gaulislam edisi 973/tahun ke-19 (29 Zulhijjah 1447 H/ 15 Juni 2026)
Pernah lihat update aplikasi yang tulisannya, “Bug fixes and performance improvements”?
Lucunya, banyak dari kita rajin banget update aplikasi, tapi lupa update diri sendiri. Padahal hidup ini bukan game yang cukup ganti skin karakter biar terlihat keren. Kita bisa pakai outfit baru, feed Instagram lebih islami, playlist berubah dari lagu galau jadi murottal, bahkan bio media sosial berubah jadi “sedang hijrah”. Tapi pertanyaannya: apakah pikiran dan hati kita juga ikut berubah?
Di era Gen Z dan Gen Alpha, kata “hijrah” udah nggak asing lagi. Bahkan kadang menjadi tren. Ada yang hijrah karena ikut teman, karena kagum sama influencer tertentu, karena habis putus cinta, atau karena lagi kena tamparan kehidupan.
Nggak masalah dari mana awalnya, yang penting adalah ke mana arahnya. Sebab hijrah bukan sekadar perubahan tampilan. Hijrah adalah perjalanan menuju ridha Allah Ta’ala. So, mumpung bentar lagi kita berganti tahun hijriah—edisi pekan ini terbit di tanggal 29 Zulhijjah, lho—kita bahas yang satu ini. Moga-moga tetap semangat baca walau banyak ratusan juta pasang mata mantengin ke stadion yang ada di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Why? Karena pas waktunya lagi syahrul qurroh alias bulan bola di gempita World Cup 2026, ya.
Apa sih hijrah itu?
Sobat gaulislam, ketika mendengar kata hijrah, sebagian orang langsung membayangkan perubahan penampilan. Padahal makna hijrah jauh lebih dalam dari sekadar urusan luar.
Dalam kajian para ulama dijelaskan bahwa hijrah adalah meninggalkan sesuatu yang nggak diridhai Allah Ta’ala menuju sesuatu yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS an-Nisaa [4]: 100)
Dalam penjelasan para ulama, hijrah di jalan Allah berarti meninggalkan sesuatu demi mencari ridha Allah dan menegakkan agama-Nya. Artinya, hijrah bukan sekadar pindah gaya hidup. Hijrah adalah pindah orientasi hidup. Dulu hidup untuk mengejar validasi manusia, sekarang hidup untuk mencari ridha Allah Ta’ala. Dulu takut nggak dianggap keren, sekarang takut nggak dianggap hamba yang taat. Dulu mengejar viral, sekarang mengejar pahala. Itulah hijrah yang sebenarnya.
Dan menariknya, Allah Ta’ala menjanjikan keluasan bagi orang yang berhijrah karena-Nya. Bukan berarti semua masalah langsung hilang. Tapi Allah akan membuka pintu-pintu kebaikan yang sebelumnya nggak pernah terbayangkan.
Lihat saja para sahabat Nabi. Mereka meninggalkan rumah, harta, dan kenyamanan demi Allah Ta’ala. Namun Allah Ta’ala menggantinya dengan kemuliaan yang jauh lebih besar. Mengapa? Karena apa pun yang ditinggalkan karena Allah Ta’ala nggak akan membuat seseorang rugi. Beneran. Pengen bukti? Harus yakin ketika kamu lakukan.
Gimana cara hijrah?
Mungkin di antara kamu ada yang bertanya, gimana sih hijrah yang benar itu? Ya, masalahnya, banyak orang semangat hijrah di awal, tapi beberapa bulan kemudian malah balik lagi ke kebiasaan lama. Seperti orang yang semangat olahraga tanggal 1 Muharram, lalu tanggal 10 Muharram sudah akrab lagi dengan kasur dan rebahan. Kenapa bisa begitu? Karena hijrahnya belum dibangun dengan pondasi yang kuat. Yuk, agar hijrahnya beneran, kita perlu hal-hal berikut.
Pertama, luruskan niat. Ini yang utama dan penting banget. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ya, ini pondasi utama. Kalo hijrah karena Allah Ta’ala, insya Allah akan bertahan. Kalo hijrah cuma karena tren—karena teman, karena ingin terlihat keren, atau karena ingin dapat pasangan saleh atau salehah—biasanya semangatnya ikut turun ketika tren berganti.
Niat adalah bahan bakar perjalanan hijrah. Kalo bahan bakarnya salah, kendaraan iman akan mogok di tengah jalan. Eh, jangan dicoba.
Kedua, cari guru dan lingkungan yang benar. Di zaman sekarang, ilmu memang mudah dicari. Tinggal buka YouTube, TikTok, Instagram, atau Spotify. Tapi kemudahan akses nggak selalu berarti kebenaran.
Dinukil dari laman rumaysho, com, coba perhatikan bagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ’Umar radliyallahu ’anhuma, “Wahai Ibnu ’Umar, ingatlah agamamu, agamamu. Agamamu itu adalah darah dan dagingmu. Karenanya perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah (terhadap sunnah), dan jangan mengambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah).” (dalam al-Kifaayah fii ’Ilmi ar-Riwayaholeh al-Khathib hlm. 81, Bab Maa Jaa-a fi al-Akhdzi ’an Ahli al-Bida’ wa al-Ahwaa’ wa Ihtijaaj bi-Riwayaatihim, Maktabah Sahab)
Ada juga pesan dari sahabat nabi, di antaranya ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu ’anhu ketika berada di masjid Kuffah (’Iraq) pada suatu hari pernah berkata, “Lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, karena ia adalah diin (agama).”
So, nggak semua yang viral layak dijadikan panutan. Nggak semua yang banyak followers-nya berarti paling benar. Nggak semua yang pandai bicara berarti paham agama. Itu sebabnya, hijrah harus dibimbing oleh guru yang lurus, memiliki ilmu, dan mengikuti perilaku salafus shalih.
Ketiga, perkuat akidah. Banyak orang ingin langsung membahas halal-haram, padahal pondasi keyakinannya masih rapuh. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa yang pertama kali ditanamkan kepada para sahabat adalah keimanan tentang surga, neraka, dan hari akhir. Kenapa? Karena ketika iman sudah menancap kuat, ketaatan akan tumbuh lebih mudah. Benar. Kalo hati udah yakin Allah Ta’ala selalu melihat, kita nggak perlu diawasi manusia untuk berbuat baik.
Keempat, amalkan ilmu. Ada penyakit yang sering menyerang pejuang hijrah. Namanya: ‘kolektor kajian’. Kajian diikuti, podcast didengarkan, video dakwah ditonton, thread islami dibaca. Tapi hidupnya nggak berubah. Padahal Allah Ta’ala berfirman, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff [61]: 3)
Itu artinya, ilmu tanpa amal seperti menyimpan peta tetapi nggak pernah berangkat menuju tujuan. Percuma aja, sih.
Kelima, jaga pergaulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan teman baik seperti penjual minyak wangi dan teman buruk seperti pandai besi. Coba lihat realita hari ini. Kalo setiap hari nongkrong dengan orang yang suka maksiat, lama-lama maksiat terasa biasa. Kalo setiap hari berteman dengan orang yang suka mengingatkan shalat, lama-lama hati ikut tergerak untuk taat. Beneran. Karena lingkungan itu seperti Wi-Fi. Kita sering tersambung tanpa sadar. Eh, emang gitu, ya? Iya, banget.
Keenam, belajar adab dan perbanyak doa. Ini kudu kamu cobain. Beneran manjur. Imam Malik pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Begitu pun Yusuf bin al-Husain berkata, “Dengan menjaga adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Ya, kadang ada orang yang ilmunya banyak, tapi lisannya kasar. Postingannya islami, tapi komentarnya pedas. Rajin mengingatkan orang lain, tapi mudah merendahkan. Padahal adab adalah mahkota ilmu. Dan jangan lupa berdoa meminta istiqamah.
Nah, ada doa yang sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.”
Artinya, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Kalo Nabi saja yang dijamin masuk surga masih memohon keteguhan hati, apalagi kita? Kudu lebih rajin dan semangat, dong.
Bahaya hijrah setengah hati
Sobat gaulislam, sekarang bagian yang agak menohok. Ya, karena ternyata nggak sedikit yang berhijrah hanya separuh jalan. Mesinnya hidup, tapi giginya netral. Kelihatan siap bergerak, padahal nggak ke mana-mana. Allah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk (kami telah Islam)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS al-Hujurat: 14)
Ayat ini mengingatkan bahwa penampilan luar belum tentu mencerminkan keadaan hati. Ya, seseorang bisa terlihat religius, tetapi imannya belum benar-benar menancap. Apa tandanya?
Pertama, shalat masih bolong-bolong. Masih semangat membuat konten dakwah, tapi alarm Subuh malah di-snooze lima kali. Masih rajin repost quotes islami, tapi shalat sering ditunda. Padahal shalat adalah tiang agama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memperingatkan keras tentang bahaya meninggalkan shalat. So, kalo hubungan dengan Allah masih sering putus-sambung, bagaimana perjalanan hijrah bisa sampai tujuan?
Kedua, menutup aurat masih setengah-setengah. Allah Ta’ala nggak memerintahkan ketaatan setengah paket. Bukan “taat premium” untuk sebagian dan “mode bebas” untuk sebagian lain. Hijrah mengajarkan kepatuhan total kepada Allah Ta’ala sesuai kemampuan yang terus diperbaiki.
Ketiga, nggak mau belajar agama. Ada juga yang merasa cukup dengan mengatakan bahwa yang penting hati baik. Padahal hati yang baik justru akan mendorong pemiliknya untuk belajar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdam, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)
Itu artinya, bagaimana mungkin ingin sampai tujuan kalo nggak mau belajar petunjuk jalannya? Iya, kan?
Hijrah sampai mati, bukan sampai bosan
Sobat gaulislam, banyak orang mengira hijrah adalah sebuah momen. Padahal hijrah adalah proses seumur hidup. Hari ini melawan malas, esok melawan syahwat. Lusa melawan kesombongan, setelah itu melawan futur. Dan seterusnya sampai ajal datang. Itu sebabnya, jangan jadikan hijrah seperti tren musiman yang muncul lalu hilang. Jangan jadikan hijrah seperti story Instagram yang lenyap dalam 24 jam.
Tapi, jadikan hijrah sebagai perjalanan menuju Allah Ta’ala yang terus berlanjut sampai akhir hayat. Sebab yang dicari bukan pujian manusia. Bukan komentar: “Masya Allah keren sekarang.”
Bukan jumlah followers. Bukan citra. Tapi yang dicari adalah satu kalimat yang semoga kelak kita dengar saat bertemu Allah Ta’ala: “Selamat datang, wahai hamba-Ku. Engkau telah pulang dalam keadaan taat.”
Maka jika hari ini sedang berhijrah, lanjutkan. Jika pernah jatuh, bangkit lagi. Jika masih tertatih, terus berjalan dan jangan bosan. Ya, karena hijrah yang pelan tapi istiqamah jauh lebih indah daripada hijrah yang heboh di awal lalu hilang di tengah jalan. Eta mah atuh siga obor baralak. Heboh di awal, kendor di tengah sampai akhir.
Yuk, semoga kita tetap bertahan setelah hijrah dan istiqamah dalam menjalani kebaikan bersama Islam. Jangan coba-coba dan jangan ragu-ragu. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]