggak harus viral.
Jadi ketika dunia terasa makin “aneh-aneh aja”, jangan sampai kita ikut terbawa arusnya. Tetap pegang petunjuk yang benar: al-Quran dan as-Sunnah. Tetap jaga rasa malu. Dan tetap ingat bahwa bukan netizen yang akan menilai hidup kita. Tapi Allah Ta’ala.[O. Solihin | Join WhatsApp Channel]
Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!