Indonesia, antara Pemikiran dan Era Baru Pergerakan Islam [2]

Lebih setengah abad penguasa gagal memimpin bangsa ini dengan amanah. ?Belum lagi penyakit pasrah dan kagum pada “penjajah”

Oleh: Dr. Khalif Muammar *

Pendidikan Kesadaran

Usaha membuang watak pasrah dan watak submissif memerlukan satu proses yang panjang dan matang. Hakikatnya penjajahan jiwa dan fikiran terus berlaku. Modernisasi, sekularisasi dan liberalisasi menjadi sebagian dari agenda penguasaan Barat terhadap dunia Islam. Ia adalah bentuk penjajahan secara halus. Yang dijajah akan mengikut kehendak yang menjajah secara suka rela. Ini berlaku apabila telah wujud kekeliruan epistemologi dalam pemikiran umat Islam.

aka disinilah usaha pencerdasan bangsa perlu dilakukan dengan bijaksana. Umat Islam perlu memikirkan perubahan paradigma dalam sistem pendidikan. Para pelajar tidak hanya disuap dengan maklumat tetapi juga diransang untuk berfikir dengan bijaksana. Pendidikan sesungguhnya bukan untuk melahirkan generasi yang sukses secara materi semata lalu menjadi rakus dan dzalim tetapi generasi yang bertanggungjawab dan beradab.

Profesor al-Attas, seorang tokoh pendidikan Islam, memyebut, pendidikan untuk melahirkan insan yang beradab.? Bukan hanya melahirkan insan yang sholeh, karena konsep? insan? sholeh sering dikaitkan hanya dengan kesholehan spiritual (piety) dalam arti kata yang sempit.? Tetapi konsep ta’dib (dari perkataan adab). Orang yang beradab adalah orang yang adil dan mengerti menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Pendidikan Islam yang sebenarnya adalah pendidikan yang memerdekakan jiwa dan fikiran. Islam berusaha memerdekakan manusia dari belenggu materialisme, belenggu mitos dan khurafat, belenggu penghambaan sesama manusia. Semakin tertindas dan terhina suatu bangsa semakin ia menjadi lemah dan mundur. Semakin tidak berdaya melawan kebejatan dan ketidakadilan.? Ketidakberdayaan inilah yang sangat jelas sekali terasa dan berlaku di Indonesia sejak sekian lama. Rendra menyebut, yang menindas bangsa Indonesia pada hari ini adalah “konglomerat-konglomerat” dan “kapitalis-kapitalis” yang menggerogoti kekayaan bangsa.

Penindasan mengakibatkan hilangnya harga diri. Sesuatu bangsa kemudian tidak lagi memikirkan harga diri dan integritas. Seseorang yang kehilangan maru’ah (kehormatan) dan integritas tak malu melakukan korupsi. Sebab, sejak itu, harga diri dan moralitas menjadi tidak penting lagi. Inilah salah satu dari dampak kegagalan pendidikan yang cenderung materialis dan liberalis.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang berani bersuara ketika melihat penyelewengan. Berani mempertahankan yang benar apabila ia ditindas. Bangsa yang mampu menilai sendiri benar ataupun salah sesuatu itu, bukan karena dipengaruhi kelompok tertentu melalui cara-cara tertentu tetapi atas dasar keyakinan dan kebijaksanaan sendiri. Bangsa yang matang dan dewasa adalah produk pendidikan yang membebaskan bukan pendidikan yang memenjarakan. Perlu kiranya menekankan pendidikan yang membebaskan anak bangsa dari belenggu fikiran tawanan (the captive mind) sehingga dapat membangunkan manusia seutuhnya.

Dalam usaha mewujudkan sistem pendidikan? yang dapat memerdekakan jiwa dan fikiran ada beberapa perkara perlu diperhatikan:

1.?????? Pelurusan fakta-fakta sejarah demi pengukuhan identitas bangsa. Penulisan sejarah dari perspektif pribumi yang objektif tanpa unsur-unsur kolonialitas.

2.????? Penghapusan absolutisme dalam apapun bentuknya baik absolutisme politik mahupun absolutisme ideologi.

3.????? Keadilan dan kedaulatan undang-undang.

4.????? Kedaulatan agama dan moralitas. Untuk menggantikan kedaulatan sekularisme, liberalisme, materialisme dan hedonisme.

Mempelajari Kesilapan Masa lalu

Pengalaman adalah aset yang tak ternilai. Umat Islam harus belajar dari kesilapan dan kegagalan masa lalu. Memang tidak mudah untuk mengakui bahwa umat Islam menghidap penyakit-penyakit yang? dapat menghalang mereka dari kemajuan. Hakikatnya yang sempurna itu Islam tetapi umat Islam tidak sempurna. Sikap enggan mengakui kesilapan dan kegagalan yang telah dilakukan seperti ditunjukkan oleh sebagian umat Islam hanya akan menghalangi umat ini dari mempelajari kesalahan dan kegagalan tersebut.

Di antara penyakit-penyakit umat yang mesti dirawat dan disembuhkan adalah:

1.????????? Konservatisme: segolongan umat Islam masih mempertahankan kekolotan berfikir mereka. Tidak mau membuka cakrawala pemikiran mereka. Golongan ini tertutup dari pemikiran yang datang dari luar kelompok mereka walaupun mereka tau ia benar. Atas nama Islam mereka menjustifikasikan kejumudan dan kemunduran.

2.???????? Retorika dan slogan kosong. Ini adalah satu kritikan yang selalu ditujukan kepada gerakan Islam yang seringkali mempunyai kebenarannya.

3.???????? Penekanan kepada hukum-hakam (fiqh-oriented). Banyak permasalahan yang seharusnya dilihat secara meluas dan mendalam oleh sebagian umat Islam ternyata sering tertumpu kepada halal-haram saja.

4.??????? Pengabaian terhadap filsafat dan pemikiran. Kecenderungan fiqh-oriented di atas dibarengi dengan sikap membelakangi ilmu filsafat dan pemikiran atas alasan tidak praktis. Tetapi sebenarnya mencerminkan kemalasan dan ketidakmampuan berfikir dengan mendalam.

5.???????? Esoterisisme yang keterlaluan sehingga mengabaikan batas-batas syariah dan melupakan pembangunan peradaban yang unggul.

6.??????? Fanatisme golongan (hizbiyyah) yang berpuncak dari ketertutupan dan kejumudan fikiran.

7.???????? Intelektualisme tanpa kesadaran dan keprihatinan tentang kondisi umat.

8.??????? Kagum dengan kehebatan Barat sehingga hilang kepercayaan kepada Islam dan tradisi Islam sendiri.

Kesalahan-kesalahan di atas secara umumnya dapat dikategorikan kepada dua bentuk penyakit: pertama penyakit kejumudan yang berpuncak dari ketidakmampuan (tafrit) dan kedua penyakit liberalisme yang berpunca dari sikap berlebih-lebihan di atas batas agama (ifrat).

Sikap fanatik telah lama sejak munculnya Islam. Kemunculan golongan Syiah telah dicirikan dengan kefanatikan mereka terhadap Sayyidina Ali. Kefanatikan ini juga yang membawa mereka kepada kebencian kepada sahabat lain termasuk Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Para ulama Ahlus Sunnah, seperti al-Juwayni, al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah, sebagai respon telah menjelaskan bahwa kesalahan golongan Syiah adalah sikap fanatik terhadap Imam dengan menganggap bahwa ilmu dan kebenaran hanya diperolehi melalui Imam maka taqlid kepada Imam yang mereka anggap ma’sum adalah satu-satunya cara yang benar dalam beragama.

Fanatisme bagaimanapun akan menjelma sebagai ektrimisme, konservatisme dan ajaran-ajaran sesat. Golongan ekstrimis adalah golongan yang fanatik terhadap sesuatu faham yang disampaikankan oleh segelintir ulama melalui penafsiran sempit dan keras terhadap beberapa nash Al-Quran dan Hadits. Dalam melakukan hal ini golongan ini telah membelakangi pandangan mayoritas ulama yang menitikberatkan kebijaksanaan dalam melaksanakan ajaran Islam.

Umat Islam perlu menyadari bahwa sikap fanatik, tertutup dan eksklusif dari kelompok Islam yang lain adalah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap terbuka kepada kebenaran dari mana pun ia datang. Karena kebenaran tidak diukur dengan siapa yang mengatakannya tetapi dikenal dengan kebenaran itu sendiri.

Untuk menjadi kuat dan perkasa, umat Islam harus berani membuang sikap fanatik dan menggantikannya dengan sikap terbuka dan tasamuh.

Ada tiga perkara yang perlu menjadi pedoman:

  • Pertama; Kebenaran mutlak hanya datang dari Al-Quran dan al-Sunnah.
  • Kedua; Islam mengajarkan umatnya berlapang dada atau tasamuh sesama umatnya
  • Ketiga; Sebagai seorang Muslim kita harus mempunyai sikap husnudzzan (berbaik sangka) terhadap sesama Muslim.

Walaupun demikian tasamuh dan husnudzan tidak bermakna bahwa apapun penyelewengan yang? berlaku perlu dibiarkan dengan bersangka baik. Karena itu juga? bertentangan dengan? Al-Quran dan Sunnah.? Teguran tetap perlu dilakukan terhadap penyelewengan, khususnya bagi yang memiliki ilmu yang cukup untuk memperbetulkan kesilapan tersebut.

Tantangan Pemikiran

Munculnya Islam liberal adalah lambang krisis epistemologi dan pemikiran umat Islam. Ia berlaku setelah masyarakat Islam tercabut dari akarnya dan jauh daripada model atau archetype generasi awal Islam. Islam Liberal menggunakan postmodenisme untuk mendobrak kekebalan Islam. Tanpa menyadari bahwa, berbeda dengan modernisme dan naratif-naratif besar lainnya, rahasia kekebalan Islam terletak pada kesucian dan kemurnian sumbernya. Oleh karena itu, konsep-konsep yang diusung oleh golongan liberal seperti hermeneutika, dekonstruksi syariah, kesetaraan jender, pluralisme agama hanya akan menemui jalan buntu. Karena aliran filsafat ini sangat rapuh untuk dapat menggoyahkan? Islam yang sempurna dan amat kuat.

Disadari maupun tidak, Islam liberal sebenarnya berfungsi sebagai alat untuk kepentingan Barat. Tulisan-tulisan Cheryl Benard, Richard Nixon, Daniel Pipes jelas menunjukkan bahwa Barat menginginkan agar umat Islam tunduk kepada Barat. Karena mereka melihat bahwa Islam, jika dibiarkan tanpa campur tangan Barat, akan satu ancaman kepada hegemoni Barat. Maka Islam liberal telah diwujudkan sebagai satu upaya menundukkan Islam dan umat Islam. Jika masih ada Islam maka ia adalah “Islam” yang direstui oleh kuasa Barat.

Menghadapi arus liberalisasi yang penting adalah agar umat Islam kembali memahami Islam dengan benar dan betul. Kembali memahami epistemologi Islam dan worldview Islam. Dengan kefahaman yang mendalam terhadap epistemologi dan worldview Islam yang akan menonjolkan keutamaan Islam maka “serangan pemikiran” ini tidak akan dapat mempengaruhi umat Islam, baik di kalangan masyarakat umum mahupun di kalangan cendekiawan.

Prof al-Attas, dalam bukunya Risalah Untuk Kaum Muslimin, telah menggariskan tiga faktor yang menyebabkan berlakunya krisis tersebut:

1.?????? Kekeliruan serta kesilapan mengenai faham ilmu

2.????? Keruntuhan adab di kalangan kaum Muslimin

3.????? Kemunculan pemimpin-pemimpin palsu dalam semua bidang.

Bagi al-Attas persoalan epistemolgi adalah persoalan asas yang mesti diselesaikan agar krisis pemikiran tidak berlanjutan. Karena kelemahan dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya pada dasarnya mempunyai kaitan dengan pemikiran dan epistemologi umat Islam.? Ramai yang tidak menyadari, termasuk golongan cendekiawan, tantangan sekularisme, liberalisme, dan postmodernisme terhadap umat Islam. Atas dasar inilah beliau telah menggagaskan idea Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer agar krisis pemikiran ini dapat diatasi.

Maju mundur sesuatu kaum ditentukan oleh cara berfikir mereka. Prof. Wan Mohd Nor, seorang pemikir dari Malaysia, menegaskan kemunduran suatu bangsa banyak ditentukan oleh rendahnya budaya ilmu. Pemikiran rasional, kritis dan inovatif menandakan budaya ilmu. sedangkan pemikiran jumud, fanatik, dan sempit menunjukkan rendahnya budaya ilmu. Tetapi untuk mencapai budaya ilmu yang baik ini menurutnya diperlukan guru.? Dalam hal ini Raja Ali Haji, Seorang Pemikir Melayu-Riau Abad ke-19 menasihatkan anaknya:

Nasihat ayahanda anakanda fikirkan

Khianat syaitan anakanda jagakan

Orang berakal anakanda hampirkan

Orang jahat anakanda jauhkan

Setengah orang? fikir keliru

Tidak mengikut pengajaran guru

Tutur dan kata haru-biru

Kelakuan seperti hantu pemburu.

Perobahan adalah satu kemestian dalam menjalani kehidupan karena sunnah alam ini senantiasa berubah. ?Umat Islam perlu memiliki keberanian untuk berobah.

Yang jelas, sikap sebagai “bangsa pasrah” ?menjadi beban kepada Islam. Bangsa-bangsa lain akan memandang hina kepada mereka. Mereka memberi gambaran yang buruk kepada Islam karena akhlak dan perilaku mereka menjadi contoh yang buruk kepada bangsa lain. Mereka tidak memiliki keupayaan untuk maju dan memimpin dunia. Mereka sendiri gagal mengikuti seruan agama mereka untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Gerakan Pencerahan

Daripada penjelasan di atas jelas bahwa harus difikirkan cara ampuh untuk mengeluarkan umat dari keterpurukannya. Dengan belajar dari kesilapan masa lalu, cara baru harus lebih matang dan bijaksana. Kesatuan pemikiran di kalangan gerakan-gerakan Islam diperlukan untuk betul-betul dapat melakukan perubahan. Tentunya peranan kaum ilmuwan sangat penting dalam usaha mengeluarkan umat ini dari keterpurukan.

Imam al-Ghazali telah menegaskan: ?”Sesungguhnya kerusakan masyarakat disebabkan kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa disebabkan kerusakan ulama’. Jika bukan karena para qadhi yang rusak dan ulama yang rusak maka akan berkurang kerusakan penguasa karena takut teguran mereka”.

Kekeliruan pemikiran umat Islam hari ini menuntut diwujudkannya gerakan pencerahan secara serius. Gerakan besar-besaran perlu dilakukan oleh sekelompok cendekiawan yang tercerahkan (enlightened scholars). Mereka mestilah memiliki kesatuan kerangka pemikiran, walaupun mungkin berbeda dari segi pendekatan dan penekanan, namun mereka semua memiliki kefahaman yang tepat terhadap masalah, kesatuan matlamat dan ikhlas.

Mereka semestinya telah terbina dalam tradisi intelektual yang kuat dan mengakar dalam tradisi Islam. Jika benar umat Islam mendambakan kebangkitan Islam, maka gerakan pencerahan inilah yang akan dapat mencetuskan kesadaran untuk memulakan renaissans ke-tiga. Kebangkitan sebenarnya hanya terjadi jika berlaku gerakan keilmuan. Tidak ada bangsa yang bangkit dan mencipta peradaban besar tanpa didahului oleh gerakan keilmuan yang komprehensif.

Kemunduran dan kelemahan umat Islam adalah permasalahan yang kompleks. Maka untuk mengatasi masalah ini juga diperlukan satu kefahaman yang mendalam dan pendekatan yang menyeluruh. Pendekatan sepihak tidak akan dapat menyelesaikan masalah yang kompleks seperti ini. Pemahaman yang dangkal terhadap masalah ini juga hanya akan mengakibatkan lebih banyak kesilapan dilakukan oleh umat Islam.

Tidak ada cara yang mudah, singkat dan magis untuk mengeluarkan umat ini dari keterpurukan. Retorika dan slogan yang selama ini didengungkan terbukti tidak mendatangkan manfaat apapun kepada umat Islam. Yang tinggal adalah cara yang susah, ilmiah, dan menantang kesungguhan dan kesabaran. Cara yang mesti ditempuh haruslah berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu bukan mitos dan indoktrinisasi semata. [http://hidayatullah.com]

Khalif Muammar merupakan seorang Peneliti di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) UKM, Malaysia. Beliau dapat dihubungi melalui emel: ketamadunan@yahoo.com

%d bloggers like this: