gaulislam edisi 987/tahun ke-19 (9 Rabiul Akhir 1448 H/ 21 September 2026)
Pernah ketemu orang yang kalo habis dapet nilai bagus langsung nyeletuk, “Santai dong, otak encer mah beda. Ini murni hasil begadang dan kejeniusan gue!”? Atau pas proyeknya sukses, dia pasang status: “Buktinya kalo lu kerja keras, lu pasti menang. Nggak butuh doa, murni hasil keringat sendiri!”
Kalo pernah, selamat, kamu baru aja menyaksikan gejala dari sebuah ‘penyakit menular’ nan purba: Sindrom Qarun.
Ribuan tahun lalu, Qarun pernah bikin geger peradaban gara-gara kesombongan akutnya. Waktu diingetin biar bersyukur atas hartanya yang melimpah, dia malah menepuk dada sambil koar-koar: “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (dalam al-Quran surah al-Qashash ayat 78). Ujungnya? Ditelan bumi bareng semua hartanya. Tragis, tapi jadi pelajaran abadi.
Parahnya, virus jumawa khas Qarun ini ternyata nggak cuma kambuh pas urusan pamer nilai ujian atau flexing saldo rekening. Belakangan ini, Sindrom Qarun mendadak mewabah di jagat maya pas ngebahas urusan langit!
Ceritanya, kemarau panjang kemarin sempat bikin beberapa wilayah di Indonesia merana. Termasuk di Bogor—kota yang dari sononya dapet gelar kehormatan sebagai “Kota Hujan”. Lha kok kemarin julukan itu mendadak kayak lelucon garing. Lebih dari dua bulan lamanya langit Bogor pelit banget nurunin air. Hawa gerah menyengat, debu beterbangan, sumur warga mulai batuk-batuk kekurangan air, dan tanah taman mulai retak-retak mirip bibir dehidrasi.
Warga yang biasanya sibuk ngangkat jemuran karena Bogor hujan terus, mendadak rindu berat sama aroma tanah basah sehabis hujan (petrichor). Tapi namanya juga era jempol digital, kegelisahan kemarau ini nggak cuma berhenti di obrolan fisik warung kopi. Di media sosial, kegerahan itu berubah jadi arena adu gengsi sains melawan iman, lengkap dengan aroma khas kesombongan ala Qarun modern!
Antara TMC dan Shalat Istisqa
Sobat gaulislam, pas kekeringan makin bikin pusing, pihak berwenang tentu nggak tinggal diam. Rencana rekayasa cuaca alias Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mulai disiapin. Pesawat dirancang terbang buat nyemai garam ke awan-awan potensial biar bulir air cepat membesar lalu jatuh jadi hujan. Tapi ya namanya ikhtiar manusia, prosesnya nggak semudah membalikkan telapak tangan. Awan yang mau disemai ternyata susah dicari, arah angin suka berubah seenaknya, dan alhasil hujan buatan yang ditunggu-tunggu sempat belum juga membuahkan hasil nyata.
Di sisi lain, ada kesadaran ruhiyah yang bergerak. Pada hari Jumat tanggal 18 September kemarin, ribuan kaum muslimin di Kabupaten Bogor tumpah ruah menggelar shalat istisqa. Nggak cuma warga biasa, jajaran umaro bareng para ulama duduk bersimpuh di atas tanah lapang. Nggak ada tampang jagoan di sana. Semua nunduk, ngakuin dosa, beristigfar, dan memohon belas kasih Allah Ta’ala sang Pemilik langit dan bumi. Suasana haru menyeruak pas doa-doa permohonan ampun dipanjatkan. Mereka sadar betul kalo manusia itu makhluk lemah yang kalo airnya dicabut barang sebentar aja, langsung bingung nggak karuan.
Keajaiban pun datang menyapa. Nggak butuh waktu berbulan-bulan, sore harinya setelah shalat istisqa itu digelar, langit Bogor mendadak gelap. Gumpalan mendung tebal merayap cepat, disusul suara gemuruh petir yang bikin hati bergetar. Dan… alhamdulillah! Hujan deras beneran tumpah membasahi bumi tegar beriman, meluas ke wilayah Kota Bogor sampai kawasan sekitarnya. Bau tanah basah langsung semerbak, udara mendadak adem, dan rasa syukur meluap di dada orang-orang yang sempat cemas sumurnya bakal kering total. Doa mereka dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Ribut di medsos soal siapa pahlawannya
Harusnya, momen turunnya air dari langit ini bikin kita kompak sujud syukur dan saling berpelukan dong, ya? Tapi dunia medsos emang tempat yang aneh. Bukannya kompak berterima kasih sama Sang Pencipta, timeline malah berubah jadi ring tinju adu klaim yang kontraproduktif. Netizen langsung terbelah jadi beberapa kubu yang saling serang dengan jempol berotot.
Kubu pertama, yang merasa paling melek sains, langsung koar-koar dengan nada jumawa. Kata mereka, “Woy, buka mata kalian! Itu hujan turun murni karena rekayasa cuaca TMC yang udah dirancang pemerintah! Pesawat udah nabur garam, ya wajar airnya turun. Sains itu nyata, jangan dikait-kaitin sama hal mistis!”
Belum kelar suara kubu pertama, muncul kubu kedua yang hobinya jadi komentator sinis. Komentar mereka nggak kalah nyebelin, “Halah, rekayasa cuaca apaan? Itu mah emang udah masuk siklus tahunan aja kali! Udah bulan September, bentar lagi masuk Oktober, ya emang waktunya musim hujan. Nggak usah lebay, semua ada jadwal meteorologinya.”
Mendengar ocehan itu, kubu yang ikut shalat istisqa tentu nggak terima. Mereka ngebalas kalo hujan turun berkat sujud dan tangisan para jamaah shalat istisqa tadi siang. Ujung-ujungnya, isi kolom komentar penuh caci maki. Mereka yang religius dituduh anti-sains dan kolot, sementara yang ngebahas teknologi dituduh sekuler dan nggak punya iman. Capek banget ngeliatnya!
Kenapa sih isi kepala kita gampang banget terjebak dalam cara mikir biner yang sempit? Seolah-olah kalo kita mengakui teknologi, peran Allah Ta’ala jadi hilang. Atau sebaliknya, kalo kita berdoa, ikhtiar sains dianggap haram dan nggak berguna. Padahal, logika dangkal kayak gini justru nunjukin betapa rapuhnya pemahaman kita soal akidah dan cara kerja alam semesta.
Sains cuma alat, Allah penentu akibat
Coba deh kita tarik napas dalam-dalam, terus pikirin baik-baik pakai kepala dingin. Emang siapa sih yang bikin hukum fisika dan kimia di alam semesta ini? Siapa yang netapin kalo uap air yang naik ke atmosfer bakal mengalami kondensasi pas suhunya dingin? Siapa juga yang ngatur gravitasi bumi biar bulir-bulir air itu jatuh ke bawah dan nggak malah melayang ke luar angkasa?
Jawabannya cuma satu: Allah Ta’ala. Dialah yang menciptakan sunnatullah, yaitu hukum ketetapan alam yang teratur dan bisa dipelajari sama akal manusia. Sains itu hakikatnya cuma metode buat membaca pola sunnatullah tersebut. Manusia nggak pernah menciptakan materi baru. Pas ilmuwan bikin rekayasa hujan buatan lewat TMC, mereka cuma nabur partikel garam ke dalam awan yang sudah ada.
Pertanyaannya: emang garamnya siapa yang nyiptain? Terus awannya siapa yang bikin berarak di langit? Kalo Allah Ta’ala nggak berkehendak ada kelembapan udara yang cukup dan angin kencang malah niup awan itu ke laut lepas, mau kamu taburin garam ribuan tronton juga nggak bakalan turun hujan!
Itu sebabnya, membenturkan antara kehendak Allah Ta’ala sama ikhtiar sains itu ibarat kamu memperdebatkan apakah rasa lapar kamu hilang gara-gara sendok atau makanan. Sendok itu cuma alat perantara, makanan itu sarana, tapi yang ngasih rasa kenyang dan tenaga ke dalam sel-sel tubuh tetaplah Allah Ta’ala.
Biar adem, kalimat yang mestinya keluar dari lisan seorang muslim beriman tuh gini, “Ikhtiar ilmiah lewat rekayasa hujan buatan udah diupayakan semaksimal mungkin, dan alhamdulillah, Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih mengabulkan doa shalat istisqa kita sekaligus memberkahi ikhtiar sains tersebut sampai hujan turun.”
Keren kan kalo ngomongnya kayak gitu? Nggak ada yang dinafikan, nggak ada yang disingkirkan. Ikhtiar sains diakui sebagai bentuk usaha lahiriah yang cerdas, tapi muara keimanan dan rasa terima kasih tetap ditujukan kepada Allah Ta’ala yang memegang kendali atas segala sesuatu.
Sindrom Qarun di kalangan remaja
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sadar atau nggak, penyakit menafikan peran Allah Ta’ala ini bukan cuma kejadian di level perdebatan cuaca nasional. Sikap sombong kayak gini udah lama nyelip di obrolan sehari-hari anak muda. Kita sering banget nemuin fenomena serupa di tongkrongan, ruang kelas, sampai di postingan pencapaian akun medsos pribadi.
Ambil contoh pas musim ujian sekolah atau seleksi masuk kampus impian. Ada siswa yang belajarnya gila-gilaan, ikut bimbel sana-sini, langganan aplikasi belajar berbayar, sampai begadang tiap malam. Pas namanya beneran lolos di jurusan favorit, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya atau yang dia tulis di status media sosial bunyinya gini:
“Ini bukti nyata kalo kerja keras nggak pernah mengkhianati hasil! Gue berjuang sendirian banting tulang tanpa tidur. Sukses ini murni hasil keringat gue!”
Duh, ngeri banget denger kalimat kayak gitu. Kata “gue” berasa diagungkan setinggi langit, sementara nama Allah Ta’ala sama sekali nggak disebut, bahkan buat sekadar ucapan alhamdulillah. Sadar nggak sih kalo gaya ngomong kayak gitu tuh persis banget sama tabiat Qarun ribuan tahun lalu?
Orang-orang yang terjangkit sindrom Qarun lupa satu hal yang paling mendasar: siapa yang ngasih dia otak yang masih bisa mikir encer? Siapa yang ngejaga jantungnya tetap berdegup pas dia lagi tidur lelap? Siapa yang ngasih kesehatan sampai dia nggak tumbang pas belajar begadang? Dan siapa yang ngebuat penguji atau sistem komputer menetapkan dia lolos?
Kalo Allah Ta’ala berkehendak, semenit sebelum lembar ujian dibagikan, Dia gampang banget bikin kepala kamu mendadak migrain parah sampai nggak bisa baca soal. Atau Allah Ta’ala bikin saraf tangan kamu kram mendadak sampai nggak bisa nulis. Ikhtiar manusia sehebat apa pun cuma setitik debu di hadapan kehendak mutlak Ilahi. Tanpa izin dan pertolongan Allah Ta’ala, ikhtiar kamu bakal rontok nggak berdaya.
Lalu, harus bagaimana?
Biar kita nggak terus-terusan tersesat dalam pola pikir yang rancu ini, kita butuh solusi yang nyata. Nggak cukup cuma saling adu argumen di kolom komentar, tapi kita perlu membedah masalah ini dari tingkat personal sampai ke level sistemik.
Secara teknis dan pribadi, langkah paling awal adalah ngerapihin cara pandang kita soal hubungan antara doa, ikhtiar, dan tawakal. Jangan pernah memisahkan doa dan ikhtiar layaknya dua hal yang bermusuhan. Doa dan ikhtiar itu kayak sepasang sayap pada burung. Burung nggak bakalan bisa terbang tinggi mengarungi angkasa kalo sayap kanannya dipatahkan atau sayap kirinya diabaikan. Pas kita lagi ada hajat—mau itu urusan hujan, urusan nilai ujian, dapet jodoh, atau kesuksesan karier—langkah kita harus seimbang.
Pertama, lakukan ikhtiar ilmiah dan usaha lahiriah seoptimal mungkin sesuai aturan syariat dan ilmu pengetahuan yang valid. Belajar yang tekun, bikin riset yang rapi, jaga pola makan, atau gunakan teknologi mutakhir.
Kedua, kencangkan doa dan ibadah dengan penuh kerendahan hati. Jangan pernah sombong dengan merasa kemampuan diri sendiri udah cukup. Shalat istisqa pas kemarau, shalat hajat pas punya impian, dan terus basahi lisan dengan istigfar.
Ketiga, bersihkan lisan dari klaim sepihak. Biasakan buat selalu mendahulukan rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas hasil apa pun yang kita raih, baru kemudian mengapresiasi ikhtiar manusia yang terlibat.
Tapi kita juga nggak boleh naif. Masalah pembenturan antara sains dan agama ini bukan muncul secara kebetulan. Ada akar masalah yang jauh lebih besar dan sifatnya sistemik, yaitu cengkeraman ideologi sekulerisme yang udah puluhan tahun mencemari dunia pendidikan dan peradaban global.
Sekulerisme adalah cara pandang hidup yang sengaja memisahkan urusan agama dari kehidupan sehari-hari, termasuk dari ilmu pengetahuan. Di sekolah dan universitas sekuler, fenomena alam diajarkan melulu sebagai reaksi mekanik tanpa ada sangkut pautnya dengan Sang Maha Pencipta. Air mendidih cuma dipelajari sebatas titik didih 100 derajat Celsius, hujan cuma dipahami sebagai siklus hidrologi acak, dan bintang di langit cuma dilihat sebagai gumpalan gas mati. Jiwa tauhidnya dicabut secara paksa dari ruang kelas. Alhasil, lahirlah generasi yang pintar merancang teknologi tapi buta spiritual; generasi yang mengagungkan laboratorium tapi malu mengakui keberadaan Arasy Allah Ta’ala.
Itu sebabnya, solusi sistemik yang kita butuhkan adalah merombak total paradigma pendidikan sekuler ini dan menggantinya dengan sistem kehidupan Islam yang menyeluruh. Islam nggak pernah memusuhi sains. Buktinya, peradaban Islam di masa kejayaan melahirkan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia kayak al-Kindi, al-Khawarizmi, sampai al-Biruni. Bedanya, makin hebat ilmu sains yang mereka kuasai, makin gemetar hati mereka di hadapan keagungan Allah Ta’ala. Mereka meneliti bintang, anatomi tubuh, riset matematika, fisika dan kimia, serta pergerakan awan bukan buat menyingkirkan peran Allah Ta’ala, tapi justru buat mempertebal keimanan kalo ciptaan Allah Ta’ala itu benar-benar tanpa cela.
Hujan lebat yang mengguyur Bogor sore itu, tepat setelah ribuan dahi bersujud dalam shalat istisqa dan ikhtiar rekayasa cuaca diupayakan, semestinya jadi tamparan lembut buat kita semua. Langit lagi ngasih kita masterclass akidah: ikhtiar sains itu mulia dan wajib sebagai bagian dari tugas manusia memakmurkan bumi, tapi hak veto dan izin mutlak tetap berada di genggaman Allah Ta’ala yang Maha Berkehendak.
Menghargai kerja keras manusia dan kecanggihan teknologi itu akhlak yang terpuji. Tapi menyingkirkan peran Allah Ta’ala di balik setiap keberhasilan? Itu jelas penyakit hati yang berbahaya.
Maka, buat kamu generasi muda muslim yang cerdas, keren, dan berwawasan masa depan: Jangan kena Sindrom Qarun! Jangan biarkan akal kita yang terbatas membuat kita sok independen di hadapan Sang Pencipta alam semesta. Sains dan iman bukan untuk diadu domba, melainkan berjalan beriringan dengan tauhid di posisi puncak.
Mulai hari ini, buang jauh-jauh mentalitas “semua ini karena kehebatan gue”. Setiap kali setetes rintik hujan membasahi kulitmu, atau setiap kali lembar pencapaian dan kesuksesan menghampiri hidupmu, singkirkan kecongkakan itu jauh-jauh. Tundukkan kepala, ratakan sujud ke bumi, dan bisikkan dengan tulus:
“Alhamdulillah… semua ini terjadi semata-mata karena rahmat, pertolongan, dan izin-Mu ya Allah. Sementara ilmuku, tenagaku, dan ikhtiar sainsku hanyalah jalan kecil yang Engkau berkahi.” [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]
Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!