14/07/2026
https___id.hypebeast.com_files_2023_05_fifa-luncurkan-logo-piala-dunia-2026-01

gaulislam edisi 977/tahun ke-19 (28 Muharram 1448 H/ 13 Juli 2026)

“GOOOOOL!” Seketika seisi rumah bergetar hebat. Ayah langsung lompat dari sofa, adik ikutan teriak histeris walaupun dia sebenarnya nggak tahu siapa yang baru saja cetak gol, dan tetangga sebelah rumah sampai keluar pagar karena mengira ada pembagian sembako gratis. Begitulah magisnya Piala Dunia.

Setiap empat tahun sekali, miliaran orang di planet bumi mendadak punya profesi baru: jadi analis taktik dadakan, komentator super cerewet, sekaligus wasit galak bermodal kuota internet dan layar smartphone. Lucunya, sebagian besar dari kita yang hebohnya minta ampun ini, menyentuh lapangan sepak bola pun jarang-jarang, kecuali terpaksa pas pelajaran olahraga di sekolah.

Piala Dunia memang seajaib itu. Dalam sekejap mata, jutaan remaja (termasuk bapak-bapak) di Indonesia mendadak punya ‘kewarganegaraan’ baru. Ada yang mendadak merasa punya darah keturunan Argentina murni, ada yang bangga banget berlagak ala anak scouser Inggris, dan ada yang tiba-tiba fasih teriak “Viva Espa?a!” atau ikutan gaya selebrasi Prancis pas lagi main game konsol.

Hmm… padahal kalo dipikir-pikir pakai logika sehat, paspor kita tetap warna hijau berlogo Garuda dan KTP tetap Indonesia (itu pun kalo udah punya), dan yang paling krusial: kalo tim jagoan kita angkat piala di benua sana, saldo tabungan atau uang jajan kita besok pagi nggak bakal nambah seratus rupiah pun! Bener, yang kaya tetap pemainnya, yang viral tetap negaranya, tapi yang capek, begadang, sampai emosi jiwa justru kita yang nonton dari layar kaca.

Panggung megah tiga negara

Sobat gaulislam, biar obrolan kita di tongkrongan nggak fumble alias nggak kaku atau kikuk dan tetap kelihatan up-to-date, yuk kita bedah dulu fakta terbaru dari turnamen terbesar di bumi ini. Piala Dunia 2026 kali ini benar-benar mencetak sejarah baru yang bikin geleng-geleng kepala. Untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban sepak bola, FIFA menambah jumlah peserta secara ekstrem dari yang tadinya cuma 32 negara menjadi 48 negara!

Kebayang nggak tuh berapa banyak drama, air mata, dan plot twist yang tersaji? Nggak cuma itu, turnamen kolosal ini digelar di tiga negara raksasa sekaligus secara patungan: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Stadionnya megah-megah, logistiknya super rumit, dan atmosfernya beneran pecah banget.

Setelah melewati fase grup yang penuh drama dan babak gugur yang bikin senam jantung, turnamen sekarang sudah memasuki fase krusial. Empat tim raksasa resmi mengamankan tiket ke semifinal: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Ini adalah momen langka nan epik, karena sejak peringkat FIFA pertama kali diperkenalkan pada tahun 1992, baru kali inilah empat tim dengan ranking tertinggi di dunia benar-benar bentrok di semifinal tanpa ada tim kuda hitam yang nyasar. Jadwalnya dijamin bikin begadang: Prancis ditantang Spanyol, dan Inggris bakal baku hantam lawan sang juara bertahan, Argentina. Skuad mereka? Isinya pria-pria kesepian, eh, pria-pria kuat fisik semua!

Kalo kamu biasa mantengin urusan sepak bola, pastinya hapal banget deretan nama beken mereka. Di kubu Argentina, walau udah nggak main di Eropa, Lionel Messi yang sekarang jadi bos kecil di Inter Miami masih jadi ruh permainan, dibantu Juli?n ?lvarez yang baru saja pindah ke Atletico Madrid. Prancis punya Kylian Mbappé yang makin mengerikan setelah gabung Real Madrid, yang larinya kayak jet tempur itu. Disokong Ousmane Dembélé dari PSG, winger lincah, rajin ngacak-ngacak bek lawan.

