Saturday, 1 October 2022, 11:39

gaulislam edisi 768/tahun ke-15 (12 Dzulhijjah 1443 H/ 11 Juli 2022)

Cukup banyak, atau bahkan sebagian besar ada di antara kaum muslimin yang perilakunya nggak islami. Muslim sih, tetapi nggak islami kelakuannya. Agamanya Islam, tetapi perbuatannya jauh dari nilai yang diajarkan Islam. Bohong sering banget, nipu orang jadi hobinya, pacaran gas pol, seks bebas jadi tradisi, korupsi malah dibilang prestasi, berkhianat terhadap amanah udah sering terjadi, dan seabrek fakta lainnya. Itu sih udah mencoreng Islam. Malu-maluin aja. Muslim lainnya yang taat jadi kecipratan getahnya.

Betul, bahwa Islam nggak bakalan habis atau hilang hanya gara-gara kelakuan pemeluknya yang rusak bin bejat. Islam tetap mulia, tersebab agama ini Allah Ta’ala yang menjaganya. Selain itu, secara fakta banyak tuh kaum muslimin yang juga mukminin alias orang-orang yang beriman. Perilakunya sesuai tuntunan Islam. Jadi, nggak semuanya buruk.

Berarti memang beda antara muslim dan mukmin, ya? Betul. Sebab, ada yang muslim tetapi belum tentu beriman. Contohnya udah muslim, udah bersyahadat, tetapi shalat bolong-bolong, bahkan ada yang hanya setahun sekali shalatnya. Kalo begini, tentu belum beriman sempurna. Ini yang sering bikin runyam dan jadi celah untuk melemahkan Islam.

Siapa yang salah? Wah, kalo ditunjuk satu-satu kayaknya pada nggak mau juga disalahkan. Namun, memang ini fakta di akhir zaman. Bagi kita, introspeksi adalah salah satu cara untuk menilai diri kita sendiri. Sebenarnya udah sesuai ajaran Islam belum sih. Udah pas dengan apa yang ditetapkan syariah Islam atau masih melenceng jauh.

Memang menyakitkan ya, sebagai muslim tetap aja orang akan menilai kita sesuai fakta yang ada di antara kita. Ibarat kata, kalo ada yang jelek adab di antara kita, yang kena ya kita semua. Padahal, kita bukan termasuk yang jelek adab. Namun, masyarakat udah kadung menilai secara pukul rata. Terus, kita kudu ngapain? Kalo diam dianggap membiarkan (termasuk seperti ngebalain), kalo reaktif menyangkal bahwa nggak semua begitu, entar dibilang cuci tangan. Serba salah.

Kasus udah banyak, bahkan sebelum yang rame-rame seperti sekarang macam dugaan penyelewengan dana kemanusiaan untuk kepentingan pribadi pengelolanya di lembaga sosial, kejadian pelecehan seksual atau pemerkosaan santri oleh oknum ustaz di lembaga pesantren yang lalu disematkan pelakunya sebagai ustaz cabul dan sejenisnya. Sebelumnya juga sempat disematkan tuduhan bahwa penggalangan dana melalui kotak amal di masjid dan tempat tertentu yang konon kabarnya didistribusikan untuk jaringan teroris. Intinya, umat Islam secara umum dihadapkan pada ujian keimanan. Gimana pun juga, secara fakta banyak juga kaum muslimin yang memang belum islami perilakunya. Mengsedih dah!

Kita dan Islam

Sobat gaulislam, Islam adalah agama sekaligus the way of life (ideologi). Jati diri pemeluknya yang sesuai dengan tuntunan Islam akan memberikan citra baik bagi seluruh alam. Orang akan mudah menilai dengan melihat Islam sebagai agama yang baik ketika melihat perilaku baik pemeluknya. Namun, ibarat pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelanga. Selintasan memang akan dinilai demikian. Padahal, perilaku muslim banyak juga yang baik. Namun yang baik itu tak lagi dinilai baik. Tertutup oleh yang berperilaku buruk.

Mestinya, cara pandangnya bukan begitu. Bahwa ada fakta muslim yang buruk adab, ya itu memang ada. Jangan lupa, bahwa secara fakta ada juga muslim yang baik adabnya. Iya, kan? Nggak bisa pukul rata gitu, dong. Jadi, bijaklah dalam menilai. Kan, nggak mau juga dikatakan bahwa orang Indonesia semuanya berengsek hanya gara-gara segelintir orang Indonesia yang melakukan kebejatan di negara lain. Betul apa bener? Itu sebabnya, orang kemudian menyebutnya sebagai “oknum”.

Repot juga kalo kelakuan beberapa kaum muslimin yang dinilai buruk adab, lalu disematkan kepada semua muslim bahwa mereka juga buruk adab. Lalu bikin gerakan bubarkan agama Islam. Bukan begitu rumusnya, dan memang tidak demikian cara pandang yang benar. Emang kalo mau ngusir tikus di rumah, lalu dibakar rumahnya?

Itu sebabnya, ketika kasus lembaga sosial yang diduga menyelewengkan dana kemanusiaan akibat perilaku beberapa orang di dalam lembaga sosial tersebut, lalu pemerintah mencabut izin operasionalnya dan rekeningnya diblokir, dan mungkin saja asetnya disita. Padahal, jika yang bermasalah adalah beberapa orang yang punya kuasa di lembaga sosial tersebut, ya tindak saja orangnya, proses secara hukum dengan prinsip keadilan. Bukan malah lembaganya yang dibubarin. Memangnya, dulu ketika ada kasus korupsi bansos oleh menterinya sendiri, lalu institusi Kemensos dibubarin juga? Nggak, kan?

Saat ada kasus pelecehan seksual di sebuah ponpes, lalu izin operasional ponpes tersebut dicabut. Padahal, kan ditindak saja pelakunya, seret ke meja hijau, adili. Selesai. Eh, tapi yang belakangan rame di awal soal kasus ini, dan langsung dicabut, ternyata dibatalin pencabutannya. Mau tahu kenapa? Ah, nggak tahu juga, sih. Cuma, kalo heboh di medsos, konon kabarnya ponpes tersebut masih “teman” dengan rezim ini. Tahu, kan? Ah, embuh, ora ngerti!

Inilah kita, kaum muslimin. Seperti ada jarak yang jauh dengan Islam, agama yang kita anut. Banyak di antara kita yang muslim tetapi nggak islami. Nggak menunjukkan jati diri sebagai muslim sejati. Kebohongan banyak diumbar akhir-akhir ini, bahkan dari level orang biasa sampai ke pemimpin negara. Padahal, kebohongan yang sering diucapkan bisa menjadikan orang tersebut bukan lagi muslim. Beneran!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa seorang mukmin bisa jadi ada yang pengecut dan bakhil, tetapi tidak mungkin sama sekali berbohong (suka berbohong), “Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mungkinkah seorang mukmin itu pengecut?” “Mungkin,” jawab Rasulullah. “Mungkinkah seorang mukmin itu bakhil?” “Ya, mungkin,” lanjut Rasulullah. “Mungkinkah seorang Mukmin itu pembohong?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak!” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatta’ dan Imam al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Menurut Syaikh Sayid Sabiq rahimahullah, ketika menukil hadis ini dalam bukunya yang berjudul Islamuna, menjelaskan bahwa iman dan kebiasaan bohong tidak bisa berkumpul dalam hati seorang mukmin.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berpegang-teguhlah dengan kebiasaan berkata benar. Sesungguhnya berkata benar mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seseorang yang selalu berkata benar, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang benar. Dan, jauhilah kebohongan. Sesungguhnya kebohongan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang biasa berbohong, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR Bukhari-Muslim)

Satu fakta tentang bohong, sudah bisa kita pahami bahwa banyak di antara kaum muslimin yang pernah berbohong, suka berbohong, sering berbohong, dan bahkan menjadikan kebohongan sebagai cara hidupnya. Gawat ini. Islam dan kita kaum muslimin, dalam satu masalah ini saja, udah banyak yang nggak sesuai dengan ajaran Islam. Apalagi urusan lainnya. Ngeri.

Wajar aja sih, kalo kemudian ada orang yang terhalang dari kebaikan Islam, gara-gara perilaku buruk sebagian umat Islam. Kata Syaikh Muhammad Abduh, “Islam tertutup oleh umat Islamnya sendiri.”

Betul. Islam mengajarkan wajibnya shalat lima waktu, eh banyak juga umatnya yang malas mengerjakan. Islam mengajarkan pentingnya kejujuran, ternyata banyak di antara kaum muslimin yang menjadikan kebohongan sebagai jalan hidupnya. Islam melarang perzinaan, ternyata ada juga kaum muslimin yang doyan pacaran, lalu lanjut dengan perzinaan. Banyak banget hal-hal yang dalam agama Islam dilarang malah dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin. Muslim tapi tak islami.

Harus bagaimana?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ada dua hal yang perlu kita benahi: pertama introspeksi lalu perbaiki dan yang kedua waspadai agenda musuh-musuh Islam. Singkat kata, harus kita benahi faktor internal dan waspadai faktor eksternal. Why?

Hidup di akhir zaman memang perlu waspada, Bro en Sis. Kerja kita akan kian berat. Merapikan internal kita di antara kaum muslimin, sekaligus bersiap dan waspada terhadap serangan dari orang munafik dan orang kafir. Betulan!

Gini deh singkatnya. Kalo ditanya apa yang harus dilakuan terhadap fakta ini, untuk masalah internal kaum muslimin maka kita gencarkan dakwah. Edukasi kaum muslimin yang belum terkontaminasi dengan keburukan adab serta sadarkan mereka yang buruk adab. Itu saudara kita semua. Jangan dijauhi, tetapi didekati. Kita punya banyak ulama dan ustaz serta mubaligh sesuai bidang kemampuannya, kerjasamalah untuk perbaikan internal kaum muslimin dalam segala hal: akidah, akhlak, adab, tsaqafah, muamalah, dakwah dan segalanya.

Nah, untuk faktor eksternal kita perlu juga berpikir politis. Ada apa di balik gencarnya serangan terhadap Islam akhir-akhir ini? Satu masalah yang ada di tubuh umat Islam, lalu diviralkan dan dinilai sesuka hati mereka dengan target stigmatisasi alias pencitraburukkan terhadap Islam dan kaum muslimin secara umum. Mereka seperti hendak pukul rata dengan harapan masyarakat phobia terhadap Islam dan institusi yang dibangun umat Islam. Ujung-ujungnya nggak percaya lagi dengan Islam. Ini kan bahaya, Bro en Sis.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 120)

Jangan percayai atau bahkan berteman dengan orang munafik dan orang kafir. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran [3]: 118)

Semoga kita terhindar dari keburukan adab, sehingga menjadi muslim yang mukmin yang bisa menjadi duta Islam agar orang kafir bisa menilai kebaikan Islam dan mereka juga akhirnya memeluk Islam. Semoga kita juga bisa tetap waspada terhadap agenda musuh-musuh Islam yang akan menjadikan setiap perilaku buruk dari sebagian kecil umat Islam untuk mencitraburukkan Islam dan kaum muslimin secara umum.

Intinya: pertama benahi di dalam agar kaum muslimin jadi mukmin sejati; kedua waspadai agenda musuh-musuh Islam yang memanfaatkan keburukan perilaku sebagian kaum muslimin untuk menjatuhkan wibawa Islam dan kaum muslimin. Siagakan diri untuk perjuangan! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: