Tuesday, 28 May 2024, 07:18

picture_of_old_open_diction.gifKamu tahu istilah populer? Yup, populer artinya ngepop. Ngepop itu dikenal banyak orang. Mudah untuk diingat, karena keunikannya. Dan biasanya yang ngepop sangat mudah untuk dipahami karena sesuai dengan kondisi pengetahuan kebanyakan orang yang membacanya. Pendek kata, tulisan yang menggunakan gaya bahasa populer adalah tulisan yang mengedepankan data-data, istilah, dan bahasa yang biasa digunakan banyak orang pada umumnya. Siapapun orangnya, ketika membaca tulisan jenis ini, akan lebih mudah memahami maksud penulisannya. Artinya pula, dengan gaya bahasa tersebut, jangkauan pembacanya sangat luas, bahkan boleh dibilang nggak terbatas. Betul? Itu sebabnya, tulisan gaya bahasa populer lebih banyak peminatnya ketimbang tulisan ilmiah. Sobat muda, kalo kamu pengen tahu jenis tulisan populer, silakan baca harian umum atau majalah umum. Di sana akan banyak kamu temukan jenis tulisan populer yang biasanya enak dibaca. Sebab, selain menggunakan pendekatan terhadap masalah yang sedang tren, juga menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami semua orang. Silakan baca tulisan di rubrik Opini pada harian umum dan majalah yang beredar di kotamu. Di situ bakal kamu temukan contoh-contoh tulisan populer yang sangat boleh jadi memberi inspirasi dalam tulisanmu.

Mungkin di antara kamu bertanya, gimana sih bikin tulisan yang ngepop, alias populer. Benar nggak? Iya deh, kita kasih bocorannya sekarang. Sebelumnya saya tekankan lagi bahwa setiap orang punya peluang untuk bisa menulis jenis tulisan apapun. Semua itu bergantung kepada pendalaman seseorang terhadap masalah yang dihadapinya. Juga kelihaian dalam menuangkan rangakain kata-kata tersebut dalam sebuah tulisan.

Ada beberapa hal yang diperlukan dalam menulis bergaya populer. Pertama, gunakan kosa kata dan istilah yang lazim dipakai oleh kebanyakan orang. Kedua, masalah yang dibahas dalam tulisanmu upayakan yang sedang menjadi pembicaraan hangat banyak orang. Atau, boleh juga masalah yang tidak mesti ngetren, tetapi masih diperlukan oleh banyak orang. Misalnya tentang maraknya tingkat kejahatan, jatuh-bangun partai politik Islam, menurunnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan dan sebagainya. Ketiga, gaya bahasa yang digunakan kudu mudah dipahami dan disesuaikan dengan sasaran pembacanya. Jadi, jika kita mau nulis ke sebuah harian umum nasional yang mayoritas pembacanya kalangan intelektual, maka gunakan bahasa populer yang cocok untuk kalangan tersebut. Begitu pun jika sasaran tulisan itu untuk remaja, gunakan gaya bahasa ‘kaumnya’.

Jadi, pastikan tulisan bergaya populer yang kita tulis itu enak dibaca oleh kelompok yang menjadi target sasaran kita. Jangan menganggap tingkat pemahaman kebanyakan pembaca kita sama dengan kita. Artinya, jangan sampe tulisan yang kita buat kagak nyambung dengan taraf berpikir calon pembaca utama kita. Ini yang kudu kamu hindari, sobat.

Tulisan bergaya populer ini bisa di-mix dengan ide-ide berat sekalipun. Tanpa harus membuat orang berkerut keningnya saat baca. Maka, biasanya para penulis untuk jenis tulisan populer ini lebih suka menggunakan pendekatan lewat feature (kamu buka lagi tip saya tetang tulisan feature). Itu akan semakin asyik punya. Membahas ‘misteri’ Perang Teluk II bisa lebih enak dikaji dengan gaya tulisan populer. Ya, orang memang mudah nyetel dengan segala hal yang berbau pop. Maklum, yang ngepop adalah yang sedang menjadi pembicaraan. Kalo kita pandai memanfaatkan kondisi ini, maka tulisan bergaya populer itulah yang bakal dilalap abis sama pembaca kita. Jangan kaget kalo tulisan kamu bisa digemari pembaca.

Untuk membuat buku juga mudah dengan gaya populer ini. Terapkan tiga resep saya tadi, insya Allah bisa memberi jalan lempang bagi kamu dalam menulis jenis ini. Oya, kalo kamu ‘nekat’ van berani untuk mengirimkan naskah jenis ini ke media cetak, pastikan kamu tahu siapa pembaca utama media tersebut. Kalo udah oke, mulailah menulis dengan gaya populer yang menggunakan pilihan kata dan istilah yang nyambung dengan mereka sebagai pembaca utama. Emang sih seleksi alam ya kayaknya? Itu sebabnya, maaf-maaf saja bagi mereka yang biasa membaca koran kuning (sebutan di Inggris untuk media berbau gosip), akan mental alias memantul sempurna ketika membaca media cetak yang agak serius dan dibaca kelas menengah ke atas dari segi intelektualitasnya, meskipun tema yang dibahas sama-sama yang sedang ngepop. Bisa kamu rasakan sendiri deh. Soalnya sudut pandang dan analisis serta kajian terhadap faktanya sedikit berbeda. Pilihan kata dan istilah yang digunakan juga sedikit berbeda. Boleh dicoba.

Sobat muda muslim, untuk judul juga jangan lupa memakai istilah yang enak dibaca. Bila perlu gaul dikit boleh deh. Oya, nyang gaul-gaul kayaknya cocoknya untuk remaja ya? Maklum, orang tua rata-rata nggak bisa nyetel dengan bahasa gaul. Jangan terlalu panjang. Usahakan maksimal empat kata. Misalnya, “Ada Uang di Balik Perang”, “Jatuh-Bangun Khilafah Islamiyah”, “Jakarta Makin Tak Aman”, “Turki Yang Terbelit”, “Sengsara Bersama IMF”, “PBB; Kendaraan Politik Amerika”. Untuk tulisan yang ditujukan buat remaja, kamu bisa menuliskan judul nyang enak dibaca en gaul tentunya, seperti: “Kalau Cinta Jangan Maksiat”, “Bila Kaum Jomblo Cari Jodoh”, “Yang Muda Yang Bercinta”, “Berteman Yes, Pacaran No!” dan lain sebagainya.

Oke deh, contoh untuk ini bisa kamu dapatkan di media cetak umum. Jangan di jurnal. Itu namanya nyari duit yang jatuh di tempat gelap, kamu nyarinya di tempat terang. Welah dalah… ya nggak akan ketemu euy. Saya sendiri waktu belajar pengen tahu jenis tulisan populer, saya sering baca aja di majalah, tabloid, dan koran. Utamanya di rubrik opini. Coba yo… [O. Solihin]

10 thoughts on “Menulis gaya Populer? Apa Pula Itu?

  1. yang penting tulisan itu laku,
    kalau tidak laku, emangnya mau dinikmati sendiri,

    jadi bagaimana agar tulisan itu laku di pasaran?
    mari kita belajar agar tulisan itu laku.

    Yang penting laku? Iya betul, boleh juga. Apalagi kita bisa nyari penghidupan dari menulis. Tapi, menurut saya, lebih bagus lagi jika laku dan bermanfaat. Sebab, banyak tulisan itu laku, tapi manfaatnya sedikit bahkan nggak ada. Manfaat untuk siapa? Sebagai muslim, tentu saja manfaatnya untuk kaum muslimin, untuk perkembangan ajaran Islam, dan jangan lupakan manfaatnya untuk kita sendiri. Itu sebabnya, tulisan harus benar dan baik menurut Islam. Bukan yang lain.

    Bagaimana agar tulisan laku di pasaran? Tulisan tersebut harus peka terhadap kondisi pasar. Tulisan harus merespon pasar dan memberikan solusi dan informasi yang dibutuhkan pasar. Sesederhana ini memang. Sebab, banyak media massa laku karena berhasil merespon pasar dengan baik. Namun, jangan lupakan manfaat dan pesan yang disampaikan harus benar dan baik menurut Islam, jika si penyampainya adalah seorang muslim. Atau minimal, tulisan tersebut menyampaikan informasi umum yang bermanfaat bagi seluruh manusia, bukan memberikan kebingungan dan malah menjauhkan dari norma masyarakat dan terlebih norma agama (Islam). Wallahu’alam.

    Salam,
    O. Solihin

  2. itu yang pas untuk remaja, tapi gimana dong caranya ngabungin ide agar ide ide gila tu dapat di tangkep ma temen-temen kita, bisangak ya kalo pembacanya non remaja…..kasih tips dong agar bisa ngabungin ide-ide itu n uenak di baca sapa aja, tentu dengan gaya penulisan populer……sukron

  3. kalo aku sih, buku pa aja enak dibaca end pasti betah duduk berlama2, asalkan di depanku ada makanan kecilnya dan secangkir teh. he….he….

  4. pesen aja buat semua orang yang baca
    “jangan seperti katak dalam tempurung”
    cobalah buat berkembang ,,jng cuma mengandal kan 1 patokan,,,,tapi sesuaikan juga dengan kemajuan jaman…jng hanya tepaku pada sesuatu yang belum tentu bnr

Comments are closed.