Spanyol punya Lamine Yamal, bocah ajaib lulusan La Masia Barcelona yang umurnya nggak beda jauh sama kamu tapi skill-nya bikin geleng kepala. Nggak ketinggalan Fabian Ruiz, metronom jenius pengatur ritme lini tengah. Sedangkan Inggris punya lini serang sultan: Jude Bellingham, anak emas Real Madrid yang kemarin sukses nyetak dua gol buat nyingkirin Norwegia di perempat final, duet bareng striker senior Harry Kane dari Bayern Munich. Nama-nama ini tiap hari seliweran di TikTok dan Facebook kita, lebih sering daripada muka teman sekelas sendiri!

Mengikis kepedulian kita

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Di balik gemerlap lampu stadion dan ribuan flash kamera, yuk kita coba duduk tenang sebentar dan pakai mode kontemplatif islami kita. Menonton bola itu asyik, hiburan yang sah-sah saja biar otak nggak stres mikirin tugas sekolah atau ujian. Tapi, sadar nggak sih, kadang euforia bola ini punya sihir jahat yang bisa bikin skala prioritas kita bergeser total?

Lini masa media sosial kita penuh sesak sama perdebatan taktik, meme bola, dan prediksi skor. Tapi di saat yang bersamaan, algoritma kita seolah sengaja menyembunyikan berita tentang penderitaan nyata saudara-saudara seiman kita di belahan dunia lain.

Ini tamparan keras buat hati kita. Kadang-kadang, kita bisa sedih luar biasa, nangis bombay, bahkan sampai mogok makan seharian cuma gara-gara tim favorit kita kalah di menit-menit akhir. Tapi anehnya, hati kita datar-datar saja, bahkan cenderung mati rasa, waktu melihat video saudara sesama muslim di Palestina, Suriah, atau wilayah konflik lainnya yang kehilangan rumah, orang tua, dan masa depan mereka dalam sekejap.

Kita hapal luar kepala jadwal semifinal sampai ke menit-menitnya, tapi kita sering lupa meluangkan waktu dua menit setelah salat buat mendoakan keselamatan saudara-saudara kita di Palestina dan wilayah konflik lainnya.

Bola itu bulat, kawan. Tapi jangan sampai hati kita ikut bulat, lalu menggelinding jauh dari rasa empati dan kemanusiaan. Jangan sampai sebelas orang asing yang ngejar bola di rumput hijau jadi tirai besar yang nutupin rasa peduli kita sesama muslim. Ingat sabda Rasulullah, umat Islam itu ibarat satu tubuh. Kalo ada satu bagian yang sakit, harusnya bagian lain ikut merasakannya, bukan malah selalu sibuk nonton pesta siaran langsung pertandingan bola.

Rebutan pepesan kosong

Sekarang, mari kita bahas menu utamanya, yang jadi fenomena paling absurd dan kocak di kalangan remaja Gen Z dan Gen Alpha kita di Indonesia: perang komentar! Ini beneran deh, tingkat kelucuannya (atau kekonyolannya?) sudah di luar nurul dan nggak habis fikri. Pertandingan aslinya digelar ribuan kilometer menyeberangi samudra, yang main para atlet profesional berbayar miliaran rupiah per minggu, lah yang tensinya tinggi sampai maki-maki di kolom komentar malah

remaja kita yang modal kuotanya saja kadang masih minta ke orang tua. Sungguh sebuah potret “pepesan kosong” yang hakiki—ributnya heboh, energinya habis, tapi pas dibuka failsafe-nya, isinya zonk alias nggak dapat apa-apa!

Masuk ke kolom komentar TikTok, Facebook, atau X pasca-pertandingan itu rasanya kayak masuk ke arena gladiator kata-kata kotor. Saling ejek, saling serang, pamer statistik instan, sampai bawa-bawa kalimat kasar yang nggak pantas diucapkan sama seorang muslim. Seriously? Memangnya kalo kamu berhasil bikin netizen lain nangis atau kesal karena timnya kamu ejek, Kylian Mbappé bakal nge-DM kamu sambil bilang, “Wah, makasih ya udah belain gue, ini gue transfer 50 juta rupiah”?

Nggak bakal banget! Mereka nggak kenal kita, nggak tahu kita hidup di bumi sebelah mana, dan setidaknya untuk saat ini, mereka terlalu sibuk menghitung bonus kemenangan mereka daripada mikirin jempolmu yang keriting gara-gara ngetik hujatan.

Ragam perang komen lainnya juga sering muncul. Misal nih, UserA: “Argentina tanpa penalti setara dengan tim tarkam!”

Dibalas sama UserB: “Halah, lu pasti fans Ronaldo dodo yang udah tersingkir ya? Nangis wkwk!”

Terus UserA bilang lagi: “Gue murni nilai objektif woi, kagak dukung CR7 juga!”

Nggak terima, UserB langsung ngegas: “Alasan, lu Anak Abah sepak bola, pukul rata aja, lu semua hater Messi!”

Nah, contoh di atas adalah drama harian yang paling sering terjadi: debat ‘abadi’ fans Messi vs Ronaldo yang nggak kelar-kelar sampai Messi dan Ronalod masing-masing punya cucu 12. Pola pikir netizen kita sekarang sudah masuk tahap akut yang namanya “pukul rata”. Begitu ada orang yang mencoba kasih kritik objektif atau sekadar menilai performa taktis Argentina yang kurang greget di suatu babak, dia bakal langsung dituduh sebagai fans garis keras Ronaldo atau Portugal yang lagi sakit hati. Ruang buat diskusi sehat dan analisis cerdas langsung hilang, diganti sama cap sepihak. Pola pikir dikotomis ini—kalo nggak dukung A berarti kamu musuh dan pasti dukung B—terasa sangat familiar di telinga kita, bukan?

Yup, fenomena ini persis banget kayak residu memori Pilpres di Indonesia yang masih membekas kuat di benak kita. Ingat kan gimana dulu (bahkan sampai sekarang) masyarakat kita kebelah antara pendukung Jokowi, Prabowo, Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo? Setiap kali ada netizen yang ngritik kebijakan tokoh tertentu dengan argumen yang masuk akal, mereka bakal langsung diserang dan dicap sebagai “Anak Abah” (pendukung Anies) atau sebutan politik lainnya. Logika berpikir yang cacat (logical fallacy) ini ternyata menular dan merembet subur ke dunia sepak bola. Ini beneran buang-buang waktu, buang energi emosional, dan buang duit buat kuota. Capeknya dapet, pahalanya minus, dampaknya buat masa depan kita? Nol besar!

Terjebak judi

Sobat gaulislam, nonton pertandingan sepak bola yang awalnya cuma seru-seruan bareng teman, kalo nggak dikontrol pakai iman, pelan-pelan bisa bergeser ke arah yang jauh lebih berbahaya: judi bola atau taruhan. Di kalangan remaja, jeratan ini sering kali masuk lewat pintu yang kelihatan “polos” dan sepele. Awalnya cuma tebak skor iseng di grup WhatsApp kelas. Yang kalah harus bayarin es kopi susu atau patungan beli gorengan di kantin pas jam istirahat. Kelihatannya cuma seru-seruan buat nambah tensi seru pas nonton bareng.

Tapi hati-hati, setan itu punya strategi yang sangat rapi. Ada jejak langkah setan (khuthuwatis syaithan) buat menjerumuskan manusia. Makanya, jangan diikuti. Begitu tebakan pertama tembus, muncul rasa bangga dan dopamin instan yang bikin kamu merasa jadi pengamat bola paling jenius se-bale desa.

Dari yang tadinya cuma taruhan segelas es kopi, mulai berani naik level pakai uang jajan, sampai akhirnya tergiur masuk ke situs-situs judi online yang iklannya berseliweran di situs streaming. Kalo sudah ketagihan, ceritanya bakal berakhir tragis: uang kas OSIS diembat, barang berharga digadaikan, mulai berani bohong ke orang tua, sampai dikejar-kejar utang.

Artinya, hiburan yang tadinya diniatkan buat melepas penat, malah berubah jadi bumerang yang menghancurkan masa depan dan menggadaikan keberkahan hidup.

Emang ada konspirasi?

Selain judi, bumbu penyedap yang paling sering laku keras di kalangan remaja (dan juga bapak-bapak) selama Piala Dunia adalah teori konspirasi. Lini masa kita pasti sering banget kemasukan utas panjang (thread) yang bahasanya super meyakinkan, lengkap dengan cuplikan video lambat, yang mengeklaim kalo Piala Dunia kali ini sudah di-setting sedemikian rupa oleh “tangan-tangan gaib” (invisible hand). Katanya, wasit sudah dibayar, bagan pertandingan sudah diatur biar rating siaran televisi melonjak demi cuan penonton, sampai ada yang bilang kalo sang juara sebenarnya sudah ditentukan di atas kertas setahun sebelum turnamen dimulai.

Jujur saja, narasi-narasi misterius kayak gini emang seru banget buat dibaca, karena sifat dasar manusia itu emang suka sama hal-hal rahasia. Tapi sebagai remaja muslim yang cerdas, kita punya rambu-rambu keren yang namanya tabayun—yaitu kewajiban untuk mengecek, meneliti, dan memverifikasi kebenaran sebuah informasi sebelum kita percaya dan ikut menyebarkannya. Jangan sampai kita jadi remaja yang mudah kagum sama analisis cocoklogi yang belum jelas bukti empirisnya, lalu dengan gampangnya ikut nge-share di grup kelas sambil bilang “Wah, ternyata setting-an!”.

Islam mengajarkan kita untuk menjaga akal sehat dan nggak mudah terseret oleh opini massa yang dasarnya cuma katanya dan katanya. Kecuali kalo memang udah terbukti. Biasanya sih, laporannya baru muncul setelah belasan tahun. Tapi buat kita, nggak perlu-perlu banget sih tahu soal ini. Sebab, yang terpenting adalah bagaimana kita nggak tersihir dengan event ini dan melupakan kepedulian kita kepada sesama muslim dan tahu prioritas kewajiban sebagai muslim.

Lalu, bagaimana seharusnya?

Sobat gaulislam, nanti, ada satu titik di mana turnamen megah Piala Dunia 2026 ini bakal selesai. Wasit bakal meniup peluit panjang di pertandingan final. Lampu-lampu stadion megah di Amerika Serikat bakal dimatikan satu per satu, panggung juara bakal dibongkar, konfeti kertas bakal dibersihkan dari lapangan, dan piala emas itu bakal dibawa pulang oleh satu negara yang beruntung. Para pemain bintang bakal kembali naik jet pribadi mereka, balik ke klub masing-masing, dan melanjutkan hidup mewah mereka sebagai miliarder lapangan hijau.

Terus, apa yang tersisa buat kita yang nonton dari jarak ribuan kilometer di Indonesia? Setelah turnamen selesai, mari kita cek “papan skor” diri kita sendiri. Selama satu bulan penuh Piala Dunia bergulir, apakah iman kita ikutan naik, atau malah merosot karena sering ninggalin salat demi begadang nonton bola? Apakah adab kita membaik, atau jangan-jangan jempol kita sudah memproduksi ribuan kalimat kotor dan makian di kolom komentar netizen lain?

Kemenangan sejati seorang remaja muslim bukanlah ketika tim nasional yang dia jagoan berhasil angkat piala di turnamen. Kemenangan sejati adalah ketika kita bisa menikmati pertandingan sepak bola tanpa harus kehilangan akhlak, tanpa harus memutus tali silaturahmi dengan teman, dan tanpa harus melupakan saudara-saudara seiman kita yang sedang kesusahan.

Boleh aja kamu bersorak pas ada gol indah, silakan kagumi skill pro Lamine Yamal atau Jude Bellingham, tapi ingat: pastikan kaki kita tetap berpijak di bumi nyata dan pandangan mata kita tetap lurus menatap akhirat. Jangan sampai demi sebelas orang asing yang mengejar dan rebutan satu bola, kita malah kehilangan arah hidup sebagai seorang hamba Allah Ta’ala. Begitu, ya. Semoga paham. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *