Demi Jilbab Aku Rela Drop Out 15

Tidak mudah menjadi muslimah yang istiqamah di zaman ini. Aku yang ingin berjilbab mendapat banyak hambatan dan tentangan. Tapi, apapun insyaAlllah akan kuhadapi walau harus drop out dari bangku sekolah.

Berjilbab bukannya tanpa halangan, termasuk dari orang tua. Cukup sering aku ribut-ribut kecil dengan keluargaku soal jilbab ini. Dibilang sulit cari jodoh, sulit cari kerja, kayak ibu-ibu, kayak wanita hamil. Belum lagi kalau pergi ke warung, pasti aku harus berjilbab dulu, pake kaos kaki. Ini dikomentari ribet, tidak praktis, makan waktu. Tapi alhamdulillah, seiring perjalanan waktu, dan juga usaha gigih dari aku dan kakak-kakakku memahamkan soal kewajiban jilbab akhirnya mereka bisa menerima.

Begitu menginjak bangku SMU aku mengajak kawan-kawan di pengajian sekolah untuk berkerudung dan berjilbab. Untuk itu kami mengumpulkan uang untuk membeli bahan seragam jilbab. Ketika naik di kelas II akhirnya kami semua berjilbab. Caranya bahan seragam kemeja putih itu kami sambung dengan rok tapi tetap kami tutupi sehingga keliatan dari luar seperti tidak berjilbab.

Semangatku dan teman-teman untuk berjilbab ini begitu kuat. Sampai-sampai di pelajaran olah raga kami ngotot berjilbab, nggak mau memakai pakaian olah raga dari sekolah. Awalnya guru olah raga melarang, teman-teman juga memandang aneh. “Olah raga kok pake jilbab,” pikir mereka. Karena lobi yang kami lakukan akhirnya guru olah raga mempersilakan kami untuk tetap berjilbab. Hanya saja pihak sekolah tetap tidak setuju dengan keinginan kami berjilbab. Sampai akhirnya diambil keputusan oleh pihak sekolah kalau kami tetap diizinkan berjilbab ketika berolah raga, tapi diberi nilai ‘sewajarnya’. Begitu pembagian rapor nilai 4 dan 5 mengisi mata pelajaran olahraga untukku dan kawan-kawan yang berjilbab.

Cobaan Itu Datang

Jilbab yang aku kenakan bersama kawan-kawan akhirnya menular pada adik-adik kelasku yang kami bina dalam pengajian sekolah. Mulanya hal ini tidak dipersoalkan oleh pihak sekolah. Tapi begitu aku naik kelas III masalah itu muncul. Awalnya guru-guru di sekolah menerapkan aturan soal kerapihan seragam sekolah. Kemeja seragam diwajibkan untuk dimasukkan ke dalam rok. Seorang kawan yang kelasnya sedang diinspeksi meminta ijin karena berjilbab. Kontan guru memarahinya. Ia pun dikeluarkan dari kelas. Kejadian itu akhirnya berlanjut ke seluruh kelas. Setiap siswi yang ketahuan berjilbab dikeluarkan.

Kami, siswi kelas III, dipanggil oleh kepala sekolah, diceramahi agar patuh pada aturan sekolah dalam pakaian seragam. Pihak sekolah pun membuat surat panggilan untuk orang tua siswi yang berjilbab. Dalam pertemuan dengan orang tua pihak sekolah tidak saja menceramahi orang tua soal aturan seragam sekolah, tapi juga memberi ultimatum kalau anak-anaknya tetap berjilbab maka mereka tidak diizinkan mengikuti ulangan. Pihak sekolah juga mengopinikan kalau di sekolah sedang berkembang pengajian sesat. Bahkan seorang guru mengatakan bahwa di sekolah ini kita tidak bisa memakai hukum Allah, tapi harus memakai aturan dari pemerintah. Na’udzubillah, padahal guru itu beragama Islam dan mengajarkan mata pelajaran agama Islam. Orang tua juga diminta untuk menyuruh anaknya melepas jilbab atau membuat surat pengunduran diri dari sekolah.

Hasilnya banyak ortu yang memarahi anak-anaknya. Ada kawan yang jilbabnya disobek, ada yang jilbabnya mau dibakar, ada yang hampir digampar, ada yang dilarang ngaji, bahkan ada orang tua yang sampai memohon-mohon pada anaknya agar mau melepas jilbabnya. Sedikit saja ortu yang mendukung anak-anaknya.

Kami tidak menyerah. Perjuangan mulai kami lakukan. Kami mengirimkan surat pembaca ke satu koran daerah. Tujuan kami tidak lain untuk mencari bantuan dan menjelaskan kepada masyarakat kalau berjilbab itu tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Tapi pihak sekolah semakin marah dengan hal itu. Kembali kami dipanggil oleh pihak sekolah, dilarang belajar dan dimarahi. Kami dituding keras kepala, untuk membuka jilbabnya saja tidak mau. Kami juga disebut-sebut sudah mencemarkan nama baik sekolah ke media massa.

Pihak sekolah juga terus-terusan menekan kami. Berkali-kali kami dikeluarkan dari kelas, atau kalaupun boleh mengikuti pelajaran kami dianggap alpa. Meski kami diperbolehkan mengikuti ulangan tapi kami sudah sulit berkonsentrasi karena berbagai tekanan dan intimidasi. Yang membuat hatiku sedih dan tersinggung adalah ketika EBTA praktik mata pelajaran agama dalam cara berwudlu, kami yang berjilbab disuruh membuka kerudung di depan teman-teman ikhwan dan akhwat dengan alasan agar berwudlunya sempurna. Meski kami dan sejumlah teman-teman ikhwan protes tapi tetap saja guru agama kami tidak bergeming. Karena menolak terus akhirnya kami diberi nilai di bawah enam. Karena tekanan dari ortu dan sekolah, beberapa kawan yang kemudian melepas jilbab dan memakai seragam terusan.

Cara sekolah dalam memaksa kami untuk membuka jilbab mulai diperhalus. Mereka mendatangkan sejumlah alumnus sekolah yang kini aktif di satu partai politik Islam nasional dengan tujuan membujuk kami untuk melepas jilbab, dan memakai seragam biasa tanpa disambung. “Soal pakaian jilbab itukan ikhtilaf, dilepas juga tidak berdosa, kok,” kata mereka. Terang saja aku marah dan mendebat mereka. Aku kecewa kok ada aktivis pengajian dan dari partai politik Islam yang berpikiran seperti itu. Tapi mereka seperti tidak malu terus saja membujuk kami untuk melepas jilbab. Mereka juga bergerilya ke rumah-rumah kawan-kawanku, membujuk mereka untuk melepas jilbab.

Pertolongan Itu Dekat

Setiap malam aku berdoa kepada Allah agar Ia memberikan pertolongan kepada kami. Aku sendiri sudah siap seandainya tidak bisa mengikuti EBTANAS dan harus drop out dari bangku sekolah. Mama sudah menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepadaku. Kawan-kawanku juga banyak berdoa setiap malam, bahkan ada yang hampir setiap malam menangis.

Meski begitu kami tidak menyerah begitu saja. Setiap dikeluarkan dari kelas, kami bergerilya ke MUI dan Depag untuk mencari bantuan. Alhamdulillah, mereka cukup merespon. Bahkan ketua MUI sendiri datang ke sekolah dan menyaksikan langsung diskriminasi yang terjadi pada kami. Ia pun menegur pihak sekolah dengan keras.

Lama kelamaan simpati dari guru-guru juga berdatangan. Beberapa guru juga mempersilakan kami untuk tetap mengikuti pelajaran. Mereka yang semula segan untuk memprotes kebijakan sekolah mulai berani angkat suara. Akhirnya sekolah mengalah dan tidak lagi mempermasalahkan jilbab.

Akhirnya pihak sekolah menerima siswinya yang berjilbab, meski aku tahu itu dilakukan dengan segala keterpaksaan. Tapi setidaknya itu sudah jalan keluar teraman dalam keadaan sekarang ini. Aku berharap agar adik-adik kelasku dan juga muslimah manapun yang ingin berjilbab mendapat kemudahan dan ditolong oleh Allah SWT. Amin. [seperti diceritakan Nurul pada Januar].

[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Mei 2003]

15 thoughts on “Demi Jilbab Aku Rela Drop Out

  1. Var Feb 1,2009 14:51

    Sebelumnya maafkan saya kalau dinilai lancang. Setelah membaca artikel ini saya berpendapat bahwa pihak penulis dan sekolah sama2 tidak mau mengalah. Dan ini membuat saya ingin bertanya.

    – Apakah penulis menanyakan penyebab mengapa sekolah tidak memperbolehkan siswinya mengenakan jilbab tersebut?
    – Kalaupun mereka memberitahu, apakah alasan penulis bersikeras mengenakan jilbab?

    Jikalau ini sudah terjawab, hendaklah di pikirkan kembali sebenarnya manakah yg lebih penting.

    Sebenarnya saya setuju denga pihak sekolah dimana mereka mengatakan bahwa siswinya harus mengikuti peraturan sekolah yg berlaku. Dan siswinya tersebut seharusnya mematuhi karena mereka memang berada di dalam tanggung jawab sekolah. Hendaknya sekolah memang mengajarkan disiplin, dan siswa2 sekolah seharusnya mengerti apa itu disiplin. Tetapi pihak sekolah pun tidak berhak menggunakan cara2 berlebihan, hendaknya mereka menyampaikan maksud mereka dengan baik2, toh siswa2 sekolah juga pastinya mau belajar dan berusaha mengerti.

    Dan juga apakah penulis berusaha mengerti posisi pihak sekolah dalam masalah ini? Apakah penulis berusaha mengalah demi kebaikan bersama? Masalah ini timbul juga bukankah dikarenakan penulis memulai mengenakan seragam diluar peraturan sekolah?

    Saya sebenarnya sangat prihatin dengan masalah kedisiplinan di Indonesia skarang ini, orang2 menjadi egois dimana semua orang mengira bahwa demokrasi boleh di gunakan semena2 tanpa melihat sebab dan akibat yg akan ditimbulkan dari tindakan2 mereka. Kita hidup di negara yg multikultur dan multiras serta agama, apakah toleransi sangat langka? Apakah kalian peduli dengan kedamaian negara? Relakah memberi demi kehidupan yg lebih baik? Jika mengikuti peraturan sekolah saja tidak bisa, saya tidak bisa membayangkan bagaimana hukum negara akan berlaku dimata saudara – saudari sekalian. Sekiranya dipikirkan lah apa yg kita mau lakukan sebelum bertindak.

  2. orang islam juga Feb 1,2009 18:13

    fanatik…
    ga penting…

  3. rajman Feb 2,2009 14:53

    Subhanaullah, ternyata sampai saat ini masih cukup banyak orang (walaupun sedikit) yang tetap mempertahankan aqidah mereka, yaitu menjalankan apa-apa yang telah disyariatkan oleh allah, walaupun harus berkorban begitu besar.
    Dan seharusnya guru-guru itu lebih melihat siswi yang tidak disiplin itu adalah siswi-siswi yang hanya mengumbar aurat mereka, karena inilah yang dapat merusak tatanan kehidupan yang berakibat terjadinya pelecehan seksual. Justru para guru maupun pemerintah mendukung orang yang tetap menjaga kehormatannya.

  4. aan Feb 4,2009 11:34

    buat penulis: islam tidak pernah mengajarkan cara2 seperti yang anda2 lakukan….tujuan baik harus dilakukan dengan cara yang baik. kalo seperti yang anda lakukan justru menjelekkan akan nama islam dan menimbulkan antipati bagi saudara2 seiman anda di sekolah….

  5. ubay Feb 4,2009 12:13

    Cerita yang bagus dan sangat inspiratif sekali.
    Memang tidak murni kesalahan pihak sekolah, tapi murni kesalahan sistem kapitalisme-sekulerisme.

    Tak ada hubungannya berjilbab dengan pendidikan. Banyak juga tuh yang bodoh meski tidak pake jilbab. Rugi dunia dan akhirat tuh!

  6. may Feb 4,2009 12:19

    Alhamdulillah makin banyak siswi yang sudah dididik dengan ketaatan kepada Islam yang bagus di tengah budaya hedonis dan sekuler saat ini. Menunjukkan kemuliaannya sebagai muslim. Inilah yang diajarkan ISLAM. Justru yang kompromi dengan pihak sekolah itulah yang kurang berani membela keyakinannya. Selamat ya ukhti…! bagus ceritanya bisa membantu yang lain untuk tetap berjuang. Karena kita akan mati semua membawa amalan kita. Yang tak pakai jilbab mati, yang pakai jilbab mati. Tapi nilainya berbeda. Hidup Islam!

  7. ian Feb 4,2009 12:23

    @ aan:

    kan sudah bagus caranya tuh…
    bahkan akhirnya pihak sekolah mau memberikan jalan keluar.
    salut tuh buat si akhwat tadi..

    for ALL: tolong bc ceritanya dengan benar jangan cuma judulnya… heran, aku sering ngelihat dan baca dari judul langsung nyolot.. padahal yang ditulis A, yang koment B (karena gak baca sampe selesai..).. ah.. bangun!!! jangan ngimpi!!!!

  8. Ninta Feb 5,2009 13:14

    Subhanallah…salut buat kamu yg berani memperjuangkan keyakinanmu..
    mnrt saya ini bukan FANATISME BERLEBIH…bukan juga TINDAKAN MAKAR…
    Jilbab bagi muslimah adalah KEWAJIBAN…silahkan lihat di Qur’an Surat Annur 31..dan sepatutnya sbg muslimah yang baik adalah sami’na wa attho’na..kami dengar, dan kami taat…pada semua perintah Allah…right?

    kebebasan utk berbusana muslim a.k a. berjilbab adalah kewajiban sekaligus HAK muslimah…
    apa anda2 lebih menyukai anak2 perempuan kita berbusana mini dgn dalih IKUT TREN MASA KINI??????

    akh, jgn picik saudaraku..sebaiknya kita kembali mengkaji ISLAM secara kaffah…secara murni..jgn terpengaruh propaganda barat yg justru mengidolakan Setan Laknatullah…

    sekian..mhn maaf jika kurang berkenan…

  9. Jalal Feb 6,2009 08:28

    Var non-Muslim kan? Kl non-Muslim & nggak ngerti kl jilbab itu wajib ya jangan sewot sendiri lah.

  10. koshi_zhu Feb 26,2009 10:34

    orang-orang yang bilang jilbab itu fanatik dan “gak penting”…..
    sesungguhnya merekalah yang kelak akan menjadi “gak penting” di sisi ALLAH AZZA WA JALLA.
    semoga saudaraku itu segera ditunjuki ke jalan yang benar….
    baca referensi dan carilah definisi “jilbab” dan “kerudung”. or baca aja kamus bhs Arob, pasti akan menjadi gamblang bedanya!

  11. Aida Feb 28,2009 20:30

    SUBHANALLAH….Bagus ukhti lanjutkan perjuanganmu untuk senantiasa memperjuangkan agama Allah walaupun banyak hambatan merintangi. InsyaAllah Allah akan selalu bersama kita… Semoga bagi para wanita yang mengaku Islam tetapi tampilannya tidak “Ngislami” akan tersadar untuk segera membenahi busana mereka…Amin…Hai para saudariku, ketahuilah aurat itu ibarat permata yang harus disimpan di tempat yang teraman sehingga orang-orang tidak bisa seenaknya melihat ataupun mengganggu apalagi sampai menjamah. Na’udzubillah…

  12. ayoe Mar 20,2009 14:59

    Alhamdulillah… Saudara seiman bnyk yg mendukung penulis. Krn itu artinya kita turut jg memperkuatkan keistiqomahan saudari2 Qt utk menutup auratnya dgn syar’i yg sesungguhnya, yaitu mengenakan jilbab dan kerudung. Umat Islam harus bersatu spya Qt mnjdi kuat atas serangan dr luar Islam.
    Ingatlah, Alloh SWT slalu bersama2 dgn orang yang mensyi’arkan agamaNya, yaitu Dienul Islam.
    Allohu akbar!!!

  13. soeci Mar 24,2009 12:53

    alhamdllh, saya mrasa snang stelah mmbca artilel in

  14. Hamba Allah May 22,2009 15:45

    Assalamualaikum….

    buat sdr Var….

    Banyak tulisan – tulisan di internet, di koran, buku, majalah, dll mengenai jilbab.

    bacalah…..
    Insya Allah Anda akan dapat hidayah……

  15. Ida Ayu Mar 15,2011 22:54

    var@ mengenakan jilbab plus kerudung itu wajib . . . itu aturan Allah . . kita harus lbh takut terhadap aturan Allah daripada aturan sekolah . .

Comments are closed.

%d bloggers like this: