Percaya HAM? Nggak Deh! 19

logo-gi-8.jpgedisi 007/tahun I (10 Desember 2007)

Tahukah kamu tentang HAM (Hak Asasi Manusia)? Pasti tahu deh kalo kamu pernah dan udah belajar mata pelajaran PPKn, misalnya. Yup, kalo kita ngomongin soal HAM, biasanya yang langsung konek dalam pikiran itu adalah ngomongin tentang kebebasan. Diyakini banget kalo kebebasan adalah bagian dari hak hidup kita sebagai manusia. Kita nggak munafik deh kalo kita memang pengen banget bebas. Bisa melakukan apa pun sekehendak kita.

Bro, kalo pikiran kita cuma lurus-lurus aja dan ngikutin semua yang kita inginkan, kayaknya kita bakalan egois deh. Bener banget kalo kita sebagai manusia pengen bebas lepas dari keterikatan dan penghambaan terhadap orang lain. Bener pula kalo kita nggak perlu minta ijin untuk ngelakuin apapun yang kita inginkan. Nggak ada salahnya juga kalo kita punya keinginan beda sama orang lain. Itu wajar. Cuma yang nggak wajar kalo kebebasan yang kita lakuin tuh ternyata melanggar hak kebebasan orang lain. Apalagi jika melanggar aturan Islam.

Nah, itu sebabnya kita pada akhirnya memang butuh aturan untuk mengendalikan kebebasan kita. Nggak bisa bebas sesukanya. Bener kan? Contoh gini deh. Kalo kita mengendarai kendaraan di jalan umum, kita nggak bisa sesuka kita untuk menghentikan kendaraan di sembarang tempat atau kita ugal-ugalan di jalan raya karena bisa membahayakan diri kita dan juga orang lain yang sama-sama menggunakan jalan tersebut.

Kita aja suka marah kan kalo kita lagi enak-enak bawa sepeda motor, tapi tiba-tiba kendaraan di depan kita berhenti mendadak. Kalo nggak refleknya bagus, udah deh, tuh pantat mobil bisa dengan sukses dicium sama sepeda motor kita. Hehe.. biasanya kejadian begini kalo kita jalan di belakang mobil angkot (angkutan kota) yang terkenal sopirnya sering menghentikan kendaraannya secara mendadak begitu ngelihat penumpang. Maka, wajar aja ada anekdot: “Kalo Valentino Rossi memacu sepeda motornya, yang tahu kapan belok, yang tahu kapan nyalip lawannya adalah dia dan Tuhan. Tapi kalo sopir angkot, hanya Tuhan yang tahu kapan tuh sopir berhenti. Sementara sopir angkotnya sendiri nggak tahu pasti kapan harus menghentikan kendaraannya.” Halah!

Sekilas sejarah HAM

Kalo ngebaca buku-buku sejarah sih, sejarah HAM itu biasanya dimulai dari lahirnya Magna Charta pada tahun 1215 di Inggris. Isinya antara lain mengatur pemberian sanksi kepada raja. Maklum, waktu itu raja punya kekuasan absolut (raja yang membuat hukum, tapi ia kebal hukum). Jadi, dengan adanya Magna Charta ini, raja bisa diproses secara hukum kalo dia melanggar, gitu lho. Ini dianggap sebagai bentuk kemajuan di Eropa waktu itu.

Berikutnya ada pengembangan dari Magna Charta, yakni lahirnya Bill of Rights tahun 1689, juga di negerinya David Beckham, Inggris. Pada masa ini mulai muncul pemikiran bahwa manusia sama di muka hukum (equality before the law). Hal ini kemudian mendorong munculnya negara hukum dan demokrasi. Selanjutnya, Motesquieu dengan Trias Politika-nya yang mengajarkan pemisahan kekuasaan guna mencegah tirani, John Locke di Inggris dan Thomas Jefferson di Amerika dengan hak-hak dasar kebebasan dan persamaan yang dicanangkannya. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence yang lahir dari paham Roesseau dan Montesquieu. Nah, pada tanggal 10 Desember 1948, PBB kemudian menciptakan The Universal Declaration of Human Rights yang diperingati sampe sekarang sebagai hari HAM sedunia, gitu lho.

Jadi intinya, HAM itu adalah bagian dari sistem demokrasi yang memang sejak awal udah mengkampanyekan kebebasan. Semakin gencar seruan demokratisasi sehingga kehidupan di suatu negara makin demokratis, sejatinya yang terjadi adalah kian bebasnya kehidupan di negara tersebut. Menurut Syaikh Abdul Qadim Zalum, dalam bukunya, ad-Dîmukrathiyyah Nizhâm Kufr, paling nggak ada 4 (empat) kebebasan yang dijamin dalam demokrasi: (1) kebebasan beragama; (2) kebebasan berpendapat; (3) kebebasan berekspresi/berperilaku; (4) kebebasan kepemilikan. Keempatnya adalah hal yang lazim dijamin pelaksanaannya di berbagai negara yang menerapkan demokrasi.

Atas nama HAM

Bro, atas nama HAM banyak manusia melakukan apa saja sesuka hatinya. Karena dalam demokrasi memang dijamin. Jangankan seorang muslim yang ogah-ogahan melaksanakan sholat dengan dalih atas nama HAM, orang mau beragama atau memilih tak beragama pun dijamin dalam demokrasi.

Yup, sistem demokrasi emang memberikan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang-apalagi disertai dengan paradigma alias kerangka berpikir bahwa dalam beragama jangan gunakan akal-udah bikin nggak sedikit manusia yang terperosok ke dalam agama yang nggak masuk akal macam agama Kabalah yang dianut Madonna atau agama Scientologi yang dianut sama Tom Cruise. Selain itu, muncul banyak sekte sesat yang, antara lain, menyajikan bunuh diri massal macam sekte The Heavens Gate (Gerbang Surga) yang didirikan oleh Marshall Herff Applewhite dan Bonnie “TI” Lu Trusdale Netteles atau sekte Aum Shinri Kyo yang didirikan pada 1987 oleh Shoko Asahara alias Chizuo Matsumoto di Jepang sebagai solusi dalam mengatasi problema hidup mereka. Termasuk tumbuh suburnya aliran sesat di negeri ini. Waduh, kacau banget kan?

Begitu juga orang akhirnya bebas berpendapat apa saja karena merasa ada jaminan yang dijanjikan demokrasi. Akibatnya, orang bebas berpendapat apapun sesuka pikiran dan hatinya. Misalnya bilang kalo pornografi itu seni. Maka, jika ada gambar manusia telanjang tanpa busana dalam sebuah lukisan tidak termasuk pornografi. Hmm.. gawat banget pemikirannya kan?

Selain kebebasan beragama dan kebebasan berpendapat, demokrasi juga menjamin kebebasan bertingkah laku. Maka, jangan heran kalo pada akhirnya banyak orang mengekspresikan kebebasan bertingkah lakunya meskipun hal tersebut sangat boleh jadi melanggar norma masyarakat dan norma agama. Itu sebabnya, seks bebas tumbuh subur karena dijamin oleh demokrasi sebagai bagian dari kebebasan bertingkah laku. Nggak dilarang juga orang mentato tubuhnya dengan alasan mengekspresikan dirinya atas nama HAM. Angeline Jolie terkenal sebagai ratu body art. Bahkan dia berhasil mengalahkan Pamela Anderson pada daftar 25 teratas selebriti yang memiliki tato pada 2001. Jolie mengakui tergila-gila dengan tato, di antara tatonya yang termasuk tribal adalah gambar naga. Dia memiliki lusinan tato di tubuhnya dan berencana terus menambah koleksinya. Waduh!

Nah, terakhir nih, kebebasan yang juga dijamin oleh demokrasi adalah kebebasan kepemilikan. Maka, nggak usah terlalu kaget kalo banyak praktik pemilikan barang dan harta secara tidak sah, korupsi misalnya. Uang negara atau uang kantor diembat aja masuk kantong pribadi. Sangat boleh jadi banyak juga di antara kamu yang nyuri ponsel temanmu demi bisa memiliki alat komunikasi tersebut. Ini namanya pemilikan tidak sah, dong ya.

Islam mengatur HAM

Boys and gals, nggak usah tertipu dengan tawaran HAM yang dipasarkan Barat. Karena sejatinya cuma ngejerumusin manusia ke jalan yang rusak dan sesat. HAM versi demokrasi bukan menyelamatkan manusia, tapi menyengsarakan manusia.

Islam, sebenarnya udah menjaga kehormatan manusia dengan memberikan beberapa jaminan yang sesuai fitrah manusia dan berdasarkan tuntunan dari Allah Swt., pencipta manusia. Beberapa poin yang dijamin oleh Islam dalam kehidupan ini adalah: jelasnya keturunan, perlindungan terhadap akal manusia, kehormatan, nyawa, harta, rasa nyaman beragama, juga tentang rasa aman, dan pembelaan terhadap negara. (Muh. Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 81-84)

Lha, kalo sekarang dalam sistem demokrasi, atas nama HAM orang bebas beragama dan berkeyakinan, apa hal itu bisa menyelamatkan manusia? Nggak banget!

Islam memang nggak memaksa manusia untuk memeluk ajaran Islam. Allah Swt. udah ngejelasin dalam firmanNya:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS al-Baqarah [2]: 256)

Ini artinya, Negara Islam, atau kaum Muslimin nggak boleh memaksa orang lain untuk masuk agama Islam. Misalnya ngancem: “Kalo nggak masuk Islam, saya akan masukkin C4 (baca: bom dengan ukuran mini kualitas maxi) ke mulutmu!” Waduh, itu sih teroris banget, Bro. Nggak. Islam nggak ngajarin seperti itu.

Tapi nih, kalo udah masuk Islam ya harus terikat dengan aturan Islam, tuh. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (‘akidah) dan syariat Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247)

Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi yang baru masuk Islam. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabat, hari raya umat Yahudi. Tapi, permintaan ini dijawab oleh ayat di atas.

Nah, termasuk dalam kebebasan berpendapat kita nggak bisa bebas sesukanya ngomong atau nulis. Misalnya mengharamkan poligami, bolehnya wanita menjadi imam shalat dengan makmum laki-laki, wanita tidak perlu mengenakan jilbab kalo keluar rumah karena itu budaya Arab, nggak wajib sholat dan puasa dsb. Lha, ini jelas ngada-ngada. Sekarang gini aja, apa boleh lirik lagu Indonesia Raya diganti liriknya dengan lagu Gundhul-Gundhul Pacul? Nggak kan? Apalagi al-Quran. Masa’ kalamullah (ucapan Allah Swt.) mau diganti dengan ucapan kita. Salah, lagi. Bah, macam mana pula ini?

Dalam demokrasi, seks bebas marak, aborsi menjamur, tayangan pornografi berjubel, umbar aurat jadi pemandangan sehari-hari, korupsi jadi tradisi. Semua atas nama kebebasan, atas nama HAM. Musibah besar!

Sementara, Islam mengatur kehidupan manusia dengan benar. Islam nggak ngekang manusia tapi juga nggak membebaskan sebebas-bebasnya sebagaimana dalam sistem demokrasi. Maka, jangan percaya HAM versi demokrasi ye. Percayalah hanya kepada ajaran Islam. Setuju kan? Kudu banget coy! [solihin: sholihin@gmx.net]

19 thoughts on “Percaya HAM? Nggak Deh!

  1. Udin_ahmad Dec 12,2007 08:44

    ga tau, bro! Wong belum mbaca.

  2. miqdad hawari Dec 12,2007 09:57

    Empat) kebebasan yang dijamin dalam demokrasi: (1) kebebasan beragama; (2) kebebasan berpendapat; (3) kebebasan berekspresi/berperilaku; (4) kebebasan kepemilikan. Sesungguhnya hanya merupakan propaganda doank!!! alias omong kosong…!!!
    banyak yang da’wah Islam [terutama menyinggung-nyinggung “jihad’] dibilangnya teroris!!! ada yang mengemukakan pendapat/berekspresi [mengatakan kerusakan-kerusakan demokrasi] malah dibilang “makar” lah, itu lah, de el el…

    So pasti… sebagal muslim kita HARUS tidak percaya pada HAM… Orang muslim mesti kudu harus cuma percaya pada ajaran ISLAM aja… gak ke ajaran nyang laen…

  3. phie Dec 14,2007 03:37

    temans…
    gw kok berpikiran laen ya… klo menurut gw 4 dasar HAM diatas tu udah tepat n g bertentangan dengan agama apapun (trmsk islam). ASAL (nah ada asalnya nih… )jangan bertentangan dengan kebebasan orang. Contohnya : lo boleh aja berdiri dimana aja… tapi jangan berdiri diatas kaki orang laen dong (baca: nginjak kaki org). Sama juga lo bleh aja punya duit tapi jangan duit orang ato negara lo embat (baca: korupsi), dll.
    Terus klo seks bebas, aborsi, pornografi, dll bukan karena HAM ato liberalnya tapi karena oknumya. Di negara berlandaskan agama pun (Malay, arab,dll) banyak terjadi perkosaan, pornografi (kmrn gw dapat spam tu dr situs prno arab), aborsi,dll. Tapi krn dibawah tagan (sembunyi2) n yang sembunyi2 gini yang kita g tau berapa jumlahnya… seringnya sih lebih mengezutkan…(fenomena gunung es bro).
    So menurut gw membandngkan HAM n agama tuh g pada tempatnya d… karena ini 2 hal yang saling terkai tp bukan utk dibandingkan (ky lo mo bandingin lebih bagus mana ember ato sepatu… nah lo, satunya utk alas kaki yang satu utk cuci baju.. apanya yg mo dibandingin)
    Tapi ky klo mo beli ember lo butuh sepatu utk pergi k toko n klo mo nyuci sepatu lo butuh ember buat nampung aernya, gt juga demokrasi n agama. Dalam demokrasi lo dikasi kebebasan utk ngejalani ajaran agama lo n dalam agama lo HAM lo di lindungi (kaya’ dalam agama membunuh itu dosa… so artinya lo punya hak utk hidup)

    So asal lo2 pada emang kuat pada ajara agama lo… sebebas n ‘seliar’ nya org2 disekita lo itu g ngaruh man… Ky org bilang biarin aja anjing mengonggong tapi kafilah tetap berlalu.. 🙂

  4. kuncoro Dec 14,2007 04:08

    Phie.. semua yg lo tulis itu adalah contoh dari produk sekulerisme. Pikiran lo tuh udah teracuni pikiran sekuler. Aduh, kasihan banget deh lo!
    sekuler tuh musuh semua agama.

  5. phie Dec 14,2007 05:32

    temans,
    g pake acara musuhan lagi antara agama n HAM… g ada juga produk sekularisme… yang ada adalah bagaimana kita bisa ngejalani apa yang kita percaya (agama) tanpa nginjak apa yang orang laen percaya (other religions ato cuma pandangan hidup seseorang).
    Emang ada isi HAM yang membuat kita g bisa ato tehambat dalam beribadah ato ngejalani keyakinan kita?? klo jawabnya g ada.. apanya yang sekular dari HAM??
    Malah karena HAM makanya kita bisa menjalani apa yang kita pahami dengan perasaan aman(karena kebebasan beragama di lindungi HAM)… Kalo ngga tentu kita akan selalu khawatir ada pihak yang lebih kuat yang bisa menghalangi kita hidup berdasan keyakinan kita.. (dan membuat orang laen bisa secara tenang hidup berdasarkan kepercayaannya)
    🙂

  6. erik Dec 31,2007 09:38

    pokoke khilafah

  7. gadel Jan 2,2008 23:35

    HAM tu gak ada, manusia gak punya hak apa-apa di dunia ini (harfiahnya), bukannya udah jelas, kita diciptain cuman buat ibadah doang? satu2nya yang berhak di dunia dan alam semesta ini, cuma Allah Swt. semata. Siape lo ngaku2 punya hak di bumi Allah?

  8. phie Jan 12,2008 08:31

    waduh enak bgt ya kalo bisa hidup bertetangga ama mas Gadel..
    Kalo mas gadel punya mobil bgs… ambil aja… pasti orangnya rela binti ridha kok.. wong mas Gadel udah ngaku manusia g punya hak di bumi ini (termasuk hak kepemilikan)… Eh tp ngapain lagi mobilnya.. rumahnya aja sekalian.. mahalan kalo di jual, hehehhe
    Becanda ding… tp cuma sbg bahan refleksi.. kalo manusia hidup butuh hak (ntah dijamin oleh negara, agama, ato lembaga berwenang laennya).. Kalo islam g mengakui hak, ngapain merintahin untuk menghukum pencuri (berarti mengakui hak kepemilikan) atau pembunuh (berarti mengakui hak hidup)
    Btw ngeti kata ‘hak’ ngga sih mas??
    piss 🙂

  9. boby Jan 19,2008 08:50

    kebebasan boleh aja tp ada tanggung jawab, kita ambil aja, kita boleh saja pacaran tapi tanggung jawab kita adalah menjaga kesucianya sampai kita menikahinya. atau kita boleh aj berekpresi tp ekspresi kita jangan sampai mengganggu orang lain hanya karena kebebasan ekspresi kita. so kita boleh aja memilih kebebasan tp kita juga harus bisa bertanggung jawab karena yang diharapkan islam adalah kebebasan yang bisa dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.

    peace to muslimin

  10. sahawelah Jan 29,2008 16:31

    emang,…gua selalu curiga dengan hal-hal baru yang mengatas-namakan kebebasan ataw demokrasi. islam liberallah, HAMlah.
    Keliatannya cuma sebagai alasan melakukan apapun. Emang, klo ngambil istilahnya si Phie :ASAL (nah ada asalnya nih? )jangan bertentangan dengan kebebasan orang. Contohnya : lo boleh aja berdiri dimana aja? tapi jangan berdiri diatas kaki orang laen dong (baca: nginjak kaki org). Sama juga lo bleh aja punya duit tapi jangan duit orang ato negara lo embat (baca: korupsi), dll.
    Skrg gini,…banyak org yg telanjang sana-sini, goyang tebar aurat sana-sini mengatasnamakan kebebasan di bawah bendera seni. Mungkin secara fisik tak akan mempengaruhi kita. Tapi secara psikis mempengaruhi org untuk berbuat hal-hal yg tidak diinginkan (perkosaan contohnya) atau perbuatan amoral lainnya yang merugikan diri sendiri. Contoh kasus yg paling baru kemaren Dewi Persik dijamah “properti”-nya sama laki-laki hidung belang yg sudah dapat ditebak karena tergiur oleh aksi “HOT” Dewi Persik yg sangat-sangat mengundang. Kata saya itumah wajar aja, soalnya dia sendiri yg kelakuannya kayak gitu dan kudu nerima resiko-nya. Emang lo pikir org-org yg dateng liat “pertunjukan” nari Dewi Persik semata-mata karena ingin menghargai seni?…
    Nonsense.

  11. phie Jan 31,2008 23:16

    btw si mas salawehh udah bilang kan lelaki dalam kasus dewi persik itu hidung belang.. kalo hidung si lelaki g berbelang apa akan kejadian yang sama?? (think about it)

    Mas kalo mobil bmw barunya mas (yang sangat mengundang) asesorisnya dipreteli orang boleh ngga? Ato mobilnya si mas juga harus ditaro di garasi aja biar g diliat orang ? Manusia jauh diatas mobil.. Kalo untuk mobil aja kita punya prinsip g asal embat kalo pengen apalagi sama manusia? Prinsipnya sama kan?

    Sekarang kalo ada penampilan/aksi yang ‘mengundang’ (saya bukan pendukung nudity ditempat umum lho), si A bereaksi dengan memperkosa, si B langsung piktor, si C menundukan mata, si D cuek aja (malah mungkin anggap norak bgt, g bermutu utk diperhatiin).. dengan input yang sama reaksinya beda… Berarti ada sesuatu inside seseorang yang membuat reaksinya beda itu..
    Saran saya perbaiki dulu yang inside itu baru ngurusi penampilan orang…

    btw dalam kasus perkosaan/pelecehan kebanyakan bukan karena inputannya tapi karena pelakunya yang ‘sakit’… (beda dengan seks bebas yang bisa juga pengaruh ligkungan)
    Buktiya di arab yang cewekya ketutup semua kecuali mata juga banyak tuh kasus perkosaan, anak ingusan yang belum punya ‘sesuatu untuk dipameri’ juga bisa diperkosa…

  12. phie Feb 1,2008 05:16

    o iya.. saya bukan mau protes deng ajaran islam tentang cara berbusana (dan aturan2 yang laen).. I have no right to do that.

    point saya adalah kalau anda ingin menjalankan ajaran agama, jalankanlah karena agama kalian mengajarkan untuk sepeti itu.. bukan karena alasan-alasan laen (kaya’ supaya g di ‘macam2 in’ orang seperti alasan diatas..)

    kalo emang lo bisa buktikan k orang2 disekitar lo kalo dengan ngejalani ajaran lo hidup bisa jadi lebih baik (bukan dalam hal materi aja, tapi hidup jadi tenang, bahagia, wajah bisa keiatan bersinar, bisa jadi lebih sabar, dll) tanpa maksa n protes2 tentang HAM pun orang akan ngikutin ajaran lo..
    N kali ini orang ngikutinnya dengan rela binti ridho bukan karena kepaksa.
    Lebih indah kan??

  13. Rutje Feb 2,2008 08:04

    phie said/wrote:
    Sekarang kalo ada penampilan/aksi yang ?mengundang? (saya bukan pendukung nudity ditempat umum lho), si A bereaksi dengan memperkosa, si B langsung piktor, si C menundukan mata, si D cuek aja (malah mungkin anggap norak bgt, g bermutu utk diperhatiin).. dengan input yang sama reaksinya beda? Berarti ada sesuatu inside seseorang yang membuat reaksinya beda itu..
    Saran saya perbaiki dulu yang inside itu baru ngurusi penampilan orang?
    —–
    gue: reaksi org memang berbeda2, tapi seharusnya orang bisa menjangkau dengan akalnya mana yang baik dan mana yang buruk. Kalo lo liat orang papua yang kuliah ketika pergi ke kampus pake koteka doang, apa pihak kampus membolehkan? tentu tidak bukan? Why? karena kita seharusnya punya standar baik-buruk dan akal kita mampu menjangkau mana yang baik dan mana yang buruk dengan satu standar kebenaran.

    Tapi, jika persepsinya dari memang beda sampai kapanpun akan beda memandangnya. Demokrasi dengan HAM itu beda banget dengan Islam.

    Soal reaksi yg beda2 tiap orang itu memang tergantung persepsinya masing2. tapi di sini harus ada kebenaran dan kesalahan. Tidak mungkin bersatu dan saling mentolerir…

    kalo lo katakan bahwa perbaiki dulu di “inside” masing2, baru ngurusin penampilan orang lain, lo keliru en gak adil. Seharunya ini berlaku buat semua orang, jangan lantas menyalahkan orang yang ngurusi penampilan orang lain. Tapi orang yang berpotensi menampilkan sesuatu yang melanggar norma juga harus diingatkan supaya perbaiki insidenya. jadi sama2 enak.

    Perlu juga ada org2 yang ngurusi penampilan kita, supaya kita ada evaluasi. gak merasa benar sendiri apalagi cuma ngandelin pikiran kita semata dan pendapat kita semata. Kalo bener dan bersikukuh dengan kebenaran tsb dan bisa dibuktikan kebenaranya, gue pikir gak masalah. bahkan harus, tapi yang merasa benar padahal faktanya salah, itu yang kudu diingatkan….

  14. phie Feb 3,2008 00:28

    postingnya rutje adalah salah satu pendapat yang paling masuk akal di topik ini..
    Dikit tanggapi ya…
    Saya bukan mo bilang kalo islam n HAM harus sejalan.. G sejalan juga gpp,, Yang g saya suka itu adalah bagaimana kita menghakimi orang dengan aturan yang kita anut.. Padahal mungkin menurut aturan yang orang lain anut kita juga salah..
    Saya setuju ada norma2 dm masyarakat
    Saya contohnya paling merasa terganggu kalo orang teriak subuh2 bangunin sahur… Pemikiran saya jaman modern gini dah ada weker, HP juga bisa jadi weker, malah kalo mau bunyi alarmnya bisa diatur jadi rekaman bunyi ‘sahur… sahur…’
    napa sih harus teriak2 keliling kampung n banguni orang yang kagak sahur.. Tapi karena saya tinggal di negara yang mendukung itu ya saya harus menerima itu.. (selama teriak2nya di jalan umum bukan di halaman rumah saya, walau bunyinya sampe k kamar saya, saya g berhak protes). Karena ada aturan yang lebih tinggi yang mengatakan boleh…

    Kenapa saya bilang perbaiki inside dulu?? As long as inside lo bener…penampilan orang g bakal bawa pengaruh buruk dalam diri loe (piktor, dll)
    Nah utk menasehati/mengingatkan blh aja.. tapi harus dalam koridor lo menyampekan apa yang menurut lo bener (catat : lo juga bisa salah).. N selama inside lo bener ni, nsehat yang lo sampekan karena lo mo nyampekan kkebenaran (yang lo yakini) bukan karena lo merasa terganggu..
    tapi selama tu orang g melaggar norma yang lebih tinggi (yang lo anut berdua, ingat hukum tertinggi di negeri ini yang dianut bersama oleh seluruh rakyat indonesia adalah hukum negara) ya tetap aja lo g berhak mengatakan dia salah… Bahkan menghalalkan dia utk ‘diraba-raba’ kaya kasus dewi persiknya sahawelah diatas..

  15. yati Fakhrun Jul 4,2008 15:26

    HAM ga banget….Islam baru OKE

  16. harry Jul 5,2008 18:11

    menurut buku PPKn juga, Sebelum menuntut Hak, kita harus melakukan kewajiban. Sayangnya saya belum tahu apa itu KAM (Kewajiban Asasi Manusia).

    “Dalam demokrasi, seks bebas marak, aborsi menjamur, tayangan pornografi berjubel, umbar aurat jadi pemandangan sehari-hari, korupsi jadi tradisi. Semua atas nama kebebasan, atas nama HAM. Musibah besar!”

    Opini yang menyesatkan, masa korupsi dan aborsi dibawa-bawa sama dengan demokrasi. Pikir-pikir deh, sebelum buat kesimpulan. jangan2 ga tahu arti Demokrasi. demokrasi itu …..
    lihat aja disini. http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi
    klo ga tahu demokrasi (klo HAM udah dijabarin) musibah besar juga tuh. 😀

  17. Bayu Jul 7,2008 11:28

    Ya, bung harry masih mau tertipu oleh HAM dan Demokrasi…
    kasihan deh lo!
    demokrasi iutu udah basi dan HAM itu dagelan yang disusupkan oleh para penipu! payah deh, jaman sekarang masih ada orang yang percaya HAM dan Demokrasi.

  18. zzzz Jul 27,2008 22:10

    zzz..

    HAM itu ada cuma gak pernah dihargai..
    kalo loe isa mulai menghargai HAM org lain dr diri loe sendiri kenapa ga dimulai dari diri loe..
    ga usa liat orang laen gak menghargai HAM orang laen..
    yang penting loe uda mulai n bayangin kalo setiap orang memulai dari dirinya sendiri..

  19. zzzz Jul 27,2008 22:18

    +

    jangan terlalu ngebangga2in agama(gak cuma Islam)..
    semua agama sama intinya, cuma banyak orang yang salah tangkep tentang ajarannya..
    makanya cari Tuhan yang bener, jgn cuma asal tangkep tapi dipikir pake otak,hati dan iman..

Comments are closed.

%d bloggers like this: