Orang Yang Bangkrut

Setiap pengusaha dan pedagang pasti berharap usaha mereka untung. Dapat banyak laba dan jadi tajir. Sebaliknya, bangkrut adalah mimpi buruk. Bahasa Inggris-nya bangkrut adalah bankrupt. Itu sebutan untuk orang yang minjam uang – seperti pengusaha — kemudian nggak mampu membayarnya. Di jaman Romawi Kuno, ada sanksi yang berat buat orang bangkrut. Kalau sampai ada orang yang bangkrut, maka si pemberi piutang – yang ngasih utangan – punya hak atas bagian tubuh si bangkrut, atau mereka boleh menjadikan orang itu plus keluarganya sebagai budak. Sementara itu di Inggris, berdasarkan keputusan Raja James I, kalau orang yang bangkrut tidak bisa ngasih alasan yang bisa diterima akal kenapa dia sampai bangkrut, orang itu bakal diikat di tiang dan dipermalukan di muka umum. Dan kalau ternyata terbukti kebangkrutan itu karena kecurangan, maka orang yang berhutang bisa dihukum mati.

Di Indonesia? Hmm, kayaknya belum sampai begitu deh. Malah banyak konglomerat yang pake uang negara, terus usahanya bangkrut, aman-aman saja. Padahal sebagian terbukti karena praktik usaha mereka yang curang. Yang ada malah negara mengampuni mereka dengan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3). Malah waktu musim kebangkrutan perbankan nasional di akhir tahun 90-an, para pemiliknya gampang banget kabur ke luar negeri, sedangkan tagihan-tagihan para nasabahnya dibayarin sama Bank Indonesia.

Tapi, Rasulullah saw. ternyata memberi kita pengertian lain soal bangkrut. “Tahukah kalian orang yang bangkrut (muflis)?” tanya beliau pada para sahabat. “Orang yang bangkrut adalah orang jatuh bangkrut dagangannya, hingga habis kekayaannya, baik uang maupun perkakasnya,” jawab para sahabat. Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat lengkap membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Tetapi ia mencaci maki pada si ini, menuduh si ini, dan makan harta si anu, dan menumpahkan darah si itu, dan memukul si ini, maka diberikanlah pada si ini bagian pahalanya dan si itu juga bagian kebaikannya. Dan apabila telah habis kebaikan sedang belum terbayar semua tuntutan orang-orang yang lain, maka diambilkan dari dosa-dosa orang yang pernah dianiayanya untuk ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan? ke dalam neraka.”(hr. Muslim)

Tidak ada kebangkrutan yang lebih parah dari itu, kan? Ada orang yang sudah beramal begitu banyak tapi kemudian ludes dipakai membayar semua kezhalimannya atas orang lain. Sampai akhirnya ia sendiri dijebloskan ke dalam neraka. Perbuatan zhalim memang dibenci agama. Kezhaliman bisa membuat orang menjadi tertuduh atau terampas hak-haknya. Jangankan berbuat pada banyak orang, pada satu orang saja sudah dibenci oleh Allah. Maka kezhaliman pantas dibenci oleh umat manusia.

Kalau kezhaliman itu dilakukan seorang pemimpin pasti efeknya lebih dahsyat. Setiap keputusan yang zhalim dari seorang pemimpin pasti menciptakan kesengsaraan bagi orang banyak. Neraka dunia buat rakyatnya. Dan seperti kamu tahu, kenaikan harga BBM yang baru saja diputuskan para pemimpin bangsa ini juga oleh wakil rakyatnya, membuahkan kesengsaraan panjang buat banyak warga miskin – juga yang hampir miskin – di tanah air. Ibu-ibu mengular dalam antrian minyak tanah dengan harga yang mahal, harga-harga barang kebutuhan hidup semakin mencekik, sedangkan penghasilan bapak kita susah untuk dinaikkan. Hidup sejahtera nampaknya jadi impian yang semakin jauh untuk banyak orang. Sudah begitu masih ada orang yang mengatakan kalau keputusan berat ini harus diterima rakyat kecil sebagai pengorbanan. Masya Allah, hari gini minta orang miskin berkorban? Apalagi yang mau dikorbankan? Makan saja sudah susah.

Mungkin para pemimpin bangsa ini dan para wakil rakyat yang menyetujui kenaikkan harga BBM ini lupa pada hadits Nabi saw. Wallahualam.[januar]

[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda edisi 14/Desember 2005]

%d bloggers like this